Pernapasan

Croup

Diterbitkan: 23 Sep 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Croup
Croup adalah penyakit infeksi saluran pernapasan dengan batuk khas
Croup adalah penyakit infeksi saluran pernapasan dengan batuk yang khas. Umumnya, croup menyerang anak-anak yang berusia enam bulan sampai 12 tahun. Namun anak-anak usia dua tahun yang paling sering mengalaminya.Dalam bahasa awam, croup dikenal sebagai batuk  menggonggong.Dalam dunia medis, croup juga disebut laryngotracheitis atau laryngotracheobronchitis. Sementara itu, orang awam mungkin mengenalnya dengan sebutan barking cough atau batuk menggonggong. Pasalnya, gejala croup atau krup yang paling khas adalah batuk yang keras dan terdengar seperti gonggongan. Krup menyerang trakea, laring dan bronkus. Ketiganya adalah saluran pernapasan yang berada di antara hidung dan paru-paru. Adanya infeksi akan membuat saluran-saluran tersebut menjadi membengkak. Akibatnya, penderita mengalami kesulitan bernapas.Baca juga: Fungsi Trakea pada Sistem Pernapasan Manusia 
Croup
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Anak, Paru
GejalaBernapas cepat, batuk mengonggong, serak
Faktor risikoBerusia 6 bulan-6 tahun, laki-laki, tinggal di wilayah padat penduduk
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, rontgen
PengobatanPerawatan rumahan, obat-obatan
ObatIbuprofen, epinefrin, kortikosteroid
KomplikasiEdema paru, pneumotoraks, otitis media
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala
Croup dibagi ke dalam dua kategori, yakni croup yang ditularkan (infectious croup) dan croup yang terjadi secara mendadak (croup spasmodic).

Infectious croup

Anak-anak yang tertular croup sering mengalami gejala berupa pilek biasa seperti demam rendah di bawah 38,5 derajat Celcius dan batuk. Demam umumnya akan berlangsung selama 1-3 hari.Pada kasus krup yang lebih parah, gejalanya dapat berkembang menjadi berbagai kondisi berikut ini.
  • Bernapas lebih cepat dari biasanya
  • Lebih rewel atau gelisah
  • Batuk yang keras dan terdengar seperti gonggongan
  • Lubang hidung melebar
  • Cekungan yang hilang timbul di dada ketika bernapas
  • Terdengar bunyi ‘ngik’ saat anak bernapas (mengi)
  • Suara serak
  • Kulit yang tampak pucat atau muncul warna kulit kebiruan di sekitar mulut. Kondisi ini menandakan kekurangan oksigen dan menjadi gejala croup tingkat berat.

Croup spasmodik

Seorang anak yang mengalami croup spasmodik umumnya terlihat cukup sehat karena tidak mengalami demam. Gejala baru terlihat ketika anak mengalami batuk. Batuk disertai bunyi napas yang keras dan serak sering terjadi begitu saja di tengah malam.Gejala-gejala tersebut seringkali akan hilang jika anak menghirup udara malam yang sejuk atau uap.Gejala dari croup spasmodik biasanya akan membaik dalam beberapa jam. Namun, kondisi ini dapat muncul kembali pada malam berikutnya. 

Infectious croup

Penyebab croup adalah virus yang umumnya memicu pilek atau flu, khususnya jenis virus human parainfluenza virus tipe 1. Virus ini menyebar melalui titik-titik air di udara ketika penderita bersin atau batuk.Virus tersebut kemudian masuk melalui hidung dan turun ke saluran pernapasan, yaitu batang tenggorokan (trakea), laring, dan bronkus. Selanjutnya, ketiga saluran pernapasan ini akan membengkak sehingga menimbulkan kesulitan bernapas dan batuk-batuk.Aliran udara yang melewati saluran sempit akibat pembengkakan croup akan menimbulkan suara khas saat bernapas. Kondisi ini disebut mengi.Selain virus, penyebab krup juga bisa akibat infeksi bakteri. Namun hal ini sangat jarang terjadi.

Croup spasmodic

Croup spasmodik tidak disebabkan oleh infeksi meskipun dapat dipicu oleh infeksi. Penyebab croup spasmodic diduga akibat faktor turunan dari keluarga, dan mungkin dipicu oleh reaksi alergi.Croup spasmodik biasanya menyerang balita berusia antara tiga bulan sampai tiga tahun. Sementara itu, croup infeksi paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun.   

