Psikologi

Kecanduan Alkohol

Diterbitkan: 02 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Kecanduan Alkohol
Kecanduan alkohol membuat seseorang tidak bisa berhenti minum-minum
Kecanduan alkohol adalah kondisi yang ditandai dengan terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi alkohol. Seseorang dikatakan mengalaminya jika mengkonsumsi terlalu banyak alkohol pada satu waktu dan minum terlalu sering dalam seminggu.Konsumsi alkohol diukur dalam satuan unit. Satu unit alkohol terdiri dari 10 ml alkohol murni.Pasien yang tidak dapat berhenti minum alkohol lama-kelamaan akan merusak hubungan pribadi dan sosial, kinerja yang berkaitan dengan profesi, rutinitas, serta area lain dalam kehidupan.Kecanduan alkohol termasuk masalah yang serius. Kecanduan ini dapat berlanjut pada kondisi ketergantungan secara fisik terhadap alkohol.Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi alkohol dalam satu waktu bisa menyebabkan keracunan alkohol. 
Kecanduan Alkohol
Dokter spesialis Jiwa
GejalaTidak bisa mengendalikan keinginan minum alkohol, minum alkohol meski waktu dan tempatnya tidak aman
Faktor risikoRiwayat keluarga, depresi dan penyakit mental lainnya, tekanan pergaulan
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, evaluasi psikologis
PengobatanPsikoterapi, pantang, penggunaan obat-obatan
ObatAcamprosate, disulfiram, atau naltrexone
KomplikasiKeracunan alkohol, stroke, penyakit hati
Kapan harus ke dokter?Minum alkohol lebih banyak untuk merasakan efeknya, mudah marah atau kasar saat minum-minum
Beberapa gejala kecanduan alkohol bisa meliputi:
  • Keinginan dan jumlah konsumsi alkohol yang tidak dapat dikendalikan
  • Memiliki pikiran negatif saat tidak sedang mengonsumsi alkohol
  • Minum alkohol meski waktu dan tempat tidak tepat atau aman, misalnya saat sarapan, mengemudi, di tempat kerja, atau tempat ibadah
  • Minum alkohol mulai membuat pasien kehilangan minat akan hal-hal yang disenangi
  • Tetap minum meskipun konsumsi alkohol sudah menyebabkan masalah atau membuat masalah semakin berat
  • Tidak melakukan aktivitas penting seperti bekerja, atau melakukannya lebih jarang karena minum alkohol
  • Merasa perlu mengurangi jumlah konsumsi alkohol
  • Merasa bersalah karena minum alkohol dalam jumlah banyak, tapi tidak bisa berhenti
  • Mengalami perubahan pada kondisi pertemanan, seperti orang yang kecanduan alkohol biasanya mencari teman yang juga seorang pecandu alkohol
  • Menghindari kontak dengan orang yang disayangi, contohnya pasangan, keluarga, atau teman
  • Orang lain sudah mengomentari konsumsi alkohol pasien yang berlebihan
  • Menyembunyikan alkohol, atau bersembunyi ketika minum-minum
  • Berhenti, meninggalkan, atau mengurangi aktivitas sosial, pekerjaan, dan hobi
  • Meningkatnya rasa lelah yang berat, depresi, dan gangguan emosional lainnya
Gejala kecanduan atau ketergantungan alkohol terkadang sulit untuk dikenali. Tidak seperti obat-obatan terlarang (kokain atau heroin), alkohol tersedia secara bebas di beberapa negara dan diterima dalam banyak budaya. Alkohol juga sering ditemukan pada acara-acara sosial serta berhubungan erat dengan perayaan atau pesta.Oleh karena itu, akan sukar untuk membedakan orang yang suka minum alkohol pada acara tertentu dengan orang yang benar-benar kecanduan.Kecanduan alkohol merupakan suatu penyakit kronis dan berhubungan erat dengan kemunculan gejala putus zat (withdrawal syndrome), kehilangan kontrol, atau toleransi terhadap alkohol.Tingkat kecanduan alkohol biasanya memburuk seiring berjalannya waktu, sehingga deteksi dini tahap awal kecanduan alkohol sangat penting. Jika diidentifikasi dan diobati dengan tepat, komplikasi yang tidak diinginkan dapat dihindari. 
Penyebab kecanduan alkohol dapat berupa kombinasi dari berbagai faktor. Beberapa faktor yang berperan meliputi faktor genetik atau keturunan, faktor psikologis, dan faktor lingkungan.Menurut sejumlah penelitian, faktor penyebab terbanyak adalah faktor keturunan. Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti tempat tinggal dan pola hidup.Berbeda dengan penyakit lainnya, tidak ada satu gen khusus yang dapat menentukan apakah seseorang akan mempunyai masalah dengan alkohol atau tidak. Tetapi ada banyak gen yang bisa saja meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.Sedangkan faktor lingkungan dapat menyingkirkan atau menurunkan efek dari faktor genetik tersebut.  

Faktor risiko kecanduan alkohol

Konsumsi alkohol bisa muai terjadi sejak remaja, tapi penyalahgunaan alkohol paling sering ditemukan pada usia 20 dan 30an. Meski beberapa penyebab kecanduan alkohol tidak diketahui dengan pasti, banyak kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.Beberapa faktor risiko kecanduan alkohol tersebut meliputi:
  • Konsumsi alkohol dalam jumlah besar dari waktu ke waktu

Rutin minum terlalu banyak alkohol untuk waktu lama, dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan alkohol. Contohnya bila mengonsumsi alkohol lebih dari 15 kali per minggu pada laki-laki dan 12 kali per minggu pada wanita, atau lebih dari lima kali per hari setidaknya sekali dalam seminggu.
  • Riwayat keluarga

Risiko kecanduan alkohol lebih tinggi pada orang yang memiliki orang tua atau kerabat dekat yang juga mengalami kondisi sama. Tinggal di rumah atau lingkungan yang memiliki kebiasaan konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko ini.
  • Mulai minum alkohol pada usia dini

Orang yang mulai mengonsumsi minuman keras, terutama mengikuti pesta minum sejak usia dini, memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami kecanduan alkohol.
  • Depresi dan gangguan kesehatan mental lain

Kecanduan alkohol banyak ditemukan pada orang dengan gangguan kesehatan mental. Misalnya, gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar.
  • Stres

Pasien yang mengalami stres berat lebih berisiko untuk terjerumus dalam kecanduan alkohol.
  • Usia dewasa muda

Kalangan dewasa muda yang mengalami tekanan sosial dari pertemanan dan kurang percaya diri akan lebih rentan untuk terkena kecanduan alkohol.
  • Trauma

Orang yang pernah mengalami trauma emosional atau trauma lainnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kecanduan alkohol. 
  • Operasi bariatrik

Operasi bariatrik adalah pembedahan lambung untuk mengatasi kondisi obesitas. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa operasi ini mungkin dapat meningkatkan risiko kecanduan alkohol atau risiko kambuh.
  • Faktor sosial dan budaya

Memiliki teman atau pasangan yang minum alkohol secara teratur, juga bisa menambah risiko kecanduan alkohol. 
Banyak orang mengalami kecanduan alkohol dan memiliki masalah dalam kehidupan mereka. Umumnya, dokter akan percaya bahwa seseorang mengalami ketergantungan alkohol ketika:
  • Konsumsi alkohol terjadi berulang kali, yang mengganggu tanggung jawab di tempat kerja, rumah tangga, atau sekolah.
  • Konsumsi alkohol menyebabkan penderita ataupun orang di sekitarnya mengalami bahaya fisik. Misalnya, konsumsi alkohol saat mengemudi, mengoperasikan mesin, hamil, serta minum obat.
  • Konsumsi alkohol menyebabkan pasien terlibat masalah hukum.
  • Konsumsi alkohol mengancam hubungan penderita dengan orang lain. 
Untuk memastikan diagnosis kecanduan alkohol, dokter juga dapat melakukan sederet pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik

Terdapat banyak tanda fisik yang bisa mengindikasikan adanya komplikasi dari penggunaan alkohol.
  • Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan

Walau tidak ada pemeriksaan medis khusus untuk mendiagnosis kecanduan alkohol, pola abnormal tertentu dari hasil pemeriksaan laboratorium dapat menandakan munculnya kondisi ini. Misalnya, tes darah dan tes urine.Dokter juga dapat menganjurkan pemeriksaan untuk mengenali gangguan kesehatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol. Contohnya, kerusakan pada organ tubuh tertentu. 
  • Evaluasi psikologis lengkap

Evaluasi ini mencakup pertanyaan mengenai gejala, pola pikir, perasaan, dan pola tingkah laku penderita.  

Kriteria kecanduan alkohol pada DSM-5

Diagnostic and statistical manual of mental disorders atau DSM adalah kriteria yang kerap digunakan oleh psikiater untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental. Kondisi penyalahgunaan atau kecanduan alkohol dapat didiagnosis bila sudah memenuhi dua atau lebih dari 11 kriteria dalam waktu 12 bulan.Adapun, kriteria-kriteria tersebut meliputi:
  • Penggunaan alkohol dengan jumlah yang lebih banyak atau dengan waktu yang lebih lama dari biasanya
  • Keinginan mengonsumsi alkohol terus-menerus atau tidak bisa menghentikan konsumsi alkohol
  • Banyak waktu yang dihabiskan untuk mencari, minum, dan pulih dari efek alkohol
  • Alkohol menjadi candu
  • Konsumsi alkohol membuat pasien tidak dapat memenuhi kewajiban di pekerjaan, rumah, atau sekolah
  • Terus mengonsumsi alkohol meskipun sudah menyebabkan masalah pribadi
  • Menghentikan atau tidak melakukan kegiatan penting karena alkohol
  • Terus mengonsumsi alkohol pada keadaan berbahaya, misalnya berkendara
  • Terus mengonsumsi alkohol walau sudah menimbulkan gejala fisik atau masalah psikologis
  • Memilliki toleransi tinggi terhadap alkohol, sehingga membutuhkan lebih banyak alkohol untuk merasakan efeknya
  • Mengalami gejala putus zat (withdrawal syndrome) alkohol
 

Tahap kecanduan alkohol

Berikut tahap-tahap hingga seseorang dapat mencapai kecanduan alkohol:
  • Tahap 1: Konsumsi alkohol pada saat-saat tertentu dan binge drinking

Tahap pertama penyalahgunaan alkohol adalah konsumsi alkohol untuk coba-coba pada waktu tertentu, misalnya pesta. Biasanya, tahap ini dialami oleh dewasa muda yang ingin menguji toleransi mereka terhadap alkohol.Binge drinking juga umum dilakukan oleh penderita. Kebiasaan ini adalah mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar pada satu waktu.
  • Tahap 2: Peningkatan frekuensi konsumsi alkohol

Tahap 2 terjadi ketika seseorang menjadi lebih sering mengonsumsi alkohol. Tidak hanya pada waktu-waktu tertentu, kebiasaan ini menjadi lebih rutin, misalnya seminggu sekali.Alasan untuk mengonsumsi alkohol juga bertambah, seperti konsumsi alkohol untuk bersosialisasi, mengurangi stres, mengatasi rasa bosan, dan pelarian dari rasa sedih dan kesepian.
  • Tahap 3: Gangguan konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol yang rutin dan tidak terkendali sering menimbulkan masalah. Gejala seperti cemas, depresi, dan sulit tidur dapat dialami, dan masalah pada relasi sosial dengan orang lain, juga mungkin terjadi.
  • Tahap 4: Ketergantungan alkohol

