Penyakit Lainnya

Osteoporosis

Diterbitkan: 26 Jan 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Osteoporosis
Kepadatan tulang menurun pada penderita osteoporosis.
Osteoporosis adalah kondisi menurunnya kepadatan tulang. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, tapi paling umum dialami oleh kalangan lanjut usia (lansia), terutama wanita.Dalam tulang yang sehat, ada rongga-rongga kecil seperti sarang lebah. Namun pada penderita osteoporosis, ukuran ruang ini membesar sehingga menyebabkan tulang kehilangan kekuatan dan kepadatannya.Tak hanya berdampak pada bagian dalam tulang, osteoporosis juga dapat membuat bagian luar tulang melemah dan menipis.Orang yang menderita osteoporosis akan memiliki risiko tinggi untuk mengalami retak atau patah tulang. Komplikasi ini dapat terjadi khususnya pada saat melakukan aktivitas rutin seperti berdiri atau berjalan.Bagian tulang yang paling umum mengalami tulang keropos adalah tulang rusuk, pinggul, pergelangan tangan, serta tulang belakang. 
Osteoporosis
Dokter spesialis Ortopedi
GejalaSakit punggung, tubuh bungkuk, gusi menyusut
Faktor risikoUsia, keturunan, masalah hormon
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah dan urine, tes kepadatan tulang
PengobatanObat-obatan
ObatBifosfonat, denosumab, hormon
KomplikasiPatah tulang
Kapan harus ke dokter?Sakit punggung tiba-tiba, patah tulang karena benturan ringan, gusi yang menyusut
Gejala osteoporosis umumnya tidak terasa, terutama di tahap awal perkembangannya. Namun jika tulang sudah melemah akibat kondisi ini, beberapa keluhan di bawah ini mungkin muncul:
  • Sakit punggung karena tulang retak atau terjatuh
  • Penurunan berat badan seiring waktu
  • Tubuh yang bungkuk
  • Tulang lebih mudah patah
  • Gusi menyusut
  • Kekuatan cengkeraman kian lemah
  • Kuku yang lemah dan rapuh
 
Penyebab osteoporosis biasanya adalah melambatnya proses regenerasi tulang seiring bertambahnya usia.Normalnya, pembaharuan tulang akan terus terjadi. Kebanyakan orang akan mencapai puncak pertumbuhan tulang pada usia awal 20-an.Lalu, seiring seseorang bertambah tua, durasi berkurangnya massa tulang akan lebih cepat daripada proses terbentuknya tulang. Risiko osteoporosis akan tergantung pada massa tulang yang terbentuk ketika remaja. 

Faktor risiko osteoporosis

Ada serangkaian faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami osteoporosis. Faktor-faktor ini meliputi:

1. Faktor alami

  • Jenis kelamin wanita
  • Usia tua
  • Ras
  • Riwayat keluarga
  • Ukuran rangka tubuh

2. Perubahan hormon

  • Rendahnya hormon seks, misalnya ketika menopause
  • Hipertiroidisme
  • Masalah pada kelenjar paratiroid
  • Kelenjar adrenal terlalu aktif

3. Pengaruh makanan

  • Asupan kalsium yang rendah
  • Gangguan makan, seperti bulimia dan anoreksia
  • Pernah melakukan operasi gastrointestinal

4. Efek samping obat

  • Kortikosteroid jangka panjang
  • Obat kejang
  • Obat untuk mengatasi refluks lambung
  • Obat kanker
  • Terjadi penolakan transplantasi

5. Penyakit tertentu

6. Gaya hidup

  • Kurang gerak dan olahraga
  • Konsumsi alkohol secara berlebihan
  • Merokok
 
Untuk memastikan diagnosis osteoporosis, dokter dapat melakukan beberapa langkah pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala pasien, serta riwayat medis pasien maupun keluarga
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa tubuh pasien untuk mencari tanda-tanda pengeroposan tulang, misalnya nyeri punggung atau gusi yang menyusut
  • Tes darah dan urine

Tes darah dan tes urine bertujuan mendeteksi ada tidaknya penyakit tertentu yang melatarbelakangi gejala pasien, dan menyebabkan menurunnya massa tulang.
  • Tes kepadatan tulang

Dokter bisa menyarankan pasien untuk menjalani tes kepadatan tulang. Tes ini disebut dual energy X-ray absorptiometry (DEXA).Sinar X akan mengukur kepadatan tulang pada telapak tangan, pinggul, atau tulang belakang pasien. Pasalnya, area-area ini berisiko terkena osteoporosis. 
Cara mengobati osteoporosis akan ditentukan berdasarkan tingkat keparahan, kondisi pasien secara umum, dan risiko komplikasi yang dimiliki oleh pasien. Dokter bisa menganjurkan beberapa langah penanganan di bawah ini:

1. Obat-obatan

Dokter dapat memberikan sederet obat berikut:
  • Bifosfonat

Obat golongan bifosfonat untuk mengatasi osteoporosis meliputi alendronate, risedronate, ibandronate, dan zoledronic acid. Obat ini memiliki efek samping mual, sakit perut, dan gejala seperti mulas.Namun kemungkinan munculnya sederet efek samping tersebut tergolong rendah jika pasien meminum obat ini dengan benar dan sesuai anjuran dokter.Jika pemberian bifosfonat dilakukan melalui suntikan, efek samping yang bisa terjadi meliputi demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Efek samping mungkin akan berlangsung selama tiga hari.Untuk memudahkan pasien, pemberian suntikan triwulan atau tahunan mungkin lebih baik. Pasalnya, frekuensi ini bisa mengurangi kesalahan akibat lupa saat harus mengonsumsi bisofonat per minggu atau per bulan.
  • Denosumab

Denosumab adalah obat golongan antibodi monoklonal. Obat ini berfungsi membuat kepadatan tulang lebih baik dan mencegah patah tulang.Obat ini akan diberikan lewat suntikan, biasanya enam bulan sekali. Penggunaan denosumab mungkin diperlukan seumur hidup. Jika pemakaiannya dihentikan, risiko patah tulang mungkin akan meningkat.Baik bifosfonat maupun denosumab, memiliki kemungkinan untuk menyebabkan komplikasi berupa patah atau retak pada tulang paha. Penyembuhan tulang rahang setelah cabut gigi juga bisa tertunda.Meski komplikasi akibat bifosfonat maupun denosumab tersebut jarang terjadi, pasien tetap dihimbau untuk menjalani pemeriksaan gigi sebelum mengonsumsi kedua obat ini.
  • Terapi hormon

Osteoporosis juga dipengaruhi oleh kadar hormon dalam tubuh. Contohnya, hormon estrogen dan testosteron.Pada wanita yang sudah menopause, dokter bisa memberikan hormon estrogen sintetis. Obat ini akan membantu dalam mempertahankan kepadatan tulang.Namun efek samping terapi hormon estrogen juga mesti diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko munculnya gumpalan darah, kanker payudara, kanker rahim, serta penyakit jantung.Sementara pada pria, terapi hormon testosteron jika kadarnya termasuk rendah dalam tubuh pasien. Dokter akan mengombinasikannya dengan obat osteoporosis lainnya.
  • Obat pembangun tulang

Untuk pasien yang tidak bisa menjalani metode pengobatan osteoporosis yang umum, dokter bisa memberikan obat-obatan untuk membangun tulang. Contohnya, teriparatide, abaloparatide, dan romosozumab.Teriparatide mirip dengan hormon paratiroid dan berfungsi merangsang pertumbuhan tulang baru. Obat ini biasa diberikan lewat suntikan setiap hari. Setelah dua tahun, obat lain akan diresepkan guna mempertahankan pertumbuhan tulang baru.Abaloparatide juga mirip dengan hormone paratiroid. Hanya saja, pemberiannya melalui obat diminum dan dilakukan selama dua tahun. Setelahnya, pasien akan mengonsumsi obat osteoporosis lain.Romosozumab adalah obat pembangun tulang terbaru yang digunakan untuk mengobati osteoporosis. Pemberian obat ini melalui suntikan selama satu tahun saja. Setelah itu, pasien akan melanjutkan pengobatan dengan mengonsumsi obat osteoporosis lain.

2. Perubahan gaya hidup

Pasien juga disarankan untuk tidak merokok dan menghindari terjatuh. Pasalnya, kebiasaan merokok dapat meningkatkan hilangnya massa tulang dan terjatuh bisa menambah risiko patah tulang atau tulang retak. 

Komplikasi osteoporosis

Komplikasi osteoporosis yang utama adalah patah tulang. Kondisi ini umumnya terjadi pada tulang belakang atau pinggul.Fraktur tulang pinggul sering disebabkan oleh terjatuh. Patah tulang pinggul kerap berujung pada kecacatan. Komplikasi ini bahkan bisa meningkatkan risiko kematian pada satu tahun pertama setelah kemunculan cedera.Pada beberapa kasus, patah tulang belakang juga bisa terjadi meski penderita tidak terjatuh. Penyusun tulang punggung dapat melemah hingga hancur. Akibatnya, pasien akan mengalami sakit tulang belakang, penurunan berat badan, dan postur bungkuk. 
Cara mencegah osteoporosis yang bisa Anda lakukan meliputi:
  • Mencukupi asupan kalsium dan vitamin D
  • Mengonsumsi protein dengan cukup
  • Berhenti merokok
  • Menjaga berat badan agar tetap dalam batas ideal
  • Berolahraga secara teratur
  • Melakukan terapi hormon bila diperlukan
 
Periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami:
  • Sakit punggung yang parah atau terjadi secara tiba-tiba
  • Penyakit gusi dan gangguan kesehatan mulut lain yang mungkin disebabkan oleh pengeroposan tulang
Konsultasi ke dokter juga dianjurkan bagi orang yang menderita patah tulang setelah benturan ringan, mengonsumsi steroid untuk beberapa bulan, lansia yang mengalami retak tulang pinggul retak, serta wanita yang memasuki masa menopause. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang  dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait osteoporosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis osteoporosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/osteoporosis
Diakses pada 14 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968
Diakses pada 14 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/osteoporosis/default.htm
Diakses pada 14 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email