Diflukortolon

Selain sebagai antiradang, diflukortolon dapat bekerja sebagai antigatal dan dapat mempersempit pembuluh darah

Diflukortolon merupakan obat yang bekerja sebagai aniradang

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Diflucortolone, Isoconazole+Diflucortolone, Nerilon, Nerisona, Nerisona Combi, Travocort, Valeron

Deskripsi obat

Diflukortolon adalah obat kortikosteroid poten yang bekerja sebagai antiradang, dengan menekan mediator-mediator inflamasi. Selain sebagai antiradang, diflukortolon juga bekerja sebagai antigatal dan dapat mempersempit pembuluh darah. Obat ini digunakan sebagai obat luar topical pada penyakit kulit.

Diflukortolon
Golongan

Kortikosteroid

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Krim, salep (topikal)

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko. Penelitian menunjukkan bahwa obat ini dapat menimbulkan risiko minimal pada bayi ketika digunakan selama menyusui.

Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Krim/salep dengan konsentrasi 0,1% dan 0,3%

Dewasa: dioles 2 kali sehari, kemudian dikurangi 1 kali sehari jika gejala membaik. Pemakaian paling lama 4 minggu untuk konsentrasi 0,1% dan 2 minggu untuk konsentrasi 0,3%.

Anak-anak:

1-4 tahun: konsentrasi 0,1%, dioleskan 2 kali sehari, dikurangi menjadi 1 kali sehari jika gejala membaik. Maksimal pemakaian selama 5 hari.

5 tahun ke atas: konsentrasi 0,1% atau 0,3%, dioleskan 2 kali sehari, kemudian 1 kali sehari setelah membaik. Maksimal pemakaian 1-2 minggu dan 5 hari untuk bagian muka.

Efek samping obat

Pemakaian obat umumnya memiliki efek samping tertentu dan bersifat individual. Efek samping yang berlebihan harus segera mendapat penanganan medis.

Diflucortolone dapat menyebabkan efek samping yang meliputi:

  • Infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur
  • Dermatitis kontak
  • Iritasi, kemerahan, nyeri terbakar
  • Kulit menipis, timbul garis-garis putih (striae), perubahan warna
  • Glaukoma

Efek samping yang berat, dapat berupa supresi fungsi kelenjar adrenal dan sindrom Cushing.

Ada beberapa efek samping lain yang mungkin belum terdaftar. Jika mengalami efek samping selain dari yang terdaftar di atas, segera konsultasikan ke dokter Anda.

Perhatian Khusus

Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Psoriasis
  • Dermatitis stasis
  • Ulkus pada kaki
  • Anak-anak
  • Ibu hamil dan menyusui

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Jangan menggunakan diflucortolone jika mempunyai kondisi medis di bawah ini:

  • Acne vulgaris (jerawat)
  • Infeksi virus
  • Infeksi bakteri atau jamur yang belum diobati
  • Gatal di daerah perianal dan kelamin yang belum didiagnosis
  • Reaksi kulit pasca vaksinasi

Anak di bawah 5 tahun tidak boleh memakai diflucortolone dengan konsentrasi 0,3%.

 

Informasi yg diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui BPOM.

MIMS Indonesia. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/diflucortolone/?type=brief&mtype=generic
Diakses 21 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3374684/
Diakses pada 21 Agustus 2019

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email