Kulit & Kelamin

Ruam Popok

Diterbitkan: 16 Sep 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Ruam Popok
Ruam popok dapat dicegah dengan menjaga kulit bayi tetap bersih dan kering agar tidak terjadi iritasi.
Ruam popok adalah gangguan kulit yang menyebabkan peradangan (dermatitis) pada bokong bayi dan area di sekitarnya. Kondisi ini ditandai dengan munculnya ruam berwarna merah terang. Beberapa ruam kadang terlihat bersisik di area genital.Ruam popok atau diaper rash muncul di area yang hangat dan lembap. Umumnya, kondisi ini terjadi karena popok basah yang tidak segera diganti, kulit yang sensitif, atau lecet akibat faktor lain.Ruam popok menyebabkan bayi merasa tidak nyaman, sehingga menimbulkan kekhawatiran orangtua. Kondisi ini umum terjadi dan dapat diatasi dengan cara yang sederhana, misalnya dengan mengganti popok secara teratur.

Perawatan dengan obat-obatan medis mungkin diperlukan untuk menyembuhkan kondisi yang lebih serius.
 
Ruam Popok
Dokter spesialis Anak, Kulit
GejalaMuncul ruam, bayi rewel, terlihat tidak nyaman ketika ganti popok
Faktor risikoMengonsumi susu formula, ibu mengonsumsi antibiotik, memiliki kondisi immunocompromised
Metode diagnosisPemeriksaan fisik dan wawancara orangtua
PengobatanPerawatan rumahan dan obat-obatan
ObatKrim hidrokortison Krim antijamur, antibiotik topikal (oles)
KomplikasiKulit berkerak, perdarahan, infeksi yang menyebar ke bagian tubuh lain
Kapan harus ke dokter?Jika bayi menunjukkan ruam yang terlihat parah
Secara umum, tanda dan gejala ruam popok berupa:
  • Ruam kemerahan di bagian kulit yang tertutup oleh popok seperti bokong, paha dan daerah kelamin.
  • Rasa tidak nyaman pada bayi, terutama saat popoknya diganti. Bayi dengan ruam popok seringkali rewel dan menangis ketika area popok dibilas atau disentuh.
 
Kondisi diaper rash dapat berasal dari berbagai hal, antara lain:
  • Iritasi kulit karena paparan feses dan urine
    Paparan urine dan feses dapat mengiritasi kulit bayi yang sensitif. Bayi akan lebih rentan terhadap ruam popok jika sedang diare, karena kotoran (feses) bisa lebih mengiritasi dibandingkan urine.
  • Gesekan atau lecet
    Popok atau pakaian ketat dapat menyebabkan gesekan pada kulit, sehingga menimbulkan lecet yang akhirnya menjadi ruam.
  • Iritasi kulit karena produk baru
    Kulit bayi dapat bereaksi terhadap produk baru yang digunakan, misalnya tisu bayi, popok dengan merek berbeda, detergen, pemutih maupun pelembut buatan pabrik untuk mencuci popok kain. Zat tambahan dalam baby lotion, bedak, atau minyak untuk bayi juga dapat mengiritasi kulit.
  • Infeksi bakteri atau jamur
    Area yang tertutup popok, seperti bokong, paha dan alat kelamin, biasanya rentan terkena infeksi karena lembap dan hangat. Kondisi ini menjadikannya sebagai area yang cocok untuk perkembangan bakteri atau jamur. Ruam dan bintik merah dapat muncul pada area yang memiliki lipatan kulit seperti di pangkal paha.
  • Pengenalan terhadap makanan baru
    Perubahan dalam menu makanan dapat meningkatkan frekuensi buang air besar dan mengubah komposisi feses, yang akhirnya menyebabkan ruam popok.
  • Kulit sensitif
    Bayi dengan kondisi kulit seperti dermatitis atopik (radang kulit akibat alergi) akan lebih rentan terhadap ruam popok.
  • Penggunaan antibiotik
    Antibiotik bekerja dengan cara membunuh bakteri yang ada dalam tubuh. Terkadang, selain membunuh bakteri jahat penyebab penyakit, antibiotik juga malah melawan bakteri baik yang menjaga pertumbuhan jamur dalam tubuh. Akibatnya, bayi rentan terhadap ruam popok karena infeksi jamur. Penggunaan antibiotik juga dapat memberikan efek samping berupa diare.
 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya ruam popok.
  • Konsumsi susu formula
Feses bayi yang mengonsumsi ASI mengandung lebih sedikit bakteri penghasil urease penyebab infeksi. Oleh karena itu, bayi yang diberi susu formula memiliki risiko lebih tinggi terkena ruam popok dibandingkan dengan bayi yang disusui ASI.
  • Konsumsi makanan dan obat-obatan oleh busui
Pola makan ibu ataupun konsumsi beberapa obat tertentu dapat berpengaruh pada ASI yang diminum bayi. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena ruam popok pada bayi yang kulitnya sensitif.
  • Riwayat medis
Bayi yang pernah mengalami penyakit kulit seperti eczema atau memiliki kondisi immunocompromised seperti HIV, lebih mungkin terserang ruam popok. 
Dokter melakukan diagnosis melalui wawancara dengan orangtua dan pemeriksaan fisik ruam pada bayi. Biasanya uji lab tidak diperlukan jika ruam disebabkan oleh respons alergi.Baca jawaban dokter: Ruam di Ketiak Seperti Ruam Popok yang Semakin Melebar Setelah Digaruk, Bagaimana Penjelasannya? 
Pencegahan dan pengobatan untuk ruam popok dilakukan dengan menjaga kulit bayi tetap bersih dan kering. Pastikan juga untuk tidak menggunakan popok terlalu kencang atau dengan ukuran yang tidak sesuai.Jika diaper rash masih muncul meskipun sudah melakukan hal-hal tersebut, maka dokter dapat meresepkan:
  • Krim hidrokortison yang ringan
  • Krim antijamur, apabila bayi mengalami infeksi jamur
  • Antibiotik topikal (oles) atau oral (obat minum), jika bayi mengalami infeksi jamur
Penggunaan krim atau salep dengan steroid harus sesuai dengan rekomendasi dokter, karena berisiko menyebabkan efek samping. Ruam popok biasanya akan membaik dalam beberapa hari. Meski demikian, ruam dapat kambuh kembali. 

