Infeksi

Rabies

Diterbitkan: 22 Sep 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Widiastuti
image Rabies
Virus rabies menular melalui gigitan hewan dan menyerang otak serta sistem saraf.
Rabies atau penyakit anjing gila adalah infeksi virus yang ditularkan pada manusia dari air liur hewan yang telah terinfeksi. Virus ini biasanya menyebar melalui gigitan atau cakaran hewan mamalia berdarah panas seperti anjing, kelelawar atau rubah.Penderita rabies bisa sembuh apabila penyakit ini segera ditangani. Namun umumnya, begitu seseorang mulai menunjukkan tanda dan gejala rabies, penanganan sudah terlambat untuk dilakukan.Penyakit ini hampir selalu menyebabkan kematian bagi penderitanya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki risiko tertular rabies, vaksinasi adalah langkah pencegahan yang paling efektif. 
Rabies
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Saraf
GejalaPada manusia: Demam, sakit kepala, perilaku agresif, mulut berbusaPada hewan: Perilaku abnormal, agresif bahkan menggigiti tubuhnya sendiri hingga terluka, muntah-muntah
Metode diagnosisPemeriksaan sampel air liur, serum dan cairan tulang, spesimen biopsi kulit
PengobatanSegera ke dokter jika digigit oleh hewan yang diketahui mengidap rabies untuk mencegah infeksi virus rabies
KomplikasiKerusakan otak dan saraf, kematian
Kapan harus ke dokter?Segera ke dokter apabila Anda digigit binatang, terutama yang menunjukkan perilaku seperti gejala rabies
Penyakit ini menyebabkan infeksi pada otak dan saraf (susunan saraf pusat) yang akut. Penderitanya akan mengalami gejala seperti demam, berhalusinasi dan sakit kepala yang muncul 3-12 minggu setelah digigit. Berikut ini adalah gejalanya.Gejala rabies pada manusia Gejala rabies biasanya muncul 3-12 minggu setelah tergigit hewan yang terinfeksi. Pada fase awal, gejalanya mirip flu, dan dapat berlangsung selama beberapa hari. Gejala tersebut di antaranya adalah:
  • Demam dengan suhu 38°C atau lebih
  • Sakit kepala
  • Merasa cemas atau tidak sehat secara umum
  • Sakit pada bekas gigitan
Gejala lain yang dapat muncul beberapa hari kemudian adalah:
  • Kebingungan atau perilaku agresif
  • Halusinasi
  • Produksi air liur berlebihan
  • Mulut berbusa
  • Kejang otot
  • Kesulitan menelan dan bernapas
  • Takut akan air (hidrofobia)
  • Insomnia
  • Ketidakmampuan untuk bergerak (kelumpuhan)
Gejala rabies pada hewanDi Indonesia sendiri, penyebab rabies ternyata masih didominasi oleh penularan dari anjing peliharaan dibanding anjing liar.Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala dari hewan yang telah terinfeksi rabies dan mungkin saja ada di lingkungan sekitar, di antaranya adalah:
  • Terlihat lesu
  • Demam
  • Muntah-muntah
  • Penurunan nafsu makan
  • Gangguan keseimbangan tubuh
  • Lumpuh
  • Perilaku abnormal, agresif bahkan menggigiti tubuhnya sendiri hingga terluka
Baca juga: Ciri-ciri Kucing Rabies Ini Bisa Selamatkan Anda dari Penularannya 
Infeksi rabies disebabkan oleh virus rabies. Virus ini menyebar melalui air liur hewan yang terinfeksi. Hewan yang terinfeksi dapat menularkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia.Rabies juga bisa menyebar ketika air liur yang terinfeksi masuk ke luka terbuka atau selaput lendir, seperti mulut atau mata. Hal ini dapat terjadi ketika hewan yang terinfeksi menjilat luka terbuka pada tubuh binatang lain maupun manusia.Setiap mamalia dapat menularkan virus rabies. Hewan yang dapat menyebarkan virus rabies kepada manusia adalah:
  • Kucing
  • Sapi
  • Anjing
  • Musang
  • Kambing
  • Kuda
  • Kelelawar
  • Berang-berang
  • Anjing hutan
  • Rubah
  • Monyet
  • Rakun
  • Sigung
Walaupun jarang terjadi, virus rabies dapat ditularkan ke dalam jaringan dan organ tranplanstasi melalui organ yang telah terinfeksi.

Faktor risiko rabies

Faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya rabies adalah:
  • Riwayat perjalanan:
    Bepergian atau tinggal di negara berkembang dengan angka kasus rabies yang tinggi, termasuk negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara
  • Aktivitas tertentu:
    Menjalani aktivitas yang mungkin menimbulkan kontak dengan hewan liar yang mungkin tertular rabies, seperti menjelajahi gua atau berkemah tanpa persiapan yang baik untuk menghalau binatang
  • Profesi tertentu:
    Bekerja di laboratorium dengan virus rabies di dalamnya
  • Luka:
    Memiliki luka di kepala atau leher, yang dapat membuat virus rabies menyebar ke otak dengan lebih cepat
 
Diagnosis rabies dapat dilakukan setelah virus rabies terdeteksi di otak hewan yang kontak dengan pasien. Untuk mendeteksinya, hewan tersebut harus disuntik mati terlebih dahulu. Selanjutnya, tim medis atau para analis akan mengumpulkan jaringan otak hewan.Diagnosis pada manusia dilakukan dengan mengumpulkan sampel dan melakukan beberapa teknik, meliputi:
  • Sampel air liur
  • Serum dan cairan tulang
  • Spesimen biopsi kulit
 
Apabila seseorang telah terinfeksi oleh rabies, maka tidak ada pengobatan efektif yang dapat diberikan pada tahap ini.Walaupun ada sebagian kecil orang selamat dari penyakit ini, biasanya penyakit ini berakibat fatal (dengan tingkat kematian hampir 100%). Jadi, penanganan yang dapat diberikan bersifat suportif, sebagai berikut ini.Penanganan awal
  • Pembersihan luka

    Luka gigitan dicuci dengan air mengalir dan sabun selama 10- 15 menit.
  • Pemberian antiseptik pada luka

    Cairan antiseptik dapat diberikan setelah pencucian luka.
  • Lakukan tindakan penunjang

    • Luka sebaiknya tidak dijahit
    • Jahitan dapat dilakukan untuk menghentikan pendarahan dalam kasus tertentu
    • Pemberian vaksin antirabies (VAR) atau serum antirabies (SAR) bisa dilakukan.
Pemberian VAR dilakukan pada kasus luka risiko rendah. Tidak semua kasus memerlukan VAR. Hal ini tergantung riwayat kesehatan pasien. Sementara itu, VAR dan SAR dibutuhkan pada kasus luka risiko tinggi.Jika seseorang telah digigit oleh hewan yang diketahui mengidap rabies, dokter akan merekomendasikan serangkaian suntikan untuk mencegah infeksi dari virus rabies.Pemberian immunoglobulin rabies (rabies immune globulin) atau serum antirabies (SAR) dilakukan segera setelah pasien terpapar virus rabies.SAR berperan sebagai imunisasi pasif penetral yang cepat sebelum sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi sendiri.Selanjutnya, pasien akan mendapatkan vaksin antirabies (VAR) untuk membantu tubuh mengidentifikasi dan melawan virus rabies. Vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali dalam waktu 14 hari. 
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko rabies, di antaranya adalah:
  • Memvaksinasi hewan peliharaan

    Selain kucing dan anjing, musang dapat divaksinasi rabies.

  • Menjaga hewan peliharaan

    Menjaga dan mengawasi hewan peliharaan saat berada di luar tempat tinggal Anda, agar tidak berkontak dengan binatang yang berpotensi membawa virus rabies.

  • Melindungi hewan peliharaan kecil dari pemangsa

    Pencegahan ini penting terutama untuk hewan peliharaan kecil, yang tidak dapat divaksinasi rabies.

  • Tidak mendekati binatang buas

    Ketika Anda beraktivitas di alam terbuka, hindarilah hewan liar. Sebab, mungkin saja binatang tersebut sudah terinfeksi rabies.

  • Jauhkan kelelawar dari rumah

    Tutup semua celah yang memungkinkan kelelawar masuk ke rumah.

  • Mendapatkan vaksin rabies

    Pastikan untuk mendapatkan vaksinasi apabila Anda akan melakukan perjalanan ke negara di mana rabies umum terjadi atau daerah terpencil di mana perawatan medis sulit ditemukan.
Baca jawaban dokter: Apakah masih bisa terkena rabies jika sudah divaksin? 
Jika Anda telah digigit atau dicakar binatang yang menunjukkan perilaku aneh seperti pada gejala rabies, jangan tunggu sampai gejala rabies muncul.Segera cari perawatan medis, pada hari yang sama ketika Anda berkontak dengan hewan tersebut. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memutuskan perawatan untuk Anda. 
Jika mengalami gigitan hewan, segera temui dokter untuk memeriksa luka Anda. Beri tahu juga tentang luka yang Anda alami. Dokter akan mengajukan pertanyaan berikut ini:
  • Binatang apa yang menggigit Anda?
  • Apakah itu hewan liar atau hewan peliharaan?
 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821
diakses pada 26 November 2018.
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/rabies/
diakses pada 26 November 2018.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin%20rabies%202017.pdf
diakses pada 26 November 2018.
Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-rabies#1
diakses pada 26 November 2018
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/rabies-symptoms-1298793
Diakses pada 11 Agustus 2020
CDC. https://www.cdc.gov/rabies/index.html
Diakses pada 11 Agustus 2020
CDC. https://www.cdc.gov/rabies/specific_groups/veterinarians/clinical_signs.html
Diakses pada 11 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email