Mitos atau Fakta, Benarkah Ada Perubahan Badan Setelah Berhubungan Seksual?


Banyak sekali mitos yang beredar seputar perubahan badan setelah berhubungan seksual. Padahal, hal yang paling pasti dari bercinta pertama kali hingga malam pertama adalah tidak akan mengubah penampilan Anda.

(0)
25 Feb 2021|Azelia Trifiana
Tidak ada perubahan badan yang signifikan setelah berhubungan badanTidak ada perubahan badan yang signifikan setelah berhubungan badan
Banyak sekali mitos yang beredar seputar perubahan badan setelah berhubungan seksual. Padahal, hal yang paling pasti dari bercinta pertama kali hingga malam pertama adalah tidak akan mengubah penampilan Anda.Artinya, perubahan bentuk tubuh ini bukan hal yang perlu dirisaukan. Justru yang lebih penting menjadi bahan pertimbangan adalah kesiapan untuk melakukannya, perlukah memakai kontrasepsi, hingga komunikasi dengan pasangan tentang hal terkecil sekalipun.

Berhubungan seksual perdana, ini yang terjadi

Pengalaman bercinta untuk pertama kalinya adalah hal yang luar biasa. Tiap orang bisa memiliki pengalaman berbeda. Terkadang, muncul kekhawatiran apakah akan ada perubahan badan setelah berhubungan seksual.Banyak sekali mitos seputar hal ini. Beberapa yang perlu diluruskan di antaranya:

1. Selaput dara robek

Konsep konvensional tentang utuhnya selaput dara merupakan indikator seseorang masih perawan adalah hal yang salah besar. Selaput dara bukanlah segel seorang perempuan.Bahkan, robeknya selaput dara bukan hanya sedangkal perkara seksual saja. Ada banyak faktor lain yang bisa menyebabkan robeknya selaput dara jauh sebelum bercinta pertama kali, seperti aktivitas fisik atau cedera. Bahkan, ada juga perempuan yang memang terlahir tanpa selaput dara.Artinya, mitos tentang selaput dara sebagai salah satu perubahan badan setelah berhubungan seksual sudah sangat kuno dan tidak lagi relevan.

2. Vagina longgar

Ada pula anggapan bahwa setelah berhubungan seksual, vagina seorang perempuan menjadi longgar. Padahal, tidak ada hubungan antara bentuk vagina dengan keperawanan atau aktivitas seksual yang dilakukannya.Vagina adalah organ seksual yang bisa meregang dan kembali ke bentuknya seperti semula. Bahkan bukan hanya penetrasi penis atau sex toys saja, vagina juga bisa meregang karena menggunakan tampon, menstrual cup, dan persalinan. Setelah itu, vagina akan kembali ke bentuk semula.

3. Ukuran payudara

Mitos lain yang cukup populer adalah perubahan ukuran payudara setelah berhubungan seksual. Tak jarang ada anggapan bahwa payudara menjadi lebih besar atau lebih turun apabila pemiliknya sering beraktivitas seksual. Padahal, tidak korelasi sedikit pun antara bentuk payudara dengan bercinta.

4. Kulit lebih cerah

Ada pula anggapan bahwa bercinta bisa membuat kulit tampak lebih glowing. Memang benar, namun ini tidak berlangsung permanen. Kulit bisa menjadi lebih cerah ketika seseorang mengalami orgasme sebab sirkulasi darah lebih lancar.Artinya, oksigen yang mengalir ke kulit pun lebih melimpah sehingga wajah tampak lebih bersinar. Belum lagi kinerja otak saat bercinta yang melepaskan hormon seperti serotonin dan oksitosin, ini juga membuat seseorang merasa rileks dan terlihat dari wajahnya.

5. Otot lebih kaku

Memang benar ketika berhubungan seksual, otot bisa menjadi lebih tegang. Itulah mengapa bercinta sama seperti berolahraga, bisa membakar ratusan kalori. Ketika berhubungan seksual, otot tegang ini bahkan bisa saja menyebabkan seseorang merasakan kram di beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, pinggang, dan betis.Namun, ini hal yang berlangsung sementara. Banyak minum setelah bercinta saja sudah cukup untuk membantu meredakan otot yang terasa tegang. Setelah itu, otot pun kembali seperti semula.

6. Bau badan berubah

Kurang tepat juga apabila ada anggapan bau badan menjadi berubah setelah bercinta. Setiap orang punya aroma tubuh yang berbeda, dan berhubungan seksual bukanlah hal yang bisa mengubahnya secara drastis.Hanya saja, perubahan bau ini bisa muncul setelah ejakulasi atau orgasme. Perpaduan antara pH antara vagina yang asam dan cairan semen yang basa menimbulkan aroma yang khas. Namun, aroma ini hanya tercium sesaat setelah orgasme saja.Namun apabila aroma terus menerus ada hingga lebih dari 3 hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahlinya. Dikhawatirkan, itu merupakan gejala terjadinya infeksi kelamin.

Pahami risikonya

Pertimbangkan matang-matang sebelum berhubungan seksual, meski terkadang gairah membuat konsiderasi ini menjadi nomor sekian. Alasannya karena hubungan seksual sesingkat apapun bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan mulai dari kehamilan, infeksi menular seksual, atau infeksi saluran kemih.Perempuan lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih karena saluran uretranya lebih pendek. Artinya, kemungkinan masuknya bakteri ke saluran kemih pun lebih besar.

Terkait kehamilan, setiap kali ada penetrasi penis ke vagina tanpa menggunakan metode kontrasepsi apapun membuka peluang untuk itu. Pertimbangkan hal ini serta komunikasikan dengan pasangan karena preferensi memiliki keturunan setiap orang berbeda antara satu dan lainnya.Lebih penting lagi, penularan penyakit seksual bisa terjadi lewat hubungan seksual. Bukan hanya penetrasi, namun juga jenis aktivitas seksual lainnya yang dilakukan.Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut seputar hubungan seksual untuk pertama kalinya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan organ intimhubungan sekskesehatan wanita
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326122#stis
Diakses pada 12 Februari 2021
New York Times. https://www.nytimes.com/2020/04/15/parenting/fertility/trying-to-conceive-myths.html?
Diakses pada 12 Februari 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/healthy-sex/side-effects-of-sex
Diakses pada 12 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait