Fluconazole

27 Apr 2021| Olivia
Ditinjau oleh dr. Wisniaty
Fluconazole digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi jamur

Fluconazole digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi jamur

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Cancid, Candipar,Candizol, Cryptal, Diflucan, Fcz, Fioflucan, Flucanol, Flucess, Flukonazole Novell Pharma, Flukoral, Fludis, Fluxar, Fungoz, Funzela, Fuzolan, Govazol, Kifluzol, Lunazol, Quazol, Sifluzol, Sporale, Zemyc.

Deskripsi obat

Fluconazole digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan jamur. Contohnya adalah candidiasis yang disebabkan jamur Candida, seperti infeksi vagina (kandidiasis vagina) dan infeksi jamur pada mulut atau yang biasa disebut seriawan.

Kandidiasis juga dapat menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lain, misalnya tenggorokan, kerongkongan, paru-paru, dan darah. Orang yang pernah menjalani transplantasi sumsum tulang juga dapat diobati dengan obat ini untuk mencegah kandidiasis.

Flukonazol juga digunakan untuk mengobati meningitis atau infeksi otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan jamur Cryptococcus.

Fluconazole (Flukonazol)
GolonganKelas terapi : Antijamur Klasifikasi Obat : Azole
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet, injeksi
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Kategori kehamilan dan menyusui

Kandidiasis vaginalis 150 mg dosis tunggal
Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol, tetapi ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.

Pada trimester ketiga:
Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.

Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat. Namun, jika terjadi efek samping yang mengganggu atau memburuk, segeralah cari bantuan medis.

Beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah penggunaan fluconazole adalah:

  • Sakit kepala
    Istirahat dan minumlah banyak air. Jangan minum terlalu banyak alkohol. Mintalah apoteker merekomendasikan obat penghilang rasa sakit jika Anda membutuhkannya. Bicaralah dengan dokter Anda jika sakit kepala berlangsung lebih dari seminggu atau bertambah parah.
  • Sakit perut
    Cobalah istirahat agar lebih rileks. Makan dan minum secara perlahan dalam porsi lebih sedikit, tetapi lebih sering dapat membantu. Mengompres perut dengan handuk hangat atau botol berisi air panas juga dapat membantu meredakan gejala ini. Jika Anda sangat kesakitan, bicarakan dengan dokter atau apoteker.
  • Diare
    Minum banyak air untuk menghindari dehidrasi. Bicaralah dengan apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Mual atau muntah
    Konsumsilah makanan sederhana dan hindari makanan dengan rasa yang kuat, seperti pedas. Mengonsumsi obat ini setelah makan atau ngemil dapat membantu mencegah gejala ini terjadi.
  • Ruam
    Minumlah obat antialergi atau antihistamin yang dapat Anda beli di apotek. Tanyakan obat antialergi yang tepat untuk Anda kepada apoteker. Jika ruam semakin parah atau tidak membaik setelah seminggu, bicarakan dengan dokter Anda.
  • Pusing
  • Perubahan indra perasa

Perhatian Khusus

Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya. Hati-hati menggunakan fluconazole pada kondisi:

  • Penyakit hati
  • HIV atau AIDS
  • Kanker
  • Masalah jantung
  • Gangguan irama jantung
  • Penyakit ginjal
  • Gagal jantung
  • Anak-anak
  • Lanjut usia
  • Kehamilan dan menyusui

Penyimpanan

Simpan pada suhu di bawah 30°C.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Hindari penggunaan fluconazole pada pasien dengan kondisi medis, seperti:

  • Riwayat alergi terhadap fluconazole
  • Penggunaan bersamaan astemizole, cisapride, quinidine, terfenadine, pimozide, dan eritromisin

Kategori kehamilan & menyusui

Kandidiasis vaginalis 150 mg dosis tunggal
Kategori C:
Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan fluconazole pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.

Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Detak jantung cepat atau berdebar, sesak napas, dan pusing tiba-tiba seperti akan pingsan
  • Demam, menggigil, badan pegal, dan gejala flu
  • Mudah memar atau berdarah dan kelemahan yang tidak biasa
  • Kejang
  • ruam atau lesi kulit
  • Masalah hati, seperti kehilangan nafsu makan, sakit perut di sisi kanan atas, urine berwarna gelap, feses berwarna tanah liat, dan kulit atau mata menguning

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu, bila perlu dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Menggunakan fluconazole dengan obat-obatan lain bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, seperti:

  • Bosentan, siklosporin, midazolam, nevirapin, amitriptilin, nortriptiline, fenitoin, rifabutin, sulfonilurea, nateglinid, selekoksib, parekoksib, dan takudrolimus
    Fluconazole dapat meningkatkan kadar obat di atas, sehingga menimbulkan risiko terjadinya toksisitas atau keracunan.
  • Simvastatin dan atorvastatin
    Flukonazol dapat meningkatkan risiko terjadinya kelelahan dan masalah pada otot jika dikonsumsi dengan obat di atas.
  • Teofilin
    Flukonazol dapat menurunkan pembersihan teofilin dalam plasma.
  • Rifampisin
    Flukonazol dapat menurunkan kadar rifampisin dalam plasma, sehingga menurunkan efektivitas rifampisin
  • Astemizole, cisapride, terfenadin, kuinidin, pimozid, dan eritromisin
    Flukonazol dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung (aritmia jantung) jika dikonsumsi bersama obat-obatan yang dapat memperpanjang interval QT atau menyebabkan gangguan irama jantung, seperti obat di atas.
  • Fentanil
    Flukonazol dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi pernapasan jika dikonsumsi dengan fentanil.
  • Antikoagulan, seperti warfarin
    Penggunaan flukonazol dengan warfarin dapat meningkatkan waktu protrombin.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3780-5052/fluconazole-oral/fluconazole-oral/details
Diakses pada 25 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3780-3326/fluconazole-oral/fluconazole-150-mg-oral/details
Diakses pada 25 Januari 2021

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/fluconazole.html
Diakses pada 25 Januari 2021

Rxlist. https://www.rxlist.com/consumer_fluconazole_diflucan/drugs-condition.htm
Diakses pada 25 Januari 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a690002.html
Diakses pada 25 Januari 2021

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/fluconazole/
Diakses pada 25 Januari 2021

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/fluconazole?mtype=generic
Diakses pada 25 Januari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email