Penyakit Lainnya

Gangguan Muskuloskeletal

Diterbitkan: 27 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Gangguan Muskuloskeletal
Gangguan muskuloskeletal ditandai dengan masalah pada otot, tulang, dan sendi
Gangguan muskuloskeletal adalah kondisi medis yang ditandai dengan masalah pada otot, tulang, dan sendi. Tingkat keparahannya bervariasi dan bisa meliputi:
  • Gangguan yang terjadi secara tiba-tiba dengan penyembuhannya yang cepat, misalnya keseleo atau patah tulang
  • Penyakit yang berlangsung seumur hidup dan menyebabkan disabilitas atau kecacatan.
Gangguan muskuloskeletal merupakan kondisi medis yang umum dijumpai. Risiko kemunculannya akan meningkat seiring bertambahnya usia.Pada beberapa kasus, gangguan muskuloskeletal dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari penderita. Kondisi ini juga bisa dirasakan pada semua area tubuh, seperti leher, bahu, punggung, pinggang, tangan, dan kaki. 
Gangguan Muskuloskeletal
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Ortopedi
GejalaNyeri, bengkak, kaku pada sendi
Faktor risikoPenuaan, jarang olahraga, berat badan berlebih
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, pemeriksaan pencitraan
PengobatanObat-obatan, fisioterapi, terapi okupasi
ObatObat analgesik
KomplikasiGangguan muskuloskeletal permanen
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala gangguan muskuloskeletal
Gejala gangguan muskuloskeletal dapat berupa:
  • Nyeri berulang atau tidak kunjung membaik
  • Nyeri yang terasa tumpul
  • Kaku sendi
  • Pembengkakan
  • Gangguan tidur
  • Sendi yang tampak kemerahan
  • Kesemutan
  • Kelemahan
Gejala tersebut dapat dirasakan pada seluruh organ muskuloskeletal, seperti leher, bahu, pergelangan tangan, punggung, pinggang, kaki, lutut, dan telapak kaki.Keluhan gangguan muskuloskeletal dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau mengetik. Kemampuan gerak penderita juga menjadi terbatas, dan penderita mengalami kesulitan dalam melakukan rutinitasnya. 

Jenis-jenis gangguan muskuloskeletal

Cakupan gangguan muskuloskeletal sangatlah luas. Beberapa jenis gangguan muskuloskeletal meliputi:

1. Gangguan sendi

Gangguan muskuloskeletal yang menyerang sendi dapat berupa:
  • Osteoarthritis

Osteoarthritis merupakan kondisi ketika jaringan tulang lunak yang melindungi sendi mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia.
  • Rheumatoid arthritis

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi, terutama sendi tangan, pergelangan tangan, dan lutut.
  • Ankylosing spondylitis

Ankylosing spondylitis adalah salah satu jenis arthritis (radang sendi) yang menyebabkan nyeri dan kaku pada tulang belakang.
  • Psoriasis arthritis

Psoriasis arthritis merupakan radang sendi yang terjadi pada pasien dengan penyakit kulit psoriasis.
  • Penyakit asam urat (gout)

Penyakit asam urat atau gout adalah radang sendi yang disebabkan oleh kadar asam urat berlebih di dalam darah. Sendi yang terkena biasanya adalah sendi pada ibu jari kaki.

2. Gangguan pada tulang punggung

Gangguan muskuloskeletal yang menyerang tulang punggung ditandai dengan  nyeri punggung. Nyeri punggung paling sering dirasakan pada tulang punggung bagian bawah.

3. Gangguan tulang

Gangguan muskuloskeletal yang menyerang tulang bisa berupa osteopenia dan osteoporosis.Osteopenia merupakan kondisi pengeroposan tulang. Bila sudah parah, kondisi ini akan menjadi osteoporosis.Osteopenia dan osteoporosis dapat dibedakan dari kadar kalsium dalam tulang yang diukur dengan pemeriksaan bone mineral density (BMD).

4. Patah tulang

Patah tulang dapat disebabkan oleh cedera atau kondisi medis lain pada tulang.

5. Gangguan pada otot

Salah satu gangguan muskuloskeletal yang terjadi pada otot adalah sarkopenia. Sarkopenia merupakan kondisi yang ditandai dengan hilangnya massa dan fungsi otot.

6. Gangguan pada sistem bagian tubuh

Salah satu penyakit sistemik yang dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal adalah lupus. Lupus merupakan penyakit autoimun, yakni sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan tubuh pasien.Sebagai akibatnya, peradangan dan nyeri pada banyak organ tubuh (termasuk sistem muskuloskeletal) bisa terjadi.Baca Juga: Jenis Penyakit Autoimun yang Ini Bisa Menyerang Anda
 
Beberapa aktivitas atau kondisi yang dapat menjadi penyebab gangguan muskuloskeletal meliputi:
  • Melakukan gerakan yang sama berulang kali
  • Aktivitas yang berlebihan, seperti mengangkat beban yang terlalu berat
  • Postur tubuh yang buruk saat bekerja atau di sekolah
  • Duduk di depan komputer dalam posisi yang sama setiap hari
  • Cedera, misalnya karena kecelakaan dan terjatuh
  • Kejang yang parah dan menyebabkan patah tulang, sendi geser, atau kerusakan langsung pada otot
 

Faktor risiko gangguan muskuloskeletal

Faktor risiko gangguan muskuloskeletal umumnya meliputi:
  • Jarang melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga
  • Berat badan berlebih atau obesitas
  • Merokok
  • Kurang gizi
  • Pengaruh penuaan
  • Pekerjaan
  • Tingkat aktivitas
  • Riwayat keluarga dengan gangguan muskuloskeletal
 
Untuk menentukan diagnosis gangguan muskuloskeletal, dokter dapat melakukan langkah-langkah berikut:

1. Tanya jawab

Dokter akan melakukan tanya jawab secara menyeluruh terkait gejala dan riwayat medis pasien maupun keluarga.

2. Pemeriksaan fisik

Dokter kemudian memeriksa ada tidaknya nyeri, kemerahan, bengkak, kelemahan otot, dan atrofi (pengecilan) otot. Dokter juga akan mengecek gerak refleks guna memeriksa kemungkinan gangguan saraf.

3. Tes darah

Tes darah dapat membantu dokter dalam menentukan diagnosis gangguan muskuloskeletal. Beberapa jenisnya meliputi:
  • Tes erythrocyte sedimentation rate (ESR)

Kadar ESR meningkat ketika terjadi peradangan, termasuk peradangan pada sistem muskuloskeletal. ESR juga dapat diperiksa untuk memantau efektivitas terapi pada kondisi medis seperti rheumatoid arthritis.
  • Tes creatine kinase

Creatine kinase adalah enzim pada otot yang dapat keluar ke aliran darah bila otot mengalami kerusakan. Kadar enzim yang meningkat dalam tubuh menandakan adanya kerusakan otot.
  • Tes rheumatoid factor dan anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) antibody

Kedua pemeriksaan ini berperan mendiagnosis rheumatoid arthritis.
  • Tes ANA (antinuclear antibody) dan anti ds-DNA (antibody double-stranded deoxyribonucleic acid)

Antinuclear antibody dan antibody double-stranded deoxyribonucleic acid diperiksa untuk mendiagnosis lupus.
  • Tes gen HLA-B27

Tes darah dapat mengidentifikasi pasien dengan gen tertentu, yaitu HLA-B27. Adanya gen ini akan meningkatkan risiko spondyloarthritis, yakni kelainan yang menyebabkan peradangan pada punggung dan sendi lainnya.

4. Pemeriksaan pencitraan

Beberapa jenis pemeriksaan pencitraan yang dilakukan untuk mendiagnosis gangguan muskuloskeletal antara lain:
  • Rontgen
Rontgen digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan pada tulang. Hasil tes ini biasanya merupakan pemeriksaan pencitraan yang dilakukan paling awal.
  • CT scan dan MRI
CT scan dan MRI akan menghasilkan gambar dengan detail lebih jelas daripada rontgen. Karena itu, kedua tes ini dapat mendeteksi lokasi dan seberapa luas kelainan muskuloskeletal dengan lebih pasti.
  • Scan tulang
Scan tulang menggunakan zat radioaktif dan biasanya dianjurkan untuk mendiagnosis patah tulang apabila pemeriksaan lain (seperti rontgen, CT scan, dan MRI) menunjukkan hasil yang kurang jelas. Demikian pula jika ada dugaan infeksi atau kanker pada tulang.

5. Arthroscopy

Arthroscopy merupakan prosedur yang dilakukan untuk melihat kondisi dalam sendi. Dokter juga dapat mengambil jaringan untuk dianalisis di laboratorium.

6. Biopsi cairan sendi

Prosedur yang dikenal juga dengan nama arthrocentesis ini digunakan untuk mendiagnosis berbagai kelainan pada sendi. Dokter akan mengambil cairan sendi, lalu memeriksanya di bawah mikroskop.

7. Tes konduksi saraf

Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi seberapa baik fungsi saraf yang berperan dalam aktivitas otot. 
Cara mengobati gangguan muskuloskeletal tergantung pada penyebab yang mendasarinya dan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh pasien. Terapi juga tergantung pada lokasi terjadinya gangguan ini, baik di tulang, otot, ligamen (jaringan penghubung antartulang), maupun tendon (jaringan penghubung otot dan tulang).Beberapa penanganan gangguan muskuloskeletal meliputi:

1. Olahraga dan obat-obatan

Untuk mengatasi rasa nyeri hilang dan timbul, dokter akan menyarankan olahraga intensitas sedang. Dokter juga bisa memberikan obat pereda rasa nyeri (analgesik), seperti ibuprofen atau paracetamol.Bagi penderita dengan gejala gangguan muskuloskeletal yang lebih berat, dokter dapat meresepkan obat untuk mengurangi radang dan nyeri.

2. Terapi fisik

Pada beberapa kasus, dokter juga bisa merekomendasi fisioterapiterapi okupasi, atau keduanya. Terapi-terapi ini dapat membantu pasien dalam mengatasi rasa nyeri yang dialami, menjaga kekuatan dan rentang gerak, serta menyesuaikan aktivitas sehari-hari yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal.

3. Penanganan lain

Langkah penanganan gangguan muskuloskeletal lainnya bisa berupa:
  • Penggunaan splint untuk membatasi gerak sendi yang terlibat dan membantu pemulihan
  • Terapi panas atau dingin
  • Mengurangi beban kerja dan banyak istirahat
  • Mengurangi stres dengan teknik relaksasi, seperti yoga dan meditasi
  • Akupuntur atau acupressure
  • Pemberian obat anestesi atau obat antiinflamasi nonsteroid melalui suntikan pada area yang nyeri
  • Olahraga untuk menguatkan organ muskuloskeletal
  • Olahraga peregangan muskuloskeletal
  • Terapi chiropractic
 

Komplikasi gangguan muskuloskeletal

Komplikasi gangguan muskuloskeletal tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Pada umumnya, gangguan ini akan menjadi masalah jangka panjang (kronis) bila dibiarkan.Masalah muskuloskeletal kronis kemudian dapat menyebabkan gangguan permanen pada sendi, otot, atau tulang yang terkena.Baca juga: Obat Herbal untuk Nyeri Sendi yang Paling Ampuh 
Risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal dapat meningkat seiring bertambahnya usia Anda. Oleh karena itu, menjaga kondisi kesehatan fisik (termasuk sendi, tulang, dan otot) sejak usia muda bisa mencegah terjadinya penyakit ini.Beberapa upaya gaya hidup sehat dapat Anda terapkan meliputi:
  • Olahraga dan peregangan untuk membantu dalam menjaga kekuatan tulang, otot, dan sendi.
  • Berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari guna menghindari cedera.
  • Menerapkan postur tubuh yang baik, misalnya posisi duduk dan berdiri yang benar
  • Berhati-hati saat mengangkat beban berat
  • Membatasi gerakan repetitif atau berulang
 
Hubungi dokter apabila Anda mengalami gejala gangguan muskuloskeletal. khususnya nyeri, kemerahan, bengkak, kelemahan otot, dan atrofi otot (ukuran otot yang mengecil). Jangan meremehkan keluhan meski terasa ringan.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah gejala tersebut sudah mengganggu aktivitas sehari-hari?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait gangguan muskuloskeletal?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis gangguan muskuloskeletal dan penyebabnya. Dengan ini, pengobatan pun bisa diberikan secara tepat.
Healthline. https://www.healthline.com/health/musculoskeletal-disorders
Diakses pada 20 Januari 2020
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/musculoskeletal-conditions
Diakses pada 20 Januari 2020
WebMD. https://www.webmd.com/pain-management/guide/musculoskeletal-pain
Diakses pada 20 Januari 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoarthritis/symptoms-causes/syc-20351925
Diakses pada 27 Oktober 2020
Mayo Cinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriatic-arthritis/symptoms-causes/syc-20354076
Diakses pada 27 Oktober 2020
CDC. https://www.cdc.gov/arthritis/basics/rheumatoid-arthritis.html
Diakses pada 27 Oktober 2020
CDC. https://www.cdc.gov/lupus/facts/detailed.html
Diakses pada 27 Oktober 2020
WebMD. https://www.webmd.com/arthritis/what-is-ankylosing-spondylitis
Diakses pada 27 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/144827
Diakses pada 27 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/173312
Diakses pada 27 Oktober 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/back-pain/
Diakses pada 27 Oktober 2020
Spine Universe. https://www.spineuniverse.com/conditions/osteoporosis/osteopenia-osteoporosis-there-difference
Diakses pada 27 Oktober 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4269139/
Diakses pada 27 Oktober 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14526-musculoskeletal-pain/management-and-treatment
Diakses pada 27 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email