Perut

Barrett's Esophagus

Diterbitkan: 18 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Barrett's Esophagus
Barrett’s esophagus berisiko dialami para penderita GERD
Barrett’s esophagus adalah suatu penyakit yang menyebabkan rusaknya lapisan jaringan di esofagus (kerongkongan). Secara alami, kerongkongan memiliki jaringan kuat sehingga dapat menahan gesekan dari makanan yang masuk dari mulut.Namun pada penderita Barret’s esophagus, sel pada kerongkongan rusak akibat reflux asam yang menebal hingga menyerupai jaringan pada usus. Kondisi ini membuat saluran esofagus mudah terluka sehingga menyebabkan penderitanya sulit menelan makanan dan sering merasakan sensasi panas dan perih di dada. Apabila tidak ditangani dengan segera, kondisi ini dapat berpotensi menjadi jaringan kanker.Barrett’s esophagus biasanya terjadi sebagai komplikasi dari gastroesophageal reflux disease (GERD) yang telah dialami bertahun-tahun. Perawatan Barrett’s esophagus dapat dilakukan dengan tindakan medis dan obat-obatan.  
Barrett's Esophagus
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaRasa panas di dada, nyeri ulu hati, mual 
Faktor risikoPria, usia di atas 50 tahun, konsumsi obat OAINS
Metode diagnosisEndoskopi, ultrasonografi (USG), biopsi
PengobatanOperasi, pemberian obat-obatan
ObatObat golongan penghambat pompa proton (PPI)
KomplikasiKanker esofagus
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala disertai muntah darah, BAB berwarna hitam, sulit menelan
Barrett’s esophagus tidak menimbulkan gejala khusus. Namun kondisi ini umumnya disebabkan oleh GERD. Oleh karena itu para penderita GERD yang berkepanjangan memiliki risiko besar mengidap kondisi ini.Karena itu, penting untuk mengetahui ciri-ciri kondisi GERD dalam mendeteksi Barret’s Esophagus sedini mungkin. Keluhan GERD di antaranya adalah:
  • Rasa panas di dada
  • Nyeri di ulu hati
  • Nyeri di dada
  • Mual dan muntah
    
Gastroesophageal reflux disease dalam kurun waktu yang lama bisa menjadi penyebab timbulnya Barret’s esophagus. GERD sendiri merupakan suatu penyakit saluran pencernaan yang membuat cairan asam dari lambung naik ke saluran esofagus (kerongkongan).Cairan asam lambung ini akan melukai kerongkongan. Kemunculannya selama 10 tahun kemungkinan besar akan mengakibatkan kondisi Barret’s Esophagus. Sekitar 5-10% penderita GERD dapat memiliki penyakit Barret’s esophagus.Selain itu, pria memiliki risiko dua kali lebih besar daripada wanita, terlebih pada usia di atas 50 tahun.
Faktor risiko lainnya yang dapat menyebabkan Barret’s asophageus adalah:
  • Ras Kaukasia
  • Kebiasaan merokok
  • Riwayat gastritis
  • Obesitas
  • Sering mengonsumsi obat golongan OAINS dan aspirin
  • Kerap menyantap makanan dalam jumlah banyak, pedas dan tinggi lemak
  • Memiliki kebiasaan tidur setelah makan
Baca juga: Mengenal Perbedaan Maag dan Asam Lambung Kronis akibat GERD 
Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan yang diperlukan dalam untuk mendiagnosis Barrett’s Esofagus:

1. Esophagestrodenoscopy (EGD)

EGD adakah suatu pemeriksaan yang bertujuan melihat keadaan di dalam kerongkongan. Tindakan ini biasanya dilakukan menggunakan kamera selang yang dimasukkan melalui mulut. Kerongkongan yang tampak merah dan seperti beludru menandakan Barrett’s Esofagus.The Practice Parameters Committee of the American College of Gastroenterology merekomendasikan pemeriksaan ini bagi pasien dengan penyakit GERD kronis (di atas 5 tahun), terutama yang berumur di atas 50 tahun.

2. Ultrasonografi

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan metode suara untuk mendapatkan gambaran di dalam kerongkongan. Ultrasonografi akan dilakukan bila dokter mencurigai adanya kanker.

3. Biopsi

Biopsi adalah suatu pemeriksaan untuk memastikan perubahan jaringan yang terjadi pada Barret’s Esophagus, dengan pengambilan sampel dari dalam kerongkongan.Dokter akan memeriksa sampel jaringan untuk mencari sel atau jaringan abnormal yang dinamakan displasia. Tingkat keparahan Barret’s Esophagus diklasifikasikan berdasarkan keberadaan displasia tersebut, yang dibagi menjadi tiga kategori berikut ini.
  • Tidak ada displasia: Tidak ada kelainan sel yang terlihat.
  • Displasia tingkat rendah: Sel atau jaringan abnormal terdeteksi dalam jumlah kecil.
  • Displasia tingkat tinggi: Sel atau jaringan abnormal terdeteksi dalam jumlah besar, dapat mengacu pada kanker.
 
Pengobatan untuk Barrett’s Esophagus tergantung dari tingkat keparahan penyakit. Tingkat keparahannya ditentukan dari kondisi pertumbuhan sel tidak normal pada esophagus.
Ada beberapa cara yang biasa dilakukan oleh dokter untuk menangani kondisi seperti ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut ini.

1. Barret’s Esophagus tanpa atau dengan displasia tingkat rendah

Jika pasien tidak memiliki displasia atau displasia yang terdeteksi masih di tingkat rendah, dokter kemungkinan akan merekomendasikan perawatan untuk meredakan gejala GERD, melalui:
  • Obat-obatan

    • Obat golongan Proton Pump Inhibitor (PPI)
      Obat jenis ini dapat menurunkan kadar asam lambung. Beberapa contoh dari obat ini adalah:
      • Omeprazole
      • Lansoprazole
      • Pantoprazole
      • Rabeprazole
      • Esomeprazole
    • Obat golongan H2 receptor blocker
      Obat jenis ini dapat membantu dalam mengurangi produksi asam lambung. Contohnya:
      • Ranitidine
      • Famotidine
      • Cimetidine
      • Nizatidine
  • Tindakan medis

    Beberapa tindakan medis ini bisa jadi pilihan.
    • Fundoplikasi
      Fundoplikasi adalah operasi untuk mengikat otot sfingter esofagus bawah. GERD berisiko melemahkan otot-otot untuk memindahkan makanan ke dalam perut, termasuk otot sfingter yang menutup celah antara kerongkongan dan perut. Fundoplikasi dapat membantu memperkuat celah ini untuk mencegah makanan dan asam naik kembali.
    • Pemasangan LINX
      LINX adalah alat khusus berupa cincin yang mengandung magnet. Alat ini akan dipasang di bagian sfingter yang melemah. Magnet pada LINX akan membantu otot sfingter menutup dan menceganaiknya isi lambung ke kerongkongan.
    • Prosedur Stretta
      Prosedur Stretta berfungsi untuk memperkuat otot-otot bagian dalam esofagus yang melemah. Prosedur ini dilakukan dengan memanfaatkan pancaran gelombang radio yang dapat membantu menurunkan refluks sisa isi lambung di kerongkongan.

2. Barret’s Esophagus dengan displasia tingkat tinggi

Dokter akan menyarankan tindakan medis lain berikut ini apabila status Barret’s Esophagus pasien disertai dengan displasia tingkat tinggi.
  • Endoscopic resection

    Endoscopic resection adalah pengambilan jaringan yang tidak normal ada esofagus melalui prosedur endoskopi.
  • Esophagectomy

    Berbeda dari endoscopic resection yang mengambil sebagian jaringan saja, esophagectomy dilakukan dengan mengambil sebagian organ.
  • Radiofrequency arlation

    Prosedur ini dilakukan untuk merusak jaringan tidak normal pada esofagus dengan mengunakan panas. Tujuannya agar jaringan yang telah dirusak tidak berkembang menjadi jaringan kanker.
  • Cryotherapy

    Prosedur ini dilakukan dengan memanfaatkan gas atau cairan dingin yang dapat membekukan sel abnormal. Sel-sel tersebut dibiarkan mencair, dan kemudian dibekukan kembali. Proses tersebut akan diulang sampai sel mati.
  • Terapi fotodinamik

    Terapi fotodinamik adalah metode yang menggunakan obat-obatan sensitif cahaya dan sumber cahaya, dengan tujuan menghancurkan sel tubuh yang abnormal.
Baca juga: Makanan untuk Asam Lambung Tinggi agar Tak Menjadi GERD


Komplikasi

Apabila tidak ditangani dengan segera, Barret’s Esophagus dapat berkembang menjadi kanker esofagus.Baca jawaban dokter: Apa bedanya antara sesak nafas karena COVID dan GERD? 
Barett’s Esophagus dapat dicegah melalui antisipasi terhadap munculnya keluhan GERD, dengan cara:

1. Tidak mengonsumsi makanan 4 jam sebelum tidur

Setiap kali makan, terjadi peningkatan jumlah cairan asam lambung. Jika jarak antara makan dan tidur tidak jauh, maka asam lambung yang tinggi akan mudah untuk naik ke esofagus (kerongkongan) ketika penderita berbaring.

2. Tidak merokok

Kebiasaan merokok membuat katup yang memisahkan esofagus dan lambung menjadi longgar, sehingga cairan asam lambung mudah masuk kedalam esofagus.

3. Menurunkan berat badan dan menjaga berat badan ideal

Obesitas terbukti memiliki kaitan dengan timbulnya GERD.

4. Menghindari konsumsi alkohol

Alkohol membuat katup pemisah esofagus dan lambung menjadi longgar. Alkohol juga mengurangi pergerakan lambung. Akibatnya, lambung menjadi penuh dengan asam lambung.

5. Tidak berbaring setelah makan

Anda sebaiknya baru berbaring 3-4 jam setelah makan.

6. Mengatur pola makan

Jalanilah pola makan sehat dengan:
  • Mengurangi makanan berlemak
  • Makan dalam porsi kecil tapi sering
  • Menghindari makanan dan minuman seperti cokelat, kopi, permen, yang berminyak atau pedas, tomat maupun produk tomat
 
Jika sering mengalami GERD selama 5 tahun atau lebih, konsultasikan kepada dokter untuk mengetahui potensi Barrett’s Esophagus. Anda juga harus segera menemui dokter jika ada gejala yang menandakan perdarahan pada kerongkongan, berupa:
  • Muntah darah
  • BAB berwarna hitam
  • Tidak bisa menelan makanan
  • Nyeri dada
  
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap Barrets' esophagus?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis Barrets' esophagus agar penanganan yang tepat bisa diberikan.   
NIH. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/barretts-esophagus/treatment
Diakses pada3 November 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/171002-overview
Diakses pada November 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2657681/
Diakses pada 3 November 2019
Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/barretts-esophagus/symptoms-causes/syc-20352841
Diakses pada 16 November 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/176595-overview
Diakses pada 16 November 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/barretts-esophagus#diagnosis
Diakses pada 16 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2657681/
Diakses pada 16 November 2020
NIDDK. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/barretts-esophagus/eating-diet-nutrition
Diakses pada 16 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email