Infeksi

Mononukleosis

Diterbitkan: 30 Sep 2020 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Mononukleosis
Mononukleosis disebabkan oleh virus Epstein Barr
Mononukleosis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Penyakit yang juga disebut demam kelenjar ini biasanya terjadi pada remaja.Mononukleosis juga kerap dinamakan penyakit ciuman (kissing disease). Pasalnya, penyakit ini bisa menyebaran lewat air liur seperti saat berciuman dengan pengidap.Selain lewat ciuman, mononukleosis juga bisa menular lewat bersin, batuk, dan berbagi alat makan dengan penderita.Apabila seseorang pernah mengidap mononukleosis, ia kemungkinan tidak akan terkena penyakit yang sama lagi di kemudian hari. Pasalnya, tubuh penderita telah membentuk antibodi terhadap virus penyebab mononukleosis. 
Mononukleosis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDemam, pembesaran kelenjar getah bening, ruam kulit
Faktor risikoSistem imun lemah, sering berkumpul dengan banyak orang
Metode diagnosisTes darah, monospot test, tes antibodi terhadap mononukleosis
PengobatanObat, perawatan di rumah
ObatParacetamol, kortikosteroid
KomplikasiPembesaran limpa, hepatitis, meningitis
Kapan harus ke dokter?Gejala mononukleosis tidak membaik dalam 1-2 minggu
Masa inkubasi mononukleosis adalah sekitar 4-6 minggu. Masa inkubasi berarti waktu yang diperlukan sejak seseorang terinfeksi virus hingga mengalami gejala. Sementara gejala mononukleosis bisa bertahan hingga 1-2 bulan.Secara umum, gejala mononukleosis meliputi:
  • Sakit tenggorokan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Keringat pada malam hari
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak
  • Kelemahan otot
  • Ruam kulit
Gejala demam kelenjar biasanya lebih parah jika dialami oleh remaja dan orang dewasa daripada anak-anak. Penderita anak-anak bahkan bisa tidak mengalami keluhan apa-apa.Mononukleosis sulit untuk dibedakan dengan infeksi virus umum lain seperti flu. Jadi jika gejala flu tidak kunjung membaik dalam 1-2 minggu setelah perawatan di rumah, segera konsultasikan ke dokter.Mungkin saja ada tanda dan gejala mononukleosis yang tidak disebutkan. Bila memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, Anda juga perlu memeriksakan diri ke dokter. 
Penyebab utama mononukleosis adalah infeksi virus Epstein Barr (EBV). Namun tak hanya EBV, virus lain yang juga dapat menyebabkan penyakit ini. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Cytomegalovirus (CMV)
  • Adenovirus
  • Virus hepatitis A
  • Virus toksoplasma
  • Virus rubella
Demam kelenjar dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, air mani atau air liur dari penderita. Karena itu, virus penyebabnya bisa menyebar melalui:
  • Bersin dan batuk
  • Ciuman
  • Hubungan seksual
  • Transplantasi organ
  • Transfusi darah
  • Saling meminjamkan alat makan
 

Faktor risiko mononukleosis

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mononukleosis meliputi:
  • Usia, khususnya remaja dan dewasa muda berusia antara 15-30 tahun
  • Orang yang sering berada di tempat ramai atau melakukan kontak langsung dengan penderita, misalnya pelajar, mahasiswa, pengasuh, serta perawat
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, contohnya orang yang mengonsumsi obat penekan sistem imun (imunosupresan)
 
Diagnosis mononukleosis dapat titentukan dengan cara-cara di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala dan durasi kemunculannya, serta faktor risiko mononukleosis yang dimiliki oleh pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda mononukleosis, seperti pembesaran kelenjar amandel, organ limpa, dan kelenjar getah bening.
  • Tes darah

Tes darah bertujuan guna mengetahui ada tidaknya peningkatan jumlah sel darah putih (limfosit) atau sel darah putih yang tampak abnormal.
  • Monospot test

Monospot test digunakan untuk menentukan kadar dari grup antibodi lain yang akan dihasilkan jika pasien terinfeksi oleh EBV. Hasil tes ini akan konsisten bila dilakukan pada 2-4 minggu setelah pasien mengalami gejala.
  • Tes antibodi

Tes antibodi berfungsi mendeteksi antibodi terhadap virus Epstein Barr. Tes ini dilakukan jika monospot test memberikan hasil negatif.Pemeriksaan antibodi bisa mengindentifikasi mononukleosis pada minggu pertama gejala muncul. 
Cara mengobati mononukleosis akan tergantung pada tingkat keparahan dan seberapa lama pasien sudah mengalaminya. Pada dasarnya, belum ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan penyakit ini.Sama seperti infeksi virus lainnya, mononukleosis bisa sembuh dengan sendirinya. Penanganan bertujuan mengurangi gejala dan biasanya meliputi:

1. Obat-obatan

Pilihan obat yang umum diresepkan untuk mengatasi mononukleosis bisa berupa:
  • Obat penurun demam dan antinyeri seperti paracetamol
  • Obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan pada amandel

2. Perawatan di rumah

Pasien juga bisa melakukan perawatan mandiri di rumah di bawah ini untuk meringankan gejala dan mempercepat penyembuhan mononukleosis:
  • Mengonsumsi sup ayam hangat
  • Banyak istirahat
  • Banyak minum air
  • Berkumur air garam
 

Komplikasi mononukleosis

Jika tidak diobati dengan benar, mononukleosis dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Pembesaran organ limpa
  • Pecahnya limpa akibat pembesaran limpa yang berat dan tidak ditangani
  • Peradangan hati atau hepatitis
  • Penyakit kuning
  • Anemia atau kekurangan sel darah merah
  • Trombositopenia atau rendahnya kadar trombosit
  • Peradangan pada otot jantung atau miokarditis
  • Meningitis
  • Ensefalitis
  • Sindrom Guillain-Barre
  • Pembesaran amandel yang dapat menghambat saluran napas
  • Masalah mata, seperti episkleritis dan uveitis
  • Masalah kulit seperti eritema multiforme
 
Mononukleosis hampir tidak mungkin dicegah. Pasalnya, orang yang pernah terinfeksi EBV akan terus memiliki dan bisa menularkan infeksi ini secara berkala seumur hidupnya.Namun beberapa langkah di bawah ini bisa Anda lakukan untuk mencegah penularannya:
  • Menghindari kontak langsung dengan penderita, seperti tidak mencium penderita
  • Jangan saling meminjamkan alat makan maupun berbagi makanan dengan penderita
 
Segera berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami gejala mononukleosis yang tidak kunjung membaik dalam 1-2 minggu. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah gejala muncul secara terus-menerus atau sesekali?
  • Apa ada hal yang meringankan atau memperberat gejala Anda?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait mononukleosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis mononukleosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/mononucleosis 
Diakses pada 2 Januari 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mononucleosis/symptoms-causes/syc-20350328
Diakses pada 2 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/mononucleosis-directory 
Diakses pada 2 Januari 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470387/
Diakses 30 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email