Asphyxia Neonatorum, Momen Krusial Saat Bayi Tak Dapat Cukup Oksigen


Asphyxia neonatorum adalah kondisi saat bayi tidak mendapat cukup oksigen saat proses persalinan. Dampaknya pada tiap bayi berbeda, mulai dari tak ada konsekuensi sama sekali hingga yang berakibat fatal seperti kecacatan. Di dunia, asphyxia neonatorum adalah penyebab kerusakan otak dan kematian bayi terbesar.

(0)
19 Aug 2020|Azelia Trifiana
Asphyxia neonatorum dapat terjadi saat persalinanAsphyxia neonatorum adalah kondisi saat bayi tidak mendapat cukup oksigen saat proses persalinan
Asphyxia neonatorum adalah kondisi saat bayi tidak mendapat cukup oksigen saat proses persalinan. Dampaknya pada tiap bayi berbeda, mulai dari tak ada konsekuensi sama sekali hingga yang berakibat fatal seperti kecacatan. Di dunia, asphyxia neonatorum adalah penyebab kerusakan otak dan kematian bayi terbesar.Menurut estimasi World Health Organization, ada 900.000 bayi yang meninggal tiap tahunnya karena asphyxia neonatorum. Sebagian besar kasus terjadi di negara berkembang. Semakin awal diagnosis dan penanganan, risiko terjadinya komplikasi dapat dihindari.

Gejala asphyxia neonatorum

Ada beberapa indikator yang menunjukkan asphyxia neonatorum, di antaranya:
  • Detak jantung terlalu kuat atau lemah
  • Kulit pucat atau kebiruan
  • Kesulitan bernapas
  • Otot lemah
Durasi bayi mengalami asphyxia neonatorum atau tidak mendapat cukup asupan oksigen berpengaruh terhadap seberapa parah gejalanya. Semakin lama tidak mendapat oksigen, gejala-gejala di atas bisa menjadi semakin dominan.Bahkan jika lebih parah lagi, bayi bisa mengalami cedera atau gagal organ di paru-paru, jantung, otak, dan juga ginjal.

Penyebab asphyxia neonatorum

Penting sekali memantau asupan oksigen selama proses persalinan mulai dari pembukaan saat melahirkan hingga saat mengejan. Segala hal yang memengaruhi kemampuan bayi mendapatkan oksigen bisa menyebabkan asphyxia neonatorum. Contoh hal yang bisa menyebabkan asphyxia neonatorum adalah:
  • Saluran pernapasan bayi tertutup
  • Bayi mengalami anemia
  • Proses persalinan berlangsung terlalu lama atau sulit
  • Ibu tidak mendapat cukup oksigen sebelum dan saat persalinan
  • Tekanan darah ibu terlalu tinggi atau rendah
  • Ibu atau bayi mengalami infeksi
  • Plasenta terpisah dari rahim terlalu cepat
  • Tali pusar melilit bayi di posisi yang tidak tepat
Asphyxia neonatorum bisa terjadi hanya dalam hitungan menit, baik itu sebelum, saat, atau setelah proses persalinan. Hanya dalam hitungan menit itu pula, kerusakan organ bisa terjadi.Bahkan, kerusakan juga dapat terjadi saat sel-sel sedang dalam tahap pemulihan dari asphyxia neonatorum. Pada fase ini, ada zat-zat beracun yang dilepaskan ke tubuh dan bisa berdampak negatif pada bayi.Bayi yang paling berisiko mengalami asphyxia neonatorum adalah bayi prematur. Selain itu, bayi yang terlahir dari ibu penderita diabetes atau preeklamsia juga berisiko mengalami asphyxia neonatorum.Tak hanya itu, studi yang dirilis di Italian Journal of Pediatrics juga mencatatkan bahwa usia ibu dan bayi dengan berat badan lahir rendah juga berisiko mengalami asphyxia neonatorum. Itu sebabnya kasus ini lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang yang membuat ibu tidak mendapat akses antenatal care dengan mudah.

Cara diagnosis dan penanganan asphyxia neonatorum

Dalam waktu 1-5 menit setelah lahir, bayi akan mendapatkan Apgar score berdasarkan lima faktor, yaitu:
  • Pernapasan
  • Detak jantung
  • Penampilan
  • Respons terhadap stimulus
  • Kekuatan otot
Setiap faktor di atas akan mendapat nilai 0, 1, atau 2. Jadi, total nilai tertinggi dari kelima faktor Apgar score adalah 10. Bayi dengan Apgar score rendah seperti di bawah 7 lebih berisiko mengalami asphyxia neonatorum. Lebih jauh lagi, bayi dengan Apgar score 3 dan bertahan selama 5 menit juga diduga kuat mengalami asphyxia neonatorum.Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan darah bayi untuk mengetahui kadar asam dalam darah. Jika kadar asam cukup tinggi, artinya bayi tidak mendapat cukup oksigen. Apabila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menganalisis apakah jantung, ginjal, dan liver bayi terdampak.Langkah penanganan terhadap bayi yang mengalami asphyxia neonatorum bergantung pada kondisinya. Jika terdeteksi sebelum persalinan, maka bantuan oksigen bisa diberikan kepada sang ibu lebih dulu. Alternatif lainnya adalah melakukan persalinan cesarean segera untuk mengantisipasi asphyxia neonatorum sebelum jatuh pada keadaan gawat janin.

Catatan dari SehatQ

Apabila bayi mengalami asphyxia neonatorum setelah persalinan, maka perlu diberikan alat bantu pernapasan. Menjaga bayi agar tetap hangat juga dapat mencegah kerusakan lebih jauh.Pada beberapa kasus, asphyxia neonatorum bisa menyebabkan bayi mengalami kejang. Penanganan terhadap kondisi ini harus sangat hati-hati untuk mencegah terjadinya cedera tubuh atau otak akibat kejang.
bayi & menyusuiibu dan anakhidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/asphyxia-neonatorum
Diakses pada 1 Agustus 2020
WebMD. https://www.webmd.com/first-aid/asphyxia-overview
Diakses pada 1 Agustus 2020
Hello Motherhood. https://www.hellomotherhood.com/signs-of-asphyxiation-5969113.html
Diakses pada 1 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait