Psikologi

Penyakit Alzheimer

Diterbitkan: 04 Feb 2021 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimer menyebabkan penurunan pada fungsi otak (demensia)
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang menyerang fungsi otak. Akibatnya, penderita akan mengalami penurunan daya ingat dan fungsi kognitif lain.Penyakit ini berkembang secara progresif. Ini berarti, Alzheimer akan bertambah parah seiring waktu.Kemampuan intelektual dan sosial pada penderita penyakit Alzheimer akan terus menurun karena kondisi sel-sel otaknya memburuk hingga akhirnya mati.Pada tahap awal, penderita akan merasa sedikit kebingungan dan mengalami kesulitan dalam mengingat percakapan ataupun kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Perlahan-lahan, masalah ingatan yang parah akan terjadi.Penderita bahkan bisa melupakan orang-orang penting dalam hidupnya, mengalami perubahan kepribadian, dan tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari.Pada tahap lanjut, penyakit Alzheimer dapat mengakibatkan komplikasi karena fungsi otak yang semakin menurun. Mulai dari dehidrasi, malnutrisi, infeksi, hingga kematian.Saat ini, penanganan penyakit Alzhemir berfokus untuk meringankan gejala Alzheimer. Karena itu, penyakit ini belum bisa disembuhkan. 
Penyakit Alzheimer
Dokter spesialis Saraf, Jiwa
GejalaGangguan ingatan, gangguan penalaran, depresi
Faktor risikoUsia tua, sindrom Down, keturunan
Metode diagnosisTes darah, pencitraan kepala, punksi  lumbal
PengobatanObat, psikoterapi
KomplikasiDepresi, gangguan keseimbangan, infeksi
Kapan harus ke dokter?Gangguan daya ingat
Secara umum, gejala penyakit Alzheimer meliputi:

Gangguan ingatan

  • Menanyakan hal yang sama berulang kali tanpa menyadarinya
  • Melupakan percakapan serta perjanjian (dan bahkan tidak akan mengingatnya lagi)
  • Melupakan tempat yang sering didatangi
  • Kesulitan dalam mencari kata untuk mendeskripsikan sesuatu
  • Sukar mengekspresikan pemikirannya
  • Melupakan nama anggota keluarganya

Gangguan berpikir dan penalaran

  • Kesulitan konsentrasi, terutama untuk konsep-konsep yang abstrak seperti
  • Kesulitan mengerjakan beberapa hal secara bersamaan dalam satu waktu (multitasking)
  • Kesulitan mengatur keuangan dan membayar tagihan

Gangguan pada kemampuan perencanaan dan melakukan rutinitas

Penderita Alzheimer menjadi kesulitan untuk melakukan rutinitas yang membutuhkan perencanaan. Misalnya, memasak, bermain game, dan sebagainya.Pada akhirnya, penderita bahkan melupakan cara-cara untuk melakukan aktivitas mendasar. Contihnya, mandi, memakai baju, dan lain-lain. 

Perubahan pada kepribadian dan perilaku

  • Perubahan suasana hati (mood swings)
  • Apatis 
  • Depresi
  • Menarik diri dari kehidupan sosial
  • Tidak mempercayai orang lain
  • Perubahan dalam kebiasaan tidur
  • Cepat marah dan agresif
  • Berkeliaran
  • Kehilangan kendali diri, seperti melakukan hal-hal yang memalukan di publik (loss of inhibitions)
  • Mengalami kepercayaan mengenai suatu hal yang tidak sesuai dengan realita yang ada (delusi), seperti mempercayai bahwa sesuatu telah dicuri
 
Hingga saat ini, penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui pasti. Namun pada ilmuwan memperkirakan bahwa ada sejumlah faktor yang bisa memengaruhi kemungkinan seseorang untuk mengalami penyakit ini.Penyakit Alzheimer akan merusak dan mematikan sel-sel otak, serta membuat jumlahnya menjadi lebih sedikit daripada kondisi normal. Semakin banyak sel otak yang mati, ukuran otak akan semakin menyusut.Terdapat dua jenis protein yang mungkin berperan dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Protein ini meliputi:
  • Protein beta amiloid

Beta amiloid adalah pecahan dari protein yang lebih besar. Saat menggumpal dan menyatu atau menjadi plak amiloid (amyloid plaque), protein ini memiliki efek beracun pada saraf sehingga dapat menganggu komunikasi antarsel.  
  • Protein tau

Penderita Alzheimer memiliki protein tau yang berubah bentuk dan menjadi filamen PH (neurofibrillary tangles).Pada awalnya, protein tau befungsi mendukung dan menyalurkan nutrisi serta materi-materi penting lain pada saraf. Tapi bila telah berubah menjadi filamen PH, protein ini akan menjadi racun bagi sel-sel. Akibatnya, proses penyaluran akan terganggu. 

Faktor risiko penyakit Alzheimer

Faktor-faktor risiko penyakit Alzheimer tersebut meliputi genetik, gaya hidup, dan lingkungan. Ketiganya bisa berdampak pada daya ingat serta fungsi otak pengidap penyakit ini.
  • Usia

Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer akan semakin tinggi, terutama bagi mereka yang telah berusia 65 tahun.Namun perlu diketahui bahwa mengalami penyakit Alzheimer bukanlah selalu menjadi bagian dari proses penuaan. 
  • Sindrom Down

Pengidap sindrom Down lebih berisiko untuk mengalami penyakit Alzheimer. 
  • Faktor keturunan dan genetik

Jika seseorang memiliki keluarga kandung dengan penyakit Alzheimer, risikonya untuk mengalami penyakit yang sama akan meningkat. Perubahan gen (mutasi gen) tertentu juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini. 
  • Cedera kepala

Orang uang mengalami cedera di bagian kepala, akan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terkena penyakit Alzheimer. 
  • Jenis kelamin

Wanita memiliki risiko lebih besar untuk mengidap Alzheimer daripada pria.
  • Gangguan kognitif yang ringan

Orang dengan gangguan kognitif ringan pada bagian memori, lebih mungkin untuk mengalami penyakit Alzheimer.
  • Faktor risiko penyakit jantung

Para peneliti menemukan bahwa faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung juga berkaitan dengan faktor risiko penyakit Alzheimer. Misalnya, kurang olahraga, obesitas, perokok aktif maupun pasif, hipertensi, kolesterol tinggi, serta diabetes tipe 2 yang tidak terkendali.
  • Pola tidur yang buruk

Orang dengan gangguan tidur dicurigai lebih berisiko untuk mengalami penyakit Alzheimer.  
Untuk memastikan diagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, riwayat medis pasien maupun keluarga. Tak hanya pasien, keluarga dan orang terdekatnya juga perlu menjelaskan hal-hal ini.
  • Pemeriksaan fisik dan neurologis

Pemeriksaan ini bisa berupa pengecekan refleks, kekuatan dan tonus otot, kemampuan untuk bangkit dari kursi serta berjalan, koordinasi gerakan, serta keseimbangan pasien.
  • Tes darah

Tes darah akan dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya penyebab lain dari gangguan ingatan dan kondisi linglung yang dialami oleh pasien. Misalnya, masalah apda kelenjar tiroid atau kekurangan vitamin.
  • Pemeriksaan status mental dan neuropsikologis

Pemeriksaan ini meliputi pengecekan memori dan kemampuan berpikir pasien. 
  • Pencitraan pada otak

Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi ada tidaknya abnormalitas pada otak yang mungkin dapat menyebabkan perubahan fungsi otak. Contohnya, tumor, stroke, cedera otak, dan sebagainya.Pencitraan juga dapat digunakan untuk melihat bagian otak yang mengalami perubahan karena penyakit Alzheimer. Tes ini bisa berupa MRI, CT scan, PET scan, dan lain-lain.
  • Pungsi lumbal

Pungsi lumbal adalah prosedur pengambilan sampel cairan serebrospinal dari tulang belakang pasien. Sampel ini kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui kadar protein tau dan amiloid dalam tubuh pasien. 
Cara mengobati Alzheimer umumnya tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut.Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer sepenuhnya. Tetapi penanganan akan diberikan guna mengurangi gejala penyakit ini.Beberapa penanganan penyakit Alzheimer yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi:

1. Obat-obatan

Pilihan obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi Alzheimer meliputi:
  • Cholinesterase inhibitor

Obat ini dapat membantu dalam meningkatkan komunikasi antarsel sekaligus menangani depresi dan kecemasan.
  • Memantine

Memantine berfungsi menghambat perkembangan penyakit Alzheimer. Pemberian obat ini biasanya digabung dengan cholinesterase inhibitor

2. Psikoterapi

Psikoterapi dapat membantu untuk mendukung memori, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan berbahasa penderita. Jenis terapi ini umumnya berupa terapi simulasi kognitif (cognitive stimulation therapy). 

Komplikasi penyakit Alzheimer

Bila tidak ditangani dengan benar, penyakit Alzheimer dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Sering gelisah dan cemas
  • Inkontinensia urine dan tinja, yakni tidak bisa menahan buang air kecil maupun besar
  • Depresi
  • Gangguan keseimbangan, sehingga penderita gampang jatuh dan meningkatkan risiko patah tulang maupun cedera kepala
  • Sering tersedak, yang bisa memicu makanan atau minuman masuk ke paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi paru
  • Tersesat, misalnya karena lupa jalan pulang setelah keluar rumah
  • Kurang gizi dan dehidrasi
 
Cara mencegah penyakit Alzheimer tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti.Meski begitu, Anda mungkin bisa mengurangi risiko penyakit Alzheimer dengan menerapkan pola hidup . Contohnya, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan rendah lemak, mengonsumsi lebih banyak serat, serta berhenti merokok.Jika Anda mengidap diabetes, kolesterol tinggi, atau hipertensi, kendalikan penyakit ini dengan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.  
Segera konsultasikan ke dokter bila Anda atau orang tedekat Anda mengalami gejala penyakit Alzheimer, misalnya penurunan memori dan fungsi otak. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda atau orang terdekat Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda atau orang terdekat Anda
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda atau orang terdekat Anda Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda atau orang terdekat Anda
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda atau dampingilah orang  terdekat Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait penyakit Alzheimer?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis penyakit Alzheimer agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/symptoms-causes/syc-20350447
Diakses pada 25 September 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1134817-overview#a1
Diakses pada 19 Maret 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/alzheimers-disease
Diakses pada 25 September 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/alzheimers-disease-complications
Diakses pada 16 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email