Dampak Carbon Footprint alias Jejak Karbon pada Kesehatan dan Lingkungan


Carbon footprint atau jejak karbon adalah jumlah gas buangan atau emisi yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Gas yang dihasilkan sering disebut sebagai gas rumah kaca.

0,0
01 Apr 2021|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Carbon footprint bisa menyebabkan pemanasan globalCarbon footprint adalah jumlah gas sisa yang muncul dari listrik, bbm, bahkan kotoran hewan
Carbon footprint atau jejak karbon adalah jumlah gas buangan atau emisi yang dihasilkan oleh kegiatan manusia baik itu secara individu maupun kelompok. Semakin tinggi jejak karbon yang ada di bumi, maka lingkungan akan semakin rusak, begitupun dengan kesehatan. Pasalnya, gas-gas tersebut berkontribusi dalam terjadinya pemanasan global.
Gas-gas yang dihasilkan manusia dan terhitung sebagai jejak karbon, disebut juga sebagai gas rumah kaca. Semakin banyak gas rumah kaca yang dihasilkan, maka efek rumah kaca, yang merupakan penyebab utama pemanasan global, akan semakin cepat terjadi.Pemanasan global tak hanya berpengaruh pada lingkungan, tapi juga kesehatan. Oleh karena itu, mengurangi jejak karbon yang Anda hasilkan, akan membantu memperlambat proses pemanasan global yang saat ini sudah mulai terjadi.

Penyebab terbentuknya carbon footprint

Penyebab carbon footprint adalah kegiatan sehari-hari mulai dari pakai mobil sampai listrik
Carbon footprint bisa disebabkan oleh industrialisasi kawasan
Tanpa disadari, hampir semua hal yang kita lakukan akan menghasilkan jejak karbon. Berikut ini beberapa kegiatan yang dapat menyumbangkan jumlah jejak karbon.

1. Penggunaan listrik

Listrik untuk kebutuhan rumah tangga, datang dari pembangkit listrik yang dijalankan menggunakan bahan bakar minyak ataupun batu bara. Proses ini tentu akan menyumbangkan gas-gas rumah kaca ke udara.Semakin sering Anda menggunakan listrik, maka semakin banyak juga jejak karbon yang akan ditinggalkan.Hal-hal kecil seperti menyalakan lampu terlalu lama atau tidak mematikan listrik ketika sudah selesai mengisi baterai ponsel, juga bisa menyumbang jejak karbon.

2. Konsumsi makanan

Praktik pengolahan pertanian dan peternakan, juga bisa menjadi penyumbang jejak karbon yang cukup tinggi. Sebab, kotoran yang diproduksi oleh para hewan ternak bisa menyumbangkan metana, sebagai salah satu gas rumah kaca.Tentu, meskipun menyumbangkan jejak karbon yang cukup tinggi, kedua proses ini tidak bisa serta merta dihilangkan. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir produksi karbon dan gas rumah kaca lain.

3. Penggunaan kendaraan bahan bakar minyak

Sudah bukan berita baru jika penggunaan bahan bakar minyak pada kendaraan menjadi penyumbang gas rumah kaca yang signifikan.Semua jenis bahan bakar minyak, baik itu yang digunakan pada mobil, pesawat, kereta, hingga kapal laut akan menghasilkan jejak karbon di udara.

4. Penebangan hutan

Penebangan pohon di hutan dapat meningkatkan jumlah emisi gas rumah kaca secara signifikan dan meninggalkan jejak karbon dalam jumlah tinggi.Sebab dalam kondisi normal, pohon berfungsi menyerap karbon dari udara dan akan diolah agar bisa dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai oksigen. Jika pohon habis ditebang, maka tidak ada lagi yang akan menyerap gas-gas berbahaya tersebut.Penebangan hutan menyebabkan lepasnya miliaran ton karbon ke udara. Gundulnya hutan dan pengubahan area hijau menjadi area industri juga akan menyebabkan berkurangnya area resapan hujan sehingga banjir dan longsor rawan terjadi.

5. Pembangunan kawasan industri

Pembangunan kawasan industri berisi pabrik dan kawasan tempat tinggal bisa memicu meningkatnya jumlah carbon footprint.Bahan bakar yang digunakan dalam operasional pabrik dan limbah kimia yang mungkin keluar, dan apabila tidak diolah dengan baik akan merusak lingkungan.Baca Juga: 5 Jenis Pencemaran Lingkungan yang Perlu Diketahui

Dampak jejak karbon untuk kesehatan dan lingkungan

Jejak karbon alias carbon footprint bisa sebabkan bencana alam
Carbon footprint bisa membuat permukaan air laut naik
Jika jumlah jejak karbon di bumi terlalu banyak, maka bukan hanya lingkungan yang bisa rusak, tapi juga kesehatan manusia. Berikut ini beberapa dampak jejak karbon yang perlu Anda kenali.