Pada tahap ini, pengguna alkohol dapat mengalami ikatan terhadap alkohol yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia tahu efek sampingnya, namun tidak dapat mengendalikan konsumsi alkohol.Orang pada alcohol dependence juga mengalami toleransi tinggi terhadap alkohol. Akibatnya, ia membutuhkan lebih banyak alkohol untuk merasakan efeknya.Gejala putus zat pun akan dialami oleh penderita. Contohnya, mual, berkeringat, tremor, mudah marah, jantung berdebar, dan sulit tidur.
  • Tahap 5: Kecanduan alkohol

Tahap terakhir adalah kecanduan alkohol. Pada tahap ini, penderita sudah tidak bisa mengendalikan konsumsi alkohol sama sekali.Terdapat keinginan fisik dan fisiologis untuk minum alkohol yang tidak terkontrol. Pasien juga kerap mengalami kecanduan terhadap substansi atau obat-obat terlarang lain. 
Cara mengobati kecanduan alkohol akan tergantung dari tingkat kecanduan dan keinginan pasien. Misalnya, apakah pasien hanya ingin mengurangi jumlah konsumsi atau berhenti total dari mengonsumsi alkohol.Penanganan kecanduan alkohol dapat dilakukan dengan cara-cara di bawah ini:

1. Psikoterapi

Psikoterapi biasanya dilakukan bila penderita khawatir akan kebiasaan minum alkoholnya, atau pernah menderita cedera maupun kecelakaan yang berkaitan dengan kebiasaan ini.Terapi ini bisa dijalani bersama psikolog atau psikiater, baik sendiri maupun berkelompok. Misalnya, kelompok swadaya atau support group khusus pecandu alkohol. Dengan begitu, penderita akan terbantu untuk memahami kecanduannya.Selama konseling, penderita akan:
  • Belajar mengenai risiko-risiko yang berhubungan dengan konsumsi alkohol
  • Mendapatkan saran-saran tertentu, contohnya mencatat jumlah alkohol yang dikonsumsi dalam satu minggu, atau mengganti alkohol dengan minuman bersoda dan minuman ringan lainnya
Dukungan dari pasangan, keluarga, dan teman dekat sangat diperlukan oleh penderita selama menjalani proses pengobatan.Keluarga dan pasangan juga bisa diminta untuk ikut menjalani terapi bersama penderita. Pasalnya, mereka pun akan mengalami dampak tertentu dari ketergantungan alkohol ini.

2. Pantang

Pantang di sini berarti mengurangi konsumsi alkohol secara bertahap atau berhenti total. Jenis penanganan ini termasuk pilihan yang dapat dilakukan apabila penderita:
  • Rutin minum alkohol melebihi kadar harian alkohol dengan risiko rendah, yaitu lebih dari 14 unit dalam seminggu
  • Memiliki masalah kesehatan yang disebabkan oleh alkohol secara langsung
  • Tidak bisa berfungsi tanpa alkohol
Berhenti total dari minum alkohol akan mempunyai keuntungan yang lebih baik bagi kesehatan. Namun mengurangi konsumsi alkohol secara bertahap merupakan cara yang lebih mudah, atau dapat menjadi tahap pertama dalam menghentikan kebiasaan ini.Sementara pantang konsumsi alkohol total sangat disarankan pada:
  • Penderita kerusakan hati, seperti penyakit hati atau sirosis.
  • Orang yang mengalami gangguan kesehatan lain, misalnya penyakit jantung, yang akan bertambah buruk dengan konsumsi alkohol.
  • Orang yang mengonsumi obat-obatan yang bereaksi negatif terhadap alkohol, seperti obat antipsikotik.
  • Wanita yang sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan
  • Orang yang gagal berhenti minum alkohol secara bertahap
Apabila memilih untuk menghentikan konsumsi alkohol secara bertahap, pasien akan disarankan untuk menghadiri sesi konseling lebih lanjut. Langkah ini bertujuan menilai kemajuan penderita dan mempertimbangkan perlu tidaknya penanganan lebih lanjut.

3. Detoksifikasi dan gejala putus obat

Kecantuan alkohol juga bisa memicu gejala putus zat. Karena itu, ia juga akan dianjurkan untuk mencari dokter yang ahli dalam menangani keluhan ini.Gejala putus zat akan terasa berat dalam 48 jam pertama. Kondisi putus zat biasanya akan berlangsung antara tiga hingga tujuh hari sejak penderita berhenti minum alkohol.Tapi kondisi pasien umumnya akan membaik setelah tubuh membuang kandungan alkohol secara perlahan-lahan dan beradaptasi tanpa alkohol.Cara dan lokasi detoksifikasi akan tergantung pada tingkat keparahan kecanduan alkohol pasien. Berikut penjelasannya:
  • Tingkat ringan

Pada tingkat ringan, detoksifikasi dapat dilakukan di rumah tanpa penggunaan obat-obatan karena gejala putus zat yang dialami juga akan tergolong ringan. 
  • Tingkat berat

Bila konsumsi alkohol termasuk tinggi (lebih dari 20 unit dalam sehari) atau pernah mengalami gejala putus zat, detoksifikasi memang dapat dilakukan di rumah. Tapi langkah ini akan membutuhkan bantuan obat penenang klordiazepoksida guna meringankan gejala.Sementara pada tingkat kecanduan alkohol yang berat, detoksifikasi sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau klinik. Pasalnya, gejala putus zat juga akan lebih parah dan memerlukan bantuan dari tenaga medis profesional. Selama menjalani proses detoksifikasi, pastikan pasien minum cairan sekitar 3 liter dalam sehari. Misalnya, air putih atau jus buah.Namun pasien harus menghindari konsumsi minuman berkafein dalam jumlah banyak, termasuk teh dan kopi. Minuman jenis ini akan memperburuk gangguan tidur dan menyebabkan gangguan kecemasan.Penderita juga tidak disarankan untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin berat apabila mengonsumsi obat-obatan yang membantu meringankan gejala putus zat. Obat-obatan ini dapat menyebabkan kantuk.

4. Obat-obatan

Terdapat beberapa obat yang direkomendasikan untuk menangani ketergantungan alkohol, seperti acamprosate, disulfiram, atau naltrexone. Obat-obatan ini dipakai untuk membantu proses pemulihan dan pemakaiannya harus dipantau oleh dokter. Berikut penjelasannya:
  • Naltroxene

Naltroxene hanya digunakan setelah penderita menjalani proses detoksifikasi alkohol. Obat jenis ini bekerja dengan menghambat reseptor tertentu di otak yang terkait dengan efek ‘high’ akibat alkohol.Penggunaan naltroxene bersamaan dengan konseling dapat menurunkan kecanduan pasien terhadap alkohol.
  • Acamprosate

Acamprosate berperan mengembalikan kondisi zat kimia pada otak menjadi seperti sebelum kecanduan. Obat ini juga harus dikombinasikan dengan terapi lainnya.
  • Disulfiram

Disulfiram adalah obat yang dapat menyebabkan timbulnya gejala fisik (mual, muntah, atau nyeri kepala) setiap pasien mengonsumsi alkohol.Mengobati kecanduan alkohol merupakan proses yang rumit dan dapat menjadi tantangan tersendiri. Penderita tidak dapat dipaksa untuk berhenti minum apabila ia belum siap.Supaya pengobatan dapat berjalan dengan baik, penderita harus mempunyai keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk sembuh dari ketergantungannya. Karena itu, tingkat kesuksesan penyembuhan sangat tergantung pada faktor ini.Proses pemulihan dari alkoholisme merupakan komitmen jangka panjang atau seumur hidup. Tidak ada jalan pintas sebagai cara mengobati kecanduan alkohol, dan perlu perawatan sehari-hari. Jadi banyak orang yang menyebut ondisi ini sebagai penyakit yang takkan pernah sembuh. 

Komplikasi kecanduan alkohol

Bila terus dibiarkan, kecanduan alkohol dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi di bawah ini:

1. Jangka pendek

  • Kecelakaan lalu lintas
  • Cedera
  • Perilaku berbahaya atau menjadi korban kekerasan
  • Berhubungan seksual tanpa pengaman, sehingga dapat memicu kehamilan yang tidak diinginkan atau penyakit menular seksual
  • Hilangnya barang-barang pribadi, seperti dompet, kunci, atau telepon genggam
  • Keracunan alkohol, yang dapat menyebabkan muntah, kejang, dan pingsan

2. Jangka panjang

  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Penyakit hati
  • Kanker hati
  • Kanker usus
  • Kanker mulut
  • Kanker payudara
  • Pankreatitis
  • Rusaknya hubungan sosial dan profesional, seperti dipecat dari pekerjaan, perceraian, atau kekerasan dalam rumah tangga
 
Cara mencegah kecanduan alkohol dapat dilakukan dengan membatasi konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol diukur dalam satuan unit.Satu unit alkohol terdiri dari 10 ml alkohol murni. Ukuran ini kira-kira sekitar:
  • 0,23 liter birlager/cider dengan kandungan alkohol hingga 3,6%
  • 25 ml spiritliquor, atau minuman keras (alkohol yang telah mengalami proses distilasi, seperti whiskey, rum, tequila, vodka)dengan kandungan alkohol hingga 40%
  • 125 ml (satu gelas kecil) wine, yang mengandung sekitar 1,5 unit alkohol
Untuk menjaga risiko kecanduan alkohol tetap rendah, jumlah alkohol yang disarankan meliputi:
  • Tidak rutin minum lebih dari 14 unit alkohol per minggu
  • Membagi konsumsi alkohol dalam tiga hari atau lebih jika Anda terbiasa mengonsumsi 14 unit dalam seminggu
  • Bila ingin mengurangi jumlah alkohol, cobalah untuk tidak minum sama sekali dalam sehari atau beberapa hari dalam seminggu
Sementara upaya pencegahan kecanduan alkohol para remaja yang bisa dilakukan oleh orang tua meliputi:
  • Komunikasi yang baik dan jelas dari orang tua mengenai efek negatif dari penggunaan alkohol, serta penggunaan narkoba untuk mengurangi konsumsi alkohol pada remaja
  • Pengawasan orang tua yang memadai untuk menghindari penyalahgunaan alkohol di bawah umur
  • Mengajarkan strategi untuk mengatasi stres pada anak
  • Memberikan bekal keyakinan dan pendidikan agama sebagai salah satu cara untuk mencegah penyalahgunaan alkohol maupun obat-obatan terlarang
 
Konsumsi alkohol yang normal dengan kecanduan alkohol mungkin sulit dibedakan. Langkah yang dapat Anda lakukan adalah menanyakan beberapa pertanyaan berikut:
  • Apakah Anda perlu minum lebih banyak untuk merasakan efek konsumsi alkohol?
  • Apakah Anda merasa bersalah karena minum alkohol?
  • Apakah Anda menjadi mudah marah atau kasar ketika minum alkohol?
  • Apakah Anda mengalami masalah di sekolah atau tempat kerja karena konsumsi alkohol?
  • Apakah Anda merasa lebih baik konsumsi alkohol Anda dikurangi?
Bila jawabannya adalah ya, Anda kemungkinan besar mengalami kecanduan alkohol. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kecanduan alkohol?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kecanduan alkohol. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat.  
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/alcohol-abuse/
Diakses pada 2 Januari 2019
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/alcohol_abuse_and_alcoholism/article.htm#alcohol_use_disorder_facts
Diakses pada 2 Januari 2019
National Institutes of Health. https://pubs.niaaa.nih.gov/publications/AA84/AA84.htm
Diakses pada 2 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/alcohol-misuse/
Diakses pada 2 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/live-well/alcohol-support/calculating-alcohol-units/
Diakses pada 2 Desember 2020
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/addiction/what-is-alcohol-abuse#1
Diakses pada 2 Desember 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/alcoholism/basics
Diakses pada 2 Desember 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/stages-alcoholism
Diakses pada 2 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email