Mata

Deuteranomali

Diterbitkan: 27 Jan 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Deuteranomali
Sel kerucut hijau tidak berfungsi dengan baik pada penderita deuteranomali.
Deuteranomali adalah jenis buta warna yang ditandai dengan penderita yang tidak bisa membedakan pigmen warna hijau dan merah. Akibatnya, warna merah, hijau, kuning, oranye, dan cokelat terlihat serupa, terutama pada cahaya redup.Penderita deuteranomali juga akan sulit membedakan warna ungu dengan biru, atau merah muda dengan abu-abu.Buta warna sendiri merupakan kondisi medis ketika seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan warna. Persepsi warna pada penderita buta warna berbeda dari kebanyakan orang. Terdapat beberapa jenis buta warna. Deuteranomali merupakan jenis buta warna yang paling sering ditemukan.Di dalam mata, terdapat sel yang berfungsi untuk menangkap cahaya yaitu sel kerucut dan sel batang. Sel kerucut bekerja dengan baik pada kondisi yang cukup terang.Sementara itu, sel batang bekerja dengan optimal pada cahaya yang lebih redup. Sel ini lebih berguna untuk melihat dalam keadaan gelap.Sel batang lebih sensitif terhadap cahaya dibandingkan sel kerucut. Akan tetapi, sel kerucut memiliki kemampuan lebih dalam membedakan warna. Sel kerucut mempunyai 3 jenis pigmen berbeda untuk membedakan warna, yaitu pigmen warna merah, hijau, dan biru.Pada kondisi buta warna, satu atau lebih sel kerucut tidak berfungsi dengan baik, sehingga penderita buta warna tidak dapat melihat warna tertentu. 
Deuteranomali
Dokter spesialis Mata
GejalaKesulitan membedakan warna hijau dan merah, serta variasinya
Faktor risikoLaki-laki, memiliki penyakit mata atau kondisi medis tertentu
Metode diagnosisIshihara color test, Cambridge color test, anomaloscope
PengobatanLensa kontak maupun kacamata khusus buta warna
KomplikasiKesulitan dalam menekuni profesi tertentu
Kapan harus ke dokter?Kesulitan dalam membedakan warna
Gejala deuteromali adalah kesulitan membedakan warna hijau dan merah serta variasinya, seperti oranye dan cokelat. Pada deuteromali, pasien lebih kesulitan membedakan warna hijau daripada merah.Pasien dengan deuteromali akan kesulitan dalam membedakan warna:
  • Merah dengan hijau
  • Merah dengan cokelat
  • Hijau terang dengan kuning
  • Biru kehijauan dengan abu-abu atau merah muda
  • Merah muda dengan abu-abu muda
  • Biru terang dengan ungu muda
Akan tetapi, keadaan ini seringkali tidak mengganggu penglihatan para penderitanya. 
Penyebab deuteranomali adalah sel kerucut dengan pigmen hijau yang tidak bekerja dengan optimal. Kondisi yang mendasari kerusakan sel kerucut ini dapat berupa faktor genetik (keturunan) dan penyebab lainnya.

1. Faktor genetik (keturunan)

Deuteranomali merupakan jenis penyakit yang diturunkan, atau biasa disebut congenital disease. Kelainan genetik pada deuteromali berhubungan dengan kromosom X

2. Penyebab lainnya

Deuteranomali juga dapat terjadi akibat penyebab lainnya, seperti:
  • Penyakit retina
  • Kerusakan pada saraf mata (optic nerve)
  • Penyakit yang disebabkan penuaan, seperti degenerasi makula dan demensia
  • Paparan terhadap zat kimia organik seperti peptisida
  • Efek samping obat antimalaria, yaitu klorokuin
  • Penggunaan obat-obatan untuk hipertensi, penyakit jiwa, penyakit autoimun, dan infeksi
 

Faktor risiko deuteranomali

Beberapa kondisi yang dapat menjadi faktor risiko deuteranomali dan buta warna lainnya antara lain:
  • Berjenis kelamin laki-laki
  • Memiliki penyakit mata tertentu, seperti glaukoma atau age-related macular degeneration (ARMD)
  • Memiliki kondisi medis tertentu, seperti diabetes, penyakit Alzheimer, atau sklerosis multipel
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu
  • Berasal dari ras kulit putih
 
Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis deuteranomali. Pemeriksaan tersebut meliputi:
  • Tes warna Ishihara

Tes warna Ishihara merupakan sebuah metode pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi buta warna. Pada pemeriksaan ini, dokter akan menginstruksikan pasien untuk melihat sekumpulan atau rangkaian lingkaran (yang juga disebut plates), dengan titik-titik yang berbeda warna dan ukurannya.Beberapa titik tersebut membentuk suatu pola maupun satu atau dua digit angka. Pasien dengan deuteranomali akan kesulitan untuk melihat pola maupun angka-angka tersebut, atau bahkan sama sekali tidak mengenali pola maupun angka-angka tersebut.
  • Cambridge color test

Cambridge color test merupakan tes buta warna yang mirip dengan Ishihara color test. Pada metode ini, Anda diminta menatap layar komputer dan menemukan bentuk huruf “C”, dengan warna berbeda dari latar belakang, atau background yang tertera pada layar. Bentuk huruf “C” tersebut muncul secara acak.Pasien yang mengalami kesulitan dalam membedakan warna akan mengalami kesulitan pula dalam menemukan bentuk tersebut.
  • Anomaloscope

Anomaloscope adalah sebuah metode pemeriksaan buta warna merah dan hijau. Dokter akan menginstruksikan pasien untuk melihat sebuah lingkaran melalui lensa. Pada bagian atas lingkaran, terdapat sinar berwarna kuning. Pada bagian lainnya terdapat sinar berwarna merah dan hijau.Pasien akan diminta memutar tombol atau pegangan yang ada untuk mengatur sinar hingga kedua bagian lingkaran tersebut memiliki tingkat kecerahan warna yang sama.
  • Fansworth-Munsell 100 hue test

Fansworth-Munsell 100 hue test merupakan sebuah metode pemeriksaan buta warna yang menggunakan balok dengan gradasi warna berbeda pada warna tertentu.Pada pemeriksaan ini, pasien diminta menyusun kumpulan balok tersebut pada alur yang benar. Metode ini dilakukan untuk menguji kemampuan pasien dalam mengenali perubahan warna sedikit demi sedikit. 
Tidak ada cara mengobati deuteranomali yang bisa menyembuhkan kondisi ini. Kebanyakan penderita harus belajar untuk beradaptasi agar bisa menjalani rutinitasnya.Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bekerja pada pasien dengan buta warna, seperti:
  • Menghafal urutan objek berwarna, seperti lampu lalu linyas.
  • Meminta bantuan orang lain untuk mengatur kombinasi warna pakaian atau barang-barang lainnya.
  • Menggunakan aplikasi pada smartphone yang didesain khusus untuk mendeteksi warna-warna benda.
Penggunaan lensa kontak maupun kacamata khusus, dapat meningkatkan persepsi pada beberapa jenis warna yang dilihat. Kacamata maupun lensa kontak tersebut bekerja dengan cara menyaring panjang gelombang cahaya tertentu, untuk membantu para penderita deuteranomali membedakan warna merah dan hijau secara lebih baik.Kacamata tidak dapat mengembalikan penglihatan para penderita deuteranomali dalam keadaan normal, namun dapat membuat rona warna tertentu menjadi lebih cerah.Penggunaan kacamata atau lensa kontak khusus ini belum tentu berfungsi dengan baik pada setiap kasus deuteranomali. Oleh karena itu, konsultasikan pada dokter mata (ophthalmologist) mengenai kebutuhan Anda terhadap kacamata maupun lensa kontak khusus ini. 

Komplikasi deuteranomali

Kasus deuteranomali bukanlah kelainan atau gangguan mata yang berat. Kebanyakan pasien dapat menjalani hidupnya dengan normal.Akan tetapi, komplikasi deuteranomali tetap dapat, yakni kesulitan dalam menekuni profesi tertentu yang banyak menggunakan warna merah maupun hijau. Misalnya pengemudi, masinis, maupun pelaut. 
Tidak ada langlah pencegahan spesifik terhadap kelainan deuteranomali. 
Hubungi dokter spesialis mata apabila Anda mengalami kesulitan dalam membedakan warna-warna yang dilihat. Konsultasi penting dilakukan karena gejala yang dialami bisa jadi menjadi pertanda suatu kondisi yang serius. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait deuteranomali?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis deuteranomali. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=7255
Diakses pada 20 Januari 2019

The University of Arizona Health Sciences. https://disorders.eyes.arizona.edu/category/alternate-names/deuteranomaly
Diakses pada 20 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/what-you-need-to-know-about-color-blindness-tests#1
Diakses pada 20 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/color-blindness#1
Diakses pada 20 Januari 2019
Colblindor. https://www.color-blindness.com/deuteranopia-red-green-color-blindness/
Diakses pada 20 Januari 2019
National Eye Institute. https://nei.nih.gov/health/color_blindness/facts_about
Diakses pada 20 Januari 2019
American Academy of Ophthalmology. https://www.aao.org/eye-health/diseases/how-color-blindness-is-tested
Diakses pada 20 Januari 2019
All About Vision. https://www.allaboutvision.com/eye-exam/color-blind-tests.htm
Diakses pada 20 Januari 2019
Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/color-blindness/guide/treatment/
Diakses pada 20 Januari 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email