Perut

Kolesistitis (Radang Kantong Empedu)

Diterbitkan: 16 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Kolesistitis (Radang Kantong Empedu)
Adanya sumbatan batu empedu menyebabkan peradangan pada kantong empedu.
Kolesistitis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan pada kantong empedu. Kantong empedu merupakan organ kecil berbentuk buah pir di sisi kanan perut, tepatnya di bawah hati.Organ tersebut berfungsi menampung cairan empedu, yakni cairan yang dihasilkan oleh hati dan berperan membantu proses pencernaan.Pada saat makan, kantong empedu berkontraksi dan cairan empedu akan dialirkan dari kantong empedu melewati saluran empedu menuju usus halus. Di usus halus, cairan ini bercampur dengan makanan untuk membantu dalam mencerna lemak.Ketika saluran yang menghubungkan kantong empedu dan usus halus tersumbat, cairan empedu akan terperangkap di kantong empedu dan menumpuk. Kondisi ini kemudian memicu iritasi dan tekanan pada kantong empedu, yang dikenal dengan istilah kolesistitis.Pada kebanyakan kasus, saluran empedu tersumbat karena adanya batu empedu. Sedangkan penyebab lainnya meliputi kelainan pada struktur saluran empedu, tumor, kondisi medis, dan infeksi tertentu. 
Kolesistitis (Radang Kantong Empedu)
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit perut kanan atas, nyeri menyebar ke bahu kanan, mual
Faktor risikoRiwayat batu empedu
Metode diagnosisTes darah, tes pencitraan, HIDA scan
PengobatanTerapi cairan, puasa, obat-obatan
ObatObat pereda nyeri, antibiotik
KomplikasiInfeksi kantung empedu, kematian jaringan empedu, pecahnya kantung empedu (perforasi)
Kapan harus ke dokter?Memiliki gejala kolesistitis
Gejala kolesistitis tergantung pada jenisnya di bawah ini:

1. Gejala kolesistitis akut

Kolesistitis akut adalah peradangan kantong empedu yang terjadi secara mendadak. Kondisi ini ditandai dengan:
  • Nyeri

Penderita bisa merasa kurang nyaman pada ulu hati atau perut kanan atas, di dekat lokasi kantong empedu serta hati.Pada beberapa pasien, rasa sakit dapat menjalar hingga ke bahu kanan. Gejala ini biasanya mulai muncul setelah penderita makan.
  • Demam

Demam sering disertai menggigil.
  • Mual dan/atau muntah

Gejala kolesistitis akut lainnya adalah mual, muntah, atau keduanya.
  • Jaundice

Warna kuning bisa muncul pada kulit atau bagian putih mata penderita kolesistitis akut. Kondisi ini disebut sakit kuning alias jaundice.Selain itu, warna urine penderita juga bisa lebih gelap, sementara warna tinjanya justru pucat keabu-abuan sepeti dempul.

2. Gejala kolesistitis kronis

Kolesistitis kronis adalah peradangan kantong empedu jangka panjang. Gejala utamanya dapat berupa sakit perut yang hilang dan timbul.Akan tetapi, beberapa penderita tidak mengalami gejala apapun, atau hanya merasakan nyeri perut yang ringan. Karena itu, kolesistitis kronis mungkin tidak terdeteksi hingga penderita mengalami serangan mendadak atau gejala lain yang lebih berat.Bila dibiarkan, kerusakan pada dinding kantong empedu dapat terjadi akibat menyebabkan penebalan dan luka. Pada akhirnya, organ ini bisa menyusut dan kehilangan kemampuannya dalam menampung serta mengeluarkan cairan empedu. 
Penyebab kolesistitis bisa beragam kondisi di bawah ini:
  • Batu empedu

Kolesistitis dapat terjadi karena adanya partikel-partikel keras yang berkembang di kantong empedu alias batu empedu. Batu ini bisa menyumbat saluran empedu, sehingga cairan empedu akan dan berujung pada peradangan.
  • Tumor

Tumor dapat menghambat cairan empedu keluar dari kantong empedu dan menyebabkan penumpukan empedu maupun peradangan.
  • Penyumbatan saluran empedu

Jaringan parut dalam saluran empedu dapat memicu peradangan berupa kolesistitis.
  • Penyakit tertentu

AIDS dan infeksi virus tertentu dapat memicu peradangan kandung empedu.
  • Masalah pembuluh darah

Penyakit yang parah dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan aliran darah ke kantong empedu, yang kemudian menyebabkan kolesistitis. 

Faktor risiko kolesistitis

Karena paling sering disebabkan oleh batu empedu, risiko kolesistitis pun akan meningkat seiring bertambahnya kemungkinan terbentuknya batu empedu. Beberapa faktor tersebut meliputi:
  • Riwayat keluarga dengan batu empedu, terutama dari sisi ibu kandung
  • Penyakit Crohn
  • Diabetes
  • Penyakit jantung koroner
  • Gagal ginjal
  • Hiperlipidemia, yakni kadar kolesterol dan lemak yang tinggi dalam darah
  • Penurunan berat badan yang cepat atau drastis
  • Obesitas
  • Usia tua
  • Kehamilan
Persalinan yang lama juga dapat merusak kantong empedu dan meningkatkan risiko kolesistitis dalam beberapa minggu setelahnya. 
Diangosis kolesistitis dapat ditentukan berdasarkan beberapa metode di bawah ini:
  • Tes darah

Tes darah bertujuan mencari gejala-gejala infeksi dan masalah pada kandung empedu.
  • Pemeriksaan pencitraan

Pencitraan dapat menunjukkan struktur kantong empedu dengan lebih jelas. Misalnya, USG abdomen, endoskopi, atau CT scan.
  • HIDA scan

Hepatobiliary iminodiacetic acid (HIDA) scan akan memperlihatkan pergerakan cairan empedu ke seluruh tubuh. Pemindaian ini akan melibatkan penyuntikan cairan kontras radioaktif ke dalam tubuh pencerita. Cairan ini lalu menempel pada sel-sel penghasil empedu, sehingga dapat terlihat saat empedu bergerak melalui saluran-salurannya.
  • Rontgen perut

Rontgen perut dapat menunjukkan kondisi organ, tulang, dan jaringan internal perut. 
Cara mengobati kolesistitis biasanya akan melibatkan perawatan di rumah sakit. Langkah ini bertujuan mengendalikan peradangan pada kantong empedu. Pada beberapa kasus, operasi juga mungkin dibutuhkan.

1. Perawatan di rumah sakit

Selama di rumah sakit, dokter akan melakukan beberapa langkah di bawah ini guna mengendalikan gejala kolesistitis yang dialami oleh pasien:
  • Berpuasa

Pasien tidak diperbolehkan untuk makan atau minum terlebih dahulu untuk meringankan beban kerja kantong empedu.
  • Pemberian cairan infus

Cairan infus akan diberikan untuk membantu dalam mengatasi dehidrasi.
  • Pemberian antibiotik

Bila kantong empedu sudah mengalami infeksi, dokter akan memberikan obat antibiotik.
  • Obat pereda nyeri

Obat antinyeri akan membantu dalam meredakan sakit hingga kondisi peradangan di kantong empedu membaik.
  • Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

Beberapa pasien dengan batu empedu yang menyumbat saluran empedu mungkin membutuhkan prosedur ERCP guna mengangkat batu empedu.Gejala kolesistitis umumnya membaik dalam 2-3 hari. Namun peradangan kantong empedu dapat kembali terjadi alias kambuh. Pasien dengan kolesistitis berulang membutuhkan operasi untuk mengangkat kantong empedu.

2. Operasi

Operasi pengangkatan kantong empedu atau kolesistektomi dapat dilakukan dengan tiga cara berikut:
  • Kolesistektomi laparoskopi

Dalam operasi ini, dokter akan memasukkan instrumen bedah lewat beberapa sayatan kecil pada perut pasien.
  • Kolesistektomi laparoskopi insisi tunggal

Kantong empedu akan diangkat lewat satu sayatan yang biasanya dibuat dekat pusar.
  • Kolesistektomi terbuka

Prosedur pengangkatan kantong empedu ini dilaksanakan dengan sayatan besar pada perut pasien. Karena itu, durasi pemulihan pasien biasanya akan lebih lama daripada operasi laparoskopi.Setelah kantong empedu diangkat, cairan empedu akan langsung dialirkan dari hati ke usus halus tanpa disimpan dahulu di kantong empedu. Namun jangan cemas karena tanpa kantong empedu pun, pasien dapat hidup dengan normal. 

Komplikasi kolesistitis

Bila dibiarkan, kolesistitis yang serius dapat terjadi dan memicu beberapa komplikasi di bawah ini:
  • Infeksi dalam kantong empedu

Bila cairan empedu menumpuk dalam kantong empedu dan memicu kolesistitis, kantong empedu juga dapat mengalami infeksi.
  • Kematian jaringan pada kantong empedu

Tanpa pengobatan yang benar, kolesistitis bisa memicu terbentuknya jaringan mati (gangrene) di kantong empedu.Gangrene merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan, terutama pada pasien berusia tua, memiliki diabetes, dan menunda pengobatan. Kondisi kematian jaringan ini dapat menyebabkan kantong empedu robek atau pecah.
  • Robekan atau perforasi kantong empedu

Perforasi kantong empedu dapat menyebabkan pembengkakan, infeksi, atau kematian jaringan. 
Sebagai cara mencegah kolesistitis dan mengurangi risikonya, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut:
  • Memiliki berat badan yang ideal
  • Bila mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, turunkan berat badan Anda secara perlahan-lahan
  • Lebih sering beroahraga atau beraktivitas fisik
  • Menurunkan kadar kolesterol
  • Menerapkan pola makan rendah lemak
 
Hubungi dokter jika Anda mengalami gejala kolesistitis yang mengkhawatirkan. Bila sakit perut terasa sangat parah dan mengganggu aktivitas Anda, segera ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah ada hal yang membuat gejala Anda terasa membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kolesistitis, misalnya adanya batu empedu?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kolesistitis. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cholecystitis/symptoms-causes/syc-20364867
Diakses pada 3 Januari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/171886-overview
Diakses pada 3 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/what-is-chloecystitis#1
Diakses pada 3 Januari 2019
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/liver-and-gallbladder-disorders/gallbladder-and-bile-duct-disorders/cholecystitis
Diakses pada 16 Desember 2020
Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/cholecystitis-a-to-z
Diakses pada 16 Desember 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000264.htm
Diakses pada 16 Desember 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/172067
Diakses pada 16 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email