Kepala

Hipotermia

Diterbitkan: 24 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hipotermia
Menggigil adalah respon tubuh terhadap paparan suhu dingin.
Hipotermia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika suhu tubuh berada di bawah 35°C (suhu tubuh normal adalah 37°C). Hipotermia dapat terjadi akibat paparan udara dingin yang berlebihan. Keadaan ini dapat membuat hidung, telinga, pipi, bahkan jari-jari tangan dan kaki terasa membeku.Dalam dunia medis, suhu tubuh manusia di bawah 35°C dikategorikan sebagai keadaan yang berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian apabila tidak ditangani dengan tepat.namun, penurunan suhu tubuh pada hipotermia terjadi secara bertahap sehingga terkadang seseorang yang menderita hipotermia tidak menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan medis.Hipotermia dapat mengakibatkan kerusakan yang besar pada bagian tubuh yang lain, seperti mengakibatkan detak jantung yang tidak normal, kerusakan ginjal, kerusakan otak, kerusakan hati, kerusakan jaringan otot-otot pada tubuh, serta dapat menyebabkan perubahan status mental serta hilangnya kesadaran.Kerusakan ini terjadi ketika mekanisme pengaturan panas mengalami kegagalan, sedangkan suhu tubuh terus menurun. Hipotermia dapat terjadi pada setiap orang yang terpapar suhu dingin terlalu lama. Misalnya, pada seseorang yang melakukan aktivitas luar ruangan di cuaca yang dingin atau berada di dalam air yang dingin dalam waktu yang lama.Meskipun begitu, risiko hipotermia lebih besar terjadi pada bayi maupun orang-orang lanjut usia. 
Hipotermia
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaKulit pucat, tubuh dingin saat disentuh, gemetar
Faktor risikoBayi, lansia, pengidap gangguan mental
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanPassive rewarming, airway rewarming, infus cairan, 
KomplikasiRadang dingin (frostbite), gangren, kematian
Kapan harus ke dokter?Memiliki gejala hipotermia
Hal pertama yang akan terjadi pada tubuh apabila terlalu lama terpapar dingin adalah menggigil, sebagai bentuk pertahanan tubuh untuk bertahan dari suhu dingin dan menghangatkan dirinya sendiri.Hipotermia digolongkan dalam tiga tahap dan memiliki gejala atau tanda yang berbeda-beda pada setiap tahapnya, sebagai berikut ini:

Hipotermia Ringan (suhu tubuh 32-35°C)

  • Pucat, tubuh dingin saat disentuh karena pembuluh darah menyempit, serta gemetar
  • Detak jantung dan pernapasan meningkat
  • Baal atau mati rasa pada anggota gerak tubuh
  • Respons lamban, kantuk, atau lesu

Hipotermia Sedang (suhu tubuh 28-32°C)

  • Mulai menurunnya tingkat kesadaran
  • Rasa gemetar akan mulai berkurang
  • Detak jantung dan napas melemah, serta adanya tekanan darah yang rendah
  • Mungkin terjadi inkontinensia urine (ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol buang air kecil) karena peningkatan kerja ginjal sebagai akibat dari terhambatnya aliran darah pada bagian tubuh lain

Hipotermia berat (suhu tubuh <28°C)

  • Hilangnya kesadaran dan respons
  • Jantung berdetak semakin lambat dan tidak teratur sebelum akhirnya berhenti jika suhu semakin turun dan dingin
  • Mata tidak dapat merespons terhadap cahaya
  • Otot-otot menjadi kaku
  • Nadi dan laju pernapasan mungkin ada, tetapi sulit untuk dideteksi
 
Hipotermia terjadi apabila suhu tubuh manusia menurun dengan cepat dan sulit untuk kembali ke suhu normal tubuh.Paparan yang lama pada situasi atau lingkungan dengan suhu yang lebih rendah daripada suhu tubuh dapat menyebabkan hipotermia, terutama jika tidak berpakaian sesuai dengan kondisi atau tidak dapat mengontrol kondisi tersebut.Hal-hal yang seringkali menyebabkan hipotermia adalah:
  • Terpapar cuaca dingin terlalu lama
  • Tubuh terendam dalam air yang begitu dingin pada jangka waktu yang cukup lama (seperti jatuh ke dalam air yang dingin karena kecelakaan pada saat berperahu)
  • Tidak menggunakan pakaian yang cukup hangat saat cuaca dingin
  • Penggunaan air conditioner (AC) secara berlebihan sehingga menyebabkan udara di ruangan menjadi terlalu dingin. 
  • Tubuh terpapar zat beracun
  • Infeksi seperti sepsis
Adapun faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya hipotermia adalah:
  • Usia
    Bayi dan lansia memiliki risiko paling tinggi terkena hipotermia. Sebab, kelompok usia tersebut kemampuan untuk mengatur suhu tubuhnya telah menurun.
  • Penyakit mental dan demensia
    Pasien pengidap penyakit mental, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, maupun demensia, memiliki risiko yang lebih besar untuk hipotermia. Sebab, para penderitanya sering tidak menyadari situasi yang sedang dialami.
  • Penggunaan alkohol dan narkoba
    Pengguna alkohol dan narkoba seringkali mengalami gangguan pada kemampuan tubuhnya dalam menanggapi rasa dingin. Mereka juga cenderung kehilangan kesadaran. Saat mereka tidak sadar ada di cuaca dingin dalam waktu yang lama, hal itu dapat mengarah pada terjadinya hipotermia.
  • Mengidap penyakit lain, seperti:
    • Hipotiroidisme, yang terjadi ketika kelenjar tiroid Anda menghasilkan terlalu sedikit hormon
    • Radang sendi
    • Dehidrasi
    • Diabetes
    • Penyakit Parkinson, sebagai gangguan sistem saraf yang memengaruhi gerakan
    • Stroke
    • Cedera tulang belakang
    • Terbakar
    • Kekurangan gizi
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu
    Beberapa obat antidepresan, sedatif, dan antipsikotik dapat memengaruhi kemampuan tubuh Anda untuk mengatur suhu.
  • Tinggal di area bersuhu rendah
 
