Gendongan Bayi Depan, Waspadai Over Stimulus dan Menghambat Pertumbuhan Bayi

(0)
28 Jan 2020|Azelia Trifiana
Ketika anak sudah lebih kuat menopang kepala sendiri, maka gendongan bayi depan bisa jadi pilihanPastikan keamanan dan kenyamanan bayi ketika Anda ingin menggendongnya menghadap depan
Tidak berlebihan jika gendongan bayi depan kerap menuai kontroversi, terkait aman tidaknya untuk bayi. Utamanya, ketika bayi masih kecil dan belum benar-benar siap menopang tubuhnya. Namun dengan gendongan bayi berdesain tertentu, risiko-risikonya bisa dihindari.Ada banyak sekali opini yang berbeda seputar gendongan bayi depan. Kapan bayi dianggap aman untuk digendong menghadap depan pun belum menemui kata sepakat.

Risiko gendongan bayi depan

Untuk memberi gambaran apa saja risiko gendongan bayi depan, ini di antaranya:
  • Sensori berlebihan

Bayi yang masih kecil belum betul-betul siap dengan interaksi yang terlalu lama dan intens dengan lingkungan sekitar. Ketika berada di gendongan bayi depan, artinya mereka bisa melihat sekeliling dengan bebas, berbeda dengan saat digendong menyamping atau menghadap ke belakang.Bayi yang masih kecil belum memahami bagaimana memproses segala sensori dan informasi yang masuk ke mereka. Terlebih, mereka juga belum bisa menyaring mana yang penting dan tidak. Konsekuensinya, bayi bisa menjadi lelah dan rewel karena bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
  • Tidak aman untuk bayi tidur

Posisi gendongan bayi depan tidaklah aman untuk bayi tidur karena tidak ada penopang stabil untuk kepala mungil mereka. Idealnya ketika benar-benar harus tidur dan masih dalam perjalanan, bayi berada dalam posisi snuggling atau dipeluk dan lehernya tertopang dengan baik.Bahkan posisi bayi tidur saat digendong menghadap ke depan rentan membuat kepala mereka terjatuh ke depan. Ketika hal ini terjadi, akan ada kompresi pada bagian leher mereka dan berisiko mengganggu pernapasan.
  • Masalah paha dan tulang belakang bayi

Gendongan bayi depan juga kerap dikaitkan dengan masalah gangguan pertumbuhan paha dan tulang belakang bayi. Utamanya, jika orangtua atau pengasuh menggendongnya tidak dengan gendongan yang benar-benar menopang bagian bokong dan paha dengan baik.Seharusnya, gendongan harus bisa membuat kaki bayi terbuka sehingga tidak menekan hip dan spine. Untuk itu, ketika memilih gendongan, sebaiknya hindari yang dasarnya sempit dan pilih yang benar-benar lebar sehingga bisa menopang bayi dengan optimal.Gendongan dengan penopang yang ideal juga membuat bayi berada di posisi lebih stabil di depan penggendongnya. Hal ini sejalan dengan gravitasi sehingga baik bayi maupun penggendong merasa lebih nyaman.Kuncinya, menurut organisasi International Hip Dysplasia adalah tidak masalah menggendong bayi menghadap ke depan selama pangkal pahanya ditopang sempurna.
  • Gravitasi tidak sejalan

Ketika bayi digendong menghadap ke depan, artinya gravitasi orangtua dan bayi tidak lagi sejalan. Bayi berada di posisi “menarik” bahu orangtua sehingga lebih terasa berat dan tidak nyaman. Sementara saat posisi menggendongnya menghadap ke dalam, tekanan itu nihil.

Kapan bayi siap digendong menghadap depan?

Gendongan bayi depan harus dilakukan sesuai prosedur
Cara aman menggendong bayi adalah dengan memastikan TICKS
Demi perkembangan kognitif bayi yang maksimal, menggendong bayi disarankan menghadap ke dalam terutama di usia 4-6 bulan pertama. Ketika mereka sudah lebih kuat menopang kepala sendiri, maka gendongan bayi depan bisa jadi pilihan.Namun meski bayi sudah benar-benar siap, tetap buat variasi dalam posisi menggendong. Variasikan pula antara menggendong dengan alat gendong, swing, stroller, atau dengan tangan kosong.Salah satu aturan tidak tertulis yang menandakan cara aman menggendong bayi biasa disebut dengan TICKS. Ini merupakan akronim dari:
  • T – Tight
  • I – In view at all times
  • C – Close enough to kiss
  • K – Keep chin off chest
  • S – Supported back
Ketika usia bayi masih kecil pun, mereka lebih sering terlelap. Artinya, posisi menggendong yang lebih nyaman untuknya adalah inward atau menghadap ke orangtua. Dalam posisi ini, kepala mereka bisa bersandar pada dada penggendongnya dengan nyaman.Ada banyak alternatif cara menggendong yang nyaman baik untuk bayi maupun orangtua. Kenali pula bagaimana kekuatan dan perkembangan bayi sehingga bisa tahu betul kapan anak siap untuk menambahkan variasi posisi menggendong.Prioritas nomor satu adalah keamanan bayi. Jika belum yakin, ikuti insting Anda sebagai orangtua, bukan dari ucapan orang-orang dari kanan kiri.
merawat bayiperkembangan bayimenggendong bayi
Carrying Matters. https://www.carryingmatters.co.uk/the-fuss-about-facing-out/
Diakses 20 Januari 2020
Made for Mums. https://www.madeformums.com/baby/facing-in-or-facing-out-whats-the-safest-way-for-baby-carriers-and-slings/
Diakses 20 Januari 2020
Pathways to Family Wellness. https://pathwaystofamilywellness.org/The-Outer-Womb/seven-reasons-to-not-carry-baby-facing-out.html
Diakses 20 Januari 2020
Mom Loves Best. https://momlovesbest.com/forward-facing-in-baby-carrier
Diakses 20 Januari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait