Penyakit Lainnya

Diare Kronis

Diterbitkan: 19 Feb 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Diare Kronis
Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 4 minggu
Diare kronis adalah diare yang terjadi lebih dari empat minggu. Diare didefinisikan sebagai gangguan pencernaan yang ditandai dengan konistensi (bentuk tinja) yang berubah, peningkatan frekuensi buang air besar, hingga perasaan mendesak untuk buang air besar.Secara umum konsistensi diare dibagi menjadi tiga kategori dasar yakni:
  • Encer dan berair
  • Berlemak (malabsorpsi)
  •  
Diare yang terjadi dalam jangka pendek biasanya tidak berbahaya. Namun, diare kronis yang berlangsung sangat lama dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.Pada orang yang awalnya sehat, diare kronis bisa berkembang menjadi masalah kesehatan lainnya. Sementara itu bagi seseorang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, diare kronis dapat menjadi penyakit yang mengancam jiwa.Diare kronis dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti gaya hidup yang tidak sehat dan sebagai gejala dari berbagai penyakit tertentu. Radang usus dan alergi makanan adalah penyakit yang paling sering memicu diare kronis.Penting untuk mengetahui penyebab mendasar terjadinya diare kronis untuk mendapatkan penanganan yang efektif. 
Diare Kronis
Dokter spesialis Umum
GejalaTinja encer dan berair selama berminggu-minggu, kram perut, demam
Faktor risikoKebersihan diri yang kurang baik, penanganan makanan yang tidak higienis, sensitif terhadap makanan
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, kultur tinja, USG, CT-scan
PengobatanObat-obatan, terapi cairan, ubah pola makan
ObatLoperamide, ondansentron, probiotik, antibiotik
KomplikasiDehidrasi, Malabsorpsi makanan, ketidakseimbangan elektrolit
Kapan harus ke dokter?Mengalami diare yang berlangsung selama berminggu-minggu
Gejala diare kronis yang utama adalah buang air besar dalam bentuk encer. Namun pada diare jangka panjang ini, mencret berlangsung selama berminggu-minggu.Selain itu, gejala lain dari diare kronis sama saja seperti diare pada umumnya, antara lain:
  • Tinja encer dan encer
  • Kram perut
  • Sakit perut
  • Demam
  • Terdapat darah pada tinja
  • Terdapat lendir (berlemak) pada tinja
  • Perut kembung
  • Buang air besar lebih dari 3 kali sehari
  • Kebutuhan mendesak untuk buang air besar
  • Mual
 
Terdapat banyak penyebab diare kronis, Beberapa di antaranya meliputi:

Gaya hidup tidak sehat

  • Alkohol atau kafein

Terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein (seperti kopi atau minuman bersoda) dapat menyebabkan buang air besar cair. Demikian pula dengan minum alkohol teralu banyak. 
  • Makanan tinggi gula 

Konsumsi beberapa jenis gula dan pemanis tertentu diketahui dapat menyebabkan diare, apalagi jika dilakukan setiap hari. Misalnya, sorbitol, manitol, fruktosa, serta laktosa. 
  •  Konsumsi obat atau ramuan herbal

Ramuan herbal maupun teh herbal bisa mengandung pencahar alami. Contohnya, teh daun jati cina. Bila mengonsumsinya secara berlebihan, Anda dapat mengalami diare kronis. 

Efek samping obat-obatan tertentu

Diare kronis juga dapat terjadi karena penggunaan obat-obatan, baik obat resep maupun obat bebas. Beberapa jenis obat ini meliputi:
  • Antibiotik, seperti amoxicillin, cefpodoxime, dan ampicillin.
  • Obat pencahar dan pelancar buang air besar.
  • Antidepresan, misalnya selective serotonine reuptake inhibitor (SRRI) dan serotonin-noraderenalin reupake inhibitor.
  • Antasida yang mengandung magnesium hidroksida.
  • Proton pump inhibitor (PPI), seperti omeprazole dan lansoprazole.
  • Obat-obatan kemoterapi.
  • Litium dan digoksin.

Infeksi

Diare jangka panjang juga bisa disebabkan oleh infeksi parasite, bakteri atau virus seperti:
  • Infeksi parasit Cryptosporidium, Cyclospora, Entamoeba histolytica atau Giardia, microsporidia
  • Infeksi bakteri Aeromonas, Campylobacter, Clostridium difficile, E. coli, Plesiomonas, Salmonella atau Shigella
  • Infeksi virus norovirus atau rotavirus

Kondisi kesehatan lain

Beberapa kondisi medis di bawah ini juga bisa menjadi dalang di balik diare kronis:
  • Penyakit peradangan pada usus (inflammatory bowel disease).
  • Diabetes
  • Tumor langka, contohnya tumor karsinoid yang menghasilkan hormon serotonin berlebihan sehingga menyebabkan gerakan usus meningkat dan menurunkan fungsi penyerapan makanan
  • Gangguan pancreas, misalnya pankreatitis kronis, defisiensi enzim pankreas, fibrosis kistik)
  • Gangguan usus, misalnya kolitis, Penyakit Crohn, sindrom iritasi usus besar
  • Alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu, misalnya protein kedelai, susu sapi, sorbitol atau fruktosa.
  • Gangguan tiroid, misalnya hipertiroidisme
  • Efek samping tindakan medis seperti operasi atau terapi radiasi pada organ di perut.
  • Gangguan fungsi kekebalan tubuh, misalnya defisiensi imunoglobulin, AIDS dan penyakit autoimun
  • Gangguan keturunan, misalnya fibrosis kistik atau defisiensi enzim
 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut, dapat meningkatkan terjadinya diare, antara lain:
  • Kebersihan diri yang kurang baik
  • Penanganan makanan yang tidak higienis
  • Sensitif terhadap makanan dan minuman tertentu
  • Stres dan depresi
 
Diagnosis diare kronis akan ditentukan oleh dokter berdasarkan proses tanya jawab, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang.

1. Tanya jawab

Dokter akan menanyakan beberapa hal terkait keluhan yang Anda rasakan.

2. Pemeriksaan fisik

Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik, misalnya mengecek kondisi perut Anda, tekanan darah, atau detak nadi dan jantung.

3. Pemeriksaan penunjang

Dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyebab dari diare kronis yang Anda alami. Beberapa jenis pemeriksaan ini dapat meliputi:
  • Tes puasa untuk menentukan intoleransi makanan atau alergi
  • Pemeriksaan radiologi seperti USG atau CT scan untuk memeriksa peradangan dan kelainan struktural usus
  • Pemeriksaan sampel tinja untuk memeriksa maupun infeksi bakteri, parasit, atau tanda-tanda penyakit lainnya
  • Kolonoskopi untuk memeriksa seluruh usus besar
  • Sigmoidoskopi untuk memeriksa rektum (usus bagian akhir) dan usus besar bagian bawah untuk tanda-tanda penyakit usus
Bila dokter tidak bisa menentukan penyebab diare kronis yang Anda alami meski Anda sudah menjalani pemeriksaan fisik dan penunjang, dokter dapat mendiagnosis kondisi Anda sebagai irritable bowel syndrome (IBS). IBS merupakan kondisi autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh keliru dan menyerang sel-sel cerna yang sehat. Akibatnya, terjadi berbagai gangguan pencernaan. Salah satunya diare kronis.Baca jawaban dokter: Bagaimana menangani diare pada anak? 
Pengobatan diare kronis tergantung dari penyebab dasarnya. Beberapa pilihan penanganan penyakit ini bisa meliputi:

1. Menangani penyebabnya

Penting bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter tentang rencana pengobatan yang baik untuk mengatasi diare dan penyakit penyertanya. Sebagai contoh:
  • Diare kronis yang disebabkan oleh IBD umumnya bisa membaik dengan sendirinya bila IBD telah ditangani.
  • Bila penyebabnya adalah alergi makanan, menjauhi jenis makanan tersebut adalah penanganan diare kronis terbaik.

2. Memberikan obat-obatan

Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk meredakan gejala yang ditimbulkan oleh diare, seperti:
  • Loperamide
  • Obat golongan antagonis reseptor 5-HT3 seperti ondansetron atau dolasetron
  • Diosmectite
  • Cholestyramine
  • Probiotik
  • Antispasmodik, obat kejang otot seperti dicyclomine atau mebeverine.
  • Obat antiinflamasi.
Selain obat antidiare, dokter bisa memberikan obat tambahan berdasarkan jenis pemicu diare. Berikut contohnya:
  • Antibiotik untuk mengatasi diare akibat infeksi bakteri.
  • Obat yang mengandung kodein untuk mengurangi intensitas mencret.

3. Mencukupi kebutuhan cairan

Diare kronis akan meningkatkan risiko dehidrasi pada penderitanya. Oleh sebab itu, Anda harus menambah asupan cairan lebih dari biasanya saat mengalami mencret.Anda bisa mengonsumsi banyak air putih maupun kaldu atau sup dengan garam yang rendah. Ingatlah juga untuk menghindari minuman berkafein. 

4. Mengubah pola makan

Anda dapat menjalani perubahan pola makan untuk mengurangi gejala diare kronis meliputi dengan menghentikan konsumsi alkohol maupun mengendalikan porsi makan.Bila tidak ditangani, penderita bisa mengalami komplikasi diare kronis, terutama dehidrasi. Kondisi kekurangan cairan ini dapat membahayakan jiwa penderita jika tidak segera diatasi.Gejala dehidrasi yang perlu diwaspadai meliputi warna urine menjadi lebih pekat, pusing, tubuh gemetaran, rasa haus berlebihan, kelelahan, serta demam.Baca juga: 5 Jenis Buah untuk Penderita Diare yang Bisa Dikonsumsi 

Komplikasi

Komplikasi diare kronis akan bervariasi berdasarkan penyebabnya. Namun secara umum, komplikasi utama yang muncul pada semua pasien dengan diare kronis adalah:
  • Malabsorpsi makanan yang terjadi jika waktu makanan singgah di usus sangat sebentar. Akibatnya jumlah nutrisi dan cairan yang dibutuhkan tidak dapat diserap. Pasien malabsorpsi dapat mengalami kekurangan gizi, anemia dan penurunan berat badan.
  • Dehidrasi, kehilangan banyak cairan akibat diare dapat berkembang menjadi dehidrasi yang membuat penderitanya mengalami mulut kering, lidah bengkak, urine berwarna kuning pekat, jantung berdebar-debar, kram otot, kejang-kejang, pusing, lelah dan badan selalu merasa kepanasan. Dehidrasi sangat berbahaya jika terjadi pada anak-anak, manual dan orang-orang  yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Dehidrasi pada kelompok pasien tersebut dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani.
  • Ketidakseimbangan elektrolit akibat hilangnya banyak cairan tubuh.
  • Gagal ginjal akibat saluran gastrointestinal tidak dapat menyerap cukup cairan, sehingga mempengaruhi fungsi ginjal
  • Kerusakan organ lainnya
 
Tidak semua kasus diare kronis dapat dicegah. Namun beberapa langkah berikut dapat Anda lakukan untuk sebagai pencegahannya:
  • Membuat catatan tentang makanan yang Anda konsumsi, agar tahu jenis makanan mana yang menyebabkan diare sehingga bisa dihindari. 
  • Mencuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan, maupun setelah ke toilet.
  • Selalu mendiskusikan efek samping obat yang diresepkan oleh dokter.
  • Meminta obat pengganti bila memang diperlukan.
  • Mengonsumsi makanan prebiotik atau suplemen probiotik secara rutin.
  • Menginsumsi air yang benar-benar bersih.
  • Membersihkan dan memasak daging hingga benar-benar matang sebelum dimakan.
  • Mencuci sayuran dan buah hingga benar-benar bersih, serta memasak sayuran sampai matang.
  • Membersihkan dapur secara rutin.
 Baca juga: Hindari Pantangan Diare Berikut Agar Usus Cepat Pulih 
Segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda mengalami diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari. Demikian pula jika diare disertai gejala lain, seperti demam, rasa lelah yang berlebihan, serta gejala dehidrasi. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait diare kronis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis diare kronis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
CDC. https://www.cdc.gov/healthywater/hygiene/disease/chronic_diarrhea.html
Diakses pada 12 Januari 2021
AAFP. https://www.aafp.org/afp/2011/1115/p1119.html
Diakses pada 12 Januari 2021
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/diarrhea-causes#1
Diakses pada 26 November 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/diarrhea/chronic-diarrhea
Diakses pada 26 November 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319995.php#prevention
Diakses pada 26 November 2019
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/diarrhea-causes-1324505#lifestyle-risk-factors
Diakses pada 12 Januari 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241
Diakses pada 12 Januari 2021
CGH Journal. https://www.cghjournal.org/article/S1542-3565(16)30501-8/pdf
Diakses pada 12 Januari 2021
IFFGD. https://www.iffgd.org/lower-gi-disorders/diarrhea/common-causes.html
Diakses pada 12 Januari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544337/
Diakses pada 12 Januari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4641856/
Diakses pada 12 Januari 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email