Penyakit Lainnya

Parestesia (Kesemutan)

Diterbitkan: 04 Feb 2021 | Giasinta Angguni PranandhitaDitinjau oleh dr. Miranda Rachellina
image Parestesia (Kesemutan)
Kesemutan digambarkan dengan sensasi nyeri, kebas, atau ditusuk jarum.
Parestesia atau kesemutan merupakan sensasi kebas atau panas pada suatu bagian tubuh tanpa adanya penyebab yang jelas. Kondisi ini umumnya terjadi pada lengan, telapak tangan atau kaki, namun juga dapat terjadi pada bagian tubuh lainnya. Parestesia merupakan kondisi yang umum terjadi, kondisi ini biasanya sering digambarkan seperti sensasi ditusuk jarum atau kesemutan.Kondisi ini disebabkan tekanan pada saraf yang umumnya dilakukan secara tidak sengaja. Parestesia umumnya bersifat sementara dan dapat hilang dengan sendirinya ketika berganti posisi. Jika parestesia berlangsung secara terus-menerus, kondisi ini dapat mengindikasikan adanya kelainan yang memerlukan penanganan medis. 
Parestesia (Kesemutan)
Dokter spesialis Saraf
GejalaSensasi kebas, ditusuk jarum, panas
Faktor risikoDiabetes
Metode diagnosisStudi konduksi saraf, EMG, MRI, Ultrasound
PengobatanTerapi, obat steroid, operasi
Kapan harus ke dokter?Kesemutan berkelanjutan
Parestesia umumnya terjadi pada area berikut, antara lain:
  • Tangan
  • Lengan
  • Kaki
  • Telapak kaki
Sensasi yang ditimbulkan dapat bervariasi, antara lain:
  • Kebas
  • Lemah pada bagian tubuh tertentu
  • Kesemutan
  • Sensasi panas atau seperti terbakar
  • Dingin
Parestesia dapat bersifat akut maupun kronis. Parestesia kronis dapat menyebabkan nyeri yang menusuk dan menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan pada daerah yang terkena. 
Hampir semua orang pernah mengalami kesemutan, misalnya ketika terlalu lama berada di suatu posisi. Umumnya penyebab kesemutan adalah terjadinya tekanan pada saraf tertentu, namun terdapat kondisi lainnya yang dapat mengakibatkan parestesia antara lain:
  • Cedera yang mengakibatkan kerusakan saraf
  • Stroke atau stroke ringan, yaitu kondisi ketika suplai darah ke otak terhambat dan menimbulkan kerusakan otak
  • Sklerosis multipel atau multiple sclerosis yaitu penyakit yang mempengaruhi sistem saraf pusat (otak dan saraf tulang belakang)
  • Diabetes atau kencing manis
  • Saraf kejepit, biasanya terjadi di daerah leher, bahu dan lengan yang diakibatkan penggunaan berlebihan atau cedera
  • Skiatika atau sciatica berupa tekanan pada saraf skiatik, yaitu saraf yang terletak di sepanjang panggul hingga kaki, kondisi ini umumnya terjadi saat kehamilan yang menyebabkan sensasi kebas dan nyeri pada kaki dan punggung.
  • Carpal-tunnel syndrome yaitu penyempitan saraf di daerah pergelangan tangan hingga telapak tangan yang menyebabkan kesemutan atau sensasi kebas pada tangan dan jari.
  • Kurangnya konsumsi vitamin tertentu, seperti vitamin B12 yang baik untuk kesehatan saraf
  • Obat-obatan tertentu seperti antibiotik, obat HIV dan obat anti kejang serta beberapa jenis kemoterapi yang dapat mengganggu saraf

Penyebab tangan kesemutan

Kesemutan pada tangan umum terjadi dan biasanya bukan merupakan kondisi serius, serta akan menghilang dengan sendirinya. Misalnya, Anda bisa mengalami kesemutan ketika menyandarkan kepala di tangan untuk waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan penekanan saraf di tangan.Beberapa penyebab tangan kesemutan lainnya yang perlu diperhatikan adalah:
  • Gejala awal diabetes
  • Carpal-tunnel syndrome
  • Masalah ginjal dan hati
  • Masalah hormon, seperti hipotiroidisme
  • Kekurangan vitamin E, B1, B6, B12 dan niacin
  • Penyakit autoimun
  • Multiple sclerosis
Baca juga: Kepala Kesemutan, Penyebab dan Cara Mengatasinya yang Tepat 
Sebelum melakukan diagnosis, dokter biasanya akan menanyakan informasi tertentu yang berkaitan dengan riwayat medis dan gejala yang dialami pasien. Jika diperlukan, dokter mungkin akan merekomendasikan pasien untuk melakukan beberapa tes pemeriksaan fisik seperti:
  • Studi konduksi saraf untuk mengetahui seberapa cepat saraf merespon impuls
  • Elektromiografi (EMG) untuk merekam aktivitas listrik yang menunjukkan interaksi otot dengan saraf
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk menampilkan struktur organ di dalam tubuh
  • Ultrasound juga dapat digunakan untuk menampilkan citra organ tubuh khususnya pada lokasi yang mengalami gangguan atau kerusakan
 
Penanganan parestesia bergantung pada penyebab terjadinya. Jika terdapat masalah atau kondisi medis yang mendasari kondisi ini, maka pengobatan akan ditujukan untuk menangani akar permasalahannya terlebih dahulu yang secara bersamaan dapat mengurangi dan menangani gejala parestesia. Berbagai pengobatan yang umumnya dilakukan untuk menangani parestesia antara lain:
  • Mengistirahatkan area yang bersangkutan. Pengobatan ini dapat dilakukan dengan pemasangan gips atau penyangga seperti perban elastik atau splint untuk mengurangi pergeseran atau pergerakan pada area tersebut
  • Terapi fisik. Terapi ini ditujukan untuk membangun kekuatan pada otot di sekitar saraf. Otot yang kuat dapat mengurangi tekanan pada jaringan dan mencegah timbulnya nyeri. Selain itu, otot yang sehat dapat memperbaiki kelenturan dan fleksibilitas serta meningkatkan pergerakan daerah yang bersangkutan
  • Obat-obatan. Beberapa obat-obatan seperti ibuprofen, naproxen sodium dan suntikan steroid yang disuntikkan pada area yang bersangkutan dapat membantu mengurangi rasa sakit serta pembengkakan
  • Operasi. Jika beberapa pengobatan diatas tidak dapat mengurangi atau menghilangkan gejala yang terjadi, maka operasi mungkin perlu dilakukan untuk mengurangi tekanan pada saraf yang terjepit. Jenis operasi akan dilakukan berdasarkan penyebab dan gejala yang dialami penderita.
Komplikasi dan risiko apabila tidak diobatiParestesia yang dialami dalam jangka waktu yang singkat dan bersifat sementara jarang menyebabkan kerusakan permanen atau penyakit serius.Namun, jika saraf terjepit dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan permanen, nyeri kronis bahkan kelumpuhan.Baca juga: 5 Vitamin untuk Kebas dan Kesemutan yang Bisa Anda Konsumsi 
Pencegahan parestesia umumnya dilakukan untuk menghindari penekanan saraf yang disebabkan postur atau posisi tubuh yang kurang baik. Seperti contohnya ketika tertidur dengan menekan salah satu sisi tangan dalam waktu yang lama. Untuk mencegah parestesia, Anda dapat melakukan hal-hal berikut,
  • Menghindari gerakan yang berulang-ulang dan penekanan yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama
  • Beristirahat setelah melakukan aktivitas yang melelahkan
  • Menjaga postur tubuh yang baik dengan tidak menyilangkan kaki dalam waktu yang lama dan menopang salah satu sisi tubuh dalam waktu yang lama
  • Melakukan peregangan atau beristirahat setelah duduk dalam jangka waktu yang lama
  • Menjaga berat badan ideal
Jika Anda mengidap diabetes atau penyakit kronis lainnya sebaiknya Anda melakukan check-up rutin untuk mengurangi risiko Anda mengalami parestesia. 
Anda perlu berkonsultasi dengan dokter jika tanda atau gejala yang Anda alami berlangsung lebih dari beberapa hari dan tidak membaik setelah mengonsumsi obat-obatan. 
Sebelum berkonsultasi dengan dokter sebaiknya Anda menyiapkan hal berikut untuk memudahkan dokter dalam memahami kondisi Anda. Beberapa hal tersebut antara lain:
  • Ketahui larangan tertentu sebelum berkonsultasi seperti menjalani diet tertentu, berpuasa atau menggunakan pakaian yang longgar
  • Kenali dan catat gejala dan tanda-tanda yang Anda alami
  • Riwayat medis Anda serta obat-obatan yang Anda konsumsi
Dalam berkonsultasi, Anda juga dapat membawa saudara atau keluarga untuk membantu memberikan informasi tambahan terkait kondisi Anda. 
Ketika berkonsultasi, dokter mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk memahami kondisi Anda, antara lain
  • Apa saja gejala atau tanda-tanda yang Anda alami?
  • Di bagian mana Anda merasakan keluhan ini?
  • Berapa lama Anda mengalami gejala ini?
  • Apakah gejala yang Anda alami berlangsung secara terus-menerus atau hanya sesekali?
  • Apakah ada posisi atau hal tertentu yang dapat memperbaiki atau memperparah kondisi Anda?
  • Apakah ada aktivitas fisik tertentu yang Anda lakukan dengan melibatkan gerakan yang berulang-ulang?
 
Healthline. https://www.healthline.com/health/paresthesia
Diakses pada 7 Januari 2019
Mayo Clinic.  https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pinched-nerve/symptoms-causes/syc-20354746
Diakses pada 7 Januari 2019
Medical News Today. (n.d.). https://www.medicalnewstoday.com/articles/318845.php
Diakses pada 7 Januari 2019
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Paresthesia-Information-Page
Diakses pada 7 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/brain/paresthesia-facts
Diakses pada 7 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/brain/tingling-in-hands-and-feet#1
Diakses pada 4 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email