Penyakit Lainnya

Alergi Telur

Diterbitkan: 16 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Alergi Telur
Alergi telur bisa memicu ruam dan bentol pada kulit
Alergi telur adalah kondisi yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap protein kuning atau putih telur. Ketika penderita mengonsumsi telur, tubuhnya menganggap protein telur sebagai benda asing dan mengeluarkan histamin untuk melawannya, sehingga memicu gejala alergi.Alergi akibat telur teramsuk jenis alergi makanan yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Alergi ini dapat muncul sejak bayi berusia di bawah lima tahun (balita).Pada kebanyakan kasus, alergi telur dapat membaik dengan sendirinya sebelum penderita menginjak usia dewasa.Gejala alergi telur biasanya muncul pada beberapa menit hingga beberapa jam setelah seseorang mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.Keluhan penderita bisa bervariasi, dari ringan hingga berat. Keluhan ini biasanya berupa ruam dan bentol pada kulit, hidung tersumbat, serta ganguan pencernaan seperti muntah.Meski sangat jarang, alergi telur bisa menyebabkan kondisi anafilaksis. Reaksi anafilaksis merupakan bentuk alergi yang parah dan serius, sehingga dapat mengancam nyawa penderita. 
Alergi Telur
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Gizi
GejalaRuam atau bentol pada kulit, hidung tersumbat atau berair, muntah
Faktor risikoAnak-anak, dermatitis atopik, riwayat alergi dalam keluarga
Metode diagnosisSkin prick test, tes darah, uji makanan
PengobatanObat-obatan, menjauhi telur
ObatAntihistamin, epinefrin
KomplikasiAnafilaksis
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala alergi telur
Gejala alergi telur bervariasi dan biasanya terjadi tidak lama setelah seseorang mengonsumsi telur. Keluhannya dapat berupa:
  • Ruam atau bentol pada kulit. Gejala ini paling sering muncul.
  • Hidung tersumbat atau berair.
  • Gangguan pencernaan, seperti kram perut, mual, dan muntah.
  • Gangguan pernapasan, seperti batuk, mengi (napas bunyi), dada sesak seperti terikat, dan napas pendek.
 

Alergi telur dan reaksi anafilaksis

Alergi telur dapat menimbulkan reaksi anafilaksis, yaitu reaksi alergi berbahaya yang harus segera ditangani secara medis. Gejala anafilakis bisa meliputi:
  • Penyempitan saluran napas, termasuk tenggorokan bengkak yang membuat pasien sulit bernapas
  • Nyeri dan kram perut
  • Denyut nadi yang cepat
  • Syok, yakni turunnya tekanan darah secara drastis dengan keluhan berupa pusing, sensasi mau pingsan, atau penurunan kesadaran
 
Sesuai nama penyakitnya, penyebab alergi telur adalah konsumsi telur. Kondisi ini termasuk dlaam jenis alergi makanan.Alergi makanan terjadi karena reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap bahan makanan tertentu.Pada pasien dengan alergi telur, kontak dengan protein telur memicu sistem imun untuk mengeluarkan histamin dan zat kimia lain yang menyebabkan munculnya gejala alergi.Baik kuning maupun putih telur, keduanya bisa mengandung protein yang dapat memicu reaksi alergi. Namun alergi terhadap putih telur lebih sering ditemukan.Protein telur juga dapat ditemukan pada ASI dari ibu menyusui yang mengonsumsi telur. Jadi ketika sang ibu menyusui bayinya, gejala alergi telur bisa saja muncul pada si bayi. 

Faktor risiko alergi telur

Para pakar memperkirakan ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko alergi telur pada seseorang. Faktor-faktor ini meliputi:
  • Riwayat dermatitis atopik

Anak-anak dengan penyakit dermatitis atopik lebih rentan untuk mengalami alergi telur.
  • Riwayat alergi dalam keluarga

Seseorang lebih berisiko untuk mengalami alergi telur bila salah satu atau kedua orang tua kandungnya memiliki riwayat asma, alergi makanan, atau alergi lainnya.
  • Usia

Alergi telur lebih sering dialami oleh anak-anak. Seiring bertambahnya usia penderita, sistem pencernaannya akan semakin berkembang dan reaksi alergi makanan lebih jarang terjadi.Baca Juga: Tanpa Sadar, Alergen Mungkin Ada di Dekat Anda 
Untuk memastikan diagnosis alergi telur, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat medis pasien maupun keluarga.
  • Skin prick test (uji tusuk kulit)

Pada skin prick test, cairan yang mengandung protein telur akan diteteskan dke punggung atau lengan atas pasien. Dokter lalu menusuk area kulit tersebut dengan jarum kecil agar cairan bisa terserap ke dalam kulit.Setelah itu, dokter akan mengamati reaksi kulit pasien. Bila pasien memiiki alergi telur, gejala berupa benjolan kemerahan akan muncul dalam 15-20 menit.Pada uji tusuk kulit ini, dokter juga dapat menentukan apakah pasien alergi terhadap putih telur atau kuning telur.
  • Tes darah

Pada tes darah, adanya kadar antibodi bernama imunoglobulin E yang tinggi dapat menandakan alergi.
  • Uji makanan

Dalam uji makanan, pasien akan diminta mengonsumsi sedikit telur untuk melihat ada tidaknya reaksi alergi. Tes ini harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis.
  • Diet eliminasi makanan

Bila gejala alergi muncul ketika telur dihilangkan dari makanan dan muncul kembali ketika pasien memakan telur, pasien kemungkinan besar mengalami alergi telur. 
Cara mengobati alergi telur yang terbaik adalah menghindari konsumsi telur atau produk yang mengandung telur. Penderita juga perlu memperhatikan komposisi telur dalam produk tertentu, misalnya makanan kaleng atau camilan.Selain menganjurkan pasien untuk menjauhi telur, dokter juga bisa memberikan langkah pengobatan alergi telur di bawah ini:
  • Antihistamin

Untuk meredakan gejala alergi telur yang ringan seperti ruam dan gatal, obat antihistamin dapat diresepkan oleh dokter.
  • Epinefrin

Bagi pasien dengan reaksi alergi berat, obat jenis epinefrin suntik diperlukan untuk mengatasinya. 

Komplikasi alergi telur

Komplikasi alergi telur yang utama adalah anafilaksis. Kondisi gawat darurat ini membutuhkan obat epinefrin suntik dan perawatan darurat di rumah sakit secepat mungkin agar nyawa pasien bisa selamat. 

Hubungan erat antara alergi telur dan alergi lainnya

Reaksi imun yang menyebabkan alergi telur juga dapat memicu terjadinya kondisi medis lain. Pencerita alergi telur akan memiliki risiko tinggi untuk terkena:
  • Alergi makanan lain, seperti susu, kedelai, atau kacang
  • Alergi terhadap bulu binatang peliharaan, tungau debu, atau serbuk sari
  • Dermatitis atopik
  • Asma, yang juga menjadi faktor risiko terjadinya alergi telur dan alergi makanan lain
 Baca Juga: Antihistamin adalah Obat Alergi Paling Populer, Bagaimana Cara Kerjanya? 
Beberapa cara mencegah alergi telur yang dapat dilakukan meliputi:
  • Bacalah label makanan dengan hati-hati

Sebelum membeli atau mengonsumsi makanan apapun, bacalah komponen pada label makanan dengan saksama.
  • Waspada ketika makan di luar

Tanyakan pada pelayan atau koki mengenai bahan-bahan yang digunakan pada makanan sebelum bersantap di restoran.
  • Hindari konsumsi telur saat menyusui

Jika buah hati mengalami alergi telur, sang ibu yang sedang menyusui harus menjauhi konsumsi telut. Pasalnya, protein dalam telur bisa masuk ke dalam ASI yang akan diminum Si Kecil. 
Segera ke dokter bila Anda atau anak Anda mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi telur atau produk yang mengandung telur. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait alergi telur?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar pasien dengan gejala yang sama?
  • Apakah pasien sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis alergi telur. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/egg-allergy/symptoms-causes/syc-20372115
Diakses pada 15 Oktober 2018
American College of Allergy, Asthma, & Immunology. https://acaai.org/allergies/types-allergies/food-allergy/types-food-allergy/egg-allergy
Diakses pada 16 Desember 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/egg-allergy.html
Diakses pada 16 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email