Amyloidosis, Penumpukan Protein Abnormal yang Menyerang Organ Tubuh

(0)
10 Aug 2020|Azelia Trifiana
Amyloidosis adalah kondisi akibat penumpukan protein abnormal di jaringan tubuhAmyloidosis terjadi ketika protein abnormal berupa amiloid mengalami penumpukan di organ dan jaringan tubuh
Amyloidosis terjadi ketika protein abnormal berupa amiloid mengalami penumpukan di organ dan jaringan tubuh. Akibatnya, fungsi hingga bentuk organ yang diserang bisa berubah. Jika tidak ditangani, ada kemungkinan terjadi gagal organ tubuh.Jenis protein yang mengalami penumpukan pada penderita amyloidosis bisa berbeda-beda. Penumpukan ini bisa terjadi hanya di satu area saja atau seluruh tubuh.

Jenis amyloidosis

Meski ada banyak protein yang menyebabkan akumulasi amiloid, hanya beberapa yang menyebabkan masalah kesehatan. Bergantung pada jenis protein dan lokasi akumulasinya, amyloidosis dibedakan menjadi:
  • AL amyloidosis

Disebut juga immunoglobulin light chain amyloidosis, ini adalah jenis amyloidosis primer yang paling sering terjadi. AL adalah singkatan dari “amyloid light chains”. Penyebab pastinya tidak diketahui, namun terjadi ketika sumsum tulang memproduksi antibodi yang tidak bisa dipecah.Kondisi AL amyloidosis berhubungan dengan kanker darah yaitu multiple myeloma. Penyakit ini bisa berpengaruh terhadap kinerja ginjal, jantung, liver, usus, hingga saraf.
  • AA amyloidosis

Disebut juga amyloidosis sekunder, AA amyloidosis terjadi karena infeksi kronis atau peradangan seperti rheumatoid arthritis, Crohn’s disease, atau kolitis ulseratif. Kondisi ini paling sering menyerang ginjal, namun juga dapat berpengaruh pada sistem pencernaan, jantung, dan liver.
  • Dialysis-related amyloidosis

Jenis amyloidosis ini lebih sering dialami lansia atau orang yang sudah menjalani prosedur dialisis ginjal selama lebih dari 5 tahun. Jenis amyloidosis ini terjadi karena ada penumpukan beta-2 microglobulin dalam darah. Penumpukan bisa terjadi di banyak jaringan, namun paling sering menyerang tulang, persendian, dan juga tendon.
  • Amyloidosis turunan

Meski langka, amyloidosis juga bisa terjadi karena faktor keturunan keluarga. Kerap kali, amyloidosis ini menyerang saraf, jantung, liver, dan ginjal. Faktor cacat genetik berpengaruh terhadap terjadinya amyloidosis.
  • Amyloidosis sistemik karena usia (age-related amyloidosis)

Dalam age-related amyloidosis, pemicunya adalah penumpukan protein transthyretin (TTR) di jantung dan jaringan tubuh lainnya. Jenis amyloidosis ini paling banyak terjadi pada laki-laki berusia lanjut.
  • Amyloidosis organ

Amyloidosis bisa terjadi pada organ tertentu, termasuk kulit. Otak termasuk salah satu organ yang paling jarang terdampak amyloidosis. Meski demikian, amyloidosis kerap berhubungan dengan penyakit Alzheimer.Laki-laki lebih rentan mengalami amyloidosis dibandingkan dengan perempuan. Terlebih, ketika usia terus menua. Dalam 15% kasus amyloidosis, yang terjadi adalah kanker multiple myeloma. Selain itu, amyloidosis juga bisa terjadi pada orang yang mengalami penyakit ginjal parah dan harus menjalani dialisis dalam jangka panjang.

Gejala amyloidosis

Terkadang, gejala amyloidosis bisa tidak terdeteksi. Berbeda lokasi penumpukan protein amiloid, berbeda pula gejala yang muncul. Faktor penyakit lain juga bisa ikut berperan. Beberapa gejala umum amyloidosis di antaranya:
  • Perubahan warna kulit
  • Tubuh lesu
  • Merasa kenyang
  • Nyeri persendian
  • Anemia
  • Napas tersengal-sengal
  • Pembengkakan lidah
  • Sensasi kebas di kaki
  • Kemampuan tangan menggenggam menurun
  • Berat badan turun drastis
Gejala di atas bersifat umum. Apabila amyloidosis terjadi pada organ tubuh tertentu seperti jantung, ginjal, atau saraf, maka gejalanya pun akan berbeda. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mendapatkan diagnosis pasti.

Cara penanganan amyloidosis

Belum ada obat yang bisa mengatasi amyloidosis. Umumnya, dokter akan meresepkan penanganan yang bisa memperlambat penumpukan protein amiloid dan meredakan gejalanya. Terlebih jika amyloidosis berhubungan dengan penyakit lain.Beberapa penanganan spesifik untuk amyloidosis di antaranya:
  • Kemoterapi dosis tinggi

Kemoterapi dosis tinggi dengan transplantasi sel punca atau stem cell dapat membantu menghilangkan substansi yang memicu pembentukan amiloid. Ini biasanya diterapkan pada orang yang menderita amyloidosis jenis primer. Selain itu, pengobatan kemoterapi juga bisa diresepkan untuk penderita amyloidosis.
  • Obat anti-inflamasi

Jenis amyloidosis sekunder bisa diatasi dengan memberikan obat anti-inflamasi seperti steroid. Tujuannya untuk mengobati masalah pada organ tubuh yang mengalami penurunan fungsi.
  • Transplantasi liver atau ginjal

  • Terapi menunda produksi protein TTR

Selain beberapa penanganan di atas, dokter juga bisa meresepkan obat diuretik untuk membuang kelebihan cairan dalam tubuh. Pasien juga bisa disarankan mengenakan stocking untuk kompresi apabila terjadi pembengkakan di kaki.

Catatan dari SehatQ

Penanganan untuk amyloidosis harus sangat spesifik dan sesuai dengan jenis yang diderita. Selain itu, dokter akan menganalisis apakah ada penyakit medis lain yang perlu segera ditangani untuk meredakan gejala-gejalanya.
penyakitpenyakit ginjalpenyakit pria
WebMD. https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/amyloidosis-symptoms-causes-treatments#1
Diakses pada 26 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/amyloidosis/symptoms-causes/syc-20353178
Diakses pada 26 Juli 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/amyloidosis/
Diakses pada 26 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait