Penyakit Lainnya

Hipogonadisme

Diterbitkan: 16 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Hipogonadisme
Hipogonadisme dapat memicu terlambat pubertas, rendahnya gairah seksual, dan rambut rontok
Hipogonadisme adalah kondisi hormon seks yang terlalu rendah, bahkan tidak ada sama sekali. Gangguan medis ini juga sering dikenal dengan sebutan defisiensi gonadPada kondisi normai, hormon ini dihasilkan oleh kelenjar seksual yang disebut kelenjar gonad. Kelenjar gonad pada pria berupa testis, sedangkan pada wanita adalah ovarium.Kelenjar gonad berperan menghasilkan hormon reproduksi atau hormon seks. Hormon ini berguna untuk mengendalikan karakteristik seks sekunder. Contohnya, perkembangan testis, payudara, rambut kemaluan, siklus menstruasi, dan produksi sperma.Kelenjar testis pada pria berfungsi memproduksi testosteron, yakni hormon reproduksi pria yang utama. Karena itu, hipogonadisme pada pria muncul akibat kadar hormon testosteron yang rendah.Sementara kelenjar ovarium pada wanita bertugas menghasilkan hormon estrogen, progesteron, dan testosteron. Hipogonadisme pada wanita terjadi karena kadar hormon estrogen dan progesteron yang rendah. 

Jenis-jenis hipogonadisme

Pada umumnya, terdapat dua jenis hipogonadisme di bawah ini:
  • Hipogonadisme primer

Penderita hipogonadisme primer mengalami gangguan pada kelenjar gonad, sehingga produksi hormon reproduksi akan berkurang.Otak penderita memang masih mengirimkan sinyal untuk menghasilkan hormon. Tetapi kelenjar gonad tidak mampu menghasilkan hormon.
  • Hipogonadisme sekunder (sentral)

Pada hipogonadisme jenis sekunder atau sentral, gangguan terjadi pada otak. Bagian otak bernama hipotalamus dan kelenjar pituitari, tidak dapat menghasilkan sinyal untuk memproduksi hormon. 
Hipogonadisme
Dokter spesialis Endokrin
GejalaPayudara lambat tumbuh, tidak haid, rambut tubuh yang rontok
Faktor risikoPenyakit genetik, kondisi autoimun, infeksi berat
Metode diagnosisTes hormon, tes darah, pencitraan
PengobatanTerapi pengganti hormon, operasi
ObatObat pengganti hormon estrogen atau testosteron
KomplikasiGangguan perkembangan janin, masalah pertumbuhan dan perkembangan testis, kemandulan
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala hipogonadisme
Gejala hipogonadisme bisa bervariasi dan tergantung jenis kelamin pasien. Mari simak penjelasan berikut:

Gejala hipogonadisme pada wanita

  • Pertumbuhan payudara lambat atau tidak tumbuh sama sekali
  • Tidak haid atau berkurangnya masa menstruasi
  • Mengalami hot flashes, yakni badan terasa panas dan berkeringat
  • Rendahnya atau tidak adanya gairah seksual
  • Keluarnya carian putih kental seperti susu dari payudara
  • Kerontokan pada rambut tubuh

Gejala hipogonadisme pada pria

  • Kerontokan rambut di tubuh
  • Kehilangan massa otot
  • Pertumbuhan payudara yang abnormal
  • Pertumbuhan penis dan testis yang terhambat
  • Disfungsi ereksi
  • Rendahnya atau hilangnya gairah seksual
  • Mandul
  • Osteoporosis
  • Mudah lelah
  • Kesulitan konsentrasi
  • Badan terasa panas
Baca jawaban dokter: Mengapa payudara belum tumbuh? 
Gangguan pada kelenjar gonad atau otak akan mempengaruhi produksi hormon reproduksi dan memicu hipogonadisme. Tetapi hingga saat ini, penyebab hipogonadisme belum diketahui secara jelas.Menurut para pakar, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami hipogonadisme. Faktor-faktor risiko ini meliputi:

Faktor risiko hipogonadisme primer

  • Penyakit genetik seperti Sindrom Klinefelter dan Sindrom Turner
  • Penyakit autoimun seperti penyakit Addison dan hipoparatirodisme
  • Infeksi berat, terutama gondongan yang melibatkan testis (orchitis karena penyakit gondongan atau mumps
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati
  • Kriptorkismus atau testis tidak turun
  • Cedera pada testis
  • Hemochromatosis
  • Perawatan onkologi (efek samping pengobatan kanker seperti radioterapi)
  • Pembedahan pada organ-organ seksual
Faktor risiko hipogonadisme sekunder
  • Penyakit genetik seperti sindrom Kallmann (perkembangan abnormal dari hipotalamus)
  • Penyakit inflamasi seperti sarkoidosistuberkulosis dan histiositosis
  • Gangguan hipofisis, seperti cedera atau tumor
  • Cedera pada hipotalamus
  • Infeksi seperti HIV/AIDS
  • Obat-obatan tertentu seperti steroid, opiat
  • Obesitas (berat badan berlebih)
  • Penurunan berat badan yang terlalu cepat
  • Kekurangan nutrisi
  • Operasi otak
  • Paparan radiasi
  • Proses penuaan
  • Stres secara fisik maupun emosional akibat penyakit tertentu atau setelah pembedahan
Jenis hipogonadisme primer dan sekunder dapat terjadi secara bersamaan.Hipogonadisme juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Jadi orang dengan keluarga kandung yang mengalami kondisi ini berpotensi lebih besar untuk terkena penyakit yang sama. 
Untuk menentukan diagnosis hipogonadisme, dokter akan melakukan serangkaian langkah di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, riwayat medis, serta upaya pengobatan yang telah dilakukan oleh pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan melihat perkembangan seksual pasien berdasarkan usianya. Misalnya, massa otot, rambut kemaluan, dan organ seksual.
  • Tes kadar hormon

Tes hormon akan mengecek kadar hormon FSH dan LH dalam tubuh pasien. Kedua hormon reproduksi ini dihasilkan oleh kelenjar pituitari.Selanjutnya, dokter akan memeriksa kadar hormon estrogen pada pasien wanita dan hormon testosteron pada pasien pria. Dokter juga akan melakukan analisis semen untuk menghitung kadar sperma pasien.
  • Tes darah

Tes darah dilakukan untuk membantu dalam mendiagnosis dan mengeliminasi penyebab lainnya.
  • Tes pencitraan

Pemeriksaan pencitraan untuk melihat ada tidaknya kista atau polycystic ovary syndrome juga dapat dianjurkan, seperti USG ovarium. Sedangkan MRI atau CT scan bisa dilakukan untuk memeriksa kondisi kelenjar pituitari.
  • Pemeriksaan kadar zat besi

Pemeriksaan zat besi dilakukan guna mencari penyebab yang mendasari hipogonadisme.
  • Pemeriksaan lain

Bila dibutuhkan, pemeriksaan lain juga akan dilakukan oleh dokter. Contohnya, biopsi dan studi genetika. 
Cara mengobati hipogonadisme akan tergantung pada jenis kelamin pasien. Berikut penjelasannya:

1. Pengobatan hipogonadisme pada wanita

Tujuan penanganan hipogonadisme pada pasien wanita adalah meningkatkan jumlah hormon seksual wanita dengan cara:
  • Terapi estrogen

Terapi hormon estrogen akan diberikan jika pasien telah menjalani histerektomi.
  • Terapi estrogen dan progesteron

Terapi kombinasi estrogen dan progesteron apabila pasien belum menjalani histerektomi. Terapi progesteron bertujuan mengurangi risiko kanker endometrium yang dmeningkat karena hormon estrogen.
  • Perawatan lain

Dokter juga dapat melakukan penanganan lain yang sesuai dengan gejala spesifik pada pasien. Contohnya, jika pasien mengalami haid tidak teratur atau sulit hamil, dokter akan memberikan suntikan choriogonadotropin atau pil yang mengandung FSH untuk memicu ovulasi.

2. Pengobatan hipogonadisme pada pria

Sementara itu, perawatan hipogonadisme pada pria bisa berupa:
  • Terapi pengganti testoteron (TRT)

Terapi hormon testoteron dapat berupa suntikan, patch (koyo), gel, dan tablet.
  • Terapi hormon pelepas gonadotropin

Suntikan hormon pelepas gonadotropin akan diberikan guna memicu pubertas atau meningkatkan produksi sperma.Perawatan hipogonadisme untuk pria dan wanita bisa saja serupa apabila ada tumor pada kelenjar pituitari. Dokter akan mengecilkan atau mengangkat tumor dengan radioterapi, obat-obatan, maupun operasi. 

Komplikasi hipogonadisme

Jika tidak ditangani dengan benar, hipogonadisme dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gangguan perkembangan janin
  • Masalah pertumbuhan
  • Gangguan perkembangan testis
  • Kemandulan
  • Osteoporosis
  • Gairah seksual yang menurun
  • Ginekomastia
  • Tubuh yang tidak proporsional
  • Kebotakan
  • Disfungsi ereksi
 
Karena penyebabnya belum diketahui secara pasti, cara mencegah hipogonadisme secara khusus juga belum tersedia. Namun Anda dapat melakukan beberapa langkah di bawah ini untuk mengurangi risikonya:
  • Menjaga kebugaran tubuh
  • Mempertahankan berat badan agar berada pada batas normal
  • Menerapkan pola makan sehat dengan gizi seimbang
 
Berkonsultasilah dengan dokter jika Anda atau anak Anda mengalami gejala yang mencurigakan dan mengarah pada hipogonadisme. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejaa muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipogonadisme, misalnya penyakit genetik tertentu?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis hipogonadisme. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/hypogonadism
Diakses pada 3 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/es-es/diseases-conditions/male-hypogonadism/symptoms-causes/syc-20354881
Diakses pada 3 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001195.htm
Diakses pada 3 Desember 2018
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15216-low-sex-drive-hypogonadism
Diakses pada 16 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email