Kanker

Limfoma

Diterbitkan: 01 Oct 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Limfoma
Limfoma paling sering didiagnosis pada orang berusia di atas 55 tahun.
Limfoma adalah kanker yang menyerang sistem limfatik. Sistem limfatik berperan penting  pada sistem kekebalan tubuh manusia dalam melawan infeksi, serta penyakit lainnya.Limfoma dapat menyerang berbagai organ di sistem limfatik seperti sumsum tulang belakang, timus atau kelenjar getah bening. Pada beberapa kasus, limfoma juga dapat terjadi pada organ tubuh di sistem yang lain.Limfoma terbagi atas dua jenis, yaitu Limfoma Hodgkin dan Limfoma non-Hodgkin. Perbedaan utama antara kedua jenis limfoma tersebut terletak pada sel kanker yang dimilikinya.  Limfoma Hodgkin terdeteksi dengan adanya sel yang dinamakan sel Reed-Sternberg. Sebaliknya, jika sel Reed-Sternberg tidak ditemukan, maka limfoma dikategorikan sebagai non-Hodgkin.Limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin. Penting untuk mengetahui jenis limfoma yang diderita, karena pengobatan akan diberikan berdasarkan jenis limfoma tersebut. 
Limfoma
Dokter spesialis Onkologi
GejalaPembengkakan kelenjar getah bening,selalu merasa letih, berkeringat di malam hari
Faktor risikoUsia, jenis kelamin, etnis
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, biopsi, tes darah
PengobatanTerapi biologis, kemoterapi, terapi radiasi
ObatObat-obatan kemoterapi, steroid
KomplikasiSistem kekebalan tubuh lemah, infertilitas, kondisi medis lain
Kapan harus ke dokter?Jika merasakan perubahan pada tubuh atau gejala
Gejala limfoma meliputi:
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (leher, ketiak, dan selangkangan) tanpa rasa sakit
  • Selalu merasa letih
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Sesak napas
  • Menurunnya berat badan tanpa sebab
  • Gatal-gatal pada kulit
Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Perbedaan Limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin 
Penyebab limfoma belum diketahui pasti. Namun, penyakit ini terjadi karena adanya perubahan sel darah putih yang bermutasi. Hal ini menyebabkan sel-sel abnormal terus bertumbuh, sehingga sel darah putih yang sehat berkurang.

Faktor risiko

Jenis limfoma yang berbeda memiliki faktor risiko tersendiri pula, sebagai berikut ini.

Faktor risiko limfoma non-Hodgkin

  • Usia:
    Limfoma paling sering didiagnosis di atas 55 tahun.
  • Jenis kelamin:
    Laki-laki mempunyai risiko lebih besar.
  • Etnis dan lokasi tempat tinggal
    Etnis tertentu seperti Afrika atau Asia memiliki risiko lebih rendah untuk terjangkit limfoma non-Hodgkin daripada orang kulit putih. Limfoma Non-Hodgkin juga dilaporkan lebih sering terjadi di negara maju.
  • Bahan kimia dan radiasi:
    Radiasi nuklir dan bahan kimia dari produk pertanian tertentu dapat memicu munculnya limfoma non-Hodgkin.
  • Kekebalan tubuh:
    Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami limfoma non-Hodgkin.
  • Penyakit autoimun:
    Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat di tubuh. Contohnya artritis reumatoid dan penyakit celiac.
  • Infeksi:
    Infeksi virus dan bakteri tertentu yang mengubah limfosit, seperti virus Epstein-Barr (EBV) dapat meningkatkan risiko limfoma non-Hodgkin.
  • Implan payudara.
    Implan di payudara bisa menyebabkan limfoma sel besar anaplastik di jaringan payudara.

Faktor risiko limfoma Hodgkin

  • Infeksi:
    Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) dapat meningkatkan risiko limfoma Hodgkin.
  • Usia:
    Limfoma paling sering didiagnosis pada orang berusia 20-30 tahun dan 55 tahun
  • Jenis kelamin:
    Laki-laki mempunyai risiko lebih besar.
  • Riwayat keluarga:
    Memiliki saudara kandung yang menderita limfoma Hodgkin, akan sedikit meningkatkan risiko untuk terkena limfoma. Namun, jika yang mengalami limfoma adalah saudara kembar identiknya, risiko ini meningkat secara signifikan.
  • Infeksi HIV
    Infeksi HIV dapat melemahkan sistem kekebalan dan meningkatkan risiko limfoma.
 
Berikut ini beberapa tes yang mungkin dapat membantu dokter dalam memberikan diagnosis.
  • Pemeriksaan fisik
    Dokter akan memeriksa kelenjar getah bening yang membengkak pada pasien, termasuk di leher, ketiak dan selangkangan, serta limpa atau hati.
  • Mengambil sampel untuk diuji (biopsi)
    Dokter mengambil sampel jaringan kelenjar getah bening dan sumsum tulang lalu diuji untuk menentukan apakah terdapat sel limfoma.
  • Tes darah
    Tes darah dapat memberikan petunjuk pada dokter untuk mendiagnosis.
  • Rontgen dada
    Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan gambar bagian dalam dada.
  • MRI
    Prosedur ini diperlukan untuk mendapatkan gambaran organ dan struktur tubuh.
  • PET Scan
    Tindakan medis ini dilakukan menggunakan zat radioaktif untuk mencari sel-sel kanker dalam tubuh
  • Tes molekuler
    Melalui pemeriksaan ini, dokter akan mencari perubahan pada gen, protein, dan zat lain pada sel kanker untuk membantu mengertahui jenis limfoma.

Stadium limfoma

Limfoma dapat dikelompokkan ke dalam empat stadium, berdasarkan tahap perkembangannya, dengan mendiagnosis lokasi kanker dan cakupan penyebarannya. Berikut ini penjelasannya:
  • Stadium 1. Kanker ada di salah satu kelompok kelenjar getah bening.
  • Stadium 2. Kanker berada di dua kelenjar getah bening yang berdekatan satu sama lain pada satu sisi tubuh, atau ditemukan pada satu organ yang berdekatan dengan kelenjar getah bening.
  • Stadium 3. Pada tahap ini, kanker berada di kelenjar getah bening di kedua sisi tubuh, serta beberapa kelenjar getah bening lainnya.
  • Stadium 4. Kanker dapat menyerang organ di sistem limfatik hingga menyebar ke luar kelenjar getah bening di dekatnya, seperti hati, sumsum tulang, dan paru-paru.
 
Cara mengobati limfoma umumnya akan tergantung dari jenis dan stadium limfoma yang diderita.Limfoma tahap awal mungkin belum memerlukan pengobatan. Sebagai gantinya, pasien harus memantau sendiri secara cermat. Pasien harus menjalani beberapa tes untuk mengawasi perkembangan limfoma agar tidak menyebar ke area lainnya.Namun pada kondisi tertentu, limfoma membutuhkan perawatan berupa:
  • Terapi biologis
Terapi bilogis untuk kanker adalah jenis pengobatan yang bertujuan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel kanker. Terapi ini dilakukan dengan memasukkan memasukkan mikroorganisme hidup ke dalam tubuh.
  • Terapi antibodi
Terapi ini diakukan dengan memasukkan antibodi sintetis ke dalam aliran darah. Antibodi tersebut nantinya akan menyerang sel kanker.
  • Kemoterapi
    Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat yang disuntikkan atau berbentuk pil untuk mematikan sel kanker. Obat kemoterapi menyebar ke seluruh tubuh untuk membunuh sel-sel kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh yang lain
  • Radioimunoterapi
Melalui terapi ini, dokter akan memberikan dosis radioaktif berkekuatan tinggi untuk menghancurkan sel spesifik pada kanker, yaitu sel B dan sel T.
  • Terapi radiasi
Terapi radiasi memanfaatkan sinar bertenaga tinggi yaitu sinar-X, untuk membunuh sel-sel kanker. Selama terapi radiasi, pasien diposisikan di atas meja dan mesin bergerak di sekitar pasien, untuk mengarahkan radiasi ke bagian yang terjangkit sel kanker.
  • Transplantasi stem cell
Terapi ini bertujuan untuk memulihkan sumsum tulang yang rusak setelah kemoterapi dosis tinggi atau terapi radiasi. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan sel-sel sumsum tulang sehat dari tubuh pasien atau dari pendonor ke dalam darah pasien. Sel-sel tersebut akan bergerak menuju ke tulang untuk membangun kembali sumsum tulang.
  • Steroid
Dokter mungkin memberikan steroid untuk meningkatkan efek kemoterapi. Steroid dapat membantu menghancurkan limfoma, serta mengobati mual atau muntah sebagai efek samping kemoterapi. Kortikosteroid biasanya diberikan dalam bentuk tablet, tetapi dapat juga dimasukkan ke pembuluh darah (intravena).
  • Pembedahan
Pembedahan yang dilakukan pada limfoma terdiri dari pengangkatan limpa atau organ lain setelah limfoma menyebar. Namun, biasanya dokter melakukan pembedahan untuk melakukan biopsi.Baca juga: Mengenal Stem Cell, dari Fungsi hingga Syarat Pendonornya 

Komplikasi

Limfoma dan pengobatannya dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Melemahnya sistem kekebalan tubuh
Pengobatan limfoma dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Apabila sistem kekebalan tubuh melemah, maka tubuh akan lebih mudah terkena infeksi.
  • Masalah kesuburan (infertilitas)
Kemoterapi dan radioterapi untuk limfoma dapat menyebabkan infertilitas. Kondisi ini terkadang bersifat sementara, tetapi bisa permanen.
  • Kondisi medis lainnya
Risiko berkembangnya kondisi kesehatan lainnya di masa mendatang lebih tinggi terjadi pada orang yang pernah menderita limfoma Hodgkin. Kondisi medis tersebut meliputi penyakit kardiovaskular, paru-paru atau bahkan kanker lain seperti kanker darah.Baca jawaban dokter: Adakah obat herbal untuk kanker limpoma? 
Tidak ada cara mencegah terjadinya limfoma. Namun ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan risikonya, antara lain dengan:
  • Menghindari perilaku yang meningkatkan kemungkinan terkena AIDS dan infeksi hepatitis C, karena kedua penyakit tersebut dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Menghindari paparan radiasi sebisa mungkin
  • Menjaga berat badan normal dan mengonsumsi makanan yang sehat
Meskipun jarang terjadi, beberapa wanita yang memasang implan payudara dapat mengalami limfoma di area implan. Oleh karena itu, pikirkan dengan matang sebelum memasang implan payudara. 
Temui dokter jika Anda melihat perubahan yang tidak normal pada tubuh atau jika Anda memiliki salah satu dari kemungkinan tanda dan gejala limfoma. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya:
    • Jenis limfoma apa yang saya miliki?
    • Limfoma saya berada di tahap berapa?
    • Sejauh mana limfoma saya menyebar?
    • Tes apa saja yang saya perlukan?
    • Apa saja pilihan pengobatan untuk saya?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait limfoma?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis limfoma agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lymphoma/diagnosis-treatment/drc-20352642
diakses pada 23 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/lymphoma-cancer#3
diakses pada 25 Febuari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/lymphoma#
diakses pada 22 September 2020
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/146136
diakses pada 22 September 2020
Cancer Research UK. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/non-hodgkin-lymphoma/getting-diagnosed/gp#
diakses pada 22 September 2020
My cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15662-adult-non-hodgkins-lymphoma/prevention
diakses pada 22 September 2020
Cancer. https://www.cancer.org/cancer/hodgkin-lymphoma/causes-risks-prevention/prevention.html
diakses pada 22 September 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hodgkin-lymphoma/complications/
diakses pada 22 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email