Hubungan Obesitas dan Covid-19 yang Perlu Anda Waspadai

(0)
26 Feb 2021|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pandemi Covid-19 membuat kita lebih rentan terhadap obesitasObesitas bisa jadi ancaman di tengah pandemi Covid-19
Anda makin gemuk selama pandemi? Masa pandemi Covid-19 yang sedang dihadapi saat ini jelas memberikan tantangan dalam menjaga kesehatan. Salah satunya, pandemi ini ternyata memengaruhi kondisi obesitas di dunia.World Health Organization (WHO) menyatakan bagaimana pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 dapat meningkatkan risiko obesitas dan menghambat program manajemen obesitas. Hal ini berkaitan dengan kesulitan mendapatkan makanan sehat, berkurangnya aktivitas fisik, serta terbatasnya akses pelayanan kesehatan. Selain itu, kita juga cenderung mengonsumsi lebih banyak cemilan tidak sehat selama masa pandemi.Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh World Obesity Federation, bahwa pandemi Covid-19 dapat berkaitan dengan peningkatan kasus obesitas karena terhentinya program penurunan berat badan (yang umum dilakukan dalam kelompok) dan intervensi penurunan berat badan lainnya.Adanya kecenderungan untuk memilih produk makanan olahan dengan umur simpan lebih panjang juga dapat berpengaruh terhadap meningkatnya konsumsi kalori, gula, garam, dan lemak. Hal ini jelas dapat menyebabkan dan bahkan memperburuk kondisi obesitas.Dan memang, sebuah survei di bulan Mei 2020 menunjukkan bahwa 22 persen responden melaporkan mengalami kenaikan berat badan sebesar 2,3-4,5 kg dibandingkan sebelum masa pandemi.Kenaikan berat badan ini diketahui berkaitan dengan perubahan pola hidup tidak sehat yang terjadi selama masa pembatasan sosial, seperti waktu tidur yang berkurang, tingkat aktivitas fisik yang menurun, kebiasaan mengonsumsi camilan setelah makan malam, kecenderungan makan lebih banyak saat stres, serta keinginan untuk makan saat melihat atau mencium aroma makanan.

Bahaya kesehatan dari obesitas

Peningkatan masalah obesitas jelas perlu dikhawatirkan karena berkaitan erat dengan berbagai penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit jantung. Khususnya di masa pandemi Covid-19 ini, obesitas menjadi ancaman lebih untuk kesehatan kita.Data menunjukkan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor risiko untuk tingkat keparahan Covid-19, di mana mereka yang obesitas diketahui lebih berisiko mengalami gejala yang lebih parah akibat Covid-19.Mereka yang obesitas ternyata lebih berisiko hingga dua kali lipat untuk memerlukan perawatan di rumah sakit, dan lebih rentan memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif. Penderita Covid-19 yang obesitas juga lebih berisiko memerlukan perawatan invasive mechanical ventilation (seperti penggunaan ventilator).Lebih tingginya risiko tingkat keparahan Covid-19 pada mereka yang obesitas ini diyakini berkaitan salah satunya dengan gangguan-gangguan metabolisme yang timbul akibat obesitas. Ketidakseimbangan hormon dan nutrisi pada penderita obesitas dapat berpengaruh negatif kepada respons tubuh terhadap infeksi. Selain itu, penderita obesitas juga rentan memiliki gangguan pada sistem pernapasan yang dapat memperburuk kondisi jika terkena Covid-19.Selain memiliki risiko tingkat keparahan yang lebih tinggi, data menunjukkan bahwa penderita obesitas juga memiliki risiko kematian yang lebih tinggi apabila terkena Covid-19, secara rata-rata mencapai 48 persen lebih tinggi.Semakin tinggi berat badan, semakin tinggi juga risikonya. Data menunjukkan bahwa risiko kematian akibat Covid-19 bisa mencapai hingga 2,6 kali lebih tinggi pada mereka yang obesitas ekstrem (indeks massa tubuh ≥ 40 kg/m2).

Bagaimana kondisi obesitas di Indonesia?

Mungkin banyak yang menduga bahwa masalah berat badan berlebih bukanlah masalah yang penting diperhatikan di Indonesia. Hal ini tidak tepat! Kasus obesitas sesungguhnya sudah merupakan masalah yang penting diperhatikan karena data Riset Kesehatan Dasar Indonesia menunjukkan bahwa kasus kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.Data tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 8 (13,6 persen) orang dewasa di Indonesia memiliki berat badan berlebih, dan sekitar 1 dari 5 (21,6 persen) bahkan mengalami obesitas. Dengan banyaknya ancaman kesehatan akibat obesitas, jelas diperlukan tindakan segera untuk mengatasinya.

Jadi harus bagaimana?

Masak salmon
Mencoba memasak sendiri makanan sehat bisa jadi solusi cegah obesitas
Kunci untuk menjaga berat badan dan kesehatan adalah pola hidup sehat, termasuk menjaga pola makan harian. Meskipun pandemi dan pembatasan sosial dapat memberikan tantangan lebih besar dalam menjalankan pola makan sehat, bukan berarti kebiasaan makan sehat tidak dapat dilakukan.Beberapa tips yang dapat dilakukan dalam menjalankan pola makan sehat guna menjaga berat badan dan kesehatan secara umum, antara lain:
  • Buat jadwal rutin setiap hari untuk bangun, makan, bekerja, olahraga, dan tidur meskipun bekerja dari rumah. Pastikan untuk makan sesuai jadwal yang ditentukan, serta susun menu makanan dan camilan pada pagi hari atau malam sebelumnya. Hal ini membantu untuk mencegah pemilihan makanan tidak sehat secara impulsif.
  • Jaga porsi makan. Gunakan peralatan makan yang lebih kecil agar porsi makan tampak lebih banyak dan mencegah makan berlebihan.
  • Batasi asupan gula harian, bisa dengan mengganti gula ke pemanis rendah kalori atau mengganti camilan dengan yang bebas gula sehingga ngemil pun bisa bebas khawatir.
  • Batasi asupan lemak harian dengan menghindari gorengan, membuang kulit dan bagian berlemak pada daging, serta memilih bahan makanan yang mengandung lemak baik, seperti ikan dan kacang-kacangan.
  • Selagi banyak di rumah, coba masak resep-resep masakan yang lebih sehat dan gunakan bahan masakan yang lebih sehat dengan memperbanyak sayur dan bijian utuh.
Pastikan juga untuk selalu menjaga jarak, menghindari keramaian, rutin mencuci tangan dengan air dan sabun, serta menggunakan masker saat keluar rumah guna membantu menghambat penyebaran Covid-19.
obesitascoronavirusadv tropicana slim
World Health Organization. https://www.euro.who.int/en/health-topics/health-emergencies/coronavirus-covid-19/publications-and-technical-guidance/food-and-nutrition-tips-during-self-quarantine
Diakses pada 17 Februari 2021
World Obesity Federation. https://www.worldobesity.org/news/statement-coronavirus-covid-19-obesity
Diakses pada 17 Februari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7241331/
Diakses pada 17 Februari 2021
NCBI. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32845580/
Diakses pada 17 Februari 2021
CDC. https://www.cdc.gov/obesity/data/obesity-and-Covid-19.htm
Diakses pada 17 Februari 2021
ACP Journals. https://www.acpjournals.org/doi/10.7326/m20-3742
Diakses pada 17 Februari 2021
Yale Medicine. https://www.yalemedicine.org/news/quarantine-15-weight-gain-pandemic
Diakses pada 17 Februari 2021
Kemenkes RI. https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf
Diakses pada 17 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait