Perut

Peritonitis

Diterbitkan: 21 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Peritonitis
Peritonitis terjadi pada dinding perut akibat infeksi jamur maupun bakteri
Peritonitis adalah peradangan di bagian peritoneum (lapisan jaringan ikat yang mengelilingi organ perut). Peradangan ini umumnya disebabkan oleh luka di bagian perut, infeksi bakteri atau jamur, dan keadaan medis lainnya.Apabila tidak diobati, peritonitis dapat menyebabkan infeksi parah di sekujur tubuh yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, pasien yang terserang peritonitis memerlukan perawatan secepatnya.Perawatan yang diberikan dapat meliputi pengobatan untuk melawan infeksi atau pengobatan penyakit lain yang merupakan penyebab dari peritonitis, biasanya melalui pemberian antibiotik, dan dalam kasus tertentu berupa operasi.    
Peritonitis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDemam, mual, nyeri perut
Faktor risikoPenggunaan dialisis peritonial, sirosis hati, radang usus buntu 
Metode diagnosisTes darah, tes pencitraan, pemeriksaan sampel cairan peritoneal
PengobatanPemberian obat-obatan, operasi
ObatAntibiotik, obat pereda nyeri
KomplikasiEnsefalopati hepatik, sepsis, sindrom hepatorenal  
Kapan harus ke dokter?Jika merasakan gejala peritonitis berupa demam, mual, jumlah urine yang keluar hanya sedikit
Pada umumnya, gejala yang dapat timbul pada pasien peritonitis adalah:
  • Rasa sakit di bagian perut
  • Rasa kembung atau kenyang yang berlebihan
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Diare
  • Rasa haus
  • Sembelit
  • Letih dan lesu
Sementara itu untuk pasien yang tengah menjalani proses dialisis peritoneal, gejala penyakit peritonitis dapat berupa:
  • Cairan dialisis berwarna keruh
  • Bintik putih di cairan dialisis
 
Penyakit peritonitis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu peritonitis spontan dan peritonitis sekunder.

1. Peritonitis spontan (spontaneous bacterial peritonitis)

Peritonitis jenis ini dihasilkan dari infeksi cairan di rongga peritoneum. Gagal ginjal atau gangguan hati dapat menjadi penyebab kondisi ini terjadi. Orang yang menjalani dialisis peritoneal untuk gagal ginjal juga berisiko tinggi mengalami jenis peritonitis ini. Biasanya Peritonitis bakteri spontan terjadi tanpa luka di dinding perut.

2. Peritonitis sekunder

Berbeda dari peritonitis spontan, peritonitis sekunder umumnya terjadi karena karena robek atau terlukanya dinding perut. Penyebabnya adalah infeksi bakteri atau jamur yang telah menyebar dari saluran pencernaan.Selain itu, berbagai hal berikut ini dapat menyebabkan peritonitis sekunder:
  • Kecelakaan yang mengakibatkan terlukanya bagian perut dapat menyebabkan masuknya bakteria dari luar tubuh ke bagian peritoneum.
  • Sakit maag
  • Robeknya bagian usus yang menyebabkan timbulnya risiko bakteria menyebar ke bagian peritoneum
  • Divertikulitis
  • Pankreatitis atau radang pankreas, berupa peradangan di organ pankreas yang menimbulkan resiko menyebarnya bakteri ke bagian peritoneum
  • Sirosis hati atau jenis penyakit hati lainnya
  • Infeksi pada kantong empedu, usus, atau aliran darah
  • Penyakit radang panggul
  • Penyakit Crohn
 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya peritonitis:
  • Tindakan medis yang memerlukan dibukanya dinding perut seperti pembedahan, atau penggunaan selang makanan
  • Riwayat peritonitis. Setelah mengalami peritonitis, risiko seseorang untuk kembali mengalami peritonitis meningkat dibandingkan orang yang tidak pernah menderita peritonitis.
Baca juga: Memahami Cuci Darah yang Membantu Pasien Gagal Ginjal 
Dalam mendiagnosis peritonitis, dokter akan berdiskusi dengan pasien mengenai riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Peritonitis yang berhubungan dengan dialisis peritoneal memiliki tanda dan gejala berupa cairan dialisis yang keruh. Dengan melihat kondisi ini, biasanya dokter dapat memastikan diagnosisnya.Namun, apabila kasus peritonitis diduga karena infeksi atau kondisi medis lain, dokter akan merekomendasikan beberapa tes berikut ini untuk memastikan diagnosis:

1. Tes darah

Sampel darah pasien akan diambil dan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dan mendeteksi jumlah sel darah putih yang tinggi. Kultur darah juga dapat dilakukan untuk mendeteksi bakteri dalam darah pasien.

2. Tes pencitraan

Dokter akan mengambil gambar menggunakan alat X-ray, CT scan, atau ultrasound untuk mendeteksi keberadaan lubang atau kerusakan lainnya di bagian saluran pencernaan.

3. Analisis cairan peritoneal

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan peritoneal menggunakan jarum kecil untuk mendeteksi keberadaan bakteri serta kuantitas kandungan sel darah putih yang dapat menandakan keberadaan infeksi. 
Pada umumnya, pasien peritonitis yang penyakitnya disebabkan oleh infeksi dari penyakit lainnya, memerlukan penanganan intensif di rumah sakit. Pengobatan yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan penyakit peritonitis adalah dengan:

1. Pemberian antibiotik

Dokter pada umumnya akan memberikan antibiotik untuk melawan infeksi dan mencegah penyebaran penyakit.

2. Operasi

Untuk kasus tertentu, dokter akan melakukan tindakan operasi, terutama jika peritonitis disebabkan oleh pecahnya usus buntu, perut atau usus besar. Operasi ditujukan untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi serta mencegah penyakit menyebar ke organ lainnya.

3. Perawatan lainnya

Tergantung kepada gejala yang muncul, dokter dapat melakukan tindakan lain seperti pemberian obat antinyeri, cairan infus, suplai oksigen, serta transfusi darah (untuk kasus tertentu).Jika pasien menderita peritonitis dan tengah menjalani dialisis peritoneal, dokter mungkin akan merekomendasikan dialisis dengan cara lain selama beberapa hari, sementara menunggu kesembuhan tubuh dari infeksi.Jika peritonitis berlanjut atau berulang, pasien mungkin perlu berhenti menjalani dialisis peritoneal sepenuhnya dan beralih ke bentuk dialisis yang berbeda.


Komplikasi

Jika tidak segera diobati, infeksi dapat memasuki aliran darah, menyebabkan syok dan kerusakan pada organ yang lain. Hal Ini dapat berakibat fatal dan menimbulkan berbagai komplikasi, berupa komplikasi potensial dari peritonitis spontan dan komplikasi peritonitis sekunder.

1. Komplikasi potensial dari peritonitis spontan:

  • Ensefalopati hepatik, yaitu hilangnya fungsi otak yang terjadi ketika hati tidak dapat lagi mengeluarkan zat beracun dari darah
  • Sindrom hepatorenal, yaitu gagal ginjal progresif
  • Sepsis, yakni reaksi parah yang terjadi saat aliran darah dipenuhi oleh bakteri

2. Komplikasi peritonitis sekunder:

  • Abses intra-abdominalusus gangren atau jaringan usus yang mati
  • Adhesi intraperitoneal, yaitu pita jaringan fibrosa yang menyatu dengan organ perut sehingga dapat menyebabkan penyumbatan usus
  • Syok septik, yang ditandai dengan tekanan darah rendah dan berbahaya
Baca juga: Mengenal Syok Septik, Penyebab Kematian pada Penderita Sepsis 
Pada umumnya, peritonitis seringkali terjadi ketika pasien menjalani proses dialisis peritoneal, terutama bersentuhan dengan kateter dalam proses ini. Dokter dapat menyarankan tindakan berikut ini untuk mencegah peritonitis dalam proses dialisis peritoneal:
  • Mencuci tangan, terutama di bagian bawah kuku dan di antara jari, sebelum menyentuh kateter
  • Membersihkan kulit di sekitar kateter setiap hari dengan menggunakan antiseptik
  • Menggunakan masker medis ketika menjalani proses pertukaran cairan dialisis.
Baca jawaban dokter: Kapan harus ganti kateter?    
Peritonitis dapat mengancam keselamatan jiwa apabila tidak diobati secara menyeluruh. Segera hubungi dokter apabila Anda merasakan rasa sakit di bagian perut dan kembung disertai dengan:
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Jumlah urine yang sedikit
  • Rasa haus
  • Kesulitan buang air besar atau buang angin
     
Jika mengalami gejala peritonitis, segeralah periksakan diri Anda ke dokter. Apabila dibutuhkan, dokter akan merujuk ke spesialis penyakit dalam.Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
    • Apakah saya perlu dites?
    • Apa pengobatan yang bisa saya dapat? Pengobatan apa yang direkomendasikan untuk saya
    • Apakah ada efek samping dari pengobatan yang diberikan?
    • Apa yang bisa saya lakukan di rumah untuk mengurangi gejala ini?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan Anda mulai mengalami rasa sakit di perut?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap peritonitis?
  • Apakah Anda membersihkan area di sekitar kateter secara teratur dan menjaga kebersihan tangan selama dalam pengobatan dialisis peritoneal?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis peritonitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.   
Web MD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/peritonitis-symptoms-causes-treatments#3-6
Diakses pada 29 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peritonitis/symptoms-causes/syc-20376247
Diakses pada 13 November 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/peritonitis#causes
Diakses pada 13 November 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/peritonitis/
Diakses pada 13 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email