Psikologi

Gangguan Koordinasi Perkembangan

Diterbitkan: 20 Jan 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Gangguan Koordinasi Perkembangan
Anak mudah terjatuh atau ceroboh adalah tanda gangguan koordinasi perkembangan
Gangguan koordinasi perkembangan (developmental coordination disorder atau dyspraxia) merupakan gangguan keterampilan motorik yang terjadi karena adanya keterlambatan dalam perkembangan gerakan dan koordinasi pada anak. Akibatnya, anak tidak dapat atau kesulitan untuk melakukan tugas sehari-hari. Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak tetapi orang dewasa juga dapat mengalami gangguan ini. Anak dengan dyspraxia memiliki kesulitan untuk menguasai aktivitas motorik yang sederhana, seperti mengikat tali sepatu, menulis, atau menuruni tangga. Anak juga tidak dapat melakukan tugas yang sesuai dengan usianya, baik dalam bidang akademik maupun aktivitas sehari-hari.Anak dengan kondisi ini akan terlambat untuk dapat duduk, berdiri, berjalan, dan berbicara. Pada kondisi ini, anak tidak dapat mengkoordinasikan pikiran dan perbuatannya secara nyata. Anak-anak yang mengalami gangguan ini umumnya memiliki kecerdasan normal. Namun, keterlambatan tersebut membuat anak dipandang tidak kompeten, ceroboh, atau canggung karena kesulitan atau tidak dapat melakukan tugas dasar.Anak dengan dyspraxia dapat menjadi terlalu memerhatikan dirinya dan menarik diri dari berbagai aktivitas sosial atau olahraga. Kurangnya olahraga dan pergerakan dapat membuat anak memiliki kekuatan otot yang lemah dan meningkatkan berat badan anak. Oleh karenanya perlu gangguan koordinasi perkembangan perlu untuk segera disadari dan ditindaklanjuti.  
Gangguan Koordinasi Perkembangan
Dokter spesialis Anak, Jiwa
GejalaSering menjatuhkan barang, kerap tersandung, berjalan tidak seimbang
Faktor risikoLahir prematur, berat badan lahir rendah, keturunan
Metode diagnosisKriteria DSM-5
PengobatanFisioterapi, terapi okupasi, psikoterapi
KomplikasiGangguan belajar, rasa percaya tinggi yang rendah, cedera berulang kali
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala gangguan koordinasi perkembangan, mengkhawatirkan perkembangan anak
Terdapat beberapa gejala gangguan koordinasi perkembangan, antara lain:
  • Sering menjatuhkan barang
  • Sering tersandung
  • Berjalan dengan tidak seimbang
  • Kesulitan menuruni tangga
  • Sering menabrak orang lain
  • Kesulitan untuk memegang benda-benda kecil
  • Kesulitan untuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru
  • Kesulitan melakukan aktivitas di sekolah seperti menulis, mewarnai, menggambar, menggunakan gunting
  • Kesulitan untuk menjaga keseimbangan, pergerakan, dan koordinasi
  • Kesulitan mengikat tali sepatu, mengenakan pakaian, dan kegiatan perawatan diri lainnya
 
Penyebab gangguan koordinasi perkembangan belum diketahui dengan pasti. Namun peneliti percaya bahwa kelainan ini terjadi akibat perkembangan otak yang terlambat.Dyspraxia lebih sering dialami oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dan biasanya terdapat anggota keluarga yang mengalami dyspraxia dalam riwayat keluarga anak tersebut. Namun peneliti percaya, gangguan ini terjadi akibat perkembangan otak yang terlambat.Anak dengan gangguan ini juga biasanya tidak mempunyai kondisi medis yang dapat menjelaskan terjadinya dyspraxia.Dalam beberapa kasus, dyspraxia dapat timbul bersama dengan gangguan mental lainnya seperti attention deficit hyperactive disorder (ADHD)dyslexia, atau autisme. Meski demikian, kedua kondisi ini biasanya tidak berhubungan. 

Faktor risiko gangguan koordinasi perkembangan

Beberapa faktor risiko gangguan koordinasi perkembangan yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi ini meliputi:
  • Anak lahir prematur, yaitu sebelum 37 minggu kehamilan
  • Lahir dengan berat badan rendah
  • Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan koordinasi perkembangan, meskipun kurang jelas gen mana yang terlibat dalam kondisi ini
  • Ibu yang mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang saat hamil
 
Untuk menegakkan diagnosis gangguan koordinasi perkembangan, dokter akan melakukan wawancara terkait riwayat medis dan gejala yang dialami pasien. Dokter akan menggunakan kriteria pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) dan mencocokkan gejala yang dialami pasien dengan kriteria tersebut. 

Kriteria gangguan koordinasi perkembangan pada DSM-5

  • Pembelajaran dan keterampilan koordinasi motorik tidak sesuai umur

Pembelajaran dan eksekusi dalam keterampilan koordinasi motorik tidak sesuai dengan umur, walaupun sudah diberikan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan keterampilan tersebut.Kesulitan dapat berupa kecanggungan (contoh, menjatuhkan atau menyenggol benda-benda), kelambatan serta ketidakakuratan dari performa keterampilan motorik (contoh, menangkap benda, menggunakan gunting, menulis, mengendarai sepeda, atau berpartisipasi dalam olahraga).
  • Kesulitan dalam keterampilan motorik terlihat jelas

Kesulitan dalam keterampilan motorik terlihat jelas atau secara terus-menerus berdampak pada aktivitas sehari-hari yang sesuai dengan usia (contoh, merawat diri), kegiatan yang membutuhkan keterampilan tertentu, prestasi di sekolah, maupun kegiatan-kegiatan lain, seperti bermain.
  • Munculnya gejala awal

Kemunculan awal gejala-gejala adalah saat periode perkembangan awal.
  • Kesulitan dalam keterampilan motorik yang tidak bisa dijelaskan

Kesulitan dalam keterampilan motorik tidak dapat dijelaskan oleh keterlambatan intelektual, maupun gangguan neurologi lainnya yang dapat memengaruhi pergerakan.Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya juga mungkin akan melakukan beberapa tes dan evaluasi untuk menilai bagaimana cara anak bergerak untuk mengetahui apakah anak mengalami dyspraxia.   
Penanganan gangguan koordinasi perkembangan dilakukan dengan tujuan membantu penderita untuk beradaptasi dengan penyakitnya. Beberapa cara mengobati gangguan koordinasi perkembangan yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi:

1. Fisioterapi

Dalam fisioterapi, anak akan diajari mengembangkan koordinasi, keseimbangan, dan komunikasi yang baik antara otak serta tubuh.Olahraga individual juga mungkin dapat membangun keterampilan motorik daripada olahraga berkelompok. Misalnya, berenang atau bersepeda.Olahraga setiap hari diperlukan untuk melatih kerjasama antara otak dan tubuh, serta mengurangi risiko obesitas.

2. Terapi okupasi

Terapi okupasi dilakukan untuk menemukan cara praktis agar anak bbisa mengerjakan kegiatan sehari-hari dengan mandiri.Terapis juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah dalam melakukan sejumlah perubahan di sekolah. Contohnya, pengadaan gadget (seperti komputer) untuk membantu penderita mencatat pelajaran.

3. Psikoterapi

Psikoterapi berupa terapi perilaku kognitif juga dapat membantu anak dengan membantu anak untuk mengatasi masalah karena gangguan yang dihadapi dengan mengubah cara anak berpikir dan berperilaku mengenai gangguan tersebut.

4. Support group

Orang tua juga bisa mengajak anak untuk bergabung dalam support group yang beranggotakan anak-anak dengan kondisi serupa. Dengan ini, anak dapat bersosialisasi dan mendapatkan dukungan dari teman-teman komunitasnya.

5. Pelatihan keterampilan sosial

Jika Anda mengalami gangguan koordinasi perkembangan, terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan, yaitu:
  • Belajar menggunakan komputer atau laptop jika Anda memiliki kesulitan untuk menulis dengan tangan.
  • Belajar untuk memberitahukan tantangan-tantangan yang Anda hadapi secara positif serta bagaimana cara Anda mengatasinya.
  • Berolahraga secara teratur. 
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah Anda atau mengikuti komunitas-komunitas yang terdiri dengan orang-orang yang pernah mengalami gangguan yang sama agar Anda dapat saling mendukung dan berdiskusi tentang masalah gangguan yang Anda hadapi.
  • Gunakan kalender atau jurnal untuk meningkatkan keterampilan mengatur Anda.
Perlu diketahui bahwa anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan bisa saja tetap mengalami gejala-gejala dari gangguan meskipun sudah dewasa.  

Komplikasi gangguan koordinasi perkembangan

Gangguan koordinasi perkembangan dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gangguan dalam belajar
  • Tingkat percaya tinggi yang rendah karena kemampuan olahraga yang buruk dan diejek oleh teman-temannya
  • Cedera berulang
  • Berat badan berlebih karena tidak mau berpartisipasi dalam aktivitas fisik, seperti olahraga
 
Karena penyebabnya belum diketahui, cara mencegah gangguan koordinasi perkembangan secara spesifik juga belum tersedia.Namun orang tua bisa mendeteksi kelainan ini sedini mungkin agar segera bisa ditangani. Penanganan sejak tahap awal perkembangan penyakit memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. 
Konsultasikan ke dokter apabila anak Anda mengalami gejala gangguan koordinasi perkembangan. Demikian pula bila Anda merasa khawatir akan perkembangan buah hati. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dialami oleh pasien.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang di Demikian pula dengan riwayat keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang di
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami oleh pasien?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait gangguan koordinasi perkembangan?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar pasien yang memiliki penyakit serupa?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis gangguan koordinasi perkembangan. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/developmental-coordination-disorder
Diakses pada 25 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/developmental-coordination-disorder-dyspraxia-in-adults/
Diakses pada 25 Oktober 2018
CanChild. https://www.canchild.ca/en/diagnoses/developmental-coordination-disorder
Diakses pada 25 Oktober 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001533.htm
Diakses pada 20 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email