Penyakit Lainnya

Artritis Reaktif

Diterbitkan: 02 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Artritis Reaktif
Artritis reaktif akan memicu bengkak dan kemerahan di berbagai sendi tubuh
Artritis reaktif adalah penyakit yang dapat memicu kemerahan dan pembengkakan di berbagai sendi tubuh, terutama lutut, kaki, tumit, pinggang dan pergelangan kaki. Kondisi ini dipicu oleh infeksi pada area tubuh lainnya, seperti usus, organ reproduksi, atau saluran kencing.Pada sebagian besar kasus, artritis reaktif bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa bulan tanpa menyebabkan masalah jangka panjang.Artritis reaktif terjadi ketika bakteri memasuki pembuluh darah dan menyebabkan tubuh mengalami peradangan pada berbagai bagian. Jenis bakteri penyebabnya biasa ditularkan melalui kontak seksual atau konsumsi makanan yang sudah terkontaminasi.Reaksi peradangan kemudian muncul dalam dua hingga empat minggu setelah bakteri masuk ke dalam tubuh penderita.Artritis reaktif tidak menular, tapi bakteri penyebab penyakit ini dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya.Siapapun bisa mengalami penyakit ini. Tapi artritis reaktif lebih sering menyerang pria berusia antara 20-40 tahun.Sementara artritis reaktif yang disebabkan oleh makanan, dapat menyerang laki-laki atau perempuan dengan tingkat risiko yang sama. 
Artritis Reaktif
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit sendi, kaku sendi, peradangan pada mata
Faktor risikoUsia 20-40 tahun, pria, faktor keturunan
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, analisis cairan sendi
PengobatanObat-obatan, terapi fisik
ObatObat pereda nyeri NSAID, injeksi kortikosteroid, obat radang sendi
KomplikasiArthritis berulang, arthritis kronis, ankylosing spondylitis
Kapan harus ke dokter?Nyeri sendi selama satu bulan setelah mengalami diare atau infeksi genital
Gejala artritis reaktif biasanya terjadi pada beberapa saat setelah infeksi. Misalnya, infeksi penyakit seksual atau infeksi usus.Gejala utama artritis reaktif berupa nyeri, kaku, dan pembengkakan pada sendi serta tendon. Tapi penyakit ini juga dapat menyerang saluran kemih dan mata pada sebagian penderita.

Gejala pada sendi

Reaktif artritis dapat menyerang sendi manapun, namun paling umum dialami di lutut, kaki, jari-jari kaki, pinggang, dan pergelangan kaki. Gejalanya meliputi:
  • Nyeri dan bengkak pada sendi
  • Nyeri pada tendon, terutama pada tumit
  • Nyeri pada punggung bawah dan bokong
  • Bengkak pada jari-jari tangan dan jari-jari kaki
  • Kekakuan sendi, terutama pagi hari

Gejala pada saluran kemih

Seringkali, gejala infeksi saluran kemih juga dapat dialami pasien. Gejala tersebut meliputi:
  • Rasa ingin berkemih yang muncul tiba-tiba atau lebih sering dari biasanya
  • Nyeri atau rasa seperti terbakar saat berkemih
  • Urine bau atau keruh
  • Darah pada urine
  • Nyeri pada perut bagian bawah
  • Rasa lelah dan tidak enak badan

Gejala pada mata

Pada beberapa pasien, gejala peradangan pada mata dikeluhkan oleh pasien. Gejalanya antara lain:
  • Mata merah
  • Mata berair
  • Nyeri mata
  • Kelopak mata bengkak
  • Lebih sensitif terhadap cahaya

Gejala lain

Artritis reaktif juga dapat menimbulkan gejala seperti:
  • Gejala sakit flu
  • Demam
  • Berat badan turun
  • Sariawan
  • Ruam bersisik pada tangan atau kaki
 
Penyebab artritis reaktif adalah reaksi tubuh terhadap infeksi bakteri yang sering menyerang sistem pencernaan, kelamin, dan saluran kemih. Berbagai bakteri dapat menyebabkan infeksi, baik melalui hubungan seksual atau makanan.Jenis bakteri yang paling umum menyebabkan artritis reaktif meliputi:
  • Chlamydia
  • Salmonella
  • Shigella
  • Yersinia
  • Campylobacter
  • Clostridium difficile
 

Faktor risiko artritis reaktif

Para pakar menduga bahwa faktor-faktor di bawah ini dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami artritis reaktif:
  • Usia

Artritis reaktif umumnya dialami oleh orang berusia 20-40 tahun.
  • Jenis Kelamin

Pria lebih mungkin terkena artritis reaktif yang disebabkan oleh penyakit menular seksual.
  • Faktor genetik (keturunan)

Faktor keturunan berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya artritis reaktif. Tetapi ada juga orang dengan riwayat keluarga artritis reaktif yang tidak menderita penyakit ini. 
Diagnosis artritis reaktif ditentukan dengan cara-cara di bawah ini:

1. Tanya jawab

Dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala, riwayat medis, dan faktor risiko yang dimiliki pasien.

2. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek sendi untuk mencari tanda-tanda peradangan. Misalnya, bengkak, sensasi hangat, dan nyeri tekan. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lingkup gerak sendi.Mata pasien pun akan diperiksa guna mencari kemungkinan peradangan. Sedangkan kulit pasien akan dicek untuk mendeteksi ada tidaknya ruam.

3. Tes darah

Melalui tes darah, dokter bisa memeriksa ada tidaknya tanda atau riwayat infeksi, tanda peradangan, antibodi yang terkait dengan jenis artritis (radang sendi) lain, serta penanda genetik terkait artritis reaktif.

4. Tes cairan sendi

Dokter akan mengambil cairan sendi dengan jarum. Cairan ini akan diperiksa untuk mendeteksi adanya beberapa hal berikut:
  • Sel darah putih

Jumlah sel darah putih yang tinggi dapat mengindikasikan peradangan atau infeksi.
  • Infeksi bakteri

Bakteri yang ditemukan dalam cairan sendi dapat menandakan artritis septik. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan berat pada sendi.
  • Kristal asam urat

Kristal asam urat di sendi akan mengindikasikan penyakit asam urat alias gout.

5. Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan X-ray punggung bawah, pinggul, dan sendi dapat mendeteksi adanya artritis reaktif atau jenis artritis lainnya. 
Cara mengobati artritis reaktif umumnya akan berfokus pada:
  • Mengatasi infeksi yang memicu reaktif artritis, misalnya pemberian antibiotik untuk infeksi menular seksual.
  • Meredakan gejala seperti nyeri dan kaku sendi, misalnya dengan pereda nyeri seperti ibuprofen.
  • Mengendalikan radang sendi yang berat dan sedang kambuh, biasanya dengan obat-obatan seperti steroid atau disease-modifying anti-rheumatic drugs (DMARDs).
Kebanyakan pasien sembuh dalam satu tahun setelah menjalani penanganan. Namun masalah sendi jangka panjang dapat terus berlanjut dalam beberapa kasus.beberapa metode pengobatan artritis reaktif yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi:

1. Obat-obatan

Beberapa obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi artritis reaktif meliputi:
  • Antibiotik

Antibiotik tidak mengobati artritis reaktif, tapi sering diresepkan bila pasien mengalami infeksi, terutama infeksi menular seksual. Pasangan seksual pasien juga mungkin membutuhkan pengobatan.
  • Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS)

Salah satu jenis OAINS adalah ibuprofen. Obat ini dapat meredakan peradangan dan mengurangi nyeri.
  • Kortikosteroid

Obat kortikosteroid diberikan pada pasien dengan peradangan berat atau terapi OAINS tidak dapat meredakan gejala.
  • Disease-modifying anti-rheumatic drug (DMARD)

Bila gejala sangat berat dan tidak membaik setelah pengobatan beberapa minggu, obat DMARDs dapat diberikan untuk meredakan peradangan. Contohnya adalah methotrexate dan sulfasalazine. Butuh beberapa bulan hingga efek DMARD dirasakan oleh pasien.

2. Pengobatan mandiri di rumah

Selain obat-obatan, pengobatan mandiri juga akan disarankan untuk membantu meredakan gejala. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:
  • Beristirahat cukup dan mengistirahatkan sendi yang terkena.
  • Ketika gejala mulai membaik, olahraga untuk meregangkan dan memperkuat otot dan memperbaiki ruang lingkup sendi dapat dilakukan.
  • Kompres dingin dan kompres hangat untuk meredakan nyeri dan bengkak.
  • Menggunakan splint, penyangga tumit, dan sol sepatu.
 

Komplikasi artritis reaktif

Komplikasi artritis reaktif meliputi radang sendi berat yang bersifat kronis (menahun). Meskipun jarang, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada sendi.Gejala artritis reaktif biasanya akan hilang dalam waktu beberapa minggu. Lebih dari setengah pasien dapat mengalami kekambuhan di masa depan.Sebagian pasien mungkin mengalami gejala hingga satu tahun. Sementara sebagian lainnya dapat mengidap artritis ringan yang berlangsung lama. 
Faktor keturunan dapat meningkatkan risiko artritis reaktif. Hal ini memang tidak bisa dihindari. Tapi terdapat beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah infeksi bakteri yang menjadi pemicu kondisi ini.Upaya pencegahan infeksi bakteri tersebut bisa berupa:
  • Mencuci tangan sebelum makan atau mengolah makanan, serta setelah ke toilet.
  • Memastikan makanan dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi
  • Jangan mengonsumsi makanan mentah, seperti sushi
  • Setialah pada pasangan
  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
 
Hubungi dokter jika pasien mengalami gejala artritis reaktif, terutama setelah mengalami gejala infeksi seperti diare atau nyeri saat buang air kecil. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait artritis reaktif?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis artritis reaktif. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/reactive-arthritis#treatment
Diakses pada 13 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/reactive-arthritis/symptoms-causes/syc-20354838
Diakses pada 13 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/reactive-arthritis
Diakses pada 13 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/arthritis/arthritis-reactive-arthritis#1
Diakses pada 13 Desember 2018
Arthritis Foundation. https://www.arthritis.org/diseases/reactive-arthritis
Diakses pada 2 Desember 2020
Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/r/reactive-arthritis-reiters-syndrome.html
Diakses pada 2 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email