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan terjadinya croup.
  • Usia enam bulan sampai enam tahun.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat croup
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Tinggal di wilayah yang padat penduduk
  • Tidak mendapatkan vaksin influenza
  • Bepergian atau berasal dari negara berkembang
 
Pada pemeriksaan awal, dokter akan menanyakan semua keluhan yang dialami oleh pasien. Dokter kemudian melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis.Jenis-jenis pemeriksaan fisik yang akan dilakukan meliputi:
  • Mengukur suhu tubuh penderita.
  • Menghitung laju pernapasan penderita untuk mendeteksi apakah penderita bernapas lebih cepat dari normal atau tidak.
  • Menggunakan stetoskop untuk mendengar apakah bunyi napas penderita normal atau tidak.
Jika mencurigai adanya croup dan dokter harus memastikan diagnosis, dokter akan mengajukan pemeriksaan penunjang berupa rontgen atau X-ray.X-ray pada penderita Croup akan menunjukkan penyempitan pada laring, tepatnya di bawah pita suara. Jenis foto ini disebut steeple sign.Untuk menentukan tingkat keparahan croup, dokter akan menghitung nilai Westley. Nilai ini didapatkan berdasarkan keluhan maupun gejala yang dialami oleh penderita. 
Penanganan croup tergantung dari tingkat keparahan penyakit. Dokter akan menyarankan sejumlah langkah pengobatan, seperti berikut ini.

Perawatan di rumah

Kebanyakan anak yang mengalami croup memiliki gejala yang ringan dan umumnya dapat diobati di rumah dengan cara:
  • Beristirahat atau bermain dengan tenang
  • Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu mengeluarkan lendir dari saluran udara.
  • Menggunakan penguap kabut dingin atau cool mist vaporizer. Uap dingin yang dihasilkan alat ini dapat menenangkan dan membasahi saluran udara yang meradang dan membantu mengeringkan lendir. Metode ini sering digunakan bagi anak yang mengalami croup

Pemberian obat-obatan dan oksigen

Penggunaan obat-obatan berikut ini serta oksigen, mampu meringankan croup.
  • Obat pereda nyeri

Obat-obatan seperti Ibuprofen atau parasetamol dapat diberikan ketika anak merasa sakit atau demam.
  • Kortikosteroid

Dalam beberapa kasus krup yang lebih parah, dokter mungkin akan meresepkan obat kortikosteroid untuk meredakan peradangan di saluran napas dan mengurangi penumpukan cairan (edema) pada laring. Contoh obat jenis kortikosteroid yang biasa diberikan adalah deksametason, prednison atau prednisolone.Obat ini biasanya diberikan dalam bentuk suntikan ketika anak harus dirawat di rumah sakit.
  • Epinefrin

Selain kortikostreoid, dokter biasanya memberikan epinefrin untuk mengurangi edema. Oleh sebab itu, pemberian kedua obat ini kerap dikombinasikan oleh dokter.
  • Oksigen

Pemberian oksigen umumnya dilakukan pada anak yang mengalami croup dengan kesulitan bernapas parah hingga kekurangan oksigen.Baca juga: Kapan Harus Menggunakan Regulator Oksigen? Ini Penjelasannya 

Komplikasi

Apabila tidak mendapatkan perawatan dengan tepat, croup dapat menimbulkan komplikasi berupa:
Baca jawaban dokter: kenapa anak-anak sering batuk? 
Croup dapat dicegah dengan menjaga kebersihan. Orangtua harus memperhatikan kebersihan diri maupun lingkungan anaknya, terutama pada balita (bayi di bawah 5 tahun).Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah croup meliputi:
  • Membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, khususnya sebelum menyetuh buah hati.
  • Senantiasa mencuci mainan anak setelah digunakan atau mainan baru sebelum dipakai.
  • Membiasakan anak untuk menutup mulut atau hidung ketika bersin maupun batuk.
  • Menjauhkan anak dari orang yang sakit, misalnya ketika ada temannya yang sakit di sekolah.
  • Jangan menggunakan tisu berkali-kali. Buanglah tisu setelah digunakan.
Baca juga: Makanan yang Harus Dihindari Saat Batuk agar Kondisinya Tidak Semakin Parah 
Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala croup, segera berkonsultasi ke dokter. Terutama jika anak tampak sesak napas, lemas, rewel, batuk tidak berhenti. Sebaiknya jangan menunda ke dokter.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
 Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah ada faktor risiko terhadap croup?
  • Apakah Anda atau anak rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis croup. Dengan demikian, penanganan croup pun bisa diberikan secara tepat. 
American Family Physcian. https://www.aafp.org/afp/2018/0501/p575.html.
Diakses pada 10 November 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/croup/symptoms-causes/syc-20350348
Diakses pada 10 November 2019
HealthLinkBc. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/hw31906
Diakses pada 10 November 2019
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/?search=y&q=health&datasource=kidshealth&section=parents_teens_kids&lang=english&start=0&rows=10
Diakses pada 10 November 2019
Cleaveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8277-croup/prevention
Diakses pada 10 November 2019
Health Harvard. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/croup-a-to-z#
Diakses pada 21 September 2020
Medscape. https://www.medscape.com/answers/962972-19680/what-are-the-possible-complications-of-croup
Diakses pada 21 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email