Mengenal Leptospirosis, Penyakit yang Sering Terjadi Ketika Banjir

(0)
02 Jan 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang sering terjadi ketika banjirGunakan pelindung, terutama pelindung kaki, saat Anda menerobos banjir dan genangan air lain
Bencana banjir kembali terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air. Beragam penyakit dan infeksi pun mengintai, sehingga kewaspadaan diri perlu diterapkan. Salah satu penyakit yang dekat dengan banjir adalah leptospirosis.Simak artikel ini, untuk mengetahui gejala dan cara pencegahan leptospirosis.

Leptospirosis, sering terjadi ketika banjir

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira interrogans. Infeksi ini dapat terjadi jika seseorang melakukan kontak dengan tanah atau air, yang sudah terkontaminasi air kencing hewan seperti tikus (paling umum terjadi). Walau begitu, air seni anjing, sapi, babi, atau kuda juga bisa membawa bakteri Leptospira.Kasus leptospirosis sering terjadi saat musim hujan, termasuk ketika banjir. Genangan air saat banjir dapat mengalirkan air kencing hewan-hewan carrier di atas. Begitu pula saat Anda berenang di sungai atau kolam yang airnya tercemar bakteri Leptospira.
Tikus sering menjadi pembawa leptospirosis
Tikus sering menjadi pembawa leptospirosis
Bakteri Leptospira dapat menyerang manusia melalui celah di kulit, seperti luka tergores, luka terbuka, hingga area yang kering. Bakteri ini juga bisa masuk ke tubuh melalui mulut, hidung, atau alat kelamin.Kasus penularan dari satu individu ke individu lain sebenarnya jarang terjadi. Walau begitu, bakteri dapat berpindah melalui hubungan seks atau menyusui.Menurut Kementerian Kesehatan RI, leptospirosis masih menjadi masalah di Indonesia, terutama di daerah rawan banjir.

Gejala leptospirosis yang harus dikenali

Leptospirosis pun menyebabkan beberapa gejala tertentu. Gejala ini biasanya dirasakan dalam 2 minggu setelah infeksi. Walau begitu, di beberapa kasus, penderita leptospirosis baru merasakan gejala setelah satu bulan atau tidak ada sama sekali.Beberapa gejala leptospirosis, yaitu:
  • Demam (bisa mencapai 40 derajat Celcius)
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Penyakit kuning (kulit dan mata menguning)
  • Muntah
  • Diare
  • Ruam kulit
Gejala di atas dapat mirip dengan penyakit lain, seperti flu, bahkan meningitis. Untuk itu, Anda disarankan untuk melakukan pengecekan jika menunjukkan gejala di atas. Dokter akan melakukan tes darah untuk menentukan benar tidaknya gejala yang Anda rasakan merupakan gejala leptospirosis.

Bagaimana dokter menangani leptospirosis?

Leptospirosis dapat diatasi dengan pemberian antibiotik, seperti penisilin dan doksisiklin. Untuk membantu mengikis nyeri otot dan demam, dokter mungkin juga akan meresepkan ibuprofen. Leptospirosis dapat berlangsung selama satu minggu.Apabila kondisi pasien semakin parah, pasien mungkin akan perlu menjalani rawat inap. Leptospirosis yang parah ini dapat memicu gagal ginjal, meningitis, dan masalah paru-paru. Antibiotik dalam bentuk suntikan akan diberikan ke pasien.

Pencegahan leptospirosis

Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mencegah dan menurunkan risiko leptospirosis. Anda bisa menerapkan cara berikut:

1. Jika tidak terpaksa, jangan arungi genangan air

Jika daerah domisili Anda terkena banjir, sebaiknya jangan terobos genangan air banjir, apabila tidak terpaksa. Anda disarankan untuk menunggu bantuan dari tim penanggulangan bencana untuk dievakuasi.

2. Gunakan pelindung tubuh

Jika terpaksa mengarungi genangan banjir, pastikan bagian kulit yang terdapat luka tertutupi dengan baik. Gunakan pula alas kaki (seperti sepatu boots), karena kaki menjadi bagian tubuh yang paling mungkin terendam air. Pelindung juga harus digunakan jika Anda mulai membersihkan rumah setelah banjir surut.Apabila Anda merupakan petugas dan relawan dalam membantu korban banjir, saran di atas juga perlu diterapkan.

3. Jangan menelan air banjir maupun air yang mungkin terkontaminasi

Saat Anda mulai mengungsi ke tempat lain dan harus mengarungi banjir, pastikan agar air tersebut tidak tertelan.
Begitu pula saat Anda berenang di tempat alam seperti sungai atau danau, yang mungkin terdapat hewan pembawa leptospirosis.

4. Kenali gejala leptospirosis

Apabila Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala leptospirosis di atas, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat.Tentunya, pencegahan di atas tak hanya penting diterapkan saat musim banjir saja. Beberapa kelompok pekerja yang berisiko tinggi juga perlu menerapkannya, termasuk petani, pekerja tambang, hingga dokter dan perawat hewan.

Catatan dari SehatQ

Air banjir memang meningkatkan risiko berbagai penyakit. Tips di atas bisa diterapkan untuk menurunkan risiko leptospirosis. Kenali pula gejalanya, agar pertolongan medis bisa diberikan lebih awal.
musim hujaninfeksi bakteribanjir
Center for Disease Control and Prevention. https://wwwnc.cdc.gov/travel/diseases/leptospirosis
Diakses pada 2 Januari 2020
The Center for Food Security and Public Health, Iowa State University of Science and Technology. http://www.cfsph.iastate.edu/FastFacts/pdfs/leptospirosis_F.pdf
Diakses pada 2 Januari 2020
Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-leptospirosis
Diakses pada 2 Januari 2020
World Health Organization. https://www.who.int/zoonoses/diseases/leptospirosis/en
Diakses pada 2 Januari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait