Penyakit Lainnya

Juvenile Arthritis

Diterbitkan: 02 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Juvenile Arthritis
Juvenile arthritis bisa ditandai dengan nyeri dan sendi hingga ruam kulit
Juvenile arthritis adalah radang sendi (artritis) pada anak-anak. Kondisi ini biasanya menyerang anak usia 16 tahun ke bawah, dan melibatkan peradangan atau pembengkakan pada jaringan sinovial (jaringan yang melapisi bagian dalam sendi).Kondisi juvenile arthritis merupakan penyakit autoimun. Ini berarti, sistem kekebalan tubuh salah paham dan malah menyerang sel-sel dan jaringan yang sehat.Penyakit ini juga bersifat idiopatik, yang berarti penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Para ahli percaya bahwa juvenile arthritis terkait dengan faktor genetik, infeksi, dan lingkungan.Juvenile arthritis  dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan kekakuan pada sendi. Sebagian anak dapat mengalami gejalanya selama beberapa bulan hingga seumur hidup.Beberapa jenis juvenile arthritis juga bisa memicu komplikasi serius. Misalnya, masalah pertumbuhan, kerusakan sendi, dan peradangan mata.Pengobatan juvenile arthritis berfokus pada mengendalikan nyeri dan peradangan, meningkatkan fungsi sendi, serta mencegah kerusakan sendi. 
Juvenile Arthritis
Dokter spesialis Anak
GejalaNyeri sendi, kaku sendi, pergerakan sendi yang terbatas
Faktor risikoKeturunan, infeksi, lingkungan
Metode diagnosisTes darah, pemeriksaan pencitraan, scan tulang
PengobatanObat-obatan, kompres dingin atau hangat, krim pereda nyeri
ObatOAINS, kortikosteroid, DMARD
KomplikasiGangguan mata, gangguan pertumbuhan
Kapan harus ke dokter?Nyeri sendi, pembengkakan atau kekakuan yang lebih dari seminggu, demam
Gejala juvenile arthritis dapat bersifat hilang timbul. Ada masa ketika gejala memburuk (kambuh), dan ada pula masa ketika gejala membaik (remisi).Secara umum, gejala artritis pada anak ini dapat berupa:
  • Nyeri sendi
  • Bengkak pada sendi
  • Gerakan sendi yang terbatas
  • Area sendi membengkak dan terasa hangat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Demam
  • Kekakuan sendi
  • Ruam pada kulit
  • Rasa lelah
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Peradangan pada mata
  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, berpakaian, dan bermain
 

Jenis-jenis juvenile ahrtitis

Juvenile arthritis terdiri atas beberapa jenis di bawah ini:

1. Juvenile idiopathic arthritis

Jenis juvenile arthritis ini paling sering ditemukan dan terbagi lagi dalam beberapa tipe berikut:
  • Artritis sistemik

Penyakit yang disebut juga Still’s disease ini dapat menyerang seluruh bagian tubuh atau meliputi banyak sistem organ dalam tubuh.Kondisi ini dapat menyebabkan demam tinggi dan ruam pada kulit. Ruam biasanya ditemukan pada batang tubuh, lengan, dan kaki.Artritis sistemik juga dapat menyerang organ dalam seperti jantung, hati, dan limpa.
  • Oligoartritis

Oligoartritis menyerang kurang dari lima sendi pada enam bulan pertama. Sendi yang terlibat adalah lutut, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki.Penyakit yang juga disebut pauciarticular juvenile rheumatoid arthritis ini dapat menyerang mata dan menyebabkan uveitis atau iritis.
  • Poliartritis

Poliartritis melibatkan lima atau lebih sendi pada enam bulan pertama. Artritis tipe ini juga dapat melibatkan rahang dan leher selain sendi pada tangan dan kaki.
  • Artritis psoriasis

Artritis psoriasis dialami oleh anak dengan radang sendi dan penyakit kulit psoriasis. Psoriasis dapat muncul sebelum artritis dan sebaliknya. Anak dengan penyakit ini seringkali mengalami pitted fingernails (kuku berlekuk).
  • Enthesitis-related arthritis

Artritis tipe ini sering melibatkan tulang belakang, pinggul, mata, dan entheses (tempat menempelnya tendon pada tulang). Enthesitis-related arthritis sering terjadi pada anak laki-laki berusia delapan tahun ke atas.

2. Juvenile myositis

Kondisi peradangan ini menyebabkan kelemahan pada otot. Terdapat dua tipe juvenile myositis, yaitu juvenile polymyositis dan juvenile dermatomyosis, yang juga menyebabkan ruam pada kelopak mata dan buku-buku jari tangan.

3. Juvenile lupus

Penyakit autoimun ini dapat menyerang sendi, kulit, dan organ dalam seperti jantung, ginjal, dan paru-paru. Bentuk yang paling umum adalah SLE (systemic lupus erythematosus)

4. Juvenile scleroderma

Skleroderma merupakan kondisi medis yang menyebabkan kulit mengencang dan mengeras.

5. Vaskulitis

Jenis penyakit ini menyebabkan peradangan pada pembuluh darah yang dapat memicu terjadinya kelainan pada jantung. Penyakit Kawasaki dan Henoch-Schonlein purpura (HSP) merupakan jenis vaskulitis yang paling sering ditemukan pada anak dan remaja.

6. Fibromialgia

Penyakit ini merupakan sindrom nyeri kronis yang dapat menyebabkan nyeri dan kaku otot disertai lelah, gangguan tidur, dan gejala lainnya. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan. 
Hingga sekarang, penyebab juvenile arthritis belum diketahui secara pasti. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringannya sendiri.Para kakar menduga bahwa penyakit ini dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan. 

Faktor risiko juvenile arthritis 

Faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan menjadi faktor risiko juvenile arthritis. Kelainan mutasi genetik tertentu dapat membuat seseorang lebih rentan terkena penyakit ini.Juvenile arthritis dapat terjadi pada individu dengan mutasi gen tersebut saat tubuhnya mengalami infeksi. 
Diagnosis juvenile arthritis cukup sulit karena kondisi ini bisa tidak bergejala, atau gejalanya mirip dengan penyakit lain. Karena itu, diagnosis akan dilakukan dengan menyingkirkan kemungkinan gangguan medis lain.Serangkaian metode diagnosis artritis pada anak meliputi:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat penyakit pasien maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa bagian-bagian tubuh yang mengalami gejala tertentu.
  • Tes darah lengkap

Tes darah yang dilakukan meliputi sel darah putih, sel darah merah, dan keping darah (platelet).
  • Tes C-reactiveprotein (CRP)

CRP adalah zat yang diproduksi oleh hati sebagai respons pada peradangan.
  • Tes faktor rheumatoid

Faktor rheumatoid dapat menyerang jaringan sehat pada tubuh, sehingga adanya protein ini seringkali mengindikasikan penyakit autoimun seperti artritis.
  • Tes antibodi antinuklear

Seperti faktor rheumatoid, anti-nuclear antibody (ANA) adalah protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh pada orang dengan penyakit autoimun.
  • Test HLA-B27

Tes ini mendeteksi penanda genetik untuk penyakit autoimun.
  • Tes urine

Selain pemeriksaan darah, tes urine juga seringkali dilakukan.
  • Tes kultur darah

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya bakteri yang dapat mengindikasikan infeksi di dalam aliran darah.
  • Tes deteksi virus dan penyakit Lyme

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi virus atau penyakit Lyme.
  • Tes sumsum tulang belakang

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa adanya leukemia.
  • Tes laju pengendapan eritrosit

Laju pengendapan eritrosit menilai seberapa cepat sel darah merah jatuh ke bawah tabung darah. Nilainya akan lebih cepat pada pasien dengan penyakit peradangan.
  • X-ray atau MRI

Pemeriksan pencitraan ini dapat digunakan untuk menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyebabkan peradangan sendi, atau nyeri, seperti infeksi dan retak.
  • Scan tulang

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi perubahan pada tulang dan sendi. Scan tulang dapat dilakukan bila terdapat nyeri pada tulang dan sendi tanpa penyebab yang jelas.
  • Pengambilan sampel cairan sendi

Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah tulang. 
Cara mengobati juvenile arthritis biasa tergantung pada tingkat keparahan gejala dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Meski begitu, penyakit ini termasuk tidak bisa disembuhkan.Secara umumnya, pengobatan juvenile arthritis bertujuan:
  • Meredakan nyeri
  • Mengurangi pembengkakan
  • Meningkatkan pergerakan dan kekuatan sendi
  • Mencegah kerusakan sendi dan komplikasi lainnya
Beberapa langkah pengobatan juvenile arthritis yang dapat direkomendasikan oleh dokter meliputi:

1. Pengobatan medis

Beberapa jenis obat-obatan yang dapat diberikan dokter antara lain:
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)

Obat jenis ini digunakan untuk mengatasi nyeri dan bengkak. Beberapa jenis OAINS tersedia secara bebas dan ada juga OAINS yang diberikan dengan resep dokter. Contohnya adalah ibuprofen dan naproxen.Efek samping obat ini adalah mual dan nyeri perut, sehingga obat perlu dikonsumsi setelah makan.
  • Disease-modifying anti-rheumatic drug (DMARD)

Obat jenis ini digunakan untuk mengatasi nyeri dan bengkak dan biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu hingga efek bekerja. Dokter dapat meresepkan obat ini bersamaan dengan OAINS.Beberapa contoh obatnya adalah methotrexate, hydroxychloroquine, sulfasalazine, dan anti-TNF.
  • Kortikosteroid

Obat kortikosteroid juga digunakan untuk meredakan nyeri dan bengkak. Obat ini dapat diberikan melalui suntikan pada sendi atau dalam bentuk tablet yang diminum.Obat tablet cenderung dihindari karena dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menyebabkan efek samping berupa peningkatan berat badan.
  • Obat antimetabolite

Obat jenis ini berperan mengurangi kerusakan sendi lebih lanjut dan menjaga fungsi sendi.

2. Pengobatan mandiri di rumah

Selain obat-obatan, dokter akan menyarankan pengobatan mandiri yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri. Pengobatan mandiri tersebut meliputi:
  • Pola makan yang sehat

Mengonsumsi makanan yang sehat (sayur, buah, gandum utuh, ikan) dan menghindari makanan kaya lemak, makanan manis, dan makanan kemasan dapat membantu mengurangi peradangan.
  • Terapi hangat dan terapi dingin

Terapi hangat, menggunakan air hangat dan kompres hangat dapat meredakan sendi yang kaku dan otot yang lelah. Sementara terapi dingin seperti kompres dingin dapat meredakan nyeri dan peradangan pada kondisi akut.
  • Krim pereda nyeri

Beberapa krim pereda nyeri dapat diberikan untuk meredakan nyeri pada sendi atau otot.
  • Meditasi

Meditasi, menarik napas dalam, dan terapi pengalihan (mendengarkan musik atau membaca) dapat membuat anak lebih relaks dan teralihkan dari rasa nyeri dalam beberapa saat.
  • Pijat dan akupuntur

Pemijatan dapat meredakan nyeri dan mengurangi stres dan cemas. Pengobatan akupuntur yang melibatkan penusukan jarum pada titik-titik tubuh tertentu juga dapat dilakukan.
  • Suplemen

Tanyakan pada dokter terkait suplemen dan vitamin yang dapat diberikan dan mana yang perlu dihindari.
  • Terapi psikologis

Penyakit ini bersifat kronis (jangka panjang), sehingga dapat membuat anak depresi. Terapis dan psikolog dapat membantu anak dalam mengendalikan emosi. Dukungan dari keluarga dan teman juga membantu.
  • Bergabung dengan support group

Anak dapat bergabung dalam support group yang beranggotakan anak-anak dengan penyakit yang sama. Dengan ini, pasien dan orang tua bisa saling berbagi cerita maupun memberikan dukungan. 

Komplikasi juvenile arthritis

Bila terus dibiarkan, juvenile arthritis dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Kelainan mata

Beberapa jenis juvenile arthritis dapat menyebabkan peradangan pada mata. Bila kondisi ini tidak ditangani, kelainan mata seperti katarak, glaukoma, bahkan kebutaan dapat terjadi.Peradangan pada mata seringkali muncul tanpa gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin ke dokter mata penting dilakukan.
  • Masalah pertumbuhan

Juvenile arthritis dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tulang anak. Beberapa jenis obat yang digunakan untuk pengobatan seperti kortikosteroid juga dapat mengganggu pertumbuhan. 
Karena penyebabnya belum diketahui, cara mencegah juvenile arthritis juga belum tersedia. 
Ajaklah anak ke dokter bila mengalami nyeri sendi, pembengkakan atau kekakuan sendi lebih dari seminggu. Terutama apabila anak juga mengalami demam. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait juvenile athritis, misalnya riwayat keluarga dengan kondisi serupa?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis juvenile athritis. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10370-juvenile-idiopathic-arthritis/prevention
Diakses pada 17 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/juvenile-rheumatoid-arthritis#diagnosis
Diakses pada 17 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/juvenile-idiopathic-arthritis/symptoms-causes/syc-20374082
Diakses pada 17 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000451.htm
Diakses pada 17 Desember 2018
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. https://www.niams.nih.gov/health-topics/juvenile-arthritis
Diakses pada 2 Desember 2020
WebMD. https://www.webmd.com/rheumatoid-arthritis/diagnosing-juvenile-arthritis
Diakses pada 2 Desember 2020
CDC. https://www.cdc.gov/arthritis/basics/childhood.htm
Diakses pada 2 Desember 2020
Arthritis Foundation. https://www.arthritis.org/diseases/juvenile-arthritis
Diakses pada 2 Desember 2020
Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/j/juvenile-arthritis.html
Diakses pada 2 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email