Revenge Porn di Indonesia: Dampaknya bagi Psikis Korban dan Hukuman untuk Pelaku


Revenge porn di Indonesia kerap menyeret nama-nama artis sebagai pihak yang dirugikan. Ada sejumlah dampak negatif terhadap kondisi psikis korban. Sebagai bentuk perlindungan terhadap korban, UU ITE memiliki jeratan hukum bagi para pelakunya, termasuk denda belasan miliar rupiah.

(0)
10 Nov 2020|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Revenge porn berisiko menyebar lewat media sosialRevenge porn berisiko membuat korbannya mengalami berbagai pelecehan di dunia maya
Revenge porn muncul ketika ada seseorang dengan perasaan dendam yang mengunggah konten berupa foto maupun video porno orang lain ke Internet, dan biasanya dilakukan sebagai pembalasan terhadap berakhirnya hubungan dengan orang tersebut.Bentuk unggahan pornografi non-konsensual ini alias tanpa persetujuan kedua belah pihak, sayangnya menjadi fenomena baru yang kemunculannya bertambah belakangan ini. Bentuknya bisa berupa video maupun foto telanjang atau semi-telanjang seseorang, yang tersebar di dunia maya, di luar persetujuan orang itu.

Revenge porn bisa muncul karena ini

Berdasarkan penelitian di University of Michigan Amerika Serikat, sejumlah administrator situs porno, melakukan aktivitas peretasan komputer untuk memperoleh foto telanjang wanita, menyebarkannya, kemudian menjadikannya alasan memeras korban.Lantas, kalangan media dan publik menyebutnya sebagai revenge porn. Bisa dikatakan, revenge porn merupakan bagian dari pornografi non-konsensual, tapi belum tentu sebaliknya. Pornografi non-konsensual belum tentu berupa revenge porn.
Smartphone berisiko disalahgunakan untuk sebarkan revenge porn
Sejumlah situs pornografi pun diketahui memungkinkan para penggunanya mengirimkan foto-foto telanjang mantan pasangan, untuk balas dendam. Biasanya, situs-situs ini memiliki forum. Oleh karena itu, para pengguna lain akhirnya dapat menuliskan komentar-komentar cabul dan menghina, pada foto tersebut.Situs tersebut pertama kali ditemukan pada 2010. Hanya berselang setahun, situs porno ini mengumpulkan 10.000 foto. Walaupun akhirnya situs ini ditutup, website serupa kembali bermunculan, dan semakin banyak dikunjungi.Berikut ini adalah dua faktor kemajuan teknologi, yang nyatanya berimbas buruk, dalam hal penyebaran revenge porn.

1. Perkembangan teknologi fotografi

Revenge porn sebagai bentuk pornografi non-konsensual belum banyak ditemukan 5 tahun lalu. Fotografi kini mengalami perkembangan, akibat kehadiran smartphone, kamera digital, dan komputer canggih. Sayangnya, kemajuan ini membuat penggunanya terlalu mudah mengunggah foto-foto pribadi dengan latar rumah sendiri.

2. Kehadiran media sosial

Platform media sosial seperti Twitter dan Facebook pun akhirnya disalahgunakan untuk menyebarkan konten revenge porn. Bahkan, sederet kasus yang diduga revenge porn dan beredar di medsos, ikut menyeret nama-nama artis dunia, termasuk selebritas Tanah Air.

Korban revenge porn berisiko alami gangguan mental

Revenge porn berisiko timbulkan PTSD bagi korbannya
Revenge porn berisiko menimbulkan gangguan mental serius pada para korbannya. Korban harus menghadapi konsekuensi psikologis pribadi dalam jangka panjang. Berdasarkan sebuah penelitian, sebanyak 49% korban akhirnya menjadi korban pelecehan di Internet.Berikut ini gangguan kesehatan mental yang dialami oleh 80-93% korban, akibat tersebarnya konten pribadi yang terus menghantui sepanjang masa.Tak jarang, korban kehilangan pekerjaan dan kesulitan mencari kerja, akibat tindakan revenge porn tersebut. Bahkan, ada kasus bunuh diri yang ditemukan karena menyebarnya foto maupun video pribadi itu.

Konsekuensi hukum bagi pelaku revenge porn

Revenge porn memiliki karakteristik yang mirip kejahatan seksual. Sebab berdasarkan riset, para korban mengalami dampak negatif pada kesehatan mental, seperti halnya para penyintas kekerasan seksual.Negara-negara telah menerbitkan undang-undang untuk melindungi para korban kejahatan pornografi tersebut. Salah satunya adalah Indonesia. Pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang juga dikenal sebagai UU ITE.Berikut ini penjelasan dan konsekuensi hukum dari UU tersebut, yang bisa menjerat para pelaku revenge porn di Indonesia.

1. Perbuatan revenge porn

Salah satu perbuatan yang dilarang UU ITE adalah pendistribusian dokumen elektronik dengan konten yang melanggar kesusilaan. Hal ini dimuat dalam Pasal 27 Ayat 1 UU ITE. Setiap orang yang dengan sengaja mengakses sistem elektronik orang lain untuk memperoleh dokumen elektronik, termasuk dengan cara menjebol sistem keamanan dengan cara apapun, juga bisa dijerat Pasal 30 UU ITE.Dalam kasus beredarnya video porno yang akhirnya menyeret sejumlah nama artis di Indonesia, Pasal 36 UU ITE bisa dijadikan pegangan hukum. Pasal ini secara tidak langsung menyatakan, perbuatan penyebaran dokumen elektronik, termasuk konten yang melanggar kesusilaan, dan akhirnya merugikan orang lain, bisa dikenai hukuman.

2. Hukuman pidana

Para pelaku yang terbukti bersalah melanggar Pasal 27 Ayat 1, harus menghadapi hukuman pidana penjara paling lama 6 bulan, dan/atau denda maksimal Rp 1 miliar. Sementara itu, pelaku yang melanggar Pasal 30 UU ITE, akan menjalani pidana penjara selama 6-8 bulan, dan/atau denda Rp 600 juta-800 juta.Hukuman yang lebih berat, menghadang para pelaku yang melanggar Pasal 36 UU ITE. Berdasarkan ketentuan undang-undang ini, pelaku bisa dipenjara paling lama 12 bulan, dan/atau denda maksimal Rp 12 miliar.

Catatan dari SehatQ

Menjadi korban revenge porn akan mendatangkan dampak psikis yang harus dihadapi, dalam jangka panjang. Untuk mencari cara mengatasi dampak tersebut, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.Namun ingat, bentuk penyebaran konten pribadi tersebut merupakan tindak kejahatan. Apabila dirugikan secara langsung maupun tidak langsung, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahli hukum.
hubungan seksualmedia sosialpelecehan sexual
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/slightly-blighty/202010/is-the-pandemic-leading-new-normal-revenge-porn
Diakses pada 10 November 2020
University of Michigan. https://www.biscmi.org/wp-content/uploads/2016/08/Revenge-Porn-and-Mental-Health-A-Qualitative-Analysis-of-the-Mental-Health-Effects-of-Revenge-Porn-on-Female-Survivors.pdf
Diakses pada 10 November 2020
KPK. https://www.kpk.go.id/images/pdf/uu%20pip/UU_ITE%20no%2011%20Th%202008.pdf
Diakses pada 10 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait