Penyakit Lainnya

Paraplegia

Diterbitkan: 17 Feb 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Paraplegia
Paraplegia adalah gangguan fungsi sensorik atau motorik pada tungkai bawah (kaki). Fungsi motorik berperan menggerakkan bagian tubuh. Sementara fungsi sensorik berperan dalam merasakan sensasi.Pada gangguan fungsi sensorik, kondisi ini dapat berupa hilangnya sensasi ataupun perubahan sensasi, seperti sensasi terhadap nyeri, suhu, dan sentuhan.Paraplegia dikenal juga dengan sebutan paralisis parsial. Paraplegia disebabkan oleh kerusakan saraf tulang belakang (medulla spinalis) pada level tulang belakang toraks 1 (T1) sampai lumbar 5 (L5). Saraf tulang belakang merupakan saluran penghantar rangsangan dari otak menuju ke bagian tubuh sehingga anggota tubuh bisa digerakkan.Sebaliknya, rangsangan berupa sensasi sentuhan, panas, dan getaran, masuk lewat kulit dan diantar melalui saraf tulang belakang menuju ke otak untuk dipersepsikan di otak. Jika terjadi kerusakan saraf otak maupun saraf tulang belakang, rangsangan tidak akan dapat diantarkan dengan baik.Paraplegia merupakan kondisi yang tidak tetap. Seseorang dapat memiliki gejala yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu.Beberapa orang dapat sembuh dengan spontan, sedangkan pada sebagian penderita lainnya, tidak ada perbaikan meskipun telah menjalani terapi. Keadaan yang bervariasi tersebut dapat dipengaruhi oleh terapi maupun penyebab paraplegia itu sendiri. 
Paraplegia
Dokter spesialis Saraf
GejalaHilangnya sensasi sensorik pada tubuh bagian bawah, kelumpuhan atau gangguan pergerakan tubuh bagian bawah, gangguan buang air kecil dan buang air besar
Faktor risikoBerjenis kelamin laki-laki, lansia, menjalani kegiatan yang berisiko
Metode diagnosisPemeriksaan darah, pungsi lumbar, pemeriksaan pencitraan
PengobatanPenggunaan kursi roda, fisioterapi, penggunaan kateter (selang urin)
KomplikasiUlkus dekubitus, depresi, inkontinensia
Kapan harus ke dokter?Mengalami cedera pada tulang belakang
Gejala paraplegia dirasakan pada tubuh bagian bawah, yakni dari pinggang hingga kaki. Sementara fungsi lengan dan tangan dalam batas normal. Gejala paraplegia meliputi:
  • Hilangnya sensasi sensorik (nyeri, suhu, getaran, dan posisi)
  • Gangguan sensasi, seperti nyeri yang tidak dapat dijelaskan, sensasi elektrik, dan kesemutan
  • Penurunan atau hilangnya fungsi seksual, libido, atau kesuburan
  • Gangguan proses buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB)
  • Kelumpuhan atau gangguan pergerakan tubuh bagian bawah
Masalah lain yang dapat timbul pada orang dengan paraplegia adalah:
  • Perubahan mood dan depresi.
  • Kenaikan berat badan karena kurangnya aktivitas fisik.
  • Infeksi, terutama pada tubuh bagian bawah. Misalnya, luka yang disebabkan oleh tertekannya bagian tubuh akibat kurangnya pergerakan dan tubuh berada pada posisi yang sama dalam jangka waktu yang lama.
  • Infeksi saluran kemih berulang.
  • Batu ginjal.
  • Kekakuan otot.
  • Perubahan temperatur tubuh yang cepat dan bervariasi.
  • Nyeri kronis.
  • Pneumonia (infeksi pada paru-paru).
 
Paraplegia biasanya terkait dengan cedera pada otak atau saraf tulang belakang yang mencegah rangsangan saraf ke tubuh bagian bawah dan menyebabkan kelumpuhan. Penyebab cedera yang dapat memicu paraplegia adalah jatuh dan kecelakaan kendaraan bermotor. Penyebab lainnya adalah tindak kekerasan dan kecelakaan saat berolahraga.Selain itu, paraplegia juga dapat disebabkan oleh kondisi kronis yang berlangsung lama. Penyebab paraplegia tersebut dapat berupa:
  • Tumor atau kelainan pada tulang belakang dan otak
  • Penyakit saraf seperti stroke atau cerebral palsy
  • Penyakit autoimun seperti multiple sclerosis
 

Faktor risiko paraplegia

Paraplegia seringkali terkait dengan cedera saraf tulang belakang yang disebabkan oleh kecelakaan. Akan tetapi, beberapa faktor tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera saraf tulang belakang yang dapat memicu paraplegia.Beberapa faktor risiko paraplegia tersebut meliputi:
  • Berjenis kelamin laki-laki

Cedera saraf tulang belakang dialami kebanyakan oleh laki-laki.
  • Berusia antara 16-30 tahun

Kondisi ini paling sering dialami oleh orang-orang berusia 16-30 tahun.
  • Lansia (berusia di atas 65 tahun)

Hal ini disebkan risiko jatuh yang paling sering dialami lansia.
  • Menjalani kegiatan yang berisiko
Misalnya menyelam pada kedalaman yang terlalu dangkal atau berolahraga tanpa alat-alat keamanan yang memadai dan kurang berhati-hati. Kecelakaan kendaraan bermotor juga menjadi penyebab cedera saraf tulang belakang terbanyak bagi pasien berusia di bawah 65 tahun.
  • Memiliki penyakit tulang atau sendi

Cedera ringan dapat menyebabkan cedera saraf tulang belakang pada pasien dengan penyakit tulang atau sendi, seperti osteoporosis atau artritis (radang sendi). 
Untuk menegakkan diagnosis paraplegia, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi:

1. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai adanya infeksi, tumor, atau penyebab lain yang dapat menimbulkan paraplegia.

2. Pungsi lumbar

Pungsi lumbar adalah prosedur pengambilan cairan serebrospinal melalui tulang belakang bagian lumbar untuk diperiksa.

3. Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan yang dapat dilakukan meliputi:
  • CT scan untuk melihat tingkat keparahan cedera
  • X-ray untuk memeriksa adanya tumor atau patah tulang belakang
  • MRI untuk melihat adanya gumpalan darah atau massa yang menekan saraf tulang belakang
 
Cedera pada saraf tulang belakang tidak selalu langsung diikuti oleh gejala yang nyata, seperti kebas atau kelemahan anggota gerak tubuh. Bahkan kerusakan lebih lanjut dapat terjadi jika ada perdarahan dan pembengkakan daerah tulang belakang.Oleh karena itu, pertolongan medis sangat diperlukan dengan cepat jika terjadi cedera pada tulang belakang.Terapi ditujukan pertama kali untuk mengatasi penyebab paraplegia. Jika terjadi cedera pada tulang belakang, bagian tulang belakang tidak boleh digerakkan karena akan memperparah kerusakan saraf tulang belakang.Setelah itu, akan dilakukan terapi untuk membantu mengatasi keterbatasan pergerakan dengan memakai alat bantu. Contohnya, kursi roda dan fisioterapi.Gangguan BAK dan BAB dapat diatasi dengan penggunaan kateter (selang urine) maupun program manajemen BAK dan BAB. Dengan program tersebut, penderita paraplegia dapat lebih mengendalikan pengeluaran BAK dan BAB. 

Komplikasi paraplegia

Komplikasi paraplegia dapat berupa:
  • Ulkus dekubitus
  • Trombosis (penggumpalan darah)
  • Depresi
  • Tidak bisa menahan buang air kecil dan buang air besar (inkontinensia)
  • Impotensi
  • Gangguan sirkulasi darah
  • Autonomic dysreflexia
  • Hilangnya tonus otot
  • Nyeri
  • Pneumonia dan gangguan pernapasan lainnya
 
Cedera tulang belakang paling sering disebabkan oleh kecelakaan. Oleh sebab tu, pencegahan paraplegia dapat dilakukan dengan meminimalisir risiko cedera dengan cara memperhatikan lingkungan sekitar.Menggunakan alat pelindung saat berolahraga dan memakai sabuk pengaman termasuk langkah penting untuk mencegah cedera serius yang diakibatkan oleh kecelakaan. Selain itu, hindari juga beraktivitas atau berkendara saat kondisi fisik kurang fit, mengantuk, atau di bawah pengaruh obat-obatan. 
Cedera tulang belakang traumatik merupakan kegawatdaruratan. Ini berarti Anda harus segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami cedera pada daerah tersebut. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait paraplegia?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis paraplegia. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Spinal Cord. https://www.spinalcord.com/paraplegia
Diakses pada 19 April 2019
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/spinal-cord-injury-paraplegia
Diakses pada 19 April 2019
Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/paraplegia
Diakses pada 19 April 2019
News Medical. https://www.news-medical.net/health/What-is-Paraplegia.aspx
Diakses pada 19 April 2019
Disabled World. https://www.disabled-world.com/definitions/paraplegia.php
Diakses pada 19 April 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/diagnosis-treatment/drc-20377895
Diakses pada 19 April 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/what-is-paraplegia
Diakses pada 17 Februari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6439316/
Diakses pada 17 Februari 2021
Apollo Hospitals. https://www.apollohospitals.com/patient-care/health-and-lifestyle/diseases-and-conditions/paraplegia
Diakses pada 17 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email