Perut

Proktitis

Diterbitkan: 01 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Proktitis
Proktitis dapat dihindari dengan cara melindungi diri dari infeksi menular seksual.
Proktitis adalah peradangan yang terjadi pada lapisan dalam dari rektum. Rektum merupakan bagian akhir usus besar yang berujung pada anus (dubur).Penderita proktitis dapat merasa kesakitan atau rasa tidak nyaman, dan terus-menerus ingin buang air besar. Proktitis bisa berlangsung dalam waktu singkat atau menjadi kondisi kronis (berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bahkan lebih lama).Kondisi ini biasanya dapat diobati dengan obat- obatan, penyesuaian gaya hidup dan terkadang operasi bagi kasus proktitis yang parah dan berulang. 
Proktitis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDiare, nyeri saat BAB, BAB berdarah 
Faktor risikoHubungan seksual yang tidak aman, riwayat penyakit radang usus, pernah melakukan terapi radiasi
Metode diagnosisTes darah, sigmoidoskopi, pemeriksaan feses
PengobatanObat-obatan, operasi
ObatObat antiradang, antibiotik, antivirus
KomplikasiAnemia, luka pada rektum, terbentuknya saluran abnormal di dekat anus (fistula ani)
Kapan harus ke dokter?Memiliki gejala proktitis
Beberapa hal yang dapat menjadi tanda dari penyakit proktitis adalah:
  • Diare
  • Nyeri pada saat buang air besar (BAB)
  • Selalu ingin buang air besar
  • Perdarahan rektal, yang ditandai dengan darah merah segar pada tinja
  • Nyeri pada sisi perut bagian kiri
  • Perasaan penuh pada perut bagian bawah seperti sebelum buang air besar
 
Proktitis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk:
  • Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) seperti penyakit Crohn
  • Trauma pada anus karena seks melalui dubur (anal seks)
  • Efek samping antibiotik. Terkadang antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi dapat membunuh bakteri baik di usus sehingga memungkinkan bakteri Clostridium difficile yang berbahaya menginfeksi rektum dan menyebabkan proktitis.
  • Infeksi menular seksual (IMS) seperti gonorea, herpes kelamin, atau klamidia, terutama pada pasien dengan riwayat hubungan seks anal
  • Perawatan radiasi karena kanker pada area kemaluan seperti kanker anus, kanker prostat, kanker ovarium, atau kanker rektum
  • Infeksi lain, seperti akibat bakteri Salmonella
  • Konsumsi protein dalam makanan, misalnya  pada bayi yang mengonsumsi susu sapi atau susu kedelai.
 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut yang dapat meningkatkan risiko terjadinya proctitis adalah:
  • Seks yang tidak aman

Seks yang tidak aman seperti berganti-ganti pasangan, tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks, atau berhubungan seks dengan pasangan yang memiliki IMS dapat meningkatkan risiko tertular IMS yang memicu proktitis.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh

Gangguan pada sistem kekebalan tubuh dapat memicu penyakit Crohn.Baca juga: Masih Tabu dan Kontroversial, Adakah Manfaat Anal Sex? 
Dokter bisa melakukan beberapa tes dan pemeriksaan ini untuk mendiagnosis proktitis:
  • Sigmoidoskopi fleksibel, yang dilakukan dengan tabung lentur berkamera untuk memeriksa usus besar termasuk rektum. Dalam prosedur ini, dokter juga bisa menjalankan biopsi atau pengambilan contoh jaringan untuk tes laboratorium.
  • Tes darah, untuk mendeteksi infeksi dan anemia akibat kehilangan darah.
  • Kolonoskopi, untuk melihat keseluruhan usus besar menggunakan tabung tipis, fleksibel, dan terang dengan kamera yang terpasang untuk melakukan biopsi pada prosedur ini.
  • Tes infeksi menular seksual dengan mengambil cairan pada rektum atau dari kandung kemih, untuk mendeteksi penyakit menular seksual.
  • Pemeriksaan feses dengan mengambil sampel tinja, untuk menentukan potensi bakteri sebagai penyebab proktitis.
 
Perawatan proktitis diberikan berdasarkan penyebabnya. Berikut ini penjelasannya.

Penyakit radang usus

Tidak ada obat untuk penyakit radang usus besar. Oleh karena itu, perawatan yang dilakukan bertujuan untuk menjaga agar peradangan tetap terkendali, mencegah kambuh, dan meringankan gejalanya. Perawatan dilakukan melalui pemberian obat-obatan dan tindakan medis berupa:
  • Kortikosteroid

    Kortikosteroid dalam berbagai bentuk dapat membantu mengurangi aktivitas sistem kekebalan di area tubuh yang bersangkutan untuk mengurangi peradangan. Contoh steroid yang diberikan adalah:
    • Hidrokortison 
    • Prednison
    • Metilprednisolon
    • Budesonide
 
  • Imunomodulator

    Imunomodulator bekerja dengan cara mengurangi aktivitas sistem kekebalan. Karena faktor autoimun sering kali berperan dalam memicu penyakit Crohn yang menyebabkan proktitis maka perawatan ini sering kali dapat membantu mengurangi dan mengelola gejalanya. Imunomodulator yang umum diberikan meliputi:
    • Metotreksat
    • Siklosporin
    • 6-merkaptopurin
    • Azathioprine
  • Aminosalicylates

    Aminosalicylates digunakan untuk membantu mengontrol peradangan, contohnya:
    • Mesalamine
    • Malsalazide
    • Osalazine
    • Sulfasalazine
  • Pembedahan

    Pembedahan dapat direkomendasikan jika penyakit Crohn dan kolitis ulseratif memengaruhi saluran pencernaan dan tidak menunjukkan respons terhadap terapi obat.

Infeksi

Dokter akan meresepkan antibiotik atau antivirus jika mendapati infeksi sebagai penyebab proctitis.Antibiotik dapat membantu menghilangkan infeksi bakteri, termasuk IMS. Dokter akan meresepkan obat antivirus untuk mengobati infeksi virus, seperti herpes genital.

Efek samping antibiotik

Jika obat tertentu seperti antibiotik menyebabkan peradangan, pemakaiannya harus dihentikan. Dokter dapat meresepkan obat alternatif agar pasien bisa melanjutkan pengobatan.

Cedera

Proktitis akibat cedera dari seks anal mengharuskan penderitanya menghentikan aktivitas tersebut. Dokter mungkin juga meresepkan atau merekomendasikan obat untuk mengobati nyeri dan meredakan diare, jika perlu.

Terapi radiasi

Sebuah penelitian mengungkapkan hampir 75% orang yang menjalani terapi radiasi di panggul akan mengalami gejala proktitis akut. Sementara itu sebanyak 20% dari jumlah pasien tersebut mengalami gejala proktitis kronis.Dalam hal ini, dokter akan menangani proktitis berdasarkan kasus per kasus. Pasien dengan gejala proktitis ringan karena terapi radiasi mungkin tidak memerlukan perawatan, dan gejalanya dapat hilang dengan sendirinya.Dalam kasus lain, proktitis radiasi dapat menyebabkan nyeri hebat dan perdarahan yang memerlukan perawatan dengan:
  • Pemberian obat-obatan

    Obat yang diberikan antara lain sukralfat, mesalamine, sulfasalazine dan metronidazole. Obat-obatan ini dapat membantu mengontrol peradangan dan mengurangi perdarahan.
  • Pelunak feses

    Pelunak feses seperti docusate sodium dan docusate calcium dapat diberikan untuk membantu menghilangkan penghalang di usus.
  • Pengobatan untuk menghancurkan jaringan yang rusak.

    Langkah ini dilakukan untuk meringankan gejala proktitis dengan menghancurkan jaringan abnormal (ablasi) yang mengalami perdarahan. Prosedur ablasi yang digunakan untuk mengobati proktitis termasuk koagulasi plasma argon, cryoablasi, elektrokoagulasi, dan terapi lainnya.

Penyesuaian gaya hidup

Pasien yang mengalami proktitis kronis kemungkinan besar harus bergantung pada kombinasi perawatan medis dan perubahan gaya hidup, seperti:
  • Mengatur pola makan, dengan,

    • Menghindari kafein dan makanan yang berminyak, tinggi serat, atau manis untuk mengurangi gejala diare akibat proctitis
    • Menghindari susu dan produk turunannya selama diare akibat proktitis (apabila memiliki masalah dalam mencerna laktosa)
    • Jika gejala diare sudah mulai berkurang, konsumsilah makanan lunak dan hambar seperti pisang, nasi tim, kentang rebus, roti panggang, wortel matang, dan ayam panggang tanpa kulit atau lemak. Diet ini dapat dihentikan ketika gejala diare sudah sepenuhnya sembuh.
    • Minum banyak cairan, tetapi hindari minum soda, kopi, teh dan minuman lainnya yang mengandung kafein. Konsumsilah air putih untuk memudahkan buang air besar serta membantu mencegah dehidrasi karena sering buang air besar.
  • Menggunakan kondom

Dengan menggunakan kondom saat melakukan seks anal, maka dapat mengurangi risiko tertular IMS yang dapat memengaruhi rektum dan menyebabkan proktitis. 

Komplikasi

Proktitis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan beberapa komplikasi, antara lain:
  • Anemia

    Perdarahan kronis dari rektum dapat menyebabkan anemia, karena jumlah sel darah merah tidak cukup untuk dapat membawa oksigen ke jaringan tubuh. Akibatnya, pasien akan merasa lelah, pusing, sesak napas, sakit kepala, kulit menjadi pucat dan mudah tersinggung.
  • Bisul atau borok pada anus

    Peradangan kronis pada rektum dapat menyebabkan luka terbuka (borok) pada lapisan dalam rektum.
  • Fistula ani

    Luka terbuka yang meluas sepenuhnya melalui dinding usus dapat menciptakan lubang abnormal seperti terowongan kecil di antara kulit dan otot anus yang disebut fistula ani.
Baca jawaban dokter: Bisul dekat anus yang hilang timbul, bagaimana mengobatinya ? 
Anda bisa mengurangi risiko terkena proktitis dengan melindungi diri dari infeksi menular seksual dengan cara:
  • Menghindari seks anal atau aktivitas seks lainnya bersama orang yang mempunyai luka di daerah kelamin
  • Tidak berganti-ganti pasangan seks
  • Menghindari berhubungan seks dengan pengidap infeksi menular seksual
  • Menggunakan kondom lateks selama berhubungan seksual
Baca juga: Kenali Tips Aman Berhubungan Seks dengan Penderita HIV 
Segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami gejala proktitis seperti yang telah dijelaskan di atas. 
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
    • Jenis pengobatan dan perawatan apa yang dapat membantu mengatasi gejala saya?
    • Apakah saya memerlukan tes tertentu?
    • Apakah ada pantangan yang harus saya jalani?
    • Apakah saya harus berkonsultasi kembali?
    • Apa manfaat dan risiko dari perawatan yang Anda rekomendasikan?
    • Apakah ada rekomendasi bacaan tentang kondisi saya?
    • Jika saya memiliki kondisi medis lain, apa yang harus saya lakukan?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap proktitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis proktitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan 
Medline. https://medlineplus.gov/ency/article/001139.htm
Diakses pada 24 November 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/proctitis
Diakses pada 15 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/proctitis/symptoms-causes/syc-20376933
Diakses pada 15 November 2018
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/327133#treatment
Diakses pada 24 November 2020
Myclevelandclinci. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/5964-proctitis
Diakses pada 24 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4442718/
Diakses pada 24 November 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email