Bahaya Karbon Disulfida pada Pekerja Industri, Sebabkan Sakit Kepala hingga Stroke


Karbon disulfida merupakan salah satu senyawa yang kerap digunakan oleh pabrik-pabrik, seperti industri garmen atau minyak dan gas. Bahaya paparan karbon disulfida rentan mengancam para pekerjanya, mulai dari yang ringa, seperti pusing, hingga gangguan organ.

0,0
bahaya karbon disulfidaPaparan karbon disulfida bisa menimbulkan bahaya kesehatan
Karbon disulfida (CS2) adalah senyawa berbentuk cairan tidak berwarna dan memiliki bau aromatik yang manis, seperti kloroform. Senyawa ini tergolong mudah menguap dan mudah ditemukan, terutama pada kawasan industri. Apa saja bahaya karbon disulfida bagi kesehatan? Siapa kelompok yang paling rentan? Adakah kegunaannya? Simak penjelasan berikut ini.

Bahaya karbon disulfida bagi kesehatan

Pusing hingga gangguan organ adalah bahaya terpapar karbon disulfida
Pusing hingga gangguan organ adalah bahaya terpapar karbon disulfida
Banyak penelitian telah membuktikan bahwa paparan karbon disulfida secara berlebihan memiliki efek samping negatif bagi kesehatan.Beberapa bahaya dan gangguan kesehatan yang mungkin muncul akibat paparan karbon disulfida, antara lain:
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Vertigo
  • Hilang kesadaran (narkosis)
  • Kelumpuhan sentral 
  • Gangguan kardiovaskuler, termasuk penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah
  • Gangguan paru
  • Gangguan saraf
  • Gangguan hormon
  • Penurunan toleransi glukosa
  • Diabetes melitus
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan penglihatan

Siapa saja yang rentan terpapar karbon disulfida?

Karyawan pabrik rentan terpapar bahaya karbon disulfida
Karyawan pabrik rentan terpapar bahaya karbon disulfida
Dikutip dari organisasi kesehatan dunia, WHO, karbon disulfida sebagian besar digunakan dalam produksi bahan viscose (rayon) dan selofan (cellophane). Kandungan karbon disulfida juga ditemukan dalam pemrosesan minyak dan gas, serta industri kimia dan pembuatan ban.Itu sebabnya, kelompok pekerja di bidang industri garmen serta minyak dan gas-lah yang paling rentan terhadap bahaya paparan karbon disulfida.  Meski tidak sebesar pada sektor industri, para pekerja di bidang lahan dan perkebunan juga tidak terlepas dari risiko terpapar bahan kimia karbon disulfida. Pasalnya, senyawa ini juga diproduksi secara alami oleh mikroorganisme tanah, sedimen (batuan), vegetasi, kebakaran hutan dan rumput, serta gunung berapi. WHO menyatakan bahwa paparan karbon disulfida paling umum terjadi lewat udara (pencemaran udara akibat limbah pabrik). Akan tetapi, kemungkinan paparan lewat kulit juga mungkin terjadi. 

Cara mengatasi paparan karbon disulfida

Paparan karbon disulfida pada kulit bisa diatasi dengan cuci tangan atau mandi
Paparan karbon disulfida pada kulit bisa diatasi dengan cuci tangan atau mandi
Keracunan senyawa kimia tertentu merupakan jenis kecelakaan kerja yang rentan pada pekerja di pabrik.Pekerja di kawasan industri sangat rentan terpapar bahaya karbon disulfida. Untuk mencegahnya, penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai standar aturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) perusahaan dapat meminimalkan risiko paparan.Publikasi berjudul  Environmental Medicine juga mengeluarkan anjuran pertolongan pertama saat terpapar senyawa berbahaya seperti karbon disulfida.Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebagai pertolongan pertama keracunan bahan kimia, seperti paparan karbon disulfida:
  • Jika terkena mata, bersihkan mata dengan air bersih dan segera cari pertolongan medis. Jangan menggosok mata ataupun menutup rapat kelopak mata.
  • Jika terkena kulit, segera lepaskan pakaian yang terkontaminasi. Cuci area tubuh yang terpapar dengan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit. Konsultasikan segera ke dokter jika kulit memerah atau melepuh.
  • Apabila udara di sekitar terpapar karbon disulfida, keluarlah dari ruangan tersebut dan cari tempat terbuka yang memiliki udara segar.
  • Paparan melalui saluran pencernaan (tidak sengaja tertelan) dapat menyebabkan kejang atau hilang kesadaran. Jika ini yang terjadi, hindari makan apa pun dan segera hubungi dokter untuk mendapat pertolongan medis. 

Catatan dari SehatQ

Sejauh ini, beberapa penelitian menyebutkan kegunaan karbon disulfida sebatas sebagai pelarut lipid, belerang, karet, fosfor, minyak, resin, dan lilin.Senyawa kimia ini bukanlah hal baru di dunia industri. Anda yang bekerja pada sektor di atas, mungkin perlu kewaspadaan ekstra agar bahaya karbon disulfida dapat ditekan. Taati selalu aturan K3 terkait penggunaan alat pelindung diri (APD) di lingkungan kerja.Jika Anda mengalami gejala pusing, mual, dan gejala lain setelah berada di lingkungan industri atau perkebunan, jangan ragu untuk konsultasikan kondisi Anda ke dokter.Anda juga bisa berkonsultasi secara online mengenai bahaya karbon disulfida dan senyawa kimia lainnya menggunakan fitur chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
penyakit paru-parupenyakitkeracunanpolusi udara
Korean Journal of Radiology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2713879/
Diakses pada 29 Juli 2021
WHO. https://www.who.int/ipcs/publications/cicad/cicad46_rev_1.pdf
Diakses pada 29 Juli 2021
Environmental Health Perspectives. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1241684/
Diakses pada 29 Juli 2021
Carbon disulfide effects on the visual system. I. Visual thresholds and ophthalmoscopy. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3356510/
Diakses pada 29 Juli 2021
National Research Council (US) Committee on Acute Exposure Guideline Levels. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK214898/
Diakses pada 29 Juli 2021
Diseases-a-month. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4693596/
Diakses pada 29 Juli 2021
Environmental Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK231990/
Diakses pada 29 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait