Infeksi

Polio

Diterbitkan: 01 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Polio
Virus polio dapat menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini menyerang sistem saraf penderitanya.Kebanyakan orang yang mengidap polio tanpa gejala dan tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus polio. Namun untuk beberapa orang, polio dapat menyebabkan kelumpuhan sementara atau permanen yang dapat membahayakan nyawa.Tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Vaksinasi adalah satu-satunya cara mencegah terkena polio. Saat ini jumlah penderita polio di seluruh dunia sudah menurun karena pencegahan dengan vaksinasi.Baca juga: Dulu Mematikan, 5 Penyakit Menular Ini Sudah Ada Obatnya 
Polio
Dokter spesialis Anak
GejalaKelumpuhan, demam, nyeri otot
Faktor risikoOrang yang belum divaksinasi polio, anak-anak di bawah 5 tahun, wanita hamil
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemeriksaan spesimen, serologi
PengobatanObat-obatan, fisioterapi, terapi okupasi
ObatObat pereda nyeri
KomplikasiGagal napas, kelumpuhan faring, miokarditis
Kapan harus ke dokter?Mengalami kelemahan atau lumpuh, belum melengkapi vaksin polio, memiliki alergi vaksin polio
Penyakit polio tidak menunjukkan gejala. Beberapa orang dapat mengalami gejala flu pada 3-21 hari setelah terinfeksi.Gejala tersebut berupa:
  • Demam (suhu tubuh di atas 38C)
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Nyeri otot
  • Rasa sakit atau lemah
Gejala ini biasanya menghilang dalam seminggu. Pada beberapa kasus, virus polio dapat menyerang saraf tulang belakang dan dasar otak. Kondisi ini akan menyebabkan kelumpuhan, yang muncul dalam beberapa jam atau hari.Kelumpuhan biasanya tidak bersifat permanen, dan membaik dalam beberapa minggu atau bulan. Namun pada beberapa kasus, gejala tersebut tetap muncul, bahkan menjadi fatal jika kelumpuhan juga dialami otot pernapasan.

Gejala polio non-paralisis (tanpa kelumpuhan)

Yang termasuk gejala polio tanpa kelumpuhan adalah:
  • Demam
  • Sakit Tenggorokan
  • Sakit Kepala
  • Muntah
  • Kelelahan
  • Sakit punggung
  • Sakit leher atau kaku leher
  • Nyeri atau kaku pada lengan dan kaki
  • Kelemahan otot

Gejala polio paralitik (menyebabkan kelumpuhan)

Ini adalah penyakit polio yang berat tapi langka. Tanda dan gejala awal dari polio ini mirip dengan gejala dari polio non-paralitik, seperti demam dan sakit kepala. Yang membedakan adalah gejala tambahan berupa:
  • Kehilangan refleks
  • Otot yang terasa sangat nyeri dan lemah
  • Tungkai yang lemas dan lumpuh (flaccid paralysis)

Sindrom post-polio

Sindrom ini merupakan kumpulan dari gejala dan tanda yang dialami bertahun-tahun setelah sembuh dari polio. Gejala yang dialami dapat berupa:
  • Nyeri atau kelemahan otot yang bertambah parah
  • Kelelahan
  • Pengecilan otot (atrofi)
  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Gangguan pernapasan saat tidur, misalnya sleep apnea (henti napas sementara saat tidur)
  • Penurunan toleransi terhadap dingin
 
Penyebab polio adalah infeksi poliovirus. Ketika memasuki mulut, virus tersebut akan berjalan masuk ke saluran pencernaan dan mulai menggandakan diri. Dalam beberapa kasus, virus juga bisa memasuki pembuluh darah dan menyebar ke sistem saraf.Kemudian penderitanya akan membuang kotoran yang telah terkontaminasi virus polio ke lingkungan, dan membuat virus dapat menyebar dengan cepat, terutama jika lingkungan tersebut memiliki sanitasi buruk.Virus polio hanya menginfeksi manusia melalui:
  • Kontak dengan feses (kotoran) orang yang terinfeksi
  • Paparan tetesan dari bersin atau batuk orang yang terinfeksi
Seseorang dapat terinfeksi virus polio jika:
  • Tidak mencuci tangan ketika ada kotoran di tangan dan tangan tersebut menyentuh mulut
  • Memasukkan benda-benda seperti mainan yang terkontaminasi kotoran ke dalam mulut
  • Mengonsumsi makanan maupun minuman yang diolah secara tidak sehat. Pasalnya, virus dapat hidup di kotoran orang yang terinfeksi selama berminggu-minggu sehingga dapat mencemari makanan dan air dengan sanitasi yang buruk.
Orang yang sudah terinfeksi dengan virus dapat menyebarkan virus polio tersebut bahkan sebelum gejala muncul sampai beberapa minggu setelahnya. Penderita polio tanp gejala sekali pun tetap dapat menularkan virus ini pada orang lain. 

Faktor risiko

Faktor-faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terkena polio:
  • Belum divaksinasi polio
  • Berusia di bawah 5 tahun, terutama yang belum divaksinasi
  • Gangguan kekebalan tubuh, misalnya, HIV atau kanker
  • Kehamilan
  • Stres berat
  • Sedang merawat pasien polio
  • Bekerja di laboratorium yang menangani virus polio hidup
  • Bepergian ke daerah dengan angka polio yang tinggi
 
Diagnosis polio biasanya dilakukan dokter berdasarkan gejalanya, seperti leher dan punggung yang kaku hingga kesulitan menelan dan bernapas. Dalam memastikan diagnosis, dokter dapat mengambil sampel yang akan diuji di laboratorium untuk menentukan keberadaan virus polio.  Virus polio dapat dideteksi dalam sampel spesimen yang diambil dari tenggorokan, feses, dan terkadang cairan serebrospinal. Dari spesimen tersebut, dokter akan mendeteksi keberadaan virus melalui beberapa metode berikut ini.
  • Kultur sel poliovirus

Virus polio akan diisolasi melalui kultur sel. Metode ini dilakukan dengan menyediakan media pertumbuhan bagi virus. Sampel yang telah diolah akan dimasukkan ke media tersebut. Sampel yang positif mengandung poliovirus akan menunjukkan kerusakan sel kultur (cytopathic effect).
  • Tes PCR

Melalui pemeriksaan ini virus dapat dideteksi dengan melacak keberadaan material genetik dari virus polio pada sampel.
  • Tes serologi

Tes serologi adalah pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi tertentu dalam darah. Melalui pemeriksaan tes serologi poliovirus, kadar antibodi yang dihasilkan sistem imun pasien terhadap virus polio akan diukur. 
Saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan polio. Terapi yang dilakukan bertujuan untuk menunjang fungsi tubuh dan mengurangi risiko efek jangka panjang.Pengobatan polio antara lain dilakukan dengan perawatan di rumah sakit, obat penghilang rasa sakit, alat pembantu pernapasan, serta latihan fisik untuk mencegah terjadinya masalah pada otot dan sendi.Apabila mengalami komplikasi setelah infeksi polio, pasien membutuhkan perawatan berkala dan perhatian khusus, misalnya dengan fisioterapi. Operasi juga dapat menjadi pilihan terapi untuk perbaikan kelainan bentuk tungkai. Baca juga: Imunisasi IPV, Si Vaksin Polio yang Penting untuk Anak 

Komplikasi

Tanpa penanganan yang tepat, polio dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Kelumpuhan otot secara sementara atau permanen
  • Kecacatan
  • Kelainan bentuk tulang
  • Kelumpuhan faring
  • Miokarditis
  • Perdarahan di saluran pencernaan
  • Hipertensi
  • Lumpuhnya otot pernapasan sehingga tidak dapat bernapas.
  • Kematian
 
Polio dapat dicegah melalui pemberian imunisasi polio. Rekomendasi imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk polio adalah sebanyak 4 kali, yaitu ketika bayi berusia:
  • 0-1 bulan (baru lahir)
  • 2 bulan
  • 3 bulan
  • 4 bulan
Imunisasi booster (penguat) dapat diberikan ketika anak berusia 18 bulan. Baca jawaban dokter: Bagaimana jika terlambat untuk imunisasi polio saat anak usia 2 bulan? 
Tanyakan kepada dokter mengenai rekomendasi vaksin polio sebelum bepergian ke negara dengan banyak kasus polio. Hubungi dokter jika: 
  • Anak belum mendapat seluruh vaksin polio.
  • Anak memiliki reaksi alergi terhadap vaksin polio.
  • Anak mengalami masalah selain kemerahan ringan atau sakit setelah divaksin.
  • Pernah terkena polio dan sekarang mengalami kelemahan dan kelelahan tanpa sebab jelas
 
Sebelum bertemu dengan dokter, sebaiknya Anda melakukan hal-hal berikut ini.
  • Tuliskan gejala yang dialami dan waktu kemunculannya.
  • Tuliskan informasi mengenai paparan terhadap sumber infeksi termasuk detail mengenai perjalanan keluar negeri, negara yang dikunjungi dan tanggalnya.
  • Sejarah medis, termasuk lokasi perawatan, obat-obatan, vitamin dan suplemen yang dikonsumsi serta vaksinasi sebelumnya
  • Pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter
 
Dokter biasanya akan mengajukan pertanyaan berikut ini.
  • Apakah gejala terus berlanjut atau hanya saat tertentu?
  • Seberapa parah gejala yang Anda alami?
  • Apakah ada yang hal yang mengatasi gejalanya ?
  • Apakah ada yang memperburuk gejalatersebut?
  • Apakah belakangan ini Anda berada di lingkungan dengan orang yang memiliki gejala serupa?
  • Apakah Anda sedang hamil?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis polio agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada 28 September 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/polio/symptoms-causes/syc-20376512
Diakses pada 28 September 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/polio/
Diakses pada 25 November 2020
Medscape. https://www.medscape.com/answers/217146-124288/what-are-the-possible-complications-of-polio#qna
Diakses pada 25 November 2020
Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/polio/symptoms-causes/syc-20376512
Diakses pada 25 November 2020
Emedicinehealth. https://www.emedicinehealth.com/polio/article_em.htm#what_are_the_risk_factors_for_polio
Diakses pada 25 November 2020
Lumenlearning. https://courses.lumenlearning.com/microbiology/chapter/isolation-culture-and-identification-of-viruses/
Diakses pada 25 November 2020
CDC. https://www.cdc.gov/polio/what-is-polio
Diakses pada 25 November 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email