Komplikasi

Apabila tidak mendapatkan perawatan, ruam popok dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Kulit berkerak
  • Perdarahan
  • Rasa tidak nyaman yang membuat bayi rewel dan menangis
  • Infeksi yang menyebar ke bagian tubuh lainnya
Bayi dengan ruam popok jamur juga bisa mengalami sariawan. Bahkan, busui bisa ikut merasakan ruam jamur pada payudara.Baca juga: Kenali Manfaat Baby Oil untuk Bayi, Dari Pijat hingga Ruam Popok 
Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah dengan menjaga popok tetap bersih dan kering. Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi ruam popok yang berkembang pada kulit bayi, adalah dengan:
  • Sering mengganti popok
  • Membasuh bokong bayi dengan air hangat setiap mengganti popok
  • Menghindari pemakaian popok yang terlalu ketat
  • Melepaskan popok selama beberapa saat
  • Menggunakan krim atau salep kulit bayi secara rutin saat mengganti popok. Contohnya salep atau krim yang mengandung zink oksida atau petroleum jelly.
  • Mencuci tangan setelah mengganti popok, untuk mencegah penyebaran infeksi.
  • Membilas popok kain 2-3 kali untuk menghilangkan sisa sabun yang mungkin tersisa, setelah mencucinya, jika bayi memakai popok kain
  • Menghindari produk-produk yang mengandung pewangi tambahan
  • Memilih produk hipoalergenik dan bebas pewangi untuk mengurangi risiko iritasi pada bayi, terutama yang mempunyai kulit sensitif.
 
Segera temui dokter jika bayi mengalami ruam yang:
  • Tidak membaik meskipun sudah diobati dengan obat bebas selama 4-7 hari
  • Semakin parah dan menyebar ke bagian tubuh lain
  • Disertai diare selama lebih dari 48 jam
  • Berdarah, gatal, atau disertai merembesnya cairan
  • Menyebabkan kulit terbakar atau sakit, seiring keluarnya urine dan terjadinya pergerakan perut
  • Disertai demam
 
Sebelum membawa bayi untuk diperiksa oleh dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini.
  • Buat daftar seputar gejala yang dialami bayi.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialaminya.
  • Catat semua makanan, obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh anak maupun Anda.
  • Catat semua produk yang bersentuhan dengan kulit bayi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Sebelum membawa bayi untuk diperiksa oleh dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini.
  • Buat daftar seputar gejala yang dialami bayi.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialaminya.
  • Catat semua makanan, obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh anak maupun Anda.
  • Catat semua produk yang bersentuhan dengan kulit bayi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Healthline. https://www.healthline.com/health/cellulite#topical-treatments
Diakses pada 31 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/diagnosis-treatment/drc-20371641
Diakses pada 19 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/symptoms-causes/syc-20371636
Diakses pada 19 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/children/diaper-rash#2
Diakses pada 27 Februari 2019
Welcomecure. https://www.welcomecure.com/diseases/diaper-dermatitis/risk-factors
Diakses pada 11 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/diaper-rash
Diakses pada 11 September 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/801222-overview#a5
Diakses pada 11 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email