Seperti Apa Metabolisme Protein dan Penyakit yang Mengintainya?


Metabolisme protein dimulai dari perut dan berakhir di usus yang kemudian menghasilkan asam amino. Jika proses ini mengalami gangguan, maka berbagai penyakit pun berisiko muncul.

(0)
28 Nov 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Metabolisme protein dimulai saat makanan mulai memasuki lambungProses metabolisme protein berperan memecah makanan agar manfaatnya bisa dirasakan tubuh
Bukan rahasia lagi bahwa protein memainkan peran yang penting bagi kesehatan tubuh, terutama dalam menjaga fungsi dan struktur jaringan dan organ di dalam tubuh tetap berfungsi secara optimal. Oleh karena itu, ketika metabolisme protein di dalam tubuh mengalami gangguan, Anda akan merasakan berbagai penyakit dan gejalanya yang khas.Protein sendiri adalah molekul yang besar, kompleks, dan terdiri atas ribuan unit lebih kecil yang kita kenal dengan sebutan asam amino. Tak kurang dari 20 tipe asam amino berbeda membentuk rantai panjang protein dengan fungsi bagi tubuh yang spesifik sesuai dengan strukturnya masing-masing.

Seperti apa proses metabolisme protein di dalam tubuh?

Seperti halnya metabolisme lain yang terjadi di dalam tubuh (misalnya asam lemak dan glukosa), metabolisme protein di dalam tubuh juga terjadi dalam 2 tahap, yakni anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah pembentukan protein dari asam amino. Sebaliknya, katabolisme merupakan pemecahan protein menjadi asam amino.Kedua proses ini saling bertautan satu sama lain dalam metabolisme protein sehingga tubuh bisa memproduksi energi dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Ketika ada hal yang mengganggu salah satu atau kedua proses tersebut, maka Anda akan merasakan beberapa kondisi gangguan metabolisme protein.Proses metabolisme protein dimulai ketika makanan yang Anda lahap masuk ke lambung. Di sinilah, pepsin mencerna protein dengan memutus ikatan peptida yang ada di sisi gugus NH2 dari asam-asam amino aromatik (fenilaalanin, tirosin, triptofan), hidrofobik (leusin, isoleusin, metionin), maupun dikarboksilat (glutamat dan aspartat).Pemutusan ikatan peptida ini hanya bisa terjadi di lambung yang memiliki lingkungan asam, karena proses ini memerlukan pH ideal 2. Ketika makanan sudah masuk ke usus, enzim yang dapat memecah ikatan protein tidak lagi dapat bekerja, karena pH usus yang cukup tinggi.
Metabolisme protein berlangsung di lambung dan usus halus
Metabolisme protein kemudian berlanjut di usus halus, yakni saat pankreas mensekresi tripsin, kemotripsin, dan karboksipeptida. Protease gaster dan pankreas ini kemudian memecah lagi gugus protein menjadi peptida rantai sedang dan kecil.Peptidase di batas usus halus selanjutnya menghidrolisis peptida rantai sedang dan kecil ini menjadi asam amino dan tripeptida bebas. Produk akhir metabolisme protein inilah yang siap diserap dan dipergunakan oleh sel sehingga tubuh merasakan manfaatnya untuk kesehatan.Sekitar 75-80% asam amino yang menjadi produk akhir metabolisme protein ini akan digunakan kembali untuk sintesis protein yang baru. Sebagian asam amino yang diserap oleh tubuh ini juga akan diubah menjadi energi (ATP), gas karbondioksida, dan air melalui siklus krebs.Sementara itu, asam amino sisanya tidak akan disimpan di dalam tubuh. Ia akan diuraikan kembali dengan cepat melalui proses katabolisme menjadi kerangka karbon bagi senyawa-senyawa amfibolik dan urea yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui urine.

Penyakit yang berhubungan dengan metabolisme protein

Gangguan metabolisme protein berisiko membuat otot kaku
Ketika metabolisme protein tidak berjalan dengan semestinya, Anda dapat mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti:
  1. Fenilketonuria (PKU)

    Ini adalah kondisi genetis langka yang membuat penderitanya mengalami penumpukan asam amino bernama fenilalanine di dalam tubuh. Fenilketonuria tidak menimbulkan gejala pada bayi baru lahir, tapi bisa muncul seiring pertambahan usia. Salah satu gejalanya yang khas ialah urine, napas, hingga bau badan bayi yang tidak sedap (apek). Penderita PKU harus menghindari konsumsi sebagian besar makanan yang mengandung protein dan pemanis buatan aspartame.
  2. Penyakit sirup mapel

    Seperti namanya, penyakit sirup mapel memiliki gejala khas berupa urine berbau seperti sirup mapel. Penyakit ini juga bersifat genetik akibat mutasi gen perangsang produksi protein. Gejala lain dari kelainan metabolisme protein ini adalah anak yang malas menyusu, sering muntah, tidak aktif, dan pergerakan abnormal. Jika tidak mendapat perawatan, kondisi ini dapat mengakibatkan anak sering kejang, koma, hingga meninggal dunia.
  3. Ataksia friedrich

    Kelainan metabolisme protein ini terjadi karena mutasi gen yang memproduksi protein bernama frataxin. Akibatnya, sistem saraf akan mengalami degradasi gradual seiring pertambahan usia, seperti hilangnya kemampuan bicara, mendengar, melihat, hingga otot menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan lagi.

Catatan dari SehatQ

Jika Anda merasa mengalami gejala kelainan metabolisme protein di atas, periksakan dan konsultasikan dengan dokter mengenai penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda.Untuk mengetahui lebih lanjut tentang risiko penyakit akibat gangguan metabolisme protein, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
proteinurinepenyakit metabolik
Medline Plus. https://medlineplus.gov/genetics/understanding/howgeneswork/protein/
Diakses pada 18 November 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/genetics/condition/maple-syrup-urine-disease/
Diakses pada 18 November 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/genetics/condition/friedreich-ataxia/
Diakses pada 18 November 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/catabolism-vs-anabolism
Diakses pada 18 November 2020
Universitas Udayana. https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/2c38007b586ffa59d79823dad95fecc1.pdf
Diakses pada 18 November 2020
Universitas Padjadjaran. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/metabolisme_protein.pdf
Diakses pada 18 November 2020
Universitas Brawijaya. http://chanif.lecture.ub.ac.id/files/2019/09/METABOLISME-PROTEIN-11.pdf
Diakses pada 18 November 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/phenylketonuria/symptoms-causes/syc-20376302
Diakses pada 18 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait