Penyakit Lainnya

Hipertiroidisme

Diterbitkan: 27 Oct 2020 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Hipertiroidisme
Hipertiroidisme bisa memicu detak jantung yang abnormal
Hipertiroidisme adalah kondisi tingginya kadar hormon tiroid dalam darah. Kondisi ini terjadi karena kelenjar tidoid yang terlalu aktif atau asupan hormon tiroid yang berlebihan.Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar ini terletak di depan leher, tepatnya di bawah jakun.Ada banyak hal yang menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif. Namun penyebab paling sering adalah penyakit Graves. Hipertiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid terlalu aktif dan memproduksi hormon tiroid yang berlebihan. Hormon tiroid meliputi tiroksin (T4) dan triodotironin (T3), dengan T3 merupakan hormon tiroid yang paling aktif. Sebagian besar T4 diubah menjadi T3 di dalam darah.
Hipertiroidisme
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDetak jantung cepat, mudah berkeringat, penurunan berat badan
Faktor risikoFaktor keturunan, penyakit kronis tertentu
Metode diagnosisTes hormon tiroid, USG kelenjar tiroid
PengobatanObat, radioactive iodine, operasi
ObatMetimazol, propiltiourasil, propanolol
KomplikasiMasalah jantung, osteoporosis, masalah mata
Kapan harus ke dokter?Demam, detak jantung cepat, penurunan kesadaran
Secara umum, tanda dan gejala hipertiroidisme meliputi:
  • Nafsu makan yang meningkat
  • Gugup dan gelisah
  • Tidak bisa konsentrasi
  • Detak jantung yang cepat
  • Susah tidur
  • Gatal-gatal
  • Rambut rontok
  • Helai rambut yang rapuh dan mudah patah
  • Mual dan muntah
  • Gampang berkeringat
  • Perubahan pada siklus menstruasi
  • Perubahan pada pola buang air besar (BAB), misalnya lebih sering BAB
  • Penurunan berat badan
Mungkin saja ada tanda dan gejala hipertiroidisme yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Banyak kondisi yang dapat menjadi penyebab hipertiroid. Namun pemicu utamanya adalah penyakit Graves dan penyakit autoimun lain yang menyerang kelenjar tiroid.Penyakit Graves disebabkan gangguan sistem imun yang mengakibatkan produksi hormon tiroid berlebihan dalam darah. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki, dan dipengaruhi oleh faktor genetik.Selain penyakit Graves, penyebab lain dari hipertiroidisme meliputi:
  • Kelebihan iodium, yang terletak di T4 dan T3
  • Tiroiditis atau peradangan tiroid
  • Tumor di ovarium atau testis
  • Tumor jinak pada tiroid atau kelenjar pituitari
  • Suplemen atau obat T4
Di samping kondisi-kondisi kesehatan tersebut, ada pula sederet faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertiroidisme. Faktor-faktor risiko ini meliputi:
  • Memiliki anggota keluarga kandung yang mengalami penyakit Graves
  • Memiliki jenis kelamin wanita
  • Memiliki riwayat penyakit kronis, seperti diabetes tipe 1, anemia pernisiosa, dan insufisiensi adrenal primer

Hipertiroidisme dan kehamilan

Hipertiroidisme dapat terjadi pada ibu hamil maupun janin. Secara umum, wanita usia subur paling sering mengalami kelebihan hormon tiroid akibat penyakit Graves.Meski begitu, wanita hamil dapat mengidap hipertiroidisme untuk sementara waktu karena kadar hormon hCG yang tinggi.Penyakit Graves dapat terjadi pertama kali pada trimester pertama kehamilan, atau memburuk pada wanita yang pernah mengalami hipertiroidisme. 
Diagnosis hipertiroidisme dapat dipastikan melalui:WawancaraPada saat tanya jawab, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang Anda alami dan faktor risiko hipertiroid yang Anda miliki.Pemeriksaan fisik Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda hipertiroid yang meliputi:
  • Penurunan berat badan
  • Nadi yang cepat
  • Tekanan darah tinggi
  • Mata yang menonjol
  • Pembengkakan kelenjar tiroid dengan meraba leher
Tes darahPemeriksaan ini bisa meliputi tes kadar T4, free T4, T3, untuk mengukur seberapa banyak hormon tiroid dalam darah. Dokter juga akan menganjurkan tes thyroid stimulating hormone (TSH).TSH adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari guna merangsang kelenjar tiroid agar memproduksi hormon tiroid.Scanning kelenjar tiroidPemeriksaan ini bertujuan mendeteksi apakah kelenjar tiroid terlalu aktif atau tidak, dan apakah seluruh atau hanya sebagian kelenjar yang memiliki aktivitas melebihi normal.USGPemeriksaan ini dapat mendeteksi ukuran kelenjar tiroid beserta benjolan yang mungkin terbentuk. Isi benjolan ini juga dapat diketahui, misalnya padat atau cairan.CT scan atau MRICT scan atau MRI dapat menunjukkan apakah tumor pituitari menjadi penyebab hipertiroidisme atau tidak. 
Cara mengobati hipertiroidisme umumnya tergantung pada tingkat keparahannya dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut.Beberapa metode penanganan hipertiroidisme meliputi:

Obat-obatan

Dokter bisa meresepkan beberapa pilihan obat berikut:
  • Obat antitiroid untuk menurunkan kadar hormon tiroid dalam darah, seperti metimazol dan propilthiourasil (PTU).
  • Obat untuk mengurangi gejala hipertiroid, seperti gemetaran dan detak jantung cepat. Beta blocker seperti propranolol merupakan contoh obatnya.

Radioactive iodine

Prinsip terapi radioactive iodine adalah menggunakan radiasi untuk menghancurkan sel kelenjar tiroid, yang memproduksi hormon tiroid secara berlebihan.Namun ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi. Contohnya, mulut kering, mata kering, sakit tenggorokan, dan perubahan fungsi indra pengecap.Tindakan pencegahan mungkin perlu diambil sesaat setelah pengobatan untuk mencegah radiasi.

Operasi pengangkatan kelenjar tiroid (tiroidektomi)

Tiroidektomi dapat dilakukan pada sebagian atau seluruh kelenjar tiroid. Operasi ini dianjurkan apabila hipertiroidisme disebabkan atau disertai dengan:
  • Kanker tiroid
  • Pembesaran kelenjar tiroid yang menimbulkan rasa tidak nyaman, kesulitan bernapas, atau susah menelan
  • Penanganan dengan obat antitiroid tidak berhasil
  • Efek samping obat antitiroid yang parah
  • Tidak ingin menjalani terapi radioactive iodine
  • Pembesaran nodul tiroid dengan penyebab yang tidak bisa diketahui, atau diduga akibat kanker tiroid
Pada pasien yang hanya memproduksi sedikit hormon pascaoperasi, mereka memerlukan suplemen hormon tiroid untuk mencegah kekurangan hormon ini atau hipotiroidisme.

Komplikasi hipertiroidisme

Jika tidak ditangani dengan benar, hipertiroidisme dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Masalah jantung yang meliputi gangguan irama jantung (fibrilasi atrium). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung kongestif.
  • Tulang yang rapuh dan mengalami pengeroposan (osteoporosis)
  • Gangguan mata, seperti bola mata yang menonjol keluar, sensitif terhadap cahaya, dan pandangan kabur atau ganda. Pada kasus berat, dapat terjadi kebutaan.
  • Masalah kulit, seperti kulit yang membengkak dan berwarna merah.
  • Krisis tiroid dengan gejala demam, detak jantung yang sangat cepat, dan penurunan kesadaran.
  • Pada ibu hamil, hipertiroidisme bisa memicu persalinan dini (prematur), preeklamsia, dan gejala hipertiroid yang berat (badai tiroid).
  • Pada janin, hipertiroid selama kehamilan dapat memicu detak jantung janin yang cepat, berat lahir rendah, kelahiran prematur, cacat lahir, serta kematian bayi dalam kandungan.
 
Pada kebanyakan kasus, hipertiroidisme tidak dapat dicegah. Pasalnya, penyakit ini diturunkan secara genetik. 
Hubungi dokter bila apabila Anda mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
  • Demam
  • Detak jantung terasa cepat
  • Penurunan kesadaran seperti kebingungan
Keluhan tersebut merupakan gejala krisis tiroid yang memerlukan penanganan darurat. Anda juga perlu memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami tanda dan gejala lain yang terasa mencurigakan. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipertiroidisme?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipertiroidisme agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Drugs. https://www.drugs.com/health-guide/hyperthyroidism.html
Diakses pada Januari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/hyperthyroidism#treatment
Diakses pada Januari 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hyperthyroidism/symptoms-causes/syc-20373659
Diakses pada Januari 2019
American Thyroid Association. http://www.thyroid.org/hyperthyroidism-in-pregnancy/
Diakses pada 19 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email