Sepsis Neonatorum (Infeksi Darah pada Bayi Baru Lahir), Ketahui Penyebab hingga Pencegahannya


Sepsis neonatorum adalah infeksi darah pada bayi baru lahir yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ vital. Meski demikian, kondisi ini bisa dicegah sejak bayi masih dalam kandungan.

0,0
Sepsis neonatorumSepsis neonatorum
Sepsis neonatorum adalah infeksi darah pada bayi baru lahir yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ vital. Kondisi ini rentan terjadi pada bayi berusia di bawah 28 hari.
Dikutip dari jurnal Sari Pediatri, sekitar 1-10 dari 1000 bayi di Indonesia dapat mengalami sepsis setelah kelahirannya.Sepsis neonatorum merupakan penyakit infeksi pada bayi yang dapat berakibat fatal. Kondisi ini dapat menyebabkan syok septik pada anak. Infeksi darah merupakan salah satu penyebab kematian utama pada bayi baru lahir.

Gejala sepsis neonatorum

Salah satu gejala sepsis neonatorum adalah bayi demam
Salah satu gejala sepsis neonatorum adalah bayi demam
Kemunculan gejala sepsis pada bayi baru lahir cenderung kurang spesifik dan seringnya dikira mengalami gangguan lain, seperti pneumonia atau pendarahan otak.Namun, ada beberapa tanda dan gejala sepsis neonatorum yang umum dan bisa diamati, yaitu:
  • Bayi mengalami demam atau kedinginan tanpa sebab yang jelas. Sepsis juga mungkin menyebabkan hipotermia pada bayi
  • Kulit berubah pucat atau menjadi keabu-abuan. Pada beberapa kasus, kulit bayi tampak kuning
  • Terdapat bintik-bintik di kulit yang tersebar tidak merata
  • Bayi terlihat lesu dan tidak banyak bergerak
  • Kejang
  • Perut terlihat membengkak
  • Masalah pencernaan, seperti diare, kembung, muntah
  • Tidak mau menyusu
  • Sesak napas, merintih
  • Detak jantung lebih lambat atau cepat
  • Gula darahnya menurun setelah diperiksa dokter.

Penyebab sepsis neonatorum

Penyebab sepsis neonatorum yang paling umum adalah infeksi bakteri.Sepsis merupakan kondisi serius yang terjadi ketika sistem imun bayi merespon peradangan akibat infeksi secara agresif. Peradangan yang berlebihan ini memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh bayi.Kemudian berdasarkan waktu terjadinya, infeksi darah pada bayi terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Sepsis neonatorum onset awal

Sepsis neonatorum bisa terjadi akibat bayi mengalami infeksi saat dilahirkan melalui vagina
Sepsis neonatorum bisa terjadi akibat bayi mengalami infeksi saat dilahirkan melalui vagina
Sepsis neonatorum dikatakan onset awal ketika terjadi saat persalinan normal.Sepsis onset awal pada bayi biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri yang berasal dari tubuh ibu, seperti bakteri Streptococcus Grup B (GBS), Listeria, dan Escherichia coli (E coli). Bakteri ini dapat berpindah ke bayi melalui vagina dan rektum ibu.Selain itu, dikutip dari riset terbitan Clinical Microbiology Reviews, infeksi pada ketuban, plasenta, dan serviks juga dapat menyebabkan sepsis onset awal pada bayi.Beberapa faktor penyebab munculnya sepsis pada bayi pada onset awal adalah:
  • Ibu mengonsumsi olahan susu yang tidak dipasteurisasi atau makan makanan mentah yang membuat rentan terinfeksi Listeria.
  • Ketuban terpapar mekonium
  • Prosedur invasif, seperti amniosentesis dan ikat serviks
  • Infeksi air ketuban dan plasenta (korioamnionitis)
  • Ketuban pecah dini
  • Pemasangan kateter.
Infeksi ini biasanya menyerang dalam 24-72 jam setelah persalinan. Umumnya, gejala sepsis pada bayi bisa terlihat pada 6 jam setelah kelahiran.

2. Sepsis neonatorum onset akhir

Alat-alat rumah sakit yang terpapar bakteri mampu memicu sepsis neonatorum pascapersalinan
Alat-alat rumah sakit yang terpapar bakteri mampu memicu sepsis neonatorum pascapersalinan
Sepsis onset akhir biasanya disebabkan oleh bakteri atau jamur yang berasal dari lingkungan sekitar bayi setelah ia lahir. Risiko infeksi darah pada bayi cenderung meningkat terutama jika ia menginap di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Bakteri Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa biasanya menjadi penyebab utama sepsis pada anak pascakelahiran di rumah sakit, karena paparan dari alat-alat medis yang dipasang pada tubuhnya.Dikutip dari riset terbitan Neonatology, beberapa faktor risiko lainnya yang memicu sepsis neonatorum onset akhir adalah:

Penanganan sepsis neonatorum

Bila suhu bayi tidak stabil, ia akan dipindahkan di inkubator saat mengidap sepsis neonatorum
Bila suhu bayi tidak stabil, ia akan dipindahkan di inkubator saat mengidap sepsis neonatorum
Sepsis neonatorum bisa menyebabkan komplikasi berupa syok septik yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara drastis serta kerusakan organ dan saraf. Syok septik pada anak dapat berisiko kematian.Akan tetapi, sepsis pada bayi bisa sembuh dengan diagnosis dan pengobatan sesegera mungkin. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar bayi yang lahir cukup bulan tidak memiliki masalah kesehatan jangka panjang.Penanganan infeksi darah pada bayi baru lahir biasanya dilakukan di NICU dan dimulai dengan pemberian obat antibiotik sesegera mungkin dan diteruskan selama 10-21 hari.Lama pemberian antibiotik umumnya akan didasari oleh keparahan gejala.Dokter juga akan memantau tanda-tanda vital bayi, seperti detak jantung dan tekanan darah, serta jumlah trombosit. Bila suhu tubuh bayi tidak stabil, bayi biasanya dipindahkan ke dalam inkubator.

Pencegahan sepsis neonatorum

Sepsis adalah infeksi darah yang bisa dicegah sejak dalam kandungan. Dikutip dari riset terbitan PLoS Medicine, inilah beberapa langkah pencegahan sepsis neonatorum yang sebaiknya diikuti ibu hamil:

1. Sebelum persalinan

Rutin memeriksakan kandungan mampu mengurangi risiko sepsis neonatorum saat persalinan
Rutin memeriksakan kandungan mampu mengurangi risiko sepsis neonatorum onset awal
Mengonsumsi makanan bergizi yang kaya protein dan kalori yang mencukupi agar mengurangi risiko bayi lahir prematur dan berat badan bayi rendah. Kedua ini menjadi faktor risiko sepsis neonatorum.Selain itu, mendapatkan vaksinasi saat hamil penting supaya ibu bisa menyalurkan antibodi kepada bayi. Keberadaan antibodi akan melindunginya segera setelah bayi lahir.Selalu kontrol kehamilan agar segera mengetahui penyakit infeksi yang dialami saat hamil. Jadi, penanganan pun bisa dilakukan segera. Misalnya, bila ibu hamil mengalami korioamnionitis atau terinfeksi GBS, dokter bisa segera memberikan antibiotik.  

2. Selama persalinan

Untuk menghindari sepsis neonatorum saat persalinan, dokter dan perawat harus menjaga alat-alatnya agar tetap steril
Untuk menghindari sepsis neonatorum saat persalinan, dokter dan perawat harus menjaga alat-alatnya agar tetap steril
Untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri, dokter akan memulai proses persalinan dalam 12-24 jam setelah ketuban pecah.Namun jika ketuban ibu pecah lebih awal dari seharusnya, misalnya 4-6 jam lebih cepat, dokter akan menyarankan persalinan sesar.Selama persalinan, dokter dan perawat yang bertanggung jawab atas prosesnya akan mensterilkan diri serta peralatan medis yang dipakai untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri.Namun, ada baiknya ibu hamil juga ikut andil menjaga kebersihan tubuh sebelum melahirkan dimulai dengan membersihkan area vagina dan rektum.

3. Setelah persalinan

Selalu cuci tangan sebelum menyentuh bayi agar ia tidak mengalami infeksi pada darah
Selalu cuci tangan sebelum menyentuh bayi agar ia tidak mengalami infeksi pada darah
Setelah bayi lahir, sterilkan dan cuci tangan dulu sebelum menggendong atau memegang bayi. Hal ini berlaku tidak hanya untuk ibu tapi juga keluarga dan kerabat yang membesuk. Apabila memungkinkan, batasi kontak bayi dengan orang lain yang bukan keluarga terdekatnya.Selain itu, pastikan juga kulit bayi juga tetap bersih. Kemudian jika memungkinkan, langsung berikan ASI pada bayi tanpa menunda.Memulai inisiasi menyusui dini terbukti membantu meningkatkan kekebalan tubuh bayi agar tidak mudah jatuh sakit. ASI juga terbukti menurunkan risiko infeksi bakter E coli.

Catatan dari SehatQ

Sepsis neonatorum merupakan infeksi darah pada bayi yang membahayakan keselamatan hidupnya. Meski demikian, kondisi ini bisa dicegah, bahkan sejak ia lahir. Untuk itu, selalu rutin memeriksakan kandungan secara rutin dan vaksinasi saat hamil agar bayi pun lahir dengan selamat dan terhindar dari risiko infeksi.Bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut terkait sepsis atau penyakit pada bayi lainnya, hubungi dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
penyakit anakinfeksi bakterisepsis
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK531478/
Diakses pada 19 Agustus 2021
Sari Pediatri. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/viewFile/1038/968
Diakses pada 19 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/sepsis
Diakses pada 19 Agustus 2021
MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/007303.htm
Diakses pada 19 Agustus 2021
MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/pediatrics/infections-in-neonates/neonatal-sepsis
Diakses pada 19 Agustus 2021
Clinical Microbiology Reviews. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3910904/
Diakses pada 19 Agustus 2021
Neonatology. https://www.karger.com/Article/Fulltext/497781
Diakses pada 19 Agustus 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/978352-overview
Diakses pada 19 Agustus 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/978352-treatment
Diakses pada 19 Agustus 2021
PLoS Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2834705/
Diakses pada 19 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait