Chloramphenicol

29 Jul 2021| Dea Febriyani
Ditinjau oleh dr. Wisniaty
Chloramphenicol digunakan untuk mengatasi berbagai macam infeksi bakteri

Chloramphenicol digunakan untuk mengatasi berbagai macam infeksi bakteri

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Chloramex, Chloramphenicol Indo Farma, Cloramidina, Colme, Colme Eye Drop, Combicetin, Colsancetine, Enkacetyn, Fenicol, Grafacetin, Ikamicetin Ointment, Ikamicetin Ophth Ointment, Salisol Isotis 0,5% & 1%, Kalmicetine, Kalmicetine Oint, Kemicetin, Lanacetine, Licoklor, Palmicol, RECO, Opthalmic Ointment Cloramidina, Salep Topikal Cloramidina , Suprachlor, Xepanicol

Deskripsi obat

Chloramphenicol digunakan untuk mengatasi berbagai macam infeksi bakteri. Obat ini termasuk ke dalam golongan obat antibiotik bakterisidal yang bekerja dengan cara membunuh bakteri.

Chloramphenicol merupakan antibiotik dengan spektrum luas, sehingga dapat digunakan untuk melawan infeksi dari berbagai jenis bakteri sekaligus. Misalnya saja, S. typhi, H. influenzae, E. coli, spesies Neisseria, spesies Staphylococcus dan Streptococcus, Rickettsia, dan kelompok organisme lymphogranuloma-psittacosis yang memang sering menyerang dan menimbulkan penyakit pada manusia.

Karena chloramphenicol adalah antibiotik, maka obat ini tidak dapat digunakan sembarangan dan harus sesuai resep atau petunjuk dokter.

Chloramphenicol (Kloramfenikol)
Golongan

Kelas terapi : Antiinfeksi. Klasifikasi Obat : Antibiotik kloramfenikol.

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Tablet, kaplet, kapsul, suspensi, sirup, tetes mata, salep,

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin.

Dosis obat

Dosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Setiap penggunaan obat berpotensi menimbulkan efek samping. Jika efek samping memburuk, segera cari bantuan tenaga medis. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian chloramphenicol, antara lain:

  • Saluran cerna:
    • Mual
      Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur.
      Anda juga dapat menyediakan biskuit di samping tempat tidur untuk dimakan sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
    • Muntah
      Duduk atau berbaring dalam posisi bersandar. Minumlah sedikit minuman manis. Pasalnya, minuman yang mengandung gula dapat membantu menenangkan perut. Namun, hindari minuman asam, seperti jus jeruk atau jus anggur.
    • Diare
      Untuk mengatasi diare ringan, Anda perlu mengganti cairan dan elektrolit (garam) yang hilang dengan meminum banyak air atau minuman olahraga kaya elektrolit. Hindari kopi, minuman berkafein, minuman manis, soda, dan alkool karena memiliki efek pencahar. Sebaiknya, hindari juga produk susu.
    • Peradangan pada lidah (glossitis)
    • Peradangan mukosa mulut (stomatitis)
  • Darah:
    • Kelainan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah merah baru (anemia aplastik)
    • Menekan produksi sel darah merah (myelosupresi) menyebabkan jumlah sel darah rendah
    • Rendahnya jumlah sel darah putih (leukopenia)
  • Saraf:
    • Gangguan penglihatan akibat peradangan pada mata (neuritis optik)
    • Kerusakan sistem saraf perifer atau saraf tepi (neuritis perifer)
    • Perubahan status mental
  • Kulit:
    • Kulit kemerahan atau ruam
    • Syok akibat alergi yang berat (anafilaksis)
  • Depresi sumsum tulang (paling serius)
  • Grey baby syndrome (pada bayi baru lahir)

Perhatian Khusus

Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya. Hati-hati mengonsumsi chloramphenicol pada kondisi:

  • Mengalami infeksi virus
  • Mengalami penyakit sumsum tulang atau jumlah sel darah rendah
  • Mengalami gangguan ginjal dan hati
  • Anak-anak
  • Hamil dan menyusui yang menggunakan obat tetes mata atau telinga

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Penyimpanan

  • Larutan tetes mata atau telinga: Simpan pada suhu antara 2-8°C. Jangan dibekukan dan lindungi dari cahaya matahari langsung.
  • Sediaan oral, seperti tablet, kaplet, kapsul, salep mata, injeksi intravena: Simpan di bawah 25°C. Lindungi dari cahaya matahari langsung.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Alergi terhadap chloramphenicol
  • Riwayat kelainan darah, misalnya kelainan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah merah (anemia aplastik) dan pembentukan heme, yaitu bagian dari hemoglobin, yang tidak sempurna (porfiria akut)
  • Gendang telinga berlubang
  • Kehamilan dan menyusui pada pemakaian oral dan injeksi
  • Pemberian obat secara bersamaan yang menyebabkan depresi sumsum tulang

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya.
Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan chloramphenicol dan segera hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Tanda-tanda alergi, seperti kemerahan(ruam), gatal-gatal, kulit merah, bengkak, melepuh, atau mengelupas dengan atau tanpa demam, suara napas tinggi (mengi), sesak di dada atau tenggorokan, serta kesulitan bernapas, menelan, atau berbicara, suara serak yang tidak biasa, atau pembengkakan pada mulut, wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan
  • Tanda-tanda infeksi, seperti demam, menggigil, sakit tenggorokan yang sangat parah, sakit telinga atau sinus, batuk, dahak atau perubahan warna dahak, nyeri saat buang air kecil, seriawan, atau luka yang tidak kunjung sembuh
  • Tanda-tanda perdarahan, seperti muntah atau batuk darah, muntahan yang terlihat seperti bubuk kopi, darah dalam urine, tinja hitam atau merah, pendarahan pada gusi, perdarahan vagina yang tidak normal, memar tanpa sebab atau yang bertambah besar, atau perdarahan yang tidak bisa berhenti
  • Pusing atau pingsan yang sangat parah
  • Merasa sangat lelah atau lemah.
  • Merasa bingung.
  • Perubahan mood.
  • Perubahan penglihatan.
  • Perasaan terbakar, mati rasa, atau kesemutan yang tidak normal.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi obat mungkin terjadi jika Anda menggunakan atau mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya.

Chloramphenicol dapat mengalami interaksi dengan obat:

  • Avapritinib
    Penggunaan bersama dapat meningkatkan risiko mengalami efek samping serius, seperti pendarahan di otak, gangguan kognitif seperti lupa, kebingungan, kesulitan berpikir, perubahan mood atau perilaku, halusinasi, retensi cairan atau pembengkakan, dan penurunan jumlah sel darah.
  • Butorphanol
    Penggunaan bersama dapat meningkatkan kadar butorphanol dalam darah, sehingga dapat meningkatkan efek samping, seperti mengantuk, pusing, kesulitan berkonsentrasi, dan gangguan dalam berpikir dan mengambil keputusan. Dalam kasus yang parah, penggunaan bersama dapat menyebabkan tekanan darah rendah, gangguan pernapasan, pingsan, koma, atau bahkan kematian.
  • Clozapine
    Penggunaan clozapine dapat menurunkan jumlah sel darah putih jika dikonsumsi dengan obat lain yang juga dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang.
  • Deferiprone
    Penggunaan deferiprone dapat menurunkan jumlah sel darah putih jika dikonsumsi dengan obat lain, seperti chloramphenicol yang juga dapat memengaruhi sel darah putih atau fungsi sumsum tulang.
  • Encorafenib
    Penggunaan bersama dapat meningkatkan risiko efek samping serius, seperti komplikasi perdarahan, masalah mata dan penglihatan, masalah hati, irama jantung tidak teratur, dan perkembangan kanker kulit baru.
  • Phenytoin
    Penggunaan bersama phenytoin dapat meningkatkan gejala toksisitas atau keracunan phenytoin, seperti gerakan mata berkedut, bicara cadel, kantuk, kehilangan keseimbangan, tremor, otot kaku atau lemah, mual, muntah, pusing, pingsan, dan pernapasan lambat atau dangkal.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/bacteria-and-antibacterial-drugs/chloramphenicol
Diakses pada 4 Februari 2021

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/chloramphenicol?mtype=generic
Diakses pada 4 Februari 2021

Antimicrobe. http://www.antimicrobe.org/drugpopup/chloramphenicol.htm
Diakses pada 4 Februari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email