Seseorang dapat dipastikan menderita hipotermia melalui gejala atau tanda yang terlihat secara fisik. Akan tetapi, mengingat seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipotermia, maka pemeriksaan darah juga dapat membantu mengonfirmasi hipotermia dan tingkat keparahannya.Setelah mendapatkan diagnosis yang pasti akan hipotermia, perawatan medis yang diberikan segera sangat penting untuk mencegah komplikasi. Semakin lama Anda menunggu, semakin banyak komplikasi yang akan timbul dari hipotermia.

Komplikasi dari hipotermia meliputi:

  • Radang dingin, atau kematian jaringan
  • Chilblains, atau kerusakan saraf dan pembuluh darah
  • Gangren, atau kerusakan jaringan
  • Trench foot, atau rusaknya saraf dan pembuluh darah akibat terendam air
  • Kematian
Baca juga: Bahaya Hipotermia pada Bayi yang Kehujanan 
Pengobatan yang dilakukan tergantung pada derajat keparahan hipotermia yang diderita. Sebagai langkah awal penanganan hipotermia, Anda dapat melakukan langkah-langkah pertolongan pertama sebagai berikut jika orang terdekat mengalami hipotermia:
  • Tangani penderita dengan lembut dan seperlunya ketika menangani pasien. Batasi pergerakan pada daerah yang benar-benar memerlukan. Jangan memijat atau menggosok orang tersebut karena pergerakan yang berlebihan dan kuat dapat menyebabkan henti jantung.
  • Pindahkan penderita dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih hangat dan kering untuk membantu mengembalikan panas tubuh, sehingga suhu tubuh dapat meningkat secara perlahan. Jika tidak dapat dipindahkan, maka lindungi orang tersebut dari udara dan angin yang dingin sebisa mungkin, serta pertahankan posisi tubuh terlentang sebisa mungkin.
  • Pastikan penderita dalam keadaan kering. Segera bantu penderita berganti pakaiannya apabila dalam keadaan basah, karena hal tersebut dapat membuat suhu tubuh penderita menjadi semakin menurun. Jika susah untuk dilepaskan, sobek atau gunting pakaian tersebut untuk menghindari gerakan berlebihan
  • Berikan tambahan rasa hangat secara perlahan dengan menggunakan selimut yang kering dan tutupi seluruh tubuh termasuk kepala, kecuali muka atau kompres dengan botol yang berisi air hangat. Apabila akan melakukan kompres, hanya lakukan pada bagian ketiak, leher, dada, atau bagian pangkal paha. Jangan meletakkan kompres hangat pada tangan atau kaki karena akan memaksa darah yang dingin untuk mengalir ke jantung, paru-paru, dan otak yang menyebabkan suhu inti tubuh semakin menurun.
  • Hindari menghangatkan daerah lengan atau kaki. Tindakan untuk menghangatkan seperti meletakkan kompres hangat atau memijat daerah lengan dan kaki berarti memaksa darah yang dingin dalam tubuh penderita kembali menuju jantung, paru-paru, bahkan otak. Hal tersebut sangat fatal karena dapat mengakibatkan suhu inti tubuh menurun lebih drastis.
  • Apabila penderita masih dalam keadaan sadar, berikan minuman manis dan hangat untuk membantu mengembalikan panas tubuh yang hilang. Hindari pemberian minuman yang mengandung alkohol dan kafein.
  • Jangan menghangatkan tubuh penderita dengan aliran panas secara langsung seperti yang terdapat pada air panas atau lampu pemanas. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit. Bahkan lebih buruk lagi, dapat menyebabkan detak jantung yang tidak normal dan berujung pada terhentinya detak jantung.
  • Lakukan pertolongan pertama dengan memacu jantung apabila tidak terdapat tanda-tanda kehidupan pada orang tersebut, seperti bernapas, batuk, atau pergerakan dari anggota tubuhnya.
  • Hubungi dokter agar penderita hipotermia dapat ditangani dengan lebih baik.
Selain memberikan pertolongan pertama, penanganan medis juga mungkin diperlukan berdasarkan tingkat keparahan hipotermia yang dialami pasien. Berikut ini penanganan medis yang biasa dilakukan untuk menangani hipotermia:
  • Passive rewarming. Tindakan ini dilakukan pada seseorang dengan hipotermia ringan, dengan menutupinya menggunakan selimut yang dipanaskan dan menawarkan minuman hangat.
  • Menghangatkan kembali darah. Tindakan ini dilakukan dengan mesin pencuci darah atau mesin hemodialisis yang biasa digunakan oleh pasien gagal ginjal. Darah akan dialirkan ke mesin untuk dihangatkan dan diedarkan kembali ke dalam tubuh. Pada beberapa kasus, mesin pacu jantung juga mungkin perlu digunakan bersamaan dengan tindakan ini.
  • Infus cairan hangat. Larutan khusus air dan garam yang hangat dapat dimasukkan ke dalam vena untuk membantu menghangatkan darah.
  • Airway rewarming. Pada metode ini, oksigen yang dilembapkan akan diberikan melalui masker atau tabung hidung agar saluran udara dapat dihangatkan, dan untuk  membantu meningkatkan suhu tubuh.
  • Larutan air garam hangat dapat digunakan untuk menghangatkan area tubuh tertentu, seperti area di sekitar paru-paru (pleura) atau rongga perut (rongga peritoneum). Cairan hangat tersebut biasanya dimasukkan dengan kateter.
 
Pencegahan hipotermia sangatlah penting unruk mengurangi terjadinya tingkat kematian berkaitan dengan kondisi ini. Beberapa sumber mengatakan bahwa ada tiga cara sederhana untuk mencegah tubuh Anda mengalami hipotermia, yaitu:
  • Menggunakan penutup kepala saat beraktivitas pada cuaca yang dingin. Selain itu, Anda lebih baik menggunakan sarung tangan dengan bahan rajut untuk membantu tubuh tetap hangat serta mencegah panas dari dalam tubuh menjadi cepat keluar.
  • Menghindari aktivitas-aktivitas yang dapat membuat banyak berkeringat saat beraktivitas di tengah cuaca dingin. Sebab, kombinasi dari pakaian yang basah akibat keringat serta cuaca yang dingin akan menyebabkan suhu tubuh menurun lebih cepat.
  • Menggunakan pakaian yang ringan tapi berlapis saat Anda berada di cuaca dingin untuk menjaga tubuh tetap hangat. Pakaian luar dengan bahan tahan air, baik untuk melindungi dari angin. Sementara itu, pakaian lapisan dalam sebaiknya terbuat dari bahan wool, sutera, atau polypropylene. Sebab, bahan-bahan ini dapat menahan panas lebih baik daripada bahan katun. Usahakan tetap kering sebisa mungkin. Segeralah ganti baju yang basah, dan jagalah terutama tangan dan kaki untuk tetap kering.
 
Sebaiknya, apabila Anda menemukan gejala-gejala yang mengarah kepada hipotermia terjadi pada orang-orang di sekitar, segera hubungi dokter untuk penanganan yang lebih lanjut.Sebab, apabila suhu tubuh terus menurun, maka bagian tubuh lain terutama jantung, paru-paru, bahkan otak, akan kesulitan untuk bekerja sebagaimana mestinya, sehingga dapat berakibat fatal. 
Jika masih kuat untuk memeriksakan diri ke dokter, atau Anda mengantar penderita hipotermia, berikut ini adalah persiapan yang sebaiknya dilakukan:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan oleh Anda atau penderita hipotermia.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh Anda atau penderita yang dianter.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang dirasakan oleh Anda atau penderita yang diantar?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda atau pasien yang diantar memiliki faktor risiko terkait hipotermia?
  • Apakah Anda atau penderita hipotermia rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pernah mendapatkan bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipotermia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
AAFP. https://www.aafp.org/afp/2004/1215/p2325.html
Diakses pada 28 Juli 2020
Better Health. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/hypothermia#
Diakses pada 28 Juli 2020
Jama Networks. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2676112
Diakses pada 28 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothermia/symptoms-causes/syc-20352682
Diakses pada 28 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-hypothermia/basics/ART-20056624?p=1
Diakses pada 28 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothermia/diagnosis-treatment/drc-20352688
Diakses pada 28 Juli 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/hypothermia#1
Diakses pada 28 Juli 2020
Medlineplus. https://medlineplus.gov/hypothermia.html
Diakses pada 28 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email