Cara Mengobati Usus Buntu Tanpa Operasi adalah dengan Antibiotik


Cara mengobati usus buntu tanpa operasi adalah dengan penggunaan antibiotik. Namun, tidak semua kasus usus buntu bisa diobati dengan antibiotik. Hanya kasus ringanlah yang memungkinkan.

(0)
16 Aug 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Cara mengobati usus buntu tanpa operasi adalah dengan antibiotikCara mengobati usus buntu tanpa operasi adalah menggunakan obat antibiotik
Penyakit usus buntu atau apendisitis terjadi saat organ appendix mengalami inflamasi atau peradangan. Radang usus buntu dapat memicu rasa nyeri yang hebat di area perut dan berbagai gangguan pencernaan lainnya. Biasanya, kondisi ini diatasi dengan operasi. Namun saat ini, cara mengobati usus buntu tanpa operasi juga sudah bisa menjadi opsi.Peradangan pada usus buntu, bisa terjadi secara tiba-tiba atau akut maupun secara perlahan atau kronis. Usus buntu yang bisa diobati tanpa operasi adalah yang akut, sedangkan yang kronis tetap hanya dapat disembuhkan melalui operasi.

Antibiotik dinilai efektif untuk mengobati usus buntu tanpa operasi

Kebanyakan kasus usus buntu selama ini hampir pasti berakhir di meja operasi. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan asal Finlandia, peradangan usus buntu yang akut dan kondisinya tidak terlalu parah, bisa diobati hingga sembuh dengan pemberian antibiotik saja.Para peneliti tersebut yakin, pemberian antibiotik untuk mengatasi radang usus buntu aman dilakukan dan risiko komplikasinya minimal.Namun perlu diingat bahwa pada kondisi usus buntu parah, dengan organ yang hampir atau bahkan sudah pecah atau mengalami perforasi, operasi haruslah segera dilakukan.Para peneliti membandingkan tingkat kesembuhan antara 273 orang yang sudah menjalani operasi usus buntu, dan 257 orang yang hanya menerima pengobatan dengan antibiotik.Hasilnya, sekitar 60% dari total pasien yang hanya menerima antibiotik, bisa sembuh dengan baik dan tidak memerlukan operasi usus buntu lanjutan, lima tahun setelah pengobatan tersebut dijalankan.Sementara itu sekitar 40% sisanya, atau 100 dari 257 orang, tetap harus menjalani operasi usus buntu dalam jangka waktu lima tahun setelah diberi antibiotik. Bahkan, 15 pasien di antaranya harus menjalani operasi saat masih menjalani perawatan dengan antibiotik.

Kelebihan dan kekurangan antibiotik sebagai obat usus buntu

Menggunakan obat antibiotik sebagai obat usus buntu memang bisa dilakukan, tapi bukan tanpa syarat. Dari data penelitian yang dilakukan, sekitar 40% pasien yang menjalani pengobatan ini tetap harus menjalani operasi. Sehingga bisa dibilang ada risiko kegagalan pengobatan sekitar 40%.Sementara itu, dalam prosedur operasi usus buntu atau apendektomi yang dilakukan pada 273 orang pasien dalam penelitian tersebut, hanya satu yang tidak berhasil dengan baik. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan prosedur ini mencapai 99,6%.Penelitian ini pun hanya membandingkan pengobatan menggunakan antibiotik dengan apendektomi atau operasi pemotongan usus buntu. Sementara itu saat ini, sudah ada teknologi lebih baru yang dapat membuat operasi usus buntu jadi lebih sederhana, yaitu dengan laparoskopi.Pada pengobatan usus buntu menggunakan antibiotik, obat tersebut harus diberikan langsung ke pembuluh darah atau disuntikkan melalui intravena selama tiga hari, lalu dilanjutkan dengan antibiotik minum selama tujuh hari. Jadi total perawatan yang dijalani mencapai 10 hari.Sementara pada prosedur laparoskopi, pasien hanya perlu menginap di rumah sakit selama satu hari setelah operasi.

Kapan usus buntu harus dioperasi?

Saat kondisi radang usus buntu yang Anda alami tidak terlalu parah, dokter mungkin saja memberikan pilihan untuk menjalani pengobatan menggunakan antibiotik atau operasi.Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai operasi yang biasa dilakukan untuk mengatasi usus buntu.

1. Laparoskopi

Jika nyeri perut dan kondisi secara keseluruhan dirasa sudah cukup parah tapi usus buntu belum pecah atau mengalami perforasi, maka dokter biasanya akan menyarankan Anda untuk menjalani operasi laparoskopi.Saat melakukan prosedur ini, dokter tidak akan melakukan sayatan di perut terlalu banyak. Dokter hanya akan membuat sedikit sayatan di pusar, untuk bisa memasukkan alat laparoskopi berupa selang kecil berkamera dan alat-alat khusus untuk menyingkirkan jaringan yang meradang.Prosedur ini dinilai aman untuk semua usia, termasuk anak-anak dan lansia.

2. Apendektomi

Sementara itu pada kondisi yang parah, dokter harus segera melakukan pembedahan untuk mengangkat usus buntu. Prosedur ini harus dilakukan sebelum bakteri yang menyebabkan peradangan masuk ke dalam aliran darah dan menginfeksi darah.Pada apendektomi, dokter akan melakukan operasi terbuka. Artinya, untuk mengeluarkan usus buntu yang terinfeksi, dokter akan membuka jaringan yang cukup besar di perut.

Waspadai ciri-ciri penyakit usus buntu

Pengobatan usus buntu baik itu dengan antibiotik maupun operasi, tidak akan bisa dilakukan sebelum Anda mengenali gejalanya. Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengelami gejala-gejala di bawah ini.
  • Sakit perut di bagian kanan bawah yang muncul tiba-tiba
  • Sakit perut yang awalnya muncul di bagian sekitar pusar namun sering berpindah ke perut sebelah kanan bawah
  • Nyeri di area perut yang bertambah parah apabila Anda batuk, berjalan, ataupun melakukan gerakan lainnya
  • Mual dan muntah
  • Hilang nafsu makan
  • Demam
  • Diare atau konstipasi
  • Kembung 
  • Sering buang angin
Setelah mengetahui cara mengobati usus buntu baik itu tanpa operasi maupun dengan operasi, Anda diharapkan tetap perlu berkonsultasi ke dokter sebelum melakukan tindakan apapun. Penanganan yang kurang tepat bisa berujung pada meningkatnya keparahan kondisi.
peradanganususapendisitisusus buntuantibiotik
Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/how-to-tell-if-that-pain-is-your-appendix/
Diakses pada 4 Agustus 2020
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/news/20180925/antibiotics-may-cure-appendicitis-without-surgery#1
Diakses pada 4 Agustus 2020
JAMA Network. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2320315
Diakses pada 4 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait