Penyakit Lainnya

Anemia Aplastik

Diterbitkan: 16 Dec 2018 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Anemia Aplastik
Sumsum tulang tidak memproduksi cukup sel darah merah, putih, maupun keping darah.
Anemia aplastik adalah penyakit kelainan darah yang langka. Penyakit ini terjadi saat sumsum tulang tidak dapat memproduksi cukup sel darah.Darah terdiri dari berbagai jenis sel seperti:
  • Sel darah merah (eritrosit), yang berisi protein hemoglobin untuk mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
  • Sel darah putih (leukosit), yang melawan penyakit dan infeksi dengan menyerang dan membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh.
  • Trombosit, untuk membantu pembekuan darah dan menghentikan perdarahan.
Ketiga jenis sel tersebut dihasilkan oleh sumsum tulang. Pada pasien anemia aplastik, kemampuan sumsum tulang terganggu dalam menghasilkan sel darah.Penyakit ini juga sering disebut kegagalan sumsum tulang. Akibatnya, pasien anemia plastik tidak dapat memproduksi salah satu atau ketiga jenis sel darah dalam jumlah yang cukup.Apabila anemia aplastik tidak segera mendapatkan penanganan, maka jumlah sel darah akan menjadi sangat rendah, mengalami gangguan fungsi, dan pasien bisa kehilangan berbagai nutrisi. Pasalnya, di dalam sel darah terdapat plasma yang mengandung garam, protein, hormon, mineral, vitamin dan bahan kimia yang dibutuhkan oleh tubuh.Anemia aplastik dibagi ke dalam dua jenis, yaitu anemia aplastik yang didapatkan (acquired aplastic anemia) yang umumnya terjadi ketika dewasa, dan inherited bone marrow failure syndromes (anemia aplastik bawaan) yang lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja.Anemia aplastik dapat timbul secara perlahan maupun tiba-tiba dan memburuk seiring waktu hingga dapat mengancam nyawa. Di Indonesia sendiri, kejadian anemia aplastik tergolong cukup langka, dengan jumlah di bawah 15.000 kasus per tahunnya.
Anemia Aplastik
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaMudah lelah, sesak napas, kulit pucat
Faktor risikoPenggunaan obat kloramfenikol dalam jangka panjang, infeksi hepatitis baru, penyakit autoimun
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, biopsi sumsum tulang
PengobatanObat-obatan, transfusi darah, transplantasi sumsum tulang
ObatAntibiotik, imunoterapi
KomplikasiInfeksi berat, perdarahan
Kapan harus ke dokter?Mudah lelah, mudah memar, kulit pucat
Gejala anemia aplastik bergantung pada jenis sel darah yang tidak dapat diproduksi. Sebab, setiap sel darah memiliki fungsi yang berbeda. Jika yang tidak dapat diproduksi adalah sel darah merah, maka gejalanya bisa berupa:
  • Mudah lelah
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Kulit pucat
  • Detak jantung yang tidak teratur (aritmia)
Sementara itu, yang menjadi gejala kekurangan sel darah putih adalah:
  • Cenderung lebih mudah terkena infeksi
  • Demam yang berulang
Seorang pasien yang kekurangan trombosit akan menunjukkan gejala berupa:
  • Mudah memar dan mengalami perdarahan yang sulit dihentikan
  • Mimisan
  • Gusi berdarah
  • Darah pada feses
  • Perdarahan menstruasi yang berat (pada wanita)
Penyebab anemia aplastik dapat digolongkan berdasarkan jenisnya, sebagai berikut ini:
  1. Acquired aplastic anaemia
    Jenis Anemia ini adalah jenis yang paling umum terjadi. Sebanyak 75 dari 100 kasus anemia aplastik didapat adalah idiopatik, atau tidak dapat ditemukan penyebab pastinya. Sementara itu, sisanya diduga berkaitan dengan:
  • Toksin seperti pestisida, arsenik dan benzene
  • Radiasi dan kemoterapi (pengobatan untuk kanker)
  • Virus seperti Epstein-Barr, Hepatitis, cytomegalovirus, parvovirus B-19 dan HIV
  • Kelainan autoimun seperti lupus dan reumatoid arthritis
  • Obat-obatan, yaitu kloramfenikol
  • Kehamilan, karena anemia aplastik dapat terjadi pada saat kehamilan dan menghilang setelah persalinan
  • Kanker dari bagian tubuh lain yang menyebar, dan menyerang sumsum tulang sehingga menyebabkan anemia aplastik
 
  1. Inherited bone marrow failure syndromes (anemia plastic bawaan)
    Jenis anemia aplastik ini adalah suatu kelainan genetik yang diwariskan dari garis keturunan.

    Biasanya kondisi ini diturunkan dari orangtua yang juga mengalami anemia aplastik atau menderita penyakit lain yang dapat mengarah pada anemia aplastik, seperti:
 
  • Anemia Fanconi
  • Sindroma Shwachman-Diamond
  • Anemia Diamond-Blackfan
  • Diskeratosis kongenital
 Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia aplastik, yaitu:
  • Pemakaian obat-obatan seperti kloramfenikol dalam jangka panjang
  • Menderita penyakit lain seperti paroxysmal nocturnal hemoglobinuria
  • Infeksi hepatitis baru
  • Kehamilan
  • Penyakit autoimun seperti lupus atau artritis reumatoid
Keluarga dengan riwayat penyakit anemia aplastik
Diagnosis perlu dilakukan oleh dokter spesialis hematologi, yakni dokter yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dan kelainan darah. Berikut ini adalah prosedur dan pemeriksaan yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis.
  • Menanyakan riwayat penyakit:
    Dokter dapat menanyakan hal-hal seperti tanda dan gejala anemia yang dirasakan, kondisi pasien yang mudah memar dan mengalami perdarahan, konsumsi obat-obatan tertentu, prosedur radiasi dan kemoterapi, serta tanda-tanda infeksi seperti demam. Selain itu, dokter biasanya menanyakan informasi tentang riwayat keluarga dengan anemia maupun kelainan darah.
  • Pemeriksaan fisik:
    Dokter akan memeriksa tanda dan gejala dari anemia, seperti kulit yang pucat, suara detak jantung yang tidak teratur, suara napas, pembengkakan kaki, dan pemeriksaan abdomen untuk melihat kemungkinan pembesaran limpa atau hati.
  • Pemeriksaan darah lengkap:
    Pemeriksaan darah lengkap dibutuhkan untuk melihat jumlah sel darah yang terdapat dalam tubuh. Dokter akan mendiagnosis anemia aplastic pada pasien dengan setidaknya dua kondisi di bawah ini:
  1. Hemoglobin <10 g/dL (Normal: 12-18 g/dL)
  2. Trombosit <50.000/mm3 (Normal: 150.000-450.000/mm3)
  3. Jumlah absolut neutrofil: <1.5 × 109/L (Normal: 2.0–7.0×109/L)
  • Biopsi sumsum tulang:
    Biopsi adalah tindakan pengambilan sampel menggunakan jarum. Sampel sumsum tulang ini kemudian akan dilihat di bawah mikroskop. Analis laboratorium akan memeriksa jumlah dan jenis sel yang terdapat di dalamnya. Pada anemia aplastik, akan ditemukan rendahnya jumlah ketiga jenis sel darah pada sumsum tulang.
  • Pemeriksaan penunjang lainnya:
    1. X-ray (foto rontgen), CT scan atau USG: untuk melihat adanya tanda dan gejala kanker, anemia Fanconi, dan lain-lain. Tujuannya, untuk membantu mencari penyebab dari anemia aplastik.
    2. Tes fungsi hati, untuk melihat adanya infeksi baru hepatitis atau penyakit hati lainnya.
    3. Pemeriksaan untuk melihat kadar vitamin B12, yang bertujuan menyingkirkan kemungkinan anemia disebabkan oleh defisiensi vitamin B12.
Pengobatan anemia aplastik bertujuan untuk meningkatkan jumlah sel darah dalam tubuh, sehingga gejala yang dirasakan akan berkurang.Pilihan pengobatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi anemia aplastik adalah:
  • Antibiotik:
    Pada pasien dengan jumlah sel neutrofil yang rendah (neutropenia), maka akan sering mengalami infeksi untuk itu diperlukan antibiotik dibutuhkan untuk melawan infeksi tersebut.
  • Transfusi darah:
    Transfusi dilakukan pada penderita anemia aplastik yang mengalami pendarahan dan infeksi. Transfusi dapat dilakukan sekali seminggu.
  • Growth Factors:
    Growth factors adalah hormon yang umum ditemukan dalam tubuh yang memberi sinyal pada sumsum tulang untuk memproduksi tipe sel darah tertentu. Growth factors sintetis akan diberikan pada penderita dengan kegagalan fungsi sumsum tulang, supaya jumlah sel darah meningkat. Contoh: Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), Granulocyte-monocyte colony stimulating factor (GM-CSF), and Erythropoiesis stimulating agents seperti eritropoietin (EPO)
  • Imunoterapi:
    Untuk penderita yang tidak dapat menjalankan transplantasi sumsum tulang atau anemia aplastiknya disebabkan oleh gangguan autoimun, maka akan diberikan obat untuk menekan sistem imun. Sehingga, sistem imun tidak menyerang sumsum tulang dan dapat meningkatkan produksi sel darah dengan lebih baik.
  • Transplantasi sumsum tulang:
    Prosedur ini disebut juga dengan transplantasi sel punca (stem cell) atau transplantasi hematopoesis sel punca (hematopoietic stem cell transplant - HSCT). Penderita anemia aplastik berat memerlukan transplantasi sumsum tulang untuk menggantikan sumsum yang telah rusak. Transplantasi juga merupakan sebuah metode pengobatan yang dapat bersifat menyembuhkan.
Diskusikanlah perawatan yang paling tepat dengan dokter. Anemia aplastik yang tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Infeksi parah
  • Perdarahan
  • Komplikasi transplantasi sumsum tulang
  • Reaksi terhadap obat-obatan
  • Hemochromatosis (penumpukan zat besi dalam jaringan tubuh yang dihasilkan dari banyaknya transfusi sel darah merah)
Langkah pencegahan anemia aplastik tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti. Namun, mengurangi paparan insektisida, herbisida, pelarut organik, dan bahan-bahan kimia lain, dapat menurunkan risiko terjangkitnya anemia aplastik.
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • Kelelahan
  • Mudah memar
  • Mudah berdarah
  • Kulit pucat
  • Memiliki hasil tes darah yang lebih rendah dari biasanya
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Membuat daftar seputar gejala yang Anda rasakan
  • Mencatat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga
  • Mencatat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi
  • Jika telah menjalani pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, bawalah hasil tes tersebut, agar dokter dapat melihat riwayat medis Anda
  • Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. Buatlah janji dengan dokter yang menangani anemia aplastik, yaitu dokter spesialis hematologi
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejalanya?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait anemia aplastik?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah dan mendengarkan detak jantung. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk menjalani pemeriksaan laboratorium lain yang mendukung diagnosis, seperti pemeriksaan darah.Setelah hasil didapatkan, maka dokter bisa menetapkan diagnosis. Dokter kemudian akan berdiskusi dengan Anda mengenai metode pengobatan yang terbaik dan paling cocok.
Aplastic Anemia and MDS International. Foundation. https://www.aamds.org/diseases/aplastic-anemia
diakses pada 28 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/symptoms-causes/syc-20355015
diakses pada 28 Juli 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/aplasticanemia.html
diakses pada 28 Juli 2020
Dan. L, L., Harrison's Hematology and Oncology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3064251/
diakses pada 5 November 2018.
National Heart, Lung, and Blood Institute. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/aplastic-anemia
diakses pada 28 Juli 2020
Epocrates. https://online.epocrates.com/diseases/9611/Aplastic-anemia/Key-Highlights
diakses pada 28 Juli 2020
Leukimia Care. https://www.leukaemiacare.org.uk/support-and-information/information-about-blood-cancer/blood-cancer-information/aplastic-anaemia/
diakses pada 28 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Nutrisi Ibu Hamil yang Wajib dipenuhi Untuk Cegah Anemia

Anemia pada ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir prematur. Namun nutrisi ibu hamil yang tepat dapat membantu Anda mencegah atau mengobatinya. Penuhi kebutuhan zat besi pada ibu hamil yang dapat mencegah terjadinya anemia.
10 May 2019|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Sayuran hijau kaya akan nutrisi zat besi untuk penuhi kebutuhan harian agar terhindar dari anemia pada ibu hamil

Mengenal Komponen dan Tujuan dari Pemeriksaan Darah Lengkap

Pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara keseluruhan. Saat melakukan tes ini ini, hampir semua komponen darah dihitung untuk mengetahui penyakit pasien.
15 May 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Tujuan pemeriksaan darah lengkap

MCV adalah Bagian Dari Pemeriksaan Darah Lengkap, Apa Arti Nilainya?

MCV adalah nilai yang menggambarkan ukuran sel darah merah atau eritrosit di tubuh kita. Tinggi atau rendahnya nilai MCV, bisa menunjukkan jenis anemia yang diderita.
26 Mar 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
MCV bisa digunakan untuk melihat jenis anemia yang diderita