Crossdresser dan Kaitannya dengan Transvestisme

(0)
06 Jan 2021|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Crossdresser dapat digolongkan sebagai gangguan transvestikCrossdresser gemar menggunakan pakaian lawan jenisnya
Crossdresser adalah sebutan bagi seseorang yang gemar mengenakan pakaian lawan jenisnya. Kebiasaan yang disebut sebagai crossdressing ini biasanya dilakukan oleh laki-laki heteroseksual (bukan transgender) yang senang mengenakan pakaian wanita. Dalam kasus yang langka, ada pula wanita yang gemar menggunakan memakai pakaian laki-laki.Istila crossdresser juga dikaitkan dengan penderita gangguan transvetisme (gangguan transvestik). Dalam gangguan ini, kebiasaan crossdressing dilandasi dengan gairah seksual yang berulang dan intens. Atas dasar inilah gangguan transvetisme digolongkan sebagai kelainan seksual.

Crossdresser dan kaitannya dengan transvestisme

Pada crossdresser yang menderita gangguan transvetik, pelakunya akan mengalami kesulitan besar atau tidak dapat berfungsi layaknya kebanyakan orang karena hasrat untuk melakukan crossdressing. Untuk memahami lebih jauh, berikut adalah penyebab dan gejala transvetisme.

1. Penyebab gangguan transvestik

Tidak ada penyebab yang spesifik untuk gangguan transvestik. Dilansir dari Psychology Today, berdasarkan pengamatan pada masa kanak-kanak, perilaku crosdressing akan memberikan kegembiraan bagi pelakunya. Setelah pubertas, perilaku ini dapat berubah menjadi gairah seksual.Seiring bertambahnya usia, perilaku ini terus diulangi dan diperkuat sehingga dorongan untuk crossdressing menjadi semakin kuat, bahkan ketika kepuasan seksual yang dirasakan pelaku crossdresser mulai berkurang.

2. Gejala gangguan transvestik

Walaupun merupakan gejala utama dari gangguan transvestik, pelaku crossdresser tidak serta-merta didiagnosis menderita transvestisme. Selain gemar mengenakan pakaian lawan jenis, ada beberapa gejala gangguan transvestik yang bisa Anda amati.
  • Memiliki dorongan kuat yang tak tertahankan untuk melakukan crossdressing. Keinginan untuk melakukannya juga dapat berfluktuasi atau terjadi dalam serangkaian episode.
  • Memiliki gairah seksual yang terus-menerus, intens, dan mendesak untuk berfantasi atau benar-benar mengenakan satu atau lebih pakaian yang biasanya dikenakan lawan jenis.
  • Kondisi ini telah berlangsung setidaknya selama enam bulan.
  • Kondisi ini menyebabkan tekanan mental yang tinggi pada individu.
  • Dorongan untuk crossdressing telah menyebabkan terjadinya disfungsi dalam bidang sosial (pergaulan), profesional (pekerjaan), atau area penting lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Orang dengan transvetisme dapat terjebak dalam pola perilaku negatif, yakni membeli pakaian dengan maksud crossdressing, memakainya selama sesi crossdressing, lantas membuangnya dengan harapan dapat berhenti melakukan crossdressing.
Tidak hanya itu, transvetisme juga dapat didiagnosis bersama dengan berbagai kelainan seksual lainnya, seperti:
  • Fetisisme, yakni kondisi di mana seseorang dapat terangsang secara seksual oleh kain, bahan, atau pakaian.
  • Masokisme, yakni kondisi di mana seseorang mengalami kepuasan seksual saat merasa sakit secara fisik atau mendapatkan penghinaan.
  • Autoginefilia, yakni kondisi di mana seorang pria dapat memperoleh kenikmatan seksual dari berfantasi menjadi wanita.

Cara mengatasinya transvestisme

Menjadi crossdresser tidak dianggap sebagai suatu kelainan sehingga boasanya tidak diperlukan pengobatan. Namun, beberapa crossdresser mungkin perlu melakukan terapi atas dorongan orang lain (orangtua, pasangan, dan keluarga) atau karena keinginan sendiri.Biasanya crossdresser mencari terapi karena beberapa alasan, seperti:
  • Depresi
  • Disforia gender
  • Merasa tertekan oleh dorongan diri sendiri untuk terus melakukan crossdressing.
Demikian juga pada penderita transvestisme. Kondisi ini dapat dianggap gangguan mental dan membutuhkan terapi hanya jika menyebabkan pelakunya merasa tertekan atau mengalami masalah dalam menjalani fungsi kehidupan sehari-hari, termasuk jika perilaku tersebut mengarah pada hal yang dapat menyebabkan cedera, kehilangan pekerjaan, atau melawan hukum.Saat ini belum ada jenis obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati perilaku crossdressing. Namun, ada beberapa metode perawatan yang dapat diberikan bagi para crossdresser, antara lain:

1. Kelompok sosial pendukung

Kelompok ini beranggotakan orang-orang yang sedang atau telah melalui pengalaman serupa. Setiap anggota dapat berbagi pengalaman, perasaan pribadi, serta strategi mengatasi gangguan kesehatan dan informasi langsung tentang gangguan atau perawatan.

2. Psikoterapi

Terapi ini dapat diberikan bila diperlukan. Psikoterapi difokuskan untuk membantu seseorang agar dapat menerima diri mereka sendiri dan mengontrol perilaku yang sekiranya dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.Seseorang dengan riwayat gangguan transvetisme dapat dianggap dalam remisi, saat:
  • Keinginan untuk melakukan crossdressing tidak menyebabkan individu merasa tertekan atau tidak lagi mengganggu rutinitas kehidupan sehari-hari.
  • Kondisi di atas telah bertahan setidaknya dalam lima tahun.
Jika Anda termasuk seorang crossdresser yang ingin menghentikan kebiasaan tersebut, tapi kesulitan untuk melakukannya, Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog.Apabila Anda punya pertanyaan seputar gangguan seksual, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
gangguan mentalkepuasan seksual
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/mental-health-disorders/sexuality-and-sexual-disorders/transvestism
Diakses 23 Desember 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/transvestic-disorder
Diakses 23 Desember 2020
Psychiatry. https://www.psychiatry.org/patients-families/psychotherapy
Diakses 23 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait