Penyakit Lainnya

Hematuria

Diterbitkan: 15 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hematuria
Pada banyak kasus, hematuria atau urine yang berdarah ini tidak menimbulkan tanda maupun gejala.
Hematuria adalah suatu kondisi yang menyebabkan munculnya darah dalam urine atau disebut juga kencing berdarah. Urine yang normal tidak seharusnya mengandung sel darah.Hematuria bisa terjadi karena kebocoran filter di ginjal atau bagian lain dari saluran kemih.Hematuria biasanya tidak berbahaya. Meski demikian, kondisi ini bisa saja menandakan masalah kesehatan yang lebih serius. Oleh sebab itu, segera periksakan diri ke dokter jika terdapat darah dalam urine walaupun hanya sekali.

Dokter akan menentukan penyebabnya dan memberi penanganan sedini mungkin untuk menghindari terjadinya komplikasi, atau penyakit yang lebih serius di kemudian hari. Pengobatan hematuria dilakukan berdasarkan penyebabnya.
   
Hematuria
Dokter spesialis Urologi
GejalaTerdapat darah pada urine, baik yang dapat dilihat mata maupun hanya oleh mikroskop
Faktor risikoUsia, genetik, obat-obatan tertentu
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes urine, tes pemindaian
PengobatanPemberian obat-obatan
ObatKarbazokrom, ciprofloksasin, alfuzosin
KomplikasiGagal ginjal kronis, tumor
Kapan harus ke dokter?Jika air seni berwarna merah, atau kencing disertai rasa sakit
Secara umum, gejala dari hematuria adalah adanya sel darah merah di dalam air kencing. Ada pun karakteristik dari sel darah yang ditemukan dibagi berdasarkan tipe hematuria.Ada dua tipe dari hematuria, yakni gross hematuria dan microscopic hematuria.
  • Gross hematuria, yaitu darah pada urine yang menyebabkan urine berubah warna menjadi pink (merah muda), merah, atau cokelat kehitaman. Kondisi ini dapat dilihat dengan mata telanjang.
  • Microscopic hematuria (hematuria mikroskopik), yaitu darah pada urine yang hanya dapat dilihat melalui pemeriksaan laboratorium atau mikroskop, karena jumlahnya sangat sedikit.
Perdarahan yang menyebabkan urine berwarna merah biasanya tidak menyakitkan. Namun, buang air kecil disertai darah yang beku biasanya akan menyebabkan rasa sakit. Pada banyak kasus, urine yang berdarah ini tidak menimbulkan tanda maupun gejala.    
Hematuria biasanya terjadi akibat kebocoran filter di ginjal atau bagian dari saluran kemih. Berikut ini berbagai kondisi kesehatan yang biasa menyebabkan kebocoran filter tersebut:
  • Infeksi akibat bakteri, seperti Infeksi ginjal (pyelonefritis) dan infeksi saluran kemih.
  • Batu kandung kemih atau ginjal yang terjadi ketika mineral di dalam urine yang pekat membentuk kristal pada dinding dari ginjal atau kandung kemih.
  • Kelenjar prostat yang membesar pada pria, sehingga menghalangi aliran urine karena pembesaran prostat tersebut menekan saluran kemih (uretra).
  • Penyakit ginjal seperti glomerulonefritis, sebagai penyakit peradangan pada glomerulus yang salah satu fungsinya adalah sebagai penyaring. Glomerulonefritis dapat terjadi sendirinya maupun akibat penyakit sistemik seperti diabetes.
  • Kanker ginjal, kanker kandung kemih, dan kanker prostat stadium lanjut
  • Cedera ginjal yang terjadi karena pukulan atau cedera saat kecelakaan maupun olahraga.
  • Penyakit yang diturunkan, seperti anemia sel sabit (sickle cell anemia)
  • Obat-obatan seperti obat antikanker (cyclophosphamide), antibiotik seperti penicillin, aspirin, heparin dan warfarin (pengencer darah)
  • Olahraga yang berat jarang menyebabkan terjadinya kencing berdarah. Namun, trauma pada kandung kemih, dehidrasi, atau pemecahan sel darah merah akibat latihan aerobik yang berkepanjangan bisa menjadi pemicu.


Faktor Risiko

Hampir semua orang,termasuk anak-anak dan remaja, dapat mengalami hematuria. Faktor yang meningkatkan risiko hematuria adalah:

1. Usia

Laki-laki yang berusia di atas 50 tahun dapat mengalami kencing darah akibat pembesaran kelenjar prostat.

2. Infeksi yang baru terjadi

Radang pada ginjal yang terjadi setelah infeksi virus ataupun bakteri, merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pendarahan pada ginjal anak-anak.

3. Riwayat keluarga

Jika mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit ginjal atau batu ginjal, maka Anda akan lebih rentan mengalami kencing darah.

4. Obat-obatan tertentu

Aspirin, antiradang nonsteroid, dan antibiotik seperti penisilin dikenal dapat meningkatkan risiko terjadinya hematuria.

5. Olahraga berat

Pelari jarak jauh sangat rentan terhadap hematuria yang disebabkan oleh olahraga. Kondisi ini kadang disebut sebagai jogger’s hematuria. Namun siapapun yang melakukan olahraga berat dapat mengalami gejala kencing darah. 
Dokter biasanya akan mendiagnosis penyakit melalui:

1. Pemeriksaan fisik dan tanya jawab

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sembari mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar gejala atau beberapa hal yang biasa dikerjakan pasien sehari-hari. Dokter juga akan menanyakan jumlah darah yang terlihat, waktu terjadinya kencing berdarah, intensitas buang air kecil, sakit yang dirasakan, serta adanya bekuan darah, maupun obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

2. Tes urine (urinanalisis)

Pada prosedur ini, dokter akan mengambil sampel urine pasien untuk diperiksa di laboratorium. Tujuannya, untuk mengetahui kemungkinan adanya darah dalam urine, mendeteksi bakteri yang menyebabkan infeksi, dan mencari kristal penyebab batu ginjal.

3. Tes pemindaian

Dokter juga biasanya akan melakukan tes pencitraan seperti CT scan atau MRI untuk membantu mencari penyebab kencing berdarah, juga mengetahui apabila terdapat kista pada ginjal.

4. Sistoskopi

Sistoskopi adalah dokter untuk memeriksa permukaan kandung kemih dan uretra untuk menemukan penyebab kencing darah, seperti tanda-tanda infeksi. TIndakan ini dilakukan dengan memasukkan sebuah tabung (sistoskop) yang dilengkapi dengan kamera melalui uretra (terletak di ujung penis bagi pria dan terletak di atas vagina bagi wanita).

5. Tes sitologi urine

Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel urine untuk melihat keberadaan sel-sel kanker di dalamnya.

6. Biopsi ginjal

Dokter akan menganjurkan biopsi ginjal setelah pemeriksaan lain, seperti tes darah, tes urine, ultrasonografi (USG), atau CT scan menunjukkan masalah pada ginjal pasien. Prosedur ini dilakukan dengan pengambilan sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di bawah mikroskop.Terkadang, penyebab dari hematuria tidak dapat ditemukan. Dalam kasus seperti ini, dokter akan menyarankan pemeriksaan secara berkala, terutama jika pasien mempunyai faktor risiko untuk menderita kanker kandung kemih seperti merokok, paparan terhadap toksin, atau pernah menjalani terapi radiasi.Baca juga: Mengenal Berbagai Gangguan Medis Penyebab Air Kencing Bau 
Untuk mengobati hematuria, dokter biasanya merekomendasikan:
  • Karbazokrom, obat untuk menghentikan perdarahan.
  • Alfuzosin, doxazosin, tamsulosin, obat-obatan untuk mengecilkan pembesaran prostat
  • Ciprofloxacin, untuk pasien dengan infeksi saluran kemih
  • Ibuprofen, sebagai antinyeri dan anti-pembengkakan.
  • Terapi gelombang kejut (ESWL), untuk memecah batu pada ginjal atau kandung kemih
 

Komplikasi

Kebanyakan hematuria yang berhubungan dengan olahraga, pengobatan, batu ginjal, infeksi saluran kemih, atau prostatitis memiliki kemungkinan untuk sembuh total. Namun, beberapa penyebab lain dari hematuria yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi berupa gagal ginjal kronis dan tumor yang sulit diobati.

1. Gagal ginjal kronis

Anak-anak dengan hematuria akibat glomerulonefritis biasanya sembuh total jika penyakitnya ringan. Sementara itu, orang dewasa cenderung tidak dapat sembuh begitu saja dan kondisinya dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis.

2. Tumor yang sulit diobati

Untuk penderita kanker ginjal atau kandung kemih, kemungkinan penyembuhannya tergantung pada stadium dan jenis tumor. Secara umum, jika tumor ginjal atau kandung kemih didiagnosis sejak dini, kanker seringkali dapat disembuhkan. Penanganan yang terlambat atau kurang tepat dapat menyebabkan perkembangan tumor yang sulit diobati.Baca jawaban dokter: Kencing Berdarah Seperti Menstruasi, Kenapa? 
Hematuria biasanya mempunyai penyebab yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tindakan pencegahan penting untuk dilakukan, melalui langkah-langkah berikut ini:
  • Minum air yang banyak setiap harinya, buang air kecil segera setelah berhubungan seksual, dan menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi.
  • Menghindari garam yang berlebih, dan mengonsumsi makanan tertentu seperti bayam untuk mencegah terjadinya batu ginjal atau batu kandung kemih.
  • Berhenti merokok, membatasi paparan bahan kimia, minum air yang banyak, untuk mencegah kanker kandung kemih.
Baca jawaban dokter: Kencing Berdarah Seperti Menstruasi, Kenapa?   
Beberapa kasus darah pada urine disebabkan oleh kondisi kesehatan yang serius. Jangan abaikan jika terdapat darah pada urine Anda, walaupun baru pertama kali terjadi.Segera periksakan diri ke dokter. Berkonsultasilah ke dokter jika Anda sering, sulit, atau sakit ketika buang air kecil, sakit perut dan sakit pada ginjal walaupun tidak ada darah dalam urine.Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan hematuria mikroskopik. Segera cari bantuan darurat ketika tidak bisa buang air kecil, terdapat bekuan darah dalam urine ketika buang air kecil, atau darah dalam urine yang disertai dengan satu atau beberapa gejala seperti mual, muntah, demam, menggigil, dan sakit pada kedua sisi tubuh, punggung belakang atau pada perut.    
Sebelum menjalani pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
    • Perawatan atau pengobatan apa yang cocok dengan gejala yang saya alami?
    • Bagaimana kondisi saya saat ini?
    • Pemeriksaan apa saja yang saya butuhkan?
    • Jika saya memiliki masalah kesehatan lain, apa yang harus saya lakukan?
    • Apakah ada rekomendasi bacaan tentang kondisi ini?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Ketika berkonsultasi, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:
  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Apakah ada rasa sakit saat buang air kecil?
  • Kapan pertama kali melihat darah dalam urine Anda? Apakah darah terlihat pada awal buang air kecil, menjelang selesai buang air kecil atau selama buang air kecil?
  • Apakah darah dalam urine sering terjadi atau terkadang saja?
  • Apakah Anda merokok?
  • Apakah terdapat bekuan darah pada urine Anda? seberapa besar ukurannya dan seperti apa bentuknya?
  • Apakah Anda sering terkena paparan kimia dalam pekerjaan Anda? Jika ya, apa jenis bahan kimia
  • tersebut?
    Apakah Anda pernah menjalani terapi radiasi?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hematuria agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/blood-in-urine
Diakses pada 7 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blood-in-urine/symptoms-causes/syc-20353432
Diakses pada 7 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blood-in-urine/diagnosis-treatment/drc-20353436
Diakses pada 7 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/blood-in-urine/
Diakses pada 7 November 2018
Mediindia. https://www.medindia.net/drugs/medical-condition/hematuria.htm
Diakses pada 4 November 2020
Drugs. https://www.drugs.com/health-guide/hematuria.html
Diakses pada 4 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534213/
Diakses pada 4 November 2020
Kidney Organization. https://www.kidney.org/atoz/content/hematuria-adults
Diakses pada 4 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email