Psikologi

Sindrom Asperger

Diterbitkan: 16 Sep 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sindrom Asperger
Sindrom Asperger adalah kelainan saraf yang berdampak pada interaksi sosial seseorang
Sindrom Asperger adalah suatu kelainan perkembangan saraf yang berdampak pada perilaku, komunikasi, dan pola interaksi sosial seseorang.Pengidap Sindrom Asperger mungkin sama pandainya dengan orang lain yang tidak memiliki Asperger. Namun, para pengidap Asperger akan terlihat bermasalah ketika harus bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka juga cenderung terlalu fokus pada satu topik atau melakukan perilaku yang sama berulang kali.Melalui perkembangannya, sindrom Asperger kini bukanlah suatu kondisi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kategori gangguan perkembangan saraf yang dikenal sebagai Autism Spectrum Disorders (ASD) atau gangguan spektrum autisme.Meskipun tidak ada obat untuk gangguan spektrum autisme, perawatan intensif yang diberikan sedari ini dapat memberikan perbedaan besar dalam kehidupan pengidap autisme. 
Sindrom Asperger
Dokter spesialis Anak, Jiwa
GejalaTidak tertarik untuk bersosialisasi, tidak peka terhadap lingkungan, menghindari kontak mata
Faktor risikoJenis kelamin, usia, genetik
Metode diagnosisPemeriksaan psikologis
PengobatanTerapi psikologis, obat-obatan
ObatGuanfacine, risperidone, olanzapine
KomplikasiMasalah sensori, ADHD, depresi
Kapan harus ke dokter?Jika mencurigai adanya gangguan komunikasi dan keterampilan sosial anak
Gejala Sindrom Asperger pada umumnya baru tampak jelas ketika anak sudah memasuki usia sekolah, karena lebih banyak berinteraksi secara sosial. Beberapa gejala yang dapat muncul, di antaranya:
  • Ketidaktertarikan untuk bersosialisasi
  • Sulit untuk berteman
  • Tidak peka terhadap lingkungan secara sosial
  • Menghindari kontak mata
  • Sulit mengekspresikan perasaan atau pikiran
  • Sulit memahami komunikasi non-verbal
  • Melakukan gerakan berulang yang khas, misalnya sering melambaikan tangan
  • Sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, rasa, atau rangsangan visual
  • Memiliki ketertarikan, bahkan obsesif, terhadap suatu hal
 
Penyebab terjadinya Sindrom Asperger belum diketahui secara pasti. Namun, seperti kebanyakan gangguan perkembangan saraf lainnya, sindrom ini dapat muncul akibat perubahan fungsi otak.  Selain itu  kombinasi beberapa faktor risiko berikut ini dapat berperan terhadap terjadinya sindrom Asperger.
  • Jenis kelamin

Laki-laki memiliki faktor risiko yang lebih besar untuk mengalami Sindrom Asperger dibanding perempuan.
  • Genetik

Sindrom Asperger merupakan kondisi yang diturunkan dalam keluarga.
  • Infeksi dan paparan zat berbahaya selama kehamilan

Ibu yang mengalami infeksi atau terpapar zat berbahaya selama kehamilan, memiliki risiko untuk melahirkan anak dengan Sindrom Asperger.
  • Masalah kehamilan dan persalinan

Anak yang dilahirkan dari ibu berumur, lebih berisiko mengalami Sindrom Asperger.
  • Gangguan mental lainnya

Seseorang dengan masalah kesehatan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan, lebih mungkin mengalami Sindrom Asperger.
  • Kondisi medis lain

Pengidap kondisi medis seperti Sindrom fragile X, tuberous sclerosis, epilepsi atau Sindrom Tourette berisiko mengalami sindrom Asperger. 
Belum ada uji spesifik untuk mendiagnosis Sindrom Asperger. Namun, Sindrom Asperger seringkali ditangani dengan pendekatan tim para ahli. Anda mungkin harus mengunjungi beberapa ahli kesehatan berikut ini untuk mendapatkan diagnosis yang paling tepat.
  • Psikolog, untuk mendiagnosis dan menangani gangguan emosi dan perilaku.
  • Ahli saraf anak, untuk memeriksa kondisi otak anak
  • Dokter tumbuh kembang yang ahli dalam masalah bicara, bahasa, dan gangguan perkembangan lainnya
  • Psikiater, untuk memeriksa kondisi kesehatan mental anak dan meresepkan obat
Baca juga: Bagaimana Anak Autis Melihat Dunia? 
Perawatan Sindrom Asperger bisa dilakukan melalui sejumlah terapi dan pemberian obat-obatan.

Terapi psikologis untuk asperger

  • Terapi keterampilan sosial

Terapi ini dapat dilakukan secara kelompok ataupun sesi tatap muka individual. Terapis akan mengajari anak langkah berinteraksi dengan orang lain dan mengekspresikan diri secara tepat.
  • Terapi wicara

Terapi wicara dilakukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi anak. dengan belajar menggunakan intonasi bicara yang normal. Selain itu, anak juga akan berlatih cara melakukan percakapan dua arah, dan memahami isyarat seperti gerakan tangan dan kontak mata.
  • Terapi okupasi

Terapi ini dilakukan untuk melatih kemampuan sensori anak, ataupun kognitifnya agar untuk dapat hidup mandiri.
  • Terapi fisik

Anak dengan Sindrom Asperger memiliki masalah koordinasi gerakan tubuh dan kepekaan visual. Oleh karena itu melalui terapi tersebut, anak dapat meningkatkan keterampilan motoriknya.
  • Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif atau disebut juga cognitive behavioural therapy dilakukan dengan tujuan mengubah pola pikir yang tidak tepat atau negatif. Terapi perilaku kognitif memiliki fokus pada cara berpikir, kepercayaan, dan perilaku yang memengaruhi perasaan dan tindakan.

Obat-obatan untuk asperger

Tidak ada obat yang secara khusus ditujukan untuk menangani gangguan spektrum Asperger atau autisme. Namun, beberapa obat dapat membantu mengurangi gejala terkait seperti depresi dan kecemasan. Dokter mungkin akan meresepkan:
  • Guanfacine, olanzapine, naltrexone, untuk mengurangi hiperaktivitas
  • Risperidone, untuk mengurangi insomnia dan agitasi
  • Selective serotonin reuptake inhibitors, untuk mengurangi perilaku/gerakan repetitive
Baca juga: Mengatasi Parenting Stress saat Membesarkan Anak Autis Tidak Mudah, Kenali Caranya 

Komplikasi

Apabila tidak mendapatkan perawatan yang tepat, Sindrom Asperger dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Gangguan sensori

Sindrom Asperger dapat menjadikan pengidapnya menjadi kurang peka dalam merasakan kebisingan, cahaya yang terang, bau menyengat, tekstur makanan, dan lainnya.
  • Gangguan mental lain

Kondisi lain yang berhubungan dengan sindrom Asperger dapat meliputi:
    • Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD)
    • Depresi, terutama ketika sudah dewasa
    • Gangguan tic, seperti sindrom Tourette
    • Gangguan kecemasan dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
Baca Juga: Mitos-mitos yang Banyak Beredar Seputar Anak Autis dan Kebenarannya 
Karena penyebab yang belum diketahui, tidak ada tindakan pencegahan khusus untuk Sindrom Asperger. Namun karena keterkaitannya dengan faktor genetik dan paparan toksin dari lingkungan selama kehamilan, bumil harus selalu memastikan kesehatan diri dan janin di dalam kandungan. 
Anak-anak mungkin akan menunjukkan tanda Sindrom Asperger sejak usia dini. Misalnya, anak bermasalah saat bermain, seperti tidak ingin dipegang atau disentuh, juga menunjukkan reaksi tidak biasa terhadap suara, bau, atau rasa tertentu.Temui dokter jika mencurigai adanya gangguan perkembangan komunikasi dan keterampilan sosial anak. Dokter mungkin akan merujuk Anda ke tim ahli terkait.  
Sebelum memeriksakan anak ke dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan anak.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami anak. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi anak.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya:
    • Bagaimana status tumbuh kembang anak saya?
    • Apakah anak saya memiliki Sindrom Asperger?
    • Pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan?
    • Pengobatan apa saja yang dapat membantu?
    • Terapi apa yang harus dilakukan?
    • Bagaimana saya bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungannya?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang anak Anda rasakan?
  • Bagaimana perkembangan bicara anak?
  • Apakah anak terlambat berbicara?
  • Bagaimana interaksi sosial anak dengan orang lain?
  • Apakah anak kesulitan berteman di sekolah?
  • Bagaimana ekspresi muka anak ketika berbicara?
  • Apakah anak sering terlibat percakapan dengan orang lain?
  • Bagaimana sikap anak dalam menghadapi perubahan?
  • Kapan gejala pertama kali anak Anda alami?
  • Apakah anak memiliki faktor risiko terhadap Sindrom Asperger?
  • Apakah anak rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dijalani oleh anak?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan tes penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis Sindrom Asperger agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/Asperger_syndrome/article.htm
Diakses 19 September 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/Asperger-syndrome#treatment
Diakses 19 September 2019
WebMD. https://www.webmd.com/brain/autism/mental-health-Aspergers-syndrome#1
Diakses 19 September 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7601#complications
Diakses 15 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email