Kepala

Hematoma Epidural

Diterbitkan: 24 Feb 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hematoma Epidural
Hematoma epidural terjadi di antara tulang tengkorak dengan selaput otak
Hematoma epidural adalah terbentuknya kumpulan darah di ruang antara tengkorak dan selubung pelindung otak.Otak yang mengalami cedera, akan mengalami guncangan. Kondisi ini bisa membuat lapisan internal, jaringan, dan pembuluh darah robek sehingga menyebabkan pendarahan yang biasa disebut hematoma.Hematoma epidural bisa memberikan tekanan pada otak, sehingga membuatnya membengkak. Pembengkakan bisa membuat otak bergeser di dalam tengkorak.Kerusakan yang terjadi dapat memengaruhi banyak hal. Mulai dari penglihatan, ucapan, mobilitas, dan tingkat kesadaran penderita.Jika terus dibiarkan, hematoma epidural dapat menyebabkan kerusakan otak yang berlangsung lama. Bahkan, kondisi ini berisiko menyebabkan kematian, jadi harus segera mendapatkan pertolongan medis. 
Hematoma Epidural
Dokter spesialis Bedah
GejalaSakit kepala, mual dan muntah, mual, kehilangan kesadaran
Faktor risikoUsia, konsumsi alkohol, pernah mengalami cedera kepala
Metode diagnosisX-ray, CT scan, pemeriksaan saraf
PengobatanObat-obatan, operasi, terapi rehabilitasi
KomplikasiKoma, kelumpuhan, kematian
Kapan harus ke dokter?Mengalami kecelakaan, hilang kesadaran tiba-tiba, sakit kepala berkepanjangan
Gejala hematoma epidural tergantung pada tingkat keparahannya. Secara umum, gejala ini meliputi:
  • Sakit kepala yang makin parah
  • Muntah
  • Mual
  • Mengantuk atau kehilangan kesadaran
  • Pupil di salah satu mata yang membesar 
  • Bicara cadel
  • Kesulitan berbicara
  • Kelumpuhan di sisi tubuh yang berlawanan dengan lokasi cedera kepala
  • Leher yang kaku
  • Sulit berjalan atau menjaga keseimbangan
  • Gangguan pada penglihatan 
  • Kesulitan bernapas atau mengalami perubahan pola pernapasan
Penderita dapat mengalami gejala dalam waktu beberapa menit hingga beberapa jam setelah terluka atau kecelakaan yang melibatkan trauma kepala. 
Secara umum, penyebab hematoma epidural adalah luka atau trauma di bagian kepala. Contohnya, kecelakaan, pukulan atau benturan keras di kepala, atau terjatuh. 

Faktor risiko hematoma epidural

Beberapa hal dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami hematoma epidural. Faktor-faktor risiko ini meliputi:
  • Berusia tua
  • Sulit berjalan sehingga rentan jatuh
  • Pernah mengalami trauma kepala
  • Mengonsumsi alkohol, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan atau jatuh
  • Tidak memakai alat pelindung yang memadai ketika melakukan aktivitas yang rawan kontak fisik, misalnya olahraga rugby
  • Memiliki profesi yang berisiko memicu cedera, misalnya pekerja konstruksi
  • Tidak memakai helm atau sabuk pengaman saat berkendara
  • Menggunakan obat pengencer darah
  • Mengidap hipertensi yang tidak terkendali
  • Menderita kondisi medis tertentu, seperti diabetes dan penyakit hati
  • Menyalahgunakan narkoba atau alkohol
 
Untuk memastikan diagnosis hematoma epidural, dokter akan melakukan beberapa jenis pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala maupun faktor risiko pasien. Jika pasien tak sadarkan diri, dokter akan bertanya pada orang yang menemani pasien.
  • Pemeriksaan neurologis (saraf)

Dokter akan melakukan pemeriksaan saraf pada pasien, untuk mencari tanda-tanda gangguan neurologis.
  • Pemindaian

CT scan atau MRI bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi tengkorak dan jaringan-jaringan lunak dalam kepala pasien.
  • Electroencephalogram (EEG)

Prosedur EEG bertujuan mengukur aktivitas listrik dalam otak. 
Cara mengobati hematoma epidural akan bergantung pada tingkat keparahan kondisi dan gejala yang muncul. Dokter juga akan mempertimbangkan ada tidaknya cedera di bagian tubuh lain atau penyakit penyerta.Secara umum, dokter dapat merekomendasikan sederet penanganan hematoma epidural di bawah ini:

1. Operasi

Pada sebagian besar penderita epidural hematoma, dokter akan merekomendasikan operasi yang disebut kraniotomi. Operasi ini dilakukan dengan membuka bagian tengkorak supaya perdarahan dapat dibersihkan, sehingga tekanan dalam tengkorak akan berkurang.

2. Obat-obatan

Sebelum melakukan operasi, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan golongan agen hiperosmosis guna mengurangi pembengkakan otak. Contoh obat ini meliputi mannitol, gliserol, dan hypertonic saline.

3. Terapi rehabilitasi

Dokter juga dapat menyarankan terapi rehabilitasi. Terapi ini bertujuan agar penderita hematoma epidural mampu mengatasi kesulitan yang timbul akibat cedera.Terapi rehabilitasi bisa digunakan untuk mengelola kondisi disabilitas yang meliputi kelemahan, susah menahan buang air kecil, sukar berjalan, kelumpuhan, serta tidak mampu merasakan suatu sensasi.

4. Perawatan di rumah

Proses pemulihan hematoma epidural umumnya membutuhkan waktu selama enam bulan setelah cedera terjadi. Perawatan tambahan mungkin saja memerlukan waktu hingga dua tahun.Untuk membantu proses pemulihan ini, dokter bisa menyarankan pasien untuk melakukan beberapa langkah berikut:
  • Mematuhi penanganan medis yang sudah direkomendasikan
  • Beristirahat saat lelah dan memenuhi kebutuhan tidur
  • Menambah aktivitas secara bertahap dan jangan memaksakan diri
  • Menghindari olahraga yang menuntuk kontak fisik, seperti rugby, sepak bola, basket, dan lainnya
  • Tidak mengonsumsi alkohol
 

Komplikasi hematoma epidural

Jika tidak ditangani dengan segera dan benar, hematoma epidural dapat menyebabkan komplikasi yang meliputi:
  • Gejala seperti kejang yang bertahan selama beberapa bulan, bahkan setelah pengobatan
  • Herniasi otak
  • Koma yang permanen
  • Hidrosefalus tekanan normal, yang dapat memicu kelemahan, sakit kepala, inkontinensia, dan kesulitan berjalan
  • Kelumpuhan atau hilangnya sensasi (yang dimulai saat cedera terjadi)
 
Hematoma epidural biasanya yerjadi akibat kecelakaan atau cedera pada kepala. Meski kejadian ini umumnya tidak selalu dapat dihindari, risikonya bisa diminimalisir dengan cara-cara seperti:
  • Memakai helm atau sabuk pengaman saat mengendarai berkendara
  • Mengenakan alat pelindung yang sesuai saat berolahraga maupun bekerja
  • Menyesuaikan desain rumah agar terhindar dari benturan maupun terjatuh, teruma untuk anak-anak dan kalangan lanjut usia (lansia)
 
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala berupa:
  • Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
  • Pusing atau sakit kepala yang berkepanjangan
  • Gangguan penglihatan
  • Sulit bernapas, kelelahan, atau sukar konsentrasi, terutama setelah anda mengalami kecelakaan atau cedera
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hematoma epidural?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hematoma epidural agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Drugs. https://www.drugs.com/cg/intracranial-hematoma.html
Diakses pada 9 Januari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/epidural-hematoma#symptoms
Diakses pada 9 Januari 2019
Mayo Clinic.  https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/intracranial-hematoma/symptoms-causes/syc-20356145
Diakses pada 9 Januari 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001412.htm
Diakses pada 9 Januari 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email