Golongan Psikotropika Dalam Dunia Medis, Ini Sisi Baik dan Buruknya


Obat golongan psikotropika dapat digunakan untuk mengobati kondisi yang berkaitan dengan kejiwaan, seperti depresi, gangguan kecemasan, bipolar, dan gangguan tidur. Golongan obat psikotropia dibagi menjadi empat golongan. Masing-masing golongan memiliki ciri khas dan jenis-jenisnya sendiri.

0,0
23 Jan 2021|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Golongan psikotropika bisa dijadikan obat apabila dosisnya disesuaikanObat golongan psikotropika bisa untuk pengobatan namun rawan buat kecanduan
Pengertian psikotropika adalah zat ataupun obat yang dapat memicu halusinasi, ilusi, gangguan berpikir, perubahan perasaan secara tiba-tiba, hingga kecanduan pada penggunanya. Obat ini bekerja dengan cara menurunkan fungsi otak dan merangsang susunan saraf pusat.Jika digunakan dalam dosis yang tepat, obat golongan psikotropika dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Namun karena risiko konsumsi dan efek samping yang cukup besar, obat ini tidak dapat dibeli secara bebas dan harus menggunakan resep dokter.Obat golongan psikotropika biasanya digunakan untuk mengobati kondisi yang berkaitan dengan kejiwaan, seperti depresi, gangguan kecemasan, bipolar, dan gangguan tidur.

Golongan obat psikotropika

Di Indonesia, obat psikotropika dibagi menjadi empat golongan. Masing-masing golongan memiliki ciri khas dan jenis-jenisnya sendiri. Jenis obat yang masuk ke setiap golongan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia terbaru yaitu Nomor 23 tahun 2020 tentang Penetapan dan Perubahan Penggolongan Psikotropika.Berikut ini penjelasan dari masing-masing golongan psikotropika yang perlu Anda ketahui.

1. Psikotropika golongan I

Obat yang masuk sebagai psikotropika golongan I, memiliki kemungkinan tinggi menyebabkan kecanduan. Selain itu, obat yang masuk ke dalam golongan ini juga termasuk sebagai obat-obatan terlarang yang penyalahgunaannya akan membuat pelaku terjerat sanksi hukum.Psikotropika golongan I bukanlah obat yang digunakan untuk pengobatan, melainkan murni obat terlarang dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.Penyalahgunaan obat golongan ini bisa menyebabkan halusinasi dan membuat perasaan berubah secara drastis.
Jika kecanduan yang terjadi sudah masuk sampai level parah, maka penggunaan psikotropika golongan I bisa mengarah pada kematian.
Obat atau zat yang masuk ke dalam jenis psikotropika golongan I adalah:
  • Deskloroketamin dan semua isomer serta bentuk stereo kimianya
  • 2F-deskloroketamin
Nama populer yang digunakan untuk menyebut obat-obatan golongan ini antara lain ekstasi, DOM, dan LSD.

2. Psikotropika golongan II

Obat atau zat psikostropika golongan II, juga masih bisa memicu kecanduan tapi tidak separah golongan I. Golongan ini dapat digunakan untuk pengobatan, hanya dengan pengawasan ketat dokter.Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah amineptina, metilfenidat, sekobarbital, etilfenidat, etizolam, dan diclazepam.Baca Juga: Perbedaan Narkotika dengan Psikotropika yang Perlu Diketahui

3. Psikotropika golongan III

Psikotropika golongan III bisa menimbulkan kecanduan tingkat sedang, di bawah golongan I dan II. Obat ini sering digunakan dalam bidang medis untuk mengobati berbagai penyakit.Jika digunakan tidak sesuai dengan dosis yang tepat, obat golongan ini juga bisa menyebabkan kerja sistem di tubuh menurun drastis. Bahkan pada kondisi penyalahgunaan yang parah, bisa menyebabkan kematian.Obat atau zat yang masuk sebagai psikotropika golongan III adalah amobarbital, butalbital, flunitrazepam, glutetimida, katina, pentazosina, pentobarbital, dan siklobarbital.

4. Psikotropika golongan IV

Psikotropika golongan IV memiliki risiko kecanduan paling rendah dibandingkan dengan golongan lainnya. Meski begitu, bukan berarti obat ini aman untuk digunakan sembarangan. Anda tetap memerlukan resep dari dokter untuk bisa mendapatkannya, karena dosisnya harus diatur dengan ketat.Total, ada 62 jenis obat dan zat yang masuk sebagai psikotropika golongan IV. Beberapa contoh psikotropika ini antara lain diazepam, lorazepam, alprazolam, klobazam, ketazolam, fenobarbital, etil amfetamina, metiprilon, dan nitrazepam.

Penggunaan psikotropika secara medis

Obat-obatan golongan psikotropika dapat digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi medis. Obat ini bekerja dengan cara mengatur kadar zat kimia di otak atau yang biasa disebut sebagai neurotransmiter seperti dopamine, norepinefrin, dan serotonin.Obat psikotropika yang legal, umumnya digunakan sebagai antidepresan, anticemas, antipsikotik, hingga stimulan.
Jika digunakan sesuai dosis, obat ini ampuh untuk membantu meredakan gejala berbagai gangguan kesehatan.
Namun sedikit saja penyalahgunaan dosis terjadi, maka efek samping yang muncul bisa berdampak sangat buruk.
Dalam dunia medis, beberapa kondisi yang dapat diatasi dengan penggunaan obat golongan psikotropika adalah:
Setelah mengonsumsi obat ini, kadar neurotransmiter di otak akan berubah untuk menyesuaikan kondisi dan meredakan gejala.Perlu diketahui bahwa obat psikotropika tidak digunakan untuk benar-benar menyembuhkan penyakit-penyakit di atas. Kelompok obat tersebut akan bekerja untuk meredakan gejala, sehingga Anda dapat menjalani aktivitas sehari-hari sekaligus menerima terapi psikologis lain dengan baik.

Dampak penyalahgunaan psikotropika

Sama seperti halnya obat-obatan yang ada, obat golongan psikotropika juga bisa menyebabkan efek samping. Namun, efek samping tersebut merupakan kondisi yang cukup berat, seperti berikut ini:
  • Gangguan jantung
  • Pusing
  • Teler atau tidak sadarkan diri dan sering mengantuk
  • Perubahan nafsu makan
  • Lemas
  • Gangguan fungsi seksual
  • Gangguan tidur
  • Kenaikan berat badan
Meski dalam dosis yang tepat obat golongan ini dapat mengatur emosi dan suasana hati, tapi jika digunakan berlebihan, efek sebaliknya justru dapat terjadi. Misalnya, orang yang kecanduan obat psikotropika, akan kesulitan untuk menangis meski perasaannya sedang benar-benar sedih.Selain itu, obat golongan psikotropika juga dapat menimbulkan halusinasi berlebihan. Hal ini bisa memicu seseorang melakukan hal yang berbahaya tanpa disadari.Obat psikotropika juga dapat bekerja sebagai stimulan yang jika digunakan berlebihan, akan mengganggu kerja organ menjadi lebih berat. Orang yang kecanduan akan merasa lemas apabila belum mengonsumsi obat tersebut, sehingga rantai candu sulit diputus.Pada fungsinya sebagai obat antidepresan, efek tenang yang dihasilkan oleh obat golongan ini bisa membuat penggunanya tidur lebih nyenyak. Apabila dipakai berlebihan, bukan tidak mungkin penggunanya akan tidur terus-menerus hingga sulit bangun alias tidak sadarkan diri.

Perbedaan narkoba dan psikotropika

Mengenai perbedaan narkoba dan psikotropia, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2009, dijelaskan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintesis. Zat ini bisa memicu penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan menyebabkan ketergantungan.Sementara itu, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis yang bukan narkotika. Zat psikotropika bisa memberi pengaruh selektif pada susunan saraf pusat sehingga menyebabkan perubahan khas pada perilaku dan aktivitas mental.Dengan kata lain, disimpulkan bahwa narkotika termasuk obat yang mengurangi rasa nyeri, sedangkan psikotropika bisa memengaruhi sifat dan perilaku. Baik narkotika dan psikotropika tidak boleh disalahgunakan.Di sisi lain, zat adiktif dan psikotropika juga berbeda. Bahan adiktif adalah zat atau bahan lainnya yang bukan narkotika ataupun psikotropika yang memengaruhi kerja otak dan bisa menimbulkan ketergantungan. Misalnya, rokok, kelompok alkohol, thinner atau zat lainnya.Setelah memahami perbedaannya, diharapkan Anda menjauhi pengunannya secara sembarangan.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar obat golongan psikotropika dan penggunaannya dalam dunia kedokteran, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
masalah kejiwaanobat penenangnarkobapsikotikpenyalahgunaan obat
Badan Narkotika Nasional. https://bnn.go.id/apa-itu-psikotropika-dan-bahayanya/
Diakses pada 11 Januari 2021
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/152566/permenkes-no-23-tahun-2020
Diakses pada 11 Januari 2021
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/psychotropic-drugs-425321
Diakses pada 11 Januari 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/what-is-a-psychotropic-drug
Diakses pada 11 Januari 2021
BNN Kabupaten Temanggung. https://temanggungkab.bnn.go.id/narkotika-dan-psikotropika-zat-adiktif-pengertian-contoh/
Diakses pada 29 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait