DMARDs Konvensional vs Biologis untuk Obati Rematik, Apa Bedanya?


Rematik atau rheumatoid arthritis adalah penyakit peradangan yang terjadi karena kondisi autoimun seseorang. Untuk mengobatinya, salah satu yang digunakan adalah disease-modifying antirheumatic drugs atau DMARDs.

(0)
10 Nov 2020|Azelia Trifiana
DMARDS merupakan obat antirematikDMARDS adalah obat antirematik
Rematik atau rheumatoid arthritis adalah penyakit peradangan yang terjadi karena kondisi autoimun seseorang. Untuk mengobatinya, salah satu yang digunakan adalah disease-modifying antirheumatic drugs atau DMARDs.Fungsi dari jenis obat ini adalah mengurangi peradangan. Tidak seperti obat lain yang hanya meredakan rasa sakit sementara, DMARDs dapat membuat rheumatoid arthritis tidak menjadi kian parah.

Cara kerja obat DMARDs

Fungsi utama obat-obatan untuk rheumatoid arthritis adalah menyembuhkan peradangan. Ada dua jenis DMARDs, yaitu konvensional atau tradisional dan terapi biologis.Jenis obat disease-modifying antirheumatic drugs konvensional yang paling umum digunakan untuk meredakan rematik adalah:
  • Hydroxychloroquine
  • Leflunomide
  • Methotrexate
  • Ciclosporin
  • Cyclophospamide
  • Methotrexate
  • Sulfasalazine
  • Minocycline
Obat DMARDs tradisional memiliki target pada seluruh sistem imun dan sifatnya tidak spesifik. Kelompok obat ini bekerja perlahan dan bisa jadi memerlukan beberapa minggu hingga terasa dampaknya. Jadi, penting untuk tetap mengonsumsinya meski awalnya terasa tidak ada perubahan signifikan.Di sisi lain, ada juga jenis obat biologis yang targetnya sangat spesifik dalam proses peradangan, termasuk menghilangkan kemungkinan tubuh mengalami radang. Obat biologis diberikan lewat suntikan.Jenis obat biologis yang kerap diresepkan adalah:
  • Abatacept
  • Rituximab
  • Toxilizumab
  • Anakinra
  • Adalimumab
  • Etanercept
  • Infliximab
Terapi biologis ini termasuk jenis obat baru yang dikembang beberapa tahun belakangan. Target cara kerja obat ini adalah dengan menyasar molekul individu spesifik sehingga bisa bekerja lebih cepat dibandingkan dengan DMARDs konvensional.Lebih jauh lagi, terapi biologis hanya akan diberikan kepada pasien yang sudah menjalani pengobatan lain sebelumnya dan tidak berhasil. Pemberian obat jenis ini juga bisa dilakukan bersamaan dengan DMARDs tradisional.Namun, dokter umumnya tidak menyarankan konsumsi obat biologis bagi orang yang memiliki masalah autoimun. Alasannya karena bisa meningkatkan risiko mengalami infeksi serius.

Obat lain untuk mengatasi rheumatoid arthritis

Selain DMARDs konvensional dan terapi biologis, ada beberapa jenis obat lain yang dapat meredakan rematik, seperti:
  • Penghambat janus kinase

Dokter juga bisa meresepkan obat jenis penghambat janus kinase apabila DMARDs dan terapi biologis tidak berhasil. Obat ini akan berpengaruh terhadap gen dan aktivitas sel imun dalam tubuh. Oleh sebab itu, obat ini dapat mencegah peradangan serta mencegah kerusakan pada persendian dan jaringan.Jenis obat penghambat janus kinase berupa tofacitinib dan baricitinib. Efek samping dari konsumsi obat jenis ini adalah sakit kepala, infeksi sinus, hidung tersumbat, hidung berair, panas dalam, serta diare.
  • Asetaminofen

Obat untuk rematik yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter adalah asetaminofen. Bentuknya bisa berupa obat minum atau dimasukkan lewat rektum, area di usus besar sebelum anus. Meski bisa meredakan rasa sakit, namun asetaminofen tidak dapat menghentikan peradangan.Konsumsi obat jenis asetaminofen harus sangat hati-hati karena berisiko menyebabkan masalah pada hati, bahkan gagal hati atau liver failure. Seseorang hanya boleh mengonsumsi satu jenis asetaminofen di saat bersamaan.
  • Obat anti-peradangan nonsteroid

Obat ini termasuk yang paling umum digunakan untuk mengobati rematik. Tak seperti obat pereda nyeri lainnya, nonsteroidal anti-inflammatory drugs bisa lebih efektif mencegah terjadinya radang. Pasien bisa membeli obat ini secara bebas atau dengan resep dokter untuk dosis yang lebih tinggi.Efek samping konsumsi obat anti-peradangan nonsteroid mulai dari iritasi perut, pendarahan perut, hingga kerusakan ginjal. Apabila seseorang mengonsumsi obat ini dalam jangka panjang, dokter juga akan memantau fungsi ginjalnya.
  • Kortikosteroid

Kortikosteroid ada dalam bentuk oral dan suntik. Obat ini dapat membantu mengurangi peradangan pada penyakit rematik. Tak hanya itu, kortikosteroid juga dapat meredakan rasa nyeri. Namun, obat ini tidak direkomendasikan dikonsumsi dalam jangka panjang.Efek samping yang bisa muncul mulai dari peningkatan kadar gula darah, tekanan darah tinggi, katarak, osteoporosis, hingga gangguan pada aspek emosional seperti terlalu antusias atau mudah tersinggung.

Catatan dari SehatQ

Untuk mengetahui obat apa yang paling efektif mengatasi rheumatoid arthritis yang diderita, diskusikan apa saja pilihannya. Kondisi setiap orang berbeda. Artinya, obat yang berhasil pada orang lain belum tentu berlaku sama untuk Anda.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang penanganan rematik serta pilihan obat yagn tepat, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
penyakitrematikdemam rematik
Healthline. https://www.healthline.com/health/rheumatoid-arthritis/medications-list
Diakses pada 26 Oktober 2020
STAT Pearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507863/
Diakses pada 26 Oktober 2020
Versus Arthritis. https://www.versusarthritis.org/about-arthritis/treatments/drugs/disease-modifying-anti-rheumatic-drugs-dmards/
Diakses pada 26 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/rheumatoid-arthritis/understanding-biologic-treatments-for-ra
Diakses pada 26 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait