Jantung

Hipertensi Pulmonal

Diterbitkan: 13 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Hipertensi Pulmonal
Hipertensi pulmonal terjadi karena penyempitan pembuluh darah arteri paru-paru
Hipertensi pulmonal adalah kondisi tekanan darah tinggi yang terjadi pada pembuluh darah arteri pulmonalis. Arteri ini membawa darah minim oksigen dan kaya karbon dioksida dari bilik kanan jantung, kembali ke paru-paru.Pada kondisi normal, angka tekanan arteri pulmonalis berkisar antara 8-20 mmHg. Menurut Simposium Hipertensi Pulmonal Dunia tahun 2018 di Perancis, seseorang dianggap mengalaminya jika memiliki peningkatan tekanan darah arteri pulmonalis lebih dari 20 mmHg.Pada kondisi yang juga disebut pulmonary arterial hypertension (PAH) ini, pembuluh darah di paru-paru mengalami penyempitan, penyumbatan, atau rusak. Hal ini menyebabkan aliran darah melambat dan tekanan darah dalam pembuluh darah meningkat.Sebagai akibatnya, jantung perlu bekerja lebih keras untuk memompa darah. Bila kondisi ini terus dibiarkan, otot jantung akan melemah.Pada beberapa kasus, hipertensi pulmonal dapat mengancam nyawa. Karena itu penanganan yang tepat sangat diperlukan guna membantu dalam mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. 
Hipertensi Pulmonal
Dokter spesialis Jantung
GejalaSesak napas, mudah lelah, pusing atau pingsan mendadak
Faktor risikoUsia tua, obesitas, penyakit jantung bawaan
Metode diagnosisEkokardiogram, EKG, tes pencitraan
PengobatanTerapi oksigen, obat-obatan, operasi
ObatObat antikoagulan, obat antihipertensi, obat pengencer darah
KomplikasiGagal jantung, aritmia, pembentukan gumpalan darah
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala hipertensi pulmonal, memiliki risiko tinggi
Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mencurigakan. Tetapi pada tahap lanjut, gejala hipertensi pulmonal dapat berupa:
  • Sesak napas, awalnya saat berolahraga saja. Namun bila dibiarkan, keluhan ini juga dapat muncul ketika penderita sedang beristirahat.
  • Mudah lelah.
  • Merasa pusing.
  • Sesak dan nyeri pada dada.
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki dan perut.
  • Perubahan warna kulit dan bibir.
  • Jantung berdebar.
  • Pingsan mendadak.
Baca juga: Jangan Panik! Lakukan Cara Ini Untuk Pertolongan Pertama Sesak Napas 
Penyebab hipertensi pulmonal adalah tekanan darah tinggi pada arteri paru-paru. Bagaimana kondisi ini bisa terjadi?Perubahan pada sel yang melapisi dinding pembuluh darah dapat menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi kaku, bengkak, dan tebal. Perubahan ini akan membuat aliran darah menuju paru-paru melambat atau tersumbat. Kondisi inilah yang akan memicu hipertensi pulmonal. 

Klasifikasi hipertensi pulmonal

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi pulmonal terbagi dalam lima kelompok berikut:

1. Pulmonary arterial hypertension (PAH)

Penyebab PAH meliputi:
  • Idiopatik, yakni penyebab yang tidak diketahui
  • Faktor keturunan berupa mutasi genetik
  • Penggunaan obat penurun berat badan atau obat terlarang seperti amfetamin
  • Penyakit jantung bawaan
  • Kondisi medis lain, seperti penyakit jaringan ikat (skleroderma, lupus), HIV, atau Penyakit hati kronis (sirosis)

2. Hipertensi pulmonal akibat penyakit jantung kiri

Penyebabnya meliputi:
  • Kelainan katup jantung kiri, seperti katup mitral atau katup aorta
  • Gagal jantung kiri

3. Hipertensi pulmonal akibat penyakit paru

Penyebabnya meliputi:

4. Hipertensi pulmonal akibat gumpalan darah kronis

Penyebabnya meliputi:
  • Emboli paru, yakni terbentuknya gumpalan darah pada paru-paru
  • Penyakit pembekuan darah

5. Hipertensi pulmonal yang dipicu oleh kondisi medis lain

Penyebabnya meliputi:
  • Kelainan darah, seperti polisitemia vera dan trombositopenia
  • Penyakit peradangan seperti sarkoidosis dan vaskulitis
  • Penyakit metabolik, termasuk gangguan penyimpanan glikogen
  • Penyakit ginjal
  • Tumor yang menekan arteri pulmonalis
 

Faktor risiko hipertensi pulmonal

Beberapa faktor bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk terkena hipertensi pulmonal. Faktor-faktor risiko ini meliputi:

1. Usia

Usia tua dapat meningkatkan risiko hipertensi pulmonal. Pasalnya, kondisi ini lebih sering ditemukan pada pasien berusia 30-60 tahun. Namun tipe hipertensi pulmonal idiopatik lebih umum terjadi pada dewasa muda.

2. Keturunan

Orang yang memiliki keluarga kandung yang mengidap hipertensi pulmonal, akan lebih berisiko untuk mengalami kondisi yang sama.

3. Obesitas

Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas harus waspada karena risikonya untuk terkena hipertensi pulmonal juga akan lebih tinggi.

4. Obat-obatan tertentu

Ada beberapa jenis obat yang dikatakan mampu meningkatkan kemungkinan hipertensi pulmonal. Contohnya, obat-obatan penurun berat badan tertentu dan obat depresi atau cemas golongan SSRI.

5. Kondisi medis tertentu

Gangguan pembekuan darah atau riwayat keluarga dengan gumpalan darah di paru-paru juga bisa mempertinggi risiko seseorang untuk mengalami hipertensi pulmonal. Demikian pula dengan orang yang memiliki penyakit genetik, seperti penyakit jantung bawaan.

6. Faktor risiko lainnya

  • Paparan asbes
  • Tinggal di daratan tinggi
  • Penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain
 
Diagnosis hipertensi pulmonal umumnya ditentukan dengan cara-cara berikut:
  • Tanya jawab

Hipertensi pulmonal tahap awal termasuk sulit dideteksi. Dokter biasa akan menanyakan riwayat kondisi ini dalam keluarga pasien serta gejala yang mungkin dirasakan oleh pasien.
  • Ekokardiogram

Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk memperoleh gambaran mengenai ukuran, struktur, gerakan, serta kinerja jantung.
  • Elektrokardiogram (EKG)

Prosedur EKG menggunakan alat yang ditempelkan di dada pasien untuk mendeteksi sinyal listrik di jantung. Tes ini merupakan pemeriksaan utama dalam mendiagnosis hipertensi pulmonal. 
  • Tes pencitraan

Tes pencitraan digunakan untuk memperoleh gambar kondisi jantung pasien. Beberapa jenis pemeriksaan pemindaian yang bisa disarankan oleh dokter meliputi rontgen dadaCT scanMRI, dan PET scan.
  • Tes darah

Dokter juga dapat melakukan tes darah guna memeriksa kemungkinan hipertensi pulmonal.
  • Kateterisasi jantung

Jika hasil pemeriksaan ekokardiogram menunjukkan hipertensi pulmonal, dokter akan menganjurkan kateterisasi jantung. Pemeriksaan ini bertujuan mengukur tekanan di arteri pulmonalis dan ruang bawah kanan jantung (ventrikel kanan) secara langsung.Baca juga: Seberapa Sering dan Penting Melakukan Medical Check-Up? 
Cara mengobati hipertensi pulmonal bervariasi untuk tiap penderita. Ini berarti, penanganannya akan spesifik dan tergantung pada kondisi dan usia pasien, serta tingkat keparahan penyakit.Pada umumnya, pengobatan hipertensi pulmonal dapat berupa:
  • Penanganan kondisi yang mendasari hipertensi pulmonal

Dokter akan melakukan pengobatan pada kondisi yang menyebabkan hipertensi pulmonal. Misalnya, mengobati penyakit paru seperti PPOK yang diderita oleh pasien.
  • Terapi oksigen

Dengan terapi oksigen, dokter akan memasang selang oksigen lewat hidung untuk membantu pasien bernapas. Terapi ini dilakukan bila pasien mengalami sesak napas dan memiliki kadar oksigen yang rendah dalam tubuhnya.
  • Obat pengencer darah

Obat pengencer darah (antikoagulan) diberikan pada pasien yang berisiko tinggi mengalami penggumpalan darah.
  • Obat antihipertensi

Pada pasien dengan hipertensi pulmonal berat, dokter bisa memberikan obat calcium channel blockers. Obat ini berfungsi menurunkan tekanan darah.Bila obat calcium channel blockers kurang efektif, dokter akan meresepkan obat-obatan lain untuk membantu dalam membuka pembuluh darah yang menyempit.
  • Operasi

Pada hipertensi pulmonal yang parah, dokter dapat merekomendasikan operasi. Contohnya, transplantasi paru atau atrial septostomy.Pada atrial septostomy, dokter akan membuat lubang di antara jantung kiri dan kanan pasien. Prosedur ini memiliki efek samping yang serius, sehingga harus benar-benar dipertimbangkan terlebih dulu. 

Komplikasi hipertensi pulmonal

Bila dibiarkan, hipertensi pulmonal dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang meliputi:
  • Pembesaran jantung kanan dan gagal jantung (kor pulmonal)

Pada kor pulmonal, ruang jantung kanan akan membesar. Karena itu, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui arteri pulmonalis yang menyempit atau tersumbat.Awalnya, jantung akan melakukan kompensasi dengan menebalkan dindingnya dan melebarkan ruang jantung kanan untuk meningkatkan kapasitas penampungan darah. Tetapi perubahan ini akan menyebabkan gagal jantung di kemudian hari.
  • Terbentuknya gumpalan darah

Hipertensi pulmonal dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di pembuluh darah kecil paru-paru. Kondisi ini sangat berbahaya jika pembuluh darah tersebut sudah menyempit atau tersumbat.
  • Gangguan irama jantung (aritmia)

Hipertensi pulmonal dapat menyebabkan gangguan irama jantung atau aritmia. Kondisi ini ditandai dengan jantung berdebar, pusing, atau pingsan. Beberapa jenis aritmia dapat mengancam nyawa.
  • Perdarahan paru-paru

Hipertensi pulmonal dapat memicu perdarahan pada paru-paru dan batuk darah. Kondisi ini berbahaya dan mengancam nyawa.
  • Komplikasi pada kehamilan

Hipertensi pulmonal sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup sang ibu dan janin. 
Cara mencegah hipertensi pulmonal tergantung pada penyebabnya. Pasalnya, tidak semua pemicu kondisi ini bisa dihindari.Langkah terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Misalnya, mengatur agar pola makan dengan gizi seimbang, memastikan berat badan berada pada batas ideal, tidak merokok, rutin berolahraga, serta cukup beristirahat. 
Bila mengalami gejala hipertensi pulmonal atau khawatir karena berisiko tinggi mengalami kondisi ini, Anda sebaiknya mengatur jadwal untuk berkonsultasi dengan dokter. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda atau keluarga Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipertensi pulmonal?
  • Apakah ada anggota keluarga kandung Anda yang juga mengalami gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis hipertensi pulmonal. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-hypertension/symptoms-causes/syc-20350697
Diakses pada 21 November 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/pulmonaryhypertension.html
Diakses pada 21 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/pulmonary-hypertension/
Diakses pada 21 November 2018
European Respiratory Journal. https://erj.ersjournals.com/content/53/3/1900038
Diakses pada 12 Oktober 2020
WebMD. https://www.webmd.com/lung/pulmonary-arterial-hypertension
Diakses pada 12 Oktober 2020
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/pulmonary-artery-anatomy-1763912
Diakses pada 12 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email