• Permukaan air laut semakin naik

Semakin banyak jejak karbon, maka semakin cepat juga efek pemanasan global akan kita rasakan. Salah satunya adalah meningkatkan suhu rata-rata di bumi.Hal ini membuat es di area-area dingin bumi mencair, dan menyebabkan naiknya permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut ini akan merugikan orang-orang yang tinggal di pesisir karena risiko banjir pun bertambah.Mencairnya es juga akan meningkatkan risiko longsor dan membuat banyak hewan sampai mikroba yang semula hidup di area tersebut akhirnya kehilangan habitat.

• Iklim menjadi tidak menentu

Kini, menentukan waktu musim hujan dan musim kemarau semakin sulit. Begitupun di negara-negara empat musim yang akhir-akhir ini semakin sering merasakan salju turun di waktu yang tidak terduga.Hujan deras, banjir, kebakaran hutan, hingga badai yang semakin sering datang juga menjadi bukti bahwa pemanasan global sedang terjadi.Hal ini tentu akan merugikan manusia dari segala sisi, baik materi maupun kesehatan. Saat iklim tidak menentu, risiko terjadinya bencana alam akan meningkat.

• Risiko infeksi meningkat

Tak banyak yang tahu bahwa terjadinya pemanasan global akibat menumpuknya jejak karbon juga akan berpengaruh pada kesehatan. Padahal, sudah banyak kasus yang membuktikannya.Salah satunya adalah merebaknya wabah penyakit anthrax di tahun 2016. Saat itu, karena es di kutub semakin banyak yang mencair, sebuah bangkai rusa yang semula terkubur di bawah es akhirnya naik ke permukaan dan virus di dalamnya menyebar hingga menyebabkan wabah.Semakin tingginya curah hujan dan terbukanya lahan hutan juga membuat risiko beberapa penyakit menjadi meningkat, seperti demam beradarah, malaria, infeksi virus zika, hingga asma.

• Meningkatkan risiko kelaparan dan malnutrisi

Iklim yang tidak menentu serta kurangnya area resapan akan membuat petani sulit panen, akses air bersih kian langka, dan tanaman yang tumbuh menjadi kurang nutrisi.Hal-hal di atas akan menyebabkan meningkatnya jumlah orang yang menderita malnutrisi dan berisiko kelaparan.

Langkah untuk mengurangi produksi carbon footprint

Mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah bisa mengurangi carbon footprint
Mengonsumsi sayur dan buah bisa membantu mengurangi carbon footprint
Jejak karbon akan sulit untuk dihilangkan sepenuhnya. Saat ini, yang dapat kita lakukan untuk membantu menyelamatkan bumi adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang dapat dimulai dari diri sendiri, sehingga jejak karbon pribadi bisa dikurangi. Ini beberapa caranya.
  • Perbanyak makan buah dan sayuran serta kurangi konsumsi daging. Hewan ternak adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca tertinggi.
  • Pilih makanan yang diproduksi dan dibudidayakan secara lokal. Makanan yang dikirim dari area yang jauh, bisa sampai ke tempat kita karena menggunakan kendaraan yang menyumbang jejak karbon tinggi.
  • Jangan terlalu sering membeli baju baru. Baju yang lama sebaiknya diolah atau disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Limbah baju bekas, saat dibiarkan menumpuk akan menghasilkan gas metana yang merupakan gas rumah kaca.
  • Saat berbelanja, bawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik
  • Belanja seperlunya saja agar tidak banyak yang dibuang saat tidak terpakai dan malah menjadi limbah.
  • Matikan lampu saat tidak digunakan
  • Batasi penggunaan pendingin ruangan.
  • Ganti bola lampu dengan yang hemat energi.
  • Lebih memanfaatkan transportasi umum daripada kendaraan pribadi
  • Jika memungkinkan, saat pergi naik pesawat, pilih penerbangan tanpa transit untuk menghemat bahan bakar yang digunakan.
Mengurangi jejak karbon bisa dilakukan dengan jalan yang dimulai dari diri sendiri. Dengan begitu, kita sudah membantu mengurangi dampak pemanasan global satu langkah lebih maju.
infeksi virusalergi lingkunganbanjirterbakar matahari
Live Science. https://www.livescience.com/37821-greenhouse-gases.html
Diakses pada 23 Maret 2021
United States Environmental Protection Agency. https://www.epa.gov/ghgemissions/sources-greenhouse-gas-emissions
Diakses pada 23 Maret 2021
The Nature Concervancy. https://www.nature.org/en-us/get-involved/how-to-help/carbon-footprint-calculator/
Diakses pada 23 Maret 2021
Earth Institute, Columbia University. https://blogs.ei.columbia.edu/2018/12/27/35-ways-reduce-carbon-footprint/
Diakses pada 23 Maret 2021
Live Science. https://www.livescience.com/37057-global-warming-effects.html
Diakses pada 23 Maret 2021
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health
Diakses pada 23 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait