Penyakit Lainnya

Disleksia

Diterbitkan: 07 Oct 2020 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Disleksia
Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis anak penderita disleksia.
Disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis dan mengeja.Penderita disleksia biasanya akan kesulitan membaca dan mengingat kata-kata sederhana yang sering dilihat. Mereka juga lebih mudah memahami informasi yang didapat secara lisan daripada tertulis.Disleksia bukanlah penyakit. Umumnya, kondisi ini muncul sejak lahir dan diwariskan oleg orang tua.Kondisi disleksia tidak memengaruhi kecerdasaan seseorang. Anak-anak dengan disleksia sering kali memiliki penglihatan normal dan sama cerdasnya dengan anak tanpa kondisi disleksia.Meski belum ada obat untuk disleksia, diagnosis sedari dini dan berbagai dukungan perawatan yang tepat dapat membantu penderitanya untuk berprestasi di sekolah atau di tempat kerja. 
Disleksia
Dokter spesialis Anak
GejalaTelat berbicara, sulit mengeja, lambat mempelajari kata-kata baru
Faktor risikoKeturunan, lahir prematur, berat badan lahir bayi rendah
Metode diagnosisWISC-III, KABC, skala Kecerdasan Stanford-Binet
PengobatanMetode pendidikan, metode teknologi
KomplikasiMasalah sosial, kesulitan belajar
Kapan harus ke dokter?Kesulitan membaca dan mengeja
Tanda disleksia sulit untuk dikenali sebelum anak mencapai usia sekolah. Namun, beberapa tanda berikut ini dapat menjadi petunjuk disleksia.

Gejala disleksia sebelum usia sekolah

  • Telat berbicara
  • Mempelajari kata baru dengan sangat perlahan
  • Kesulitan dalam membentuk kata secara tepat, atau bingung membedakan kata-kata yang terdengar sama
  • Kesulitan dalam mengingat atau memberi nama, angka dan warna
  • Kesulitan belajar atau bermain dengan sesuatu yang berima

Gejala disleksia di usia sekolah

  • Memiliki kemampuan membaca di bawah level seusianya
  • Bermasalah dalam memproses dan mengerti kata yang didengar
  • Kesulitan dalam menemukan kata yang tepat saat menjawab pertanyaan
  • Sulit mengingat hal-hal kecil
  • Kesulitan melihat kesamaan dan perbedaan dalam tulisan dan kata
  • Kesulitan menyampaikan kata yang tidak dikenal
  • Kesulitan dalam mengeja
  • Menghabiskan waktu lebih lama dari seharusnya untuk membaca
  • Menghindari aktivitas membaca
  • Sulit mempelajari bahasa asing
  • Lamban dalam mengerjakan tugas
  • Sulit membedakan huruf yang serupa dalam penulisan misalnya b dan d
  • Mengalami kesalahan dalam mengucapkan kata atau nama
  • Menulis terbalik, misalnya harusnya menulis ‘rok’ namun menjadi ‘kor’
Tanda disleksia pada remaja dan orang dewasa serupa halnya dengan gejala pada anak-anak. 

Jenis-jenis disleksia

Para peneliti menggolongkan disleksia menjadi beberapa tipe di bawah ini berdasarkan gejalanya:
  • Phonological dyslexia

Phonological dyslexia memiliki nama lain berupa dysphonetic dyslexia atau auditory dyslexia.Pada disleksia tipe ini, penderita mengalami masalah dalam mengeja kata-kaca menjadi suku kaya. Karenanya, penderita kesulitan untuk mencocokkan suara dengan bentuk tertulisnya.
  • Surface dyslexia atau disleksia permukaan

Tipe ini juga disebut dyseidetic dyslexia atau visual dyslexia. Penderita akan mengalami kesulitan mengenali kata-kata saat melihatnya, sehingga kesulitan mengenali kata-kata yang dilihat dan mengingatnya.
  • Rapid naming deficit

Pada tipe ini, penderita disleksia mengalami kesulitan menamakan huruf atau angka ketika mereka melihat.
  • Double deficit dyslexia

Disleksia jenis ini menyebabkan penderita kesulitan mengenali bunyi dari suatu huruf dan angka.
  • Directional dyslexia

Kondisi ini membuat penderita sukar membedakan huruf atau angka dari kiri ke kanan. 
Penyebab utama disleksia adalah cara otak memproses informasi yang berbeda dari biasanya. Gambar pemindaian pada otak penderita disleksia menunjukkan bahwa ketika membaca, bagian otak tertentu bekerja secara berbeda dibandingkan orang tanpa disleksia.Gambar-gambar tersebut juga menunjukkan bahwa otak penderita disleksia tidak bekerja secara efisien saat membaca.Belum diketahui penyebab pasti dari perbedaan tersebut.Namun para peneliti menyatakan kondisi disleksia berhubungan dengan faktor genetik. Sebab, beberapa gen yang diturunkan dari orangtua dapat berefek terhadap gangguan perkembangan otak yang menyebabkan disleksia. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa perubahan pada gen DCDC2 ikut turut andil dalam menyebabkan gangguan membaca dan disleksia.Selain itu komplikasi dari kondisi kesehatan seperti cedera otak atau stroke juga dapat berperan dalam perubahan cara kerja otak. Faktor yang dapat memperberat tingkat kesulitan penderita disleksia salah satunya adalah bahasa aslinya.Sebagai contoh, akan lebih mudah bagi penderita disleksia ringan sampai sedang untuk mempelajari bahasa dengan hubungan kata yang jelas, kesamaan antara kata yang tertulis dengan bunyi yang diucapkan, atau pola bahasa yang jelas. Contoh bahasa yang memiliki karakteristik-karakteristik ini meliputi bahasa Italia atau Spanyol.Penderita disleksia tentu akan lebih kesulitan mempelajari bahasa yang tidak memiliki kesamaan antara kata-kata yang tertulis dengan kata-kata yang diucapkan. Contohnya, kata 'cough' dan 'dough'' dalam bahasa Inggris. 

Faktor Risiko disleksia

Berikut ini faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi disleksia.
  • Memiliki riwayat keluarga yang memiliki disleksia atau kesulitan belajar lainnya.
  • Dilahirkan secara prematur atau kekurangan berat badan.
  • Penggunaan nikotin, obat-obatan, alkohol atau infeksi yang mengubah perkembangan otak pada masa kehamilan.
Baca jawaban dokter: Bagaimana cara mendeteksi disleksia pada anak? 
Disleksia adalah kelainan yang sulit didiagnosis. Ada banyak faktor yang diperhatikan dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mendiagnosis kelainan ini.Menentukan jenis disleksia yang dialami oleh penderita merupakan salah satu faktor utama sebelum memutuskan perawatan yang paling efektif.Dokter akan melakukan tanya jawab yang meliputi riwayat keluarga dan ada tidaknya faktor lain yang memengaruhi. Misalnya, masalah dalam keluarga dan pengaruh orang yang tinggal serumah.Dokter kemudian memeriksa proses membaca anak, untuk melihat gangguan yang terjadi. Pengujian lebih lanjut juga dapat dilakukan untuk memantau anak dalam menerima dan memproses informasi.Beberapa tes yang biasa dilakukan meliputi:
  • Tes pendengaran (mendengarkan informasi)
  • Tes visual (melihat informasi)
  • Tes kinestetik (melakukan perintah)
Seorang psikolog juga mungkin akan melakukan beberapa standar tes untuk mendiagnosis disleksia, dengan menggunakan:
  • Skala Kecerdasan Wechsler untuk Anak-Edisi Ketiga (WISC-III)
  • Kaufman Assessment Battery for Children (KABC)
  • Skala Kecerdasan Stanford-Binet
  • Woodcock-Johnson Psycho-Education Battery
  • Tes Prestasi Individual Peabody (PIAT)
  • Tes Prestasi Individual Wechsler (WIAT)
  • Tes Prestasi Pendidikan Kaufman (KTEA)
  • Tes Persepsi Motor Visual Bender Gestalt
  • Tes Persepsi Pendengaran (TAPS)
  • Tes Persepsi Visual (TVPS)
  • Tes Kosakata Gambar Peabody
  • Tes untuk Pemahaman Pendengaran Bahasa
 
Cara mengobati disleksia umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan dan seberapa lama pasien sudah mengalaminya.Meskipun tidak ada obat untuk disleksia, deteksi dini dan evaluasi yang tepat,  dapat meningkatkan tingkat kesuksesan perawatan. Jenis perawatan disleksia biasanya dilakukan menggunakan metode pendidikan dan teknologi pendukung.Beberapa metode penanganan disleksia adalah:

1. Metode pendidikan

Umumnya, metode pendidikan yang diberikan pada anak disleksia berfokus pada keterampilan fonologis, yakni kemampuan ntuk mengidentifikasi dan memproses bunyi dari kata.  Metode ini disebut juga sebagai metode fonik.Pada metode fonik, anak-anak akan mempelajari cara:
  • Mengenali dan mengidentifikasi suara dalam kata-kata yang diucapkan (misalnya, membantu anak mengenali bahwa kata-kata pendek seperti "lap" sebenarnya terdiri dari 3 suara: "l", "a" dan "p")
  • Menggabungkan huruf untuk membuat kata, dan menggunakan kata tersebut untuk membuat kalimat yang lebih kompleks
  • Membaca dengan lantang untuk membangun ketepatan, kecepatan dan ekspresi dalam membaca.
  • Memantau pemahaman dalam membaca (misalnya, dengan mendorong anak bertanya jika mereka tidak memahami informasi yang disampaikan)
  • Mengenal kosa kata dan mengerti arti kata
Metode ini idealnya diberikan dengan cara yang sangat terstruktur dengan tiap langkah yang terus dikembangkan. Anak-anak secara teratur diminta untuk mempraktikkan yang sudah dipelajari.

2. Penggunaan teknologi

Saat ini, teknologi yang ada pada komputer dapat dimanfaatkan bagi para pengidap disleksia. Metode ini biasanya direkomendasikan untuk anak-anak yang telah beranjak remaja.Selain tampilan visualnya, berbagai fitur lain dan perawatan berikut ini juga dianggap lebih cocok bagi remaja dengan dileksia, diantaranya adalah:
  • Program pengolah kata

Program ini biasanya memiliki pemeriksa ejaan dan alat otomatis untuk mengoreksi kata yang salah. Fitur ini dapat membantu anak dengan disleksia untuk mengetahui kesalahan dalam tulisan secara mudah.
  • Text-to-speech

Fitur ini tersedia di banyak browser atau perangkat lunak pengolah kata yang berfungsi untuk membaca teks pada layar. Dengan fitur tersebut, penderita disleksia dapat mendengarkan bunyi dari kata yang tertera di tulisan.
  • Perangkat lunak penerjemah ucapan

Fitur ini juga dapat digunakan untuk menerjemahkan perkataan seseorang ke dalam teks tertulis. Melalui fitur tersebut, para penderita disleksia dapat memahami bentuk tulisan hasil ucapan mereka.
  • Perawatan awal

Anak dengan disleksia yang mendapatkan perawatan saat berada di taman kanak-kanak atau kelas 1 SD sering kali mengalami peningkatan kemampuan membaca, dan akhirnya berhasil lulus SMA. 

Tips untuk orang tua yang memiliki anak disleksia

Sebagai orangtua, peran aktif Anda sangat berpengaruh pada kesuksesan perawatan anak dengan disleksia. Berikut ini yang bisa Anda lakukan untuk membantu anak.
  • Membaca untuk anak

Kegiatan ini dapat meningkatkan kosa kata dan keterampilan mendengarkan anak, sekaligus mendorong minatnya pada buku.Disarankan membaca dengan suara yang keras agar anak dapat mendengar dan melihat gerakan mulut serta ekspresi.
  • Berbagi bacaan

Cobalah untuk membaca suatu buku bersama anak. Selanjutnya, ajak anak berdiskusi tentang isi buku tersebut.
  • Membacakan buku berulang kali

Anda mungkin bosan membaca buku favorit anak berulang kali. Namun, pengulangan akan memperkuat pemahaman anak. Selain itu, anak jadi semakin terbiasa dengan teks dari bacaan tersebut.
  • Membaca dalam hati

Berikan kesempatan bagi Si Kecil untuk membaca sendiri bacaan yang ingin dibacanya, untuk mendorong kemandirian dan kefasihannya.
  • Membuat membaca jadi kegiatan yang menyenangkan

Jadikan proses membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan hanya sekadar tugas. Pilih buku kesukaan anak dan pastikan untuk membaca buku tersebut di lingkungan yang santai dan nyaman.
  • Memberikan semangat

Semangat dari orangtua akan membantu anak lebih percaya diri dan mempu untuk membaca dengan baik
  • Mengajak guru untuk bekerja sama

Informasikan kepada guru di sekolah perihal kondisi diseleksia yang dialami oleh anak Anda sehingga guru akan memahami dan bersama-sama menemukan cara belajar yang tepat. 

Tips untuk orang dewasa dengan disleksia

Perawatan disleksia pada anak maupun orang dewasa umumnya sama. Anda dapat memanfaatkan teknologi untuk menulis dan menjalankan aktivitas sehari-hari.Selain itu, Anda juga dapat mencoba pendekatan multisensori. Misalnya dengan menggunakan perekam digital untuk merekam kuliah, rapat atau pembicaraan lainnya sembari menulis yang Anda dengar.Putarlah rekaman kembali jika Anda melakukan kesalahan penulisan, atau ingin mengulang informasi. Jika erlu membuat rencana atau tulisan tentang topik tertentu, mungkin Anda dapat membuat konsepnya terlebih dahulu dalam bentuk mind map. 

Komplikasi disleksia

Tanpa perawatan yang tepat, disleksia dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk:
  • Kesulitan belajar

Karena membaca adalah keterampilan dasar untuk sebagian besar mata pelajaran di sekolah, anak dengan disleksia dapat tertinggal secara akademis.
  • Masalah sosial

Jika dibiarkan tanpa perawatan, disleksia dapat menyebabkan anak merasa tidak mampu dan menjadi rendah diri, sehingga muncul masalah sosial lainnya seperti kecemasan, agresi, dan penarikan diri dari teman, orangtua, dan guru.
  • Masalah saat dewasa

Ketidakmampuan membaca dan memahami dapat menghalangi seseorang untuk mencapai potensinya. Hal tersebut juga dapat berdampak pada pendidikan, kehidupan sosial, dan ekonomi orang tersebut.
  • Attention-deficit hyperactivity (ADHD)

Kondisi ADHD ini dapat menimbulkan kesulitan konsentrasi serta perilaku hiperaktif dan impulsif, yang dapat membuat disleksia lebih sulit diatasi.Baca juga: Anak Mengalami Disleksia? Terapkan Cara Belajar Membaca Berikut Ini 
Tidak ada cara untuk mencegah disleksia. Namun Anda dapat menurunkan risiko disleksia pada anak dengan menghindari faktor risikonya.Swbagai contoh, salah satu faktor risiko disleksia adalah berat lahir rendah ada bayi. Jadi Anda harus menjaga kehamilan agar tetap sehat.Pastikan pula supaya nutrisi janin telah terpenuhi. Dengan ini, anak memiliki berat badan yang cukup ketika lahir. 
Berkonsultasilah dengan dokter jika anak kesulitan membaca walaupun memahami penjelasan lisan, atau apabila Anda melihat tanda-tanda disleksia lainnya.Ketika mengalami kekhawatiran pada kondisi anak Anda, berkonsultasilah dengan dokter anak. Dokter mungkin akan merujuk anak ke dokter spesialis mata, THT, saraf, dan neuropsikolog.Langkah tersebut bertujuan memastikan bahwa kesulitan belajar yang dialami anak Anda adalah karena disleksia dan tidak disebabkan penyakit lain.  
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda, anak Anda, atau orang terdekat Anda
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda, anak Anda, atau orang terdekat Anda. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda, anak Anda, atau orang terdekat Anda
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait disleksia?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis disleksia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dyslexia/symptoms-causes/syc-20353552
Diakses pada 5 Oktober 2018
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/dyslexia/article.htm#what_tests_diagnose_dyslexia
Diakses pada 5 April 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/dyslexia
Diakses pada 7 September 2020
Harvard. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/dyslexia-a-to-z#
Diakses pada 7 September 2020
WebMD. https://www.webmd.com/children/understanding-dyslexia-basics
Diakses pada 7 September 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/teens/dyslexia.html
Diakses pada 7 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email