Mengenal Traumatic Bonding, Hubungan Traumatis yang Membuat Orang Bertahan Meski Jadi Korban Kekerasan


Traumatic bonding merupakan hubungan tidak sehat, yang membuat seseorang bertahan meski jadi korban pelecehan atau kekerasan. Fokus pada tindakan buruk pelaku dan tutup komunikasi dengannya bisa membantu Anda keluar dari hubungan ini.

0,0
Traumatic bonding buat orang bertahan hubungan tidak sehat yang disertai kekerasanTraumatic bonding buat orang tetap bertahan dalam hubungan meski jadi korban kekerasan
Pertengkaran adalah hal yang wajar terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, jika pertengkaran yang terjadi disertai dengan kekerasan dari salah satu pasangan, hal tersebut menjadi pertanda bahwa hubungan Anda tidak sehat. Anehnya, banyak orang yang selama ini memilih bertahan meski pasangannya telah melakukan tindak kekerasan kepada mereka. Jika Anda termasuk salah satunya, kondisi ini dikenal dengan istilah traumatic bonding.

Apa itu traumatic bonding?

Traumatic bonding adalah kondisi yang terjadi saat seseorang terus membangun ikatan dengan orang yang telah melakukan tindakan kekerasan maupun pelecehan kepada dirinya. Keinginan untuk bertahan ini biasanya didasari oleh simpati dan kasih sayang korban terhadap pelaku.Beberapa tanda terjadinya traumatic bonding dalam hubungan, antara lain:
  • Mencoba untuk menutupi tindakan pelaku dari orang lain
  • Membela pelaku dan menjauhkan diri dari orang-orang yang hendak memberi bantuan
  • Keberatan untuk meninggalkan pelaku meskipun sadar telah menjadi korban kekerasan dan pelecehan
  • Setuju dengan alasan pelaku melakukan kekerasan, pelecehan, maupun tindakan buruk lain, misalnya karena cemburu
  • Menjadi defensif atau marah jika orang lain ikut campur menghentikan tindakan pelaku melakukan kekerasan atau pelecehan
Ikatan ini bisa berkembang kapan saja, dengan jangka waktu yang berbeda pada masing-masing orang, baik hitungan hari, minggu, atau bulan. Meskipun begitu, tidak semua korban kekerasan atau pelecehan akan mengalami traumatic bonding.

Penyebab traumatic bonding

Meski telah menerima perlakuan buruk, korban enggan untuk meninggalkan dan lebih memilih bertahan dengan pelaku pelecehan atau kekerasan. Salah satu faktor yang menjadi penyebab traumatic bonding antara lain keterikatan atau ketergantungan dengan pelaku.Keterikatan atau ketergantungan dapat membuat orang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Sebagai contoh, pelaku kekerasan atau pelecehan selama ini adalah orang yang selalu memberi dukungan ketika korban dipusingkan dengan masalah hidup maupun pekerjaan. Tanpa pelaku, korban merasa tidak bisa mendapatkan ketenangan hati. Kondisi tersebut kemudian memicu traumatic bonding karena korban menganggap hanya pelakulah yang dapat mengerti perasaannya.Selain keterikatan dan ketergantungan, harapan bahwa pelaku akan berubah serta tidak mengulangi lagi tindakan mereka juga bisa menjadi penyebab traumatic bond. Usai melakukan tindakan buruk kepada korban, pelaku umumnya akan meminta maaf dan berjanji untuk berubah. Janji tersebut seringkali disertai dengan tindakan manis yang membuat korban kembali terbuai. Korban percaya bahwa hubungan antara dirinya dengan pelaku akan berjalan seperti yang telah dijanjikan.

Bagaimana cara keluar dari traumatic bonding?

Cara keluar dari traumatic bonding memang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Ikatan yang dalam dengan pelaku seringkali membuat korban enggan untuk berpaling. Berikut beberapa hal yang dapat membantu Anda keluar dari hubungan tidak sehat ini:

1. Fokus pada tindakan buruk pelaku

Korban kekerasan atau pelecehan biasanya memilih bertahan karena terbuai dengan janji-janji yang diberikan oleh pelaku. Untuk dapat keluar dari traumatic bonding, fokus terhadap tindakan buruk yang telah dilakukan pelaku. Cara tersebut bisa membuat Anda lebih mudah untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat bersama pelaku.

2. Putuskan hubungan dengan pelaku

Memutuskan hubungan dengan pelaku mungkin akan terasa sangat sulit di awal, tetapi perlu dilakukan demi kebaikan Anda. Hentikan semua komunikasi dengan pelaku. Untuk memutus komunikasi, Anda bisa mengganti nomor atau memblokir semua akun media sosialnya.

3. Berhenti menyalahkan diri sendiri

Menyalahkan diri sendiri atas tindakan pelecehan atau kekerasan yang dilakukan pelaku hanya akan membuat Anda kesulitan keluar dari traumatic bonding. Tanamkan di dalam pikiran bahwa tindakan buruk pelaku terjadi bukan karena kesalahan Anda. Yakinlah, Anda berhak mendapat orang yang lebih baik lagi.

4. Terapkan self-care

Dibanding kembali ke pelaku kekerasan atau pelecehan, terapkan teknik self-care atau perawatan diri untuk menghilangkan stres yang dirasakan. Beberapa aktivitas yang dapat membantu menenangkan pikiran, antara lain meditasi, olahraga, berdoa, serta melakukan hobi.

5. Berkonsultasi dengan ahli

Apabila Anda ingin keluar dari hubungan tidak sehat tersebut namun merasa kesulitan, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Terapis akan mencoba membantu Anda untuk membangun batasan, mengembangkan kemampuan dalam menciptakan hubungan yang sehat, hingga mengatasi trauma.

Catatan dari SehatQ

Traumatic bonding adalah hubungan tidak sehat yang membuat seseorang bertahan meskipun telah menjadi korban kekerasan atau pelecehan. Walaupun sulit untuk keluar dari hubungan ini, sebaiknya segera putuskan hubungan dengan pelaku demi kebaikan dan kesehatan Anda.Jika Anda kesulitan untuk keluar dari hubungan tidak sehat tersebut, segeralah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai traumatic bonding dan cara untuk lepas dari ikatan pelaku, tanyakan langsung ke dokter di aplikasi kesehatan SehatQ . Download sekarang di App Store dan Google Play.
traumakekerasanpercintaanmenjalin hubungan
Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/trauma-bonding
Diakses pada 8 April 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/trauma-bonding
Diakses pada 